Friday, 25 September 2026

Khutbah Jumat: Merenungi Waktu lewat Film "Sore"

Khutbah Jumat:  Merenungi  Waktu lewat Film "Sore: Istri dari Masa Depan"  (07 Agustus 2025)


KHUTBAH PERTAMA



(1) Pembukaan Khotbah Jumat

  

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

 

Segala puja dan puji: nikmat iman, islam, dan nikmat Kesehatan.

Dan juga atas karunia perpanjangan waktu, umur panjang, sehingga kita bisa terus beribadah, baik ibadah ritual (hablumminallah) atau ibadah sosial (hablumminannas)

Salam dan salawat kepada junjungan kita.

Nasihat takwa: berhati-hati dalam melangkah, agar selalu menghindari hal-hal yang dimurkaiNya dan menjalankan segala perintahNya.

 

(1)   Di awal saya sebut kita mesti berterima kasih kepada Allah telah memberikan kita waktu dan umur panjang.

Karena, seperti ayat yang saya baca tadi, Waktu dan hari esok sangat penting untuk direnungi dan direncanakan, karena kita di dunia hanya sementara, kata orang Jawa ”Cuma mampir ngombe”, numpang minum

Sebagaimana firman Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

 

(QS. Al-Hasyr: 18)

(2) Film “Sore” dan Refleksi tentang Waktu

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,
Baru-baru ini, film pendek berjudul Sore menjadi viral di tengah masyarakat. Film ini menyentuh hati banyak penonton karena berbicara tentang  pentingnya waktu.

Banyak teori bermunculan, semuanya bermuara pada pentingnya memanfaatkan waktu.

(3) “Jangan Mengutuk Waktu, karena Tuhan adalah Waktu”

Dalam hadis sahih riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَسُبُّ أَحَدُكُمُ الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

 
“Janganlah kalian mencela waktu, karena sesungguhnya Allah-lah (yang mengatur) waktu itu.”
(HR. Muslim, no. 2246)

Adapun makna hadits, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah:

“Mereka (para ulama) berkata bahwa hadits ini adalah ungkapan (bukan hakiki) karena dulu orang Arab suka mencela waktu ketika terjadi malapetaka dam musibah yang menimpa mereka, baik berupa kematian, pikun, kehilangan harta dan yang lainnya, lalu mereka berkata: “Wahai waktu yang sial!’ atau kalimat lainnya yang mengandung celaan terhadap waktu. Maka berkatalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam seperti hadits di atas.

Artinya , menurut Imam Annawani, janganlah kalian mencela pembuat kejadian karena apabila kalian mencela pembuat kejadian terkenalah celaan itu kepada Allah Ta’ala, karena Dialah Pembuat kejadian itu. Adapun Ad-Dahr itu sendiri maknanya adalah waktu (masa), dia tidak punya perbuatan bahkan dia adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah Ta’ala. Dan makna “Sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr (waktu)” artinya pembuat dan pencipta peristiwa dan kejadian. Wallahu A’lam.” [Syarah Muslim 3/15]

 

Hadis ini mengguncang pemikiran filsuf besar Henry Bergson. Bertahun-tahun ia mendalami konsep durée—yang tak sekadar berarti waktu atau durasi tapi durasi eksistensial yang mendalam. Muhammad Iqbal, penyair dan filsuf Muslim, mengutip hadis tersebut saat menjenguk Bergson di Paris pada 1930-an. Saat itu Iqbal sedang mendalami filsafat waktu dan ingin bertemu langsung dengan tokoh penting pemikiran Barat itu.

Dalam Islam, kata ad-dahr bermakna lebih dari sekadar waktu: ia mencakup dimensi keabadian, durasi yang menjadi latar semua peristiwa semesta. Iqbal pernah menulis:

"Jika dahr itu kontinu dan meluas, dan jika itu adalah Allah sendiri—lalu, apa itu ruang?"

(4) Allah Bersumpah Demi Waktu

Dalam Al-Qur’an, Allah sering bersumpah dengan waktu dengan berbagai variasi dan nama, sebagai bentuk penekanan atas pentingnya waktu.  Karena, setiap Allah bersumpah atas nama makhluknya, itu adalah sebuah pernyataan bahwa ciptaannya itu, termasuk Waktu, adalah sangat penting.

Di antaranya:

  1. Surat Al-‘Ashr (103:1-2):

2.    وَالْعَصْرِ (103:1):

"Demi waktu Ashar (sore)." Ayat ini dimulai dengan sumpah Allah SWT atas waktu, menunjukkan pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

3.    اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ (103:2):

"Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian." Ayat ini menegaskan bahwa manusia secara umum akan merugi jika tidak memanfaatkan waktu dengan baik

 

  1. Surat Adh-Dhuha (93:1-2):

 وَالضُّحَىٰ (Wad duhaa):

Demi waktu dhuha, yaitu waktu ketika matahari naik sepenggalah setelah terbit.

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (Wal laili idzaa sajaa):

Demi malam apabila telah sunyi, yaitu malam yang gelap dan tenang

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ۝٣

mâ wadda‘aka rabbuka wa mâ qalâ

Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ ۝٤ wa

wa lal-âkhiratu khairul laka minal-ûlâ

Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).

 

3.     Surat Al-Fajr (89:1–2):

·        وَالْفَجْرِ (wal-fajri):

"Demi fajar". Fajar di sini merujuk pada waktu subuh, saat kegelapan malam mulai sirna dan cahaya mulai menyingsing, menandakan dimulainya aktivitas baru. 

·       وَلَيَالٍ عَشْرٍ (wa layālin 'asyr):

"dan malam yang sepuluh". Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai malam yang dimaksud, namun mayoritas meyakini bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, yang merupakan bulan suci dan memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam, terutama terkait dengan ibadah haji. 

 

وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ ۝٤

wal-laili idzâ yasrdan demi malam apabila berlalu.

هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ ۝٥

hal fî dzâlika qasamul lidzî ḫijrApakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh (orang) yang berakal?

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ ۝٦

a lam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi‘âdTidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad,

 

اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ ۝٧

irama dzâtil-‘imâd(yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi

 

merenungi Sejarah, peradaban masa lalu dan kaitannya dengan takwa dan iman.

 

Surat Al-Lail (92:1)

: وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ ۝١

wal-laili idzâ yaghsyâDemi malam apabila menutupi (cahaya siang),

وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ ۝٢

wan-nahâri idzâ tajallâdemi siang apabila terang benderang,

وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىٓۙ ۝٣

wa mâ khalaqadz-dzakara wal-untsâdan demi penciptaan laki-laki dan perempuan,

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ ۝٤

inna sa‘yakum lasyattâsesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam.

فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝٥

fa ammâ man a‘thâ wattaqâSiapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ ۝٦

wa shaddaqa bil-ḫusnâserta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga),

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ ۝٧

fa sanuyassiruhû lil-yusrâ

Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan).

وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ ۝٨

wa ammâ mam bakhila wastaghnâAdapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah)

وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ ۝٩

wa kadzdzaba bil-ḫusnâserta mendustakan (balasan) yang terbaik,

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ ۝١٠

fa sanuyassiruhû lil-‘usrâKami akan memudahkannya menuju jalan kesengsaraan.

وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ ۝١١

wa mâ yughnî ‘an-hu mâluhû idzâ taraddâHartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.

  1. Surat At-Takwir (81:18):

 

5.  وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَس۝١٧

 

wal-laili idzâ ‘as‘asdemi malam apabila telah larut,

6.  وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ ۝١٨

wash-shub-ḫi idzâ tanaffasdemi subuh apabila (fajar) telah menyingsing,

7.  اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ۝١٩

innahû laqaulu rasûling karîmsesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)

8.  ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ ۝٢٠

dzî quwwatin ‘inda dzil-‘arsyi makîn

yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy,

9.  مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ ۝٢١

muthâ‘in tsamma amînyang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.

 

(6) Waktu sebagai Amanah dan Ujian

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh banyak manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari, no. 6412)

Ada pepatah Arab yang sangat terkenal:

  • Al-Waqtu kassaif (الوقت كالسيف): "Al-waqtu" berarti waktu, dan "kassaif" berarti seperti pedang.
  • In lam taqtha'hu (إن لم تقطعه): "In lam taqtha'hu" berarti "jika engkau tidak memotongnya" atau "jika engkau tidak memanfaatkannya".
  • Qatha'aka (قطعك): "Qatha'aka" berarti "ia akan memotongmu" atau "ia akan menebasmu". 

Artinya, waktu bukan hanya sesuatu yang berlalu, tetapi juga sesuatu yang menentukan—antara keberuntungan dan kerugian, antara surga dan neraka.

(7) Doa Penutup Khotbah Pertama

 KHUTBAH KEDUA

(8) Pembuka Khotbah Kedua

(9) Doa penutup  

No comments:

Post a Comment