Dijual rumah 2 lantai, LT 100 mtr/SHM.Lantai bawah 3 kt+rt/rk+Dapur+2km..Lantai atas 4 kmr kost msh berjalan+ kmandi+jemuran.PAM+PLN+TELPON.daerah strategis Rawamangun. Jalan Paus Dalam, Komplek Perhubungan Laut. Belakang Arion Mall. Tanpa perantara. Tidak masuk mobil. Serius Hub.087781866239....dan dekat dengan Terminal Bus Rawamangun dan akses Busway juga. Foto-foto silahkan cek di sini: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152119989643733&set=pcb.10152119990608733&type=1&theater
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152119989693733&set=pcb.10152119990608733&type=1&theater
. Trims
Friday, 9 May 2014
Wednesday, 30 April 2014
My Most Favorite Bassists
This is not a list of the most influental or the most important, or the most skillful, or the best bassist players.
This list is based on my most favorite ones :).
Geddy Lee (Rush)
Chris sQuire (Yes)
Paul McCartney (the Beatles).
This list is based on my most favorite ones :).
Flea (Red Hot Chilli Peppers)
Steve Harris (Iron Maiden)
Geddy Lee (Rush)
Robert Trujillo (Suicidal Tendencies, Infectious Grooves, Metallica)
Sting (the Police)
Chris sQuire (Yes)
Paul McCartney (the Beatles).
Mark King
(Level 42)
Cliff Burton
(Metallica)
Michael
Anthony (Van Halen)
Billy
Sheehan (Mr. Big, Niacin)
Thursday, 17 April 2014
Ibnu Rusyd dan Semangat Anti Kekerasan
Dan ini full movie-nya:
Sunday, 30 March 2014
A Brief Cultural History of Indonesian Cinema: Proyek Besar yang “Kentang”
A Brief Cultural History of
Indonesian Cinema: Proyek
Besar yang “Kentang”
Info buku:
Judul: A Brief Cultural History of Indonesian Cinema
Penulis: Thomas Barker, Eric Sasono, Corneles Joris, Lisabona Rahman, John Badalu, Deborah Gabinetti.
Penerbit: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Edisi: Perdana, 2012
Tebal: 196 hal
Sekitar 20 tahun setelah terbitnya buku Film Indonesia Bagian I (1900-1950)—diterbitkan Dewan Film,
disunting oleh Taufik Abdullah, Misbach Yusa Biran, dan SM Ardan--akhirnya
terbit juga buku seputar film Indonesia atas inisiatif dan dana Pemerintah. Judulnya: A
Brief Cultural History of Indonesian Cinema Tidak tanggung-tanggung, proyek buku ini dipimpin langsung oleh
Sulistyo Tirtokusumo (Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman), dengan sampul
hard cover bercita rasa mewah, ditulis seluruhnya dalam bahasa Inggris oleh
orang-orang yang mumpuni di bidangnya, penuh dengan gambar-gambar ekslusif.
Dan, ini yang menarik: buku yang dirilis secara resmi pada Hari Film Nasional tahun lalu ini dibagikan
cuma-cuma dan bisa diminta ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudah cukup banyak buku dan artikel yang mengkaji sejarah film Indonesia
secara kronologis. Namun, yang menarik, dari segi pembingkaian perspektif, buku
ini berbeda dari buku dengan topik yang serupa, katakanlah karya Krishna Sen,
Karl Heider, Salim Said, dan Misbach Yusa Biran. Kelebihan pertama buku ini adalah, banyaknya trivia alias data-data, yang
selama ini sedikit diketahui banyak orang, yang digarisbawahi oleh para
penulisnya. Misalnya, pada bab pertama, The
Early Years 1926-1945, Thomas Barker mengemukakan info tentang perjalanan
Gaston Melies (saudara kandung Georges Melies, Bapak Special Effect) selama 1912-1913 keliling Asia Pasifik dan mampir
di beberapa kota di Indonesia untuk membuat film (sayangnya, dia tidak menyebut
bahwa Gaston juga memutar film-film abangnya kala singgah di Nusantara). Atau,
mungkin kita tahu bahwa Charlie Chaplin datang ke Batavia, Bandung, dan
(mengunjungi Walter Spies di) Bali pada 1932, tapi sepertinya sedikit yang tahu
tentang info bahwa perjalanan itu membuatnya merenung di era peralihan dari film
bisu ke bicara dan membuatnya menulis 50 halaman skenario film bicara
pertamanya (soal parodi kolonialisme) yang sayangnya tak pernah dia buat.
