Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Friday, 3 November 2017

Kumpulan Resensi Film Saya di Detikhot.com

Ada masa saya rajin menulis resensi film di Detikhot.com, khususnya antara 2010 hingga 2012.
Mumpung lagi semangat mengumpulkan karya-karya lama, saya telusuri karya-karya saya itu.
Ada sekitar 59 tulisan yang saya temukan di sana.
Berikut  tulisan-tulisannya. Silahkan klik judul-judul yang diinginkan.
Urutan di bawah ini bukan ranking dan acak semata.

detikcom



1. ALNI: Alangkah Bermasalahnya Negeri Ini, 19 April 2010




2. \'Minggu Pagi di Victoria Park\': Dunia Penuh Warna Buruh Migran, 10 Juni 2010,



3. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta: Bukan Sekadar Film Cinta Beda Agama, 21 Juni 2010


4. \'Metamorfoblus\': Sebuah Virus bernama Slank, 29 Oktober 2010,


5. \'In the Name of God\': Pernyataan Politik yang Keras tapi Menghibur, 11 November 2010,



6. \'13 Assassins\': Dunia Samurai di Mata Manusia Bebas, 19 April 2011



7. \'Lovely Man\', Kesederhanaan Cerita adalah Kekuatannya, 10 Mei 2012.




















25. \'Rapunzel\': Putri Berambut Panjang Keemasan dan Penggorengan Mautnya, 3 Desember 2010.








































Wednesday, 23 December 2015

Highlight: Best of 2015

Medina tries to spell and read
(Pembahasan singkat berbahasa Indonesia, sila ke bawah)

January
Harry Potter Studio, 24 January 2015 
March
SCMS, Montreal, 25-29 March

Plaridel journal, special issue (as guest editor), late March 2015. (complete title:  "The Bad, The Worse, and The Worst: TheSignificance of Indonesian Cult, Exploitation, and B Movies", untuk jurnal Plaridel:  A Philippine Journal of Communication, Media, and Society, Volume 1, Issue No. 2; 2014)

A Talk at Harvard University, 30 March

May

July
Public Engagement Prizes, UEA Graduate School Prizes 2015, 14 July

August
Henry Jenkins’s Talk, IKJ, Jakarta, 5 August

September
Finished writing the first draft of my thesis, early September
Medina went to school (Reception), September
Medina passed Toilet Training completely
Doctor Who series 9,  19 September – 5 December

October
Workshop on Indonesian Cinema as SOAS, University of London (as co-organizer and presenter), including as a chair for Pete Tombs Talk,   3-5   October

November
I discovered and love Banksy’s Works

December
Medina started to spell and read books! December

Resolution of 2016:
1.       Viva, or, at least, submit the final draft of my doctoral thesis
2.       Publish a proper scholarly paper(s) in, at least, one journal.


Wish list of 2016:
1.       Cardiff  Doctor Who studio
2.       Liverpool’s Beatles tour


Catatan Tahun 2015:  Keluar dari Zona Nyaman.

Tahun ini, saya sekeluarga mengalami banyak kejadian yang, boleh disebut, keluar dari Zona Nyaman. Pertama, kami pