Khutbah Jumat: Merenungi Waktu lewat Film "Sore: Istri dari Masa Depan" (07 Agustus 2025)
KHUTBAH PERTAMA
(1) Pembukaan Khotbah Jumat
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ
خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Segala puja dan puji: nikmat iman, islam, dan nikmat
Kesehatan.
Dan juga atas karunia perpanjangan waktu, umur panjang,
sehingga kita bisa terus beribadah, baik ibadah ritual (hablumminallah) atau
ibadah sosial (hablumminannas)
Salam dan salawat kepada junjungan kita.
Nasihat takwa: berhati-hati dalam melangkah, agar
selalu menghindari hal-hal yang dimurkaiNya dan menjalankan segala perintahNya.
(1) Di awal
saya sebut kita mesti berterima kasih kepada Allah telah memberikan kita waktu
dan umur panjang.
Karena, seperti ayat yang saya baca
tadi, Waktu dan hari esok sangat penting untuk direnungi dan direncanakan,
karena kita di dunia hanya sementara, kata orang Jawa ”Cuma mampir ngombe”,
numpang minum
Sebagaimana firman Allah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ
خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kamu kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan
(QS.
Al-Hasyr: 18)
(2) Film “Sore” dan Refleksi tentang Waktu
Jama’ah
Jumat yang dimuliakan Allah,
Baru-baru ini, film pendek berjudul Sore menjadi viral di tengah
masyarakat. Film ini menyentuh hati banyak penonton karena berbicara tentang pentingnya waktu.
Banyak
teori bermunculan, semuanya bermuara pada pentingnya memanfaatkan waktu.
(3) “Jangan Mengutuk Waktu,
karena Tuhan adalah Waktu”
Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَسُبُّ أَحَدُكُمُ الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah kalian mencela waktu, karena sesungguhnya Allah-lah (yang
mengatur) waktu itu.”
(HR.
Muslim, no. 2246)
Adapun
makna hadits, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah:
“Mereka
(para ulama) berkata bahwa hadits ini adalah ungkapan (bukan hakiki) karena
dulu orang Arab suka mencela waktu ketika terjadi malapetaka dam musibah yang
menimpa mereka, baik berupa kematian, pikun, kehilangan harta dan yang lainnya,
lalu mereka berkata: “Wahai waktu yang sial!’ atau kalimat lainnya yang
mengandung celaan terhadap waktu. Maka berkatalah Nabi
Shalallahu ‘Alaihi wa sallam seperti hadits di atas.
Artinya , menurut Imam Annawani, janganlah kalian mencela pembuat
kejadian karena apabila kalian mencela pembuat kejadian terkenalah celaan itu
kepada Allah Ta’ala, karena Dialah Pembuat kejadian itu. Adapun Ad-Dahr itu
sendiri maknanya adalah waktu (masa), dia tidak punya perbuatan bahkan dia
adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Ta’ala. Dan makna “Sesungguhnya
Allah adalah Ad-Dahr (waktu)” artinya pembuat dan pencipta peristiwa dan
kejadian. Wallahu
A’lam.” [Syarah Muslim 3/15]
Hadis ini
mengguncang pemikiran filsuf besar Henry Bergson. Bertahun-tahun ia mendalami
konsep durée—yang tak sekadar berarti waktu atau durasi tapi durasi
eksistensial yang mendalam. Muhammad Iqbal, penyair dan filsuf Muslim, mengutip
hadis tersebut saat menjenguk Bergson di Paris pada 1930-an. Saat itu Iqbal
sedang mendalami filsafat waktu dan ingin bertemu langsung dengan tokoh penting
pemikiran Barat itu.
Dalam
Islam, kata ad-dahr bermakna lebih dari sekadar waktu: ia mencakup
dimensi keabadian, durasi yang menjadi latar semua peristiwa semesta. Iqbal
pernah menulis:
"Jika
dahr itu kontinu dan meluas, dan jika itu adalah Allah sendiri—lalu, apa itu
ruang?"
(4) Allah Bersumpah Demi Waktu
Dalam
Al-Qur’an, Allah sering bersumpah dengan waktu dengan berbagai variasi dan
nama, sebagai bentuk penekanan atas pentingnya waktu. Karena, setiap Allah bersumpah atas nama
makhluknya, itu adalah sebuah pernyataan bahwa ciptaannya itu, termasuk Waktu,
adalah sangat penting.
Di antaranya:
- Surat Al-‘Ashr (103:1-2):
2.
وَالْعَصْرِ (103:1):
"Demi waktu Ashar
(sore)." Ayat ini dimulai dengan sumpah Allah SWT atas waktu,
menunjukkan pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.
3.
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ (103:2):
"Sungguh, manusia
benar-benar berada dalam kerugian." Ayat ini menegaskan bahwa manusia
secara umum akan merugi jika tidak memanfaatkan waktu dengan baik
- Surat Adh-Dhuha (93:1-2):
وَالضُّحَىٰ (Wad duhaa):
Demi waktu dhuha, yaitu waktu ketika matahari naik
sepenggalah setelah terbit.
وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (Wal laili idzaa sajaa):
Demi malam apabila telah sunyi, yaitu malam yang
gelap dan tenang
مَا وَدَّعَكَ
رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ٣
mâ wadda‘aka rabbuka wa mâ qalâ
Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan
tidak (pula) membencimu.
وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ٤ wa
wa lal-âkhiratu khairul laka minal-ûlâ
Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada
yang permulaan (dunia).
3. Surat Al-Fajr (89:1–2):
· وَالْفَجْرِ (wal-fajri):
"Demi
fajar". Fajar di sini merujuk pada waktu subuh, saat kegelapan malam
mulai sirna dan cahaya mulai menyingsing, menandakan dimulainya aktivitas baru.
·
وَلَيَالٍ عَشْرٍ (wa layālin 'asyr):
"dan malam yang
sepuluh". Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai malam yang
dimaksud, namun mayoritas meyakini bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam
pertama bulan Dzulhijjah, yang merupakan bulan suci dan memiliki keutamaan
tersendiri dalam Islam, terutama terkait dengan ibadah haji.
وَالَّيْلِ
اِذَا يَسْرِۚ ٤
wal-laili idzâ yasrdan demi malam apabila berlalu.
هَلْ
فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ ٥
hal fî dzâlika qasamul lidzî ḫijrApakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang
dapat diterima) oleh (orang) yang berakal?
اَلَمْ
تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ ٦
a lam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi‘âdTidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan
bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad,
اِرَمَ
ذَاتِ الْعِمَادِۖ ٧
irama dzâtil-‘imâd(yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang
mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi
merenungi Sejarah, peradaban masa lalu dan kaitannya
dengan takwa dan iman.
Surat Al-Lail (92:1)
: وَالَّيْلِ
اِذَا يَغْشٰىۙ ١
wal-laili idzâ yaghsyâDemi malam
apabila menutupi (cahaya siang),
وَالنَّهَارِ
اِذَا تَجَلّٰىۙ ٢
wan-nahâri idzâ
tajallâdemi siang apabila
terang benderang,
وَمَا
خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىٓۙ ٣
wa mâ
khalaqadz-dzakara wal-untsâdan demi penciptaan laki-laki dan perempuan,
اِنَّ
سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ ٤
inna sa‘yakum
lasyattâsesungguhnya
usahamu benar-benar beraneka ragam.
فَاَمَّا
مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ ٥
fa ammâ man a‘thâ wattaqâSiapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan
bertakwa
وَصَدَّقَ
بِالْحُسْنٰىۙ ٦
wa shaddaqa bil-ḫusnâserta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik
(surga),
فَسَنُيَسِّرُهٗ
لِلْيُسْرٰىۗ ٧
fa
sanuyassiruhû lil-yusrâ
Kami akan
melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan).
وَاَمَّا
مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ ٨
wa ammâ mam
bakhila wastaghnâAdapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup
(tidak perlu pertolongan Allah)
وَكَذَّبَ
بِالْحُسْنٰىۙ ٩
wa kadzdzaba
bil-ḫusnâserta mendustakan
(balasan) yang terbaik,
فَسَنُيَسِّرُهٗ
لِلْعُسْرٰىۗ ١٠
fa sanuyassiruhû
lil-‘usrâKami akan
memudahkannya menuju jalan kesengsaraan.
وَمَا
يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ ١١
wa mâ yughnî
‘an-hu mâluhû idzâ taraddâHartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah
binasa.
- Surat At-Takwir (81:18):
5.
وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَس١٧
wal-laili
idzâ ‘as‘asdemi malam apabila telah larut,
6.
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ ١٨
wash-shub-ḫi
idzâ tanaffasdemi subuh apabila (fajar) telah
menyingsing,
7.
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ
كَرِيْمٍۙ ١٩
innahû
laqaulu rasûling karîmsesungguhnya (Al-Qur’an) itu
benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)
8.
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ
مَكِيْنٍۙ ٢٠
dzî
quwwatin ‘inda dzil-‘arsyi makîn
yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang
memiliki ʻArasy,
9.
مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ٢١
muthâ‘in
tsamma amînyang di sana (Jibril) ditaati lagi
dipercaya.
(6) Waktu sebagai Amanah dan Ujian
Rasulullah
ﷺ bersabda:
“Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh
banyak manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari, no. 6412)
Ada
pepatah Arab yang sangat terkenal:
- Al-Waqtu kassaif (الوقت
كالسيف): "Al-waqtu"
berarti waktu, dan "kassaif" berarti seperti pedang.
- In lam taqtha'hu (إن لم
تقطعه): "In
lam taqtha'hu" berarti "jika engkau tidak memotongnya" atau
"jika engkau tidak memanfaatkannya".
- Qatha'aka (قطعك): "Qatha'aka"
berarti "ia akan memotongmu" atau "ia akan
menebasmu".
Artinya,
waktu bukan hanya sesuatu yang berlalu, tetapi juga sesuatu yang
menentukan—antara keberuntungan dan kerugian, antara surga dan neraka.
(7) Doa Penutup Khotbah Pertama
KHUTBAH KEDUA
(8) Pembuka Khotbah Kedua
(9) Doa penutup
No comments:
Post a Comment