Bahkan, ada surat Chaplin satu halaman penuh di halaman sebelahnya. Atau info
bahwa film pertama yang memakai kata “Indonesia” adalah “Indonesia Malaise”,
karya Wong Brothers, 3 tahun setelah Sumpah Pemuda. Atau di bab berikutnya,
Lisabona Rahman menyatakan bahwa Djajakusuma mengeksplorasi genre Western/koboi
menjadi silat lokal (Tjambuk Api,
1958) dan wayang (Lahirnya Gatotkaca,
1960). Cukup menarik juga pernyataan Deborah Gabinetti bahwa Hollywood
pernah membuat Goona Goona (1932, oleh keponakan President Theodore Roosevelt)
tentang Bali—dan beberapa film lainnya juga membuat film dengan latar Bali,
hingga Road to Bali yang dibintangi
Bing Crosby, Bob Hope, dan Dorothy Lamour sukses dan membuat agen travel Eropa
membuat program ke Bali. Atau, Oliver Stone
membuat Savages (2012) di
Moyo, NTB.
Foto-foto ekslusif dengan ukuran besar adalah juga kelebihan buku ini.
Koleksi Sinematek Indonesia yang jarang diketahui publik akhirnya dirilis juga.
Pun dengan foto-foto koleksi KITLV Leiden, khususnya foto-foto seputar bioskop
dan, yangmenarik, kursus sinematografi bagi pejabat militer Indonesia di Gambir
(1953).
Entah apa karena porsi foto-foto besar ini atau alasan lain, pembahasan
menjadi sangat sedikit, sementara bahan kajian dan area ekplorasinya sangat
luas dan banyak. Akibatnya, ulasan menjadi “kentang” alias kena tanggung . Banyak elemen yang tidak dieksplorasi dan
dipaparkan dengan baik, ditambah referensi kutipan hanya ditaruh di bagian
belakang yang membuat bingung, atau kemungkinan salah baca/fokus, pembaca
khususnya yang non-Indonesia. Misalnya, porsi
Garin Nugroho yang sedikit
(walau foto-fotonya cukup banyak). Atau perlunya bukti lanjutan soal Joko
Anwar, The Mo Brothers, dan Gareth Evans yang mengaku terinspirasi dari jaman
emas Film B Indonesia 1980an. Atau elaborasi lebih lanjut tentang bagaimana
film-film B era 1980an kembali diedarkan dalam bentuk DVD dan diminati oleh
penggemar film Cult. Problema utamanya adalah tidak adanya catatan kaki atau
catatan akhir di buku ini—di satu sisi, menjadi kelebihannya karena lebih pop
dan ringan, tetapi di sisi lainnya pembaca jadi kurang bisa melacak sumber data,
kecuali hanya di daftar bibliografi yang cukup panjang.
Untunglah, sebagian besar penulisnya memang sudah berkecimpung lama di
dunia kritik film Indonesia. Eric Sasono, misalnya, adalah peraih 2 piala Citra
untuk penulisan kritik film. Lisabona Rahman adalah mantan manajer Kineforum
yang juga aktivis film, termasuk dalam proyek restorasi Lewat Djam Malam. Dan John Badalu acap keliling berbagai festival
dunia, pas sekali dengan tulisan yang digarapnya, Positioning Indonesia in the World Cinema. Thomas Barker yang
disertasi S3-nya seputar politik ekonomi film Indonesia dan sering melakukan
riset era awal film Indonesia, terasa otoratif dalam menulis bagiannya.
Sayangnya, biodata para penulis tidak ada. Ini membuat pembaca bertanya-tanya dan tidak bisa
melacak lebih lanjut tentang latar belakang mereka. Mungkin kita sudah mengenal
Eric, John, dan Lisabona, tapi tetap saja perlu dicantumkan sebagai penghargaan
kepada mereka dan kemungkinan menjalin jaringan kerja antar pemerhati film
Indonesia--apalagi ini juga untuk pasar internasional yang mayoritas tidak
mengetahui peta perfilman Indonesia dan para kritikusnya. Untuk sebagian orang,
Corneles Alberto Joris, misalnya, adalah nama yang tidak banyak orang
ketahui—saya hanya tahu dari google bahwa ini adalah nama lain dari Berthy
Joris, kordinator efek special film Takut
dan kordinator kasting Eat Pray Love.
Pun dengan Deborah Ann Gabinetti (kordinator Bali Film Center). Tentu, kalau
ada biodata singkat, pembaca tak payah diberikan pekerjaan rumah yang tak
perlu.
Tentu saja buku terbitan pemerintah ini harus diapreasi
setinggi-tingginya, dan menjadi kado Hari Film tahun lalu yang manis untuk
semua pencinta dan pekerja film Indonesia. Sayangnya, proyek besar dan
jarang-jarang ada ini kurang maksimal dan terasa masih, mengutip anak gaul, “kentang” alias “kena tanggung”. Mungkin kalau satu bab dielaborasi tersendiri
menjadi satu buku, alias memecah buku ini menjadi buku seri beberapa jilid,
penulis bisa lebih luas mengeksplorasi da mengkaji wilayahnya. Karena memang
sejarah (budaya) sinema kita harus diperlakukan dengan penuh kepatutan, dan
sungguh sayang kalau hanya “brief”.
Thursday, 13 March 2014
Tuesday, 11 March 2014
Film, Kenyataan, dan Representasi
Senin, 13 Januari 2014 10:17 WIB
Film, Kenyataan, dan Representasi
Penulis : Ekky Imanjaya
Apakah film bisa menangkap kenyataan? Apakah film dapat menjadi imitasi , refleksi atau cerminan dari realita? Atau mungkin potret dari kenyataan?
Saya acap kali membahas soal ini, tetapi kasus baru selalu muncul seputar topik di atas, khususnya berkaitan dengan film dan penafsiran sejarah, atau “kebenaran” atas realita. Yang masih hangat tentu saja adalah film Sukarno yang dianggap penyimpangan sejarah dan character assassination dari Sang Proklamator (Kompas 19/12 2013). Kasus lainnya adalah protes Keluarga Besar Simamora se-Jabodetabek terhadap Maaf Saya Menghamili Istri Anda yang karakter utamanya, Lamhot Simamora, dan kisah pekerjaan dan keluarganya, dianggap sama persis dengan salah satu anggota mereka (Kompas 21/6 2007). Padahal sudah jelas bahwa filmMaaf adalah rekaan alias khayalan, yang berada pada semesta reka-percaya, bukan berdasarkan fakta, atau adaptasi kisah nyata.
Saya termasuk yang setuju dengan teori Representasi (dan encoding/decoding), khususnya yang dijabarkan oleh Stuart Hall dan kawan-kawan. Media khususnya Film, mau fiksi atau dokumenter, bukanlah cerminan dari Realita, tapi sekadar representasi dari kenyataan-kenyataan. "kenyataan" dalam film adalah "kenyataan" yang dipersepsi, diserap ditafsirkan, dimaknai, dipilih, dipilah, dibongkar, di(de)konstruksi oleh sutradara dan tim kreatifnya (dengan berbagai latar belakang budaya, pendidikan, dll) dari banyak realita yang ada berdasarkan tujuan-tujuan tertentu dari mereka, dan ini sah-sah saja. Jadi, itu hanya salah satu tafsir saja atasnya.
"Realita" dalam sinema adalah jawaban atas pertanyaan "realita apa?", "realita yang mana?", dan "realita menurut siapa?", sebagaimana ditulis Christine Gledhill dalam Genre and Gender: The Case of Soap Opera, kalau ternyata dianggap cetek bahkan menyimpang, maka sebanal itu pulalah isi kepala kreatornya. Dan hal itu tidak mengurangi nilai "realita-realita" yang ada di seputar subyeknya dalam pandangan dan pemaknaan penonton. Karena, manusia sebagai aktor sosiallah yang membangun makna. Cerita di dalam film adalah konstruksi pembuatnya (yang memilih realita-realita tertentu untuk dimasukkan ke dalam karyanya), dan penonton pun memproduksi makna. Proses itu terjadi dalam sebuah sistem bahasa (dalam hal ini: bahasa film). Maka, di dalam dunia fiksi seperti film atau, “realita” selalu “rekayasa”berupa konstruksi-konstruksi,termasuk di dalam aliran realisme atau dokumenter sekali pun. Untuk dokumenter, misalnya, siapa yang dipilih untuk diwawancara atau bagaimana meletakkan kamera saja sudah merupakan pilihan dari kenyataan versi pembuatnya.
Di sisi lain, seperti sudah disinggung di atas, penonton juga punya otoritas penuh untuk menafsirkan sebuah teks fiksi, dan tak harus sesuai dengan pesan atau tujuan pembuatnya.
Lihatlah film biografi atau sejarah lainnya. Bandingkan, misalnya, Antara sudut pandang The Birth of a Nation dengan Lincoln tentang dihapusnya perbudakan di Amerika Serikat. Atau cek film-film tentang Abraham Lincoln (dari yang “lurus-lurus saja” hingga yang fantastik macamVampire Hunter dan Abraham Lincoln Vs. Zombies)
Karena saya belum menonton Sukarno dan kasus di film Maaf sudah cukup benderang, saya akan membahas kasus lain berkaitan dengan representasi dan realita. Pada Desember 2012, saya diundang ke Sekolah Menulis Dokarim, Banda Aceh untuk menjadi salah satu pembicara di diskusi “Lokal Aceh, Lokal Arab: Meneguhkan citra Islam dalam Budaya Lokal”, pada Festival Film Arab.
Konteksnya kala itu, banyak rakyat Aceh yang percaya bahwa Islam identik dengan Arab, dan karenanya semuanya harus diarabkan, termasuk penanaman pohon Kurma di halaman Masjid Baiturrahman. Karena itu, tujuan dari festival film ini adalah menunjukkan bahwa boleh jadi Arab lebih tua dari Islam, tapi Islam jauh lebih luas dan lebih universal daripada Arab. Lewat film-film yang dipilih, panitia ingin memperkenalkan situasi keseharian di Timur Tengah, persoalan-persoalan rumah tangga, politik, agama dan sebagainya.
Bagi festival film ini, Arab adalah salah satu aspek budaya saja yang mewakili huruf A, padahal masih ACEH – sebagaimana secara populer dipercaya oleh rakyat Aceh – terdiri dari A (rab), C(ina), E(ropa), dan H(industan).Tengoklah tulisan di belakang kaos panitia mereka: Ini jaman boeroek boeat pikeran dan imajinasi. Siapa bilang Arab itoe Atjeh –Kata Dokarim. Dan lihatlah slogan festival ini: “sinoe Aceh sideh Arab, sinoe sideh hana rab” (di sini Aceh di sana Arab, disini-di sana tidak dekat).
Usaha ini mendapat resistensi dari beberapa penonton. Tengoklah sebuah pertanyaan sesaat setelah pemutaran film pembuka, Captain Abu Raid: “Saya kira, film tadi tidak menggambarkan Arab, malah lebih dekat dengan gaya Prancis. Dan mengapa masih dibahas soal Arab dan Islam? Arab itu ya Islam, karena Islam datang dari sana”, ujarnya, yang ngeloyor pergi ketika saya hendak menjawabnya.
Tentu saja, latar Captain Abu Raid, kota Amman, jauh lebih moderat, salah satunya lewat karakter perempuannya yang tak berjilbab dan menjadi pilot, berbeda jauh dengan Arab Saudi yang melarang perempuan menyetir mobil.Seorang pembicara, seorang sosiolog, juga menolak keras pernyatan bahwa film tak dapat dijadikan referensi dalam kebudayaan, karena tidak bisa memotret realita. Buktinya, katanya, film The Corruptor dibuat di Hong Kong, sebuah tempat yang terkenal dengan komisi antikorupsi yang tegas dan sukses. Pun dengan film-film Arab di festival ini, tidak bisa dijadikan patokan bahwa itulah budaya arab “yang sebenarnya”.
Pernyataan tersebut tentu benar, tapi juga sekaligus naïf. Karena, di samping film-filmnya bernafaskan realisme, pengkajian dengan pendekatan representasi lazim menjadi alat analisa untuk mengkaji problematika kemasyarakatan pada sebuah produk budaya seperti sinema, seperti yang dilakukan banyak akademisi dan peneliti di bidang kajian media, kajian budaya, dan ilmu komunikasi. Dan satu lagi, apakah itu, Arab “yang sebenarnya”, karena ada Mesir, Jordania, Suriah, Qatar,Palestina, Libanon, Uni Emirat Arab, dan sebagainya yang jelas semuanya mempunyai karakteristik kultural yang berbeda-beda (di samping ideologi yang tak hanya satu jenis Islam, tapi juga berbagai madzhab Islam, selain sosialisme, sekularisme, nasionalisme, dan sebagainya). Dan, untuk membuktikannya, silahkan kunjungi Negara-negara itu dan lihat dengan mata kepala sendiri. Atau, alternatifnya, silahkan mengembara lewat film, buku, dan media lainnya.
Representasi dan realita. Topik ini ini agaknya akan terus menjadi polemik yang, jika dikelola dengan baik, akan menimbulkan dinamika yang positif bagi dunia kritik film.
sumber: http://m.islamindonesia.co.id/detail/1119-Film-Kenyataan-dan-Representasi
Subscribe to:
Posts (Atom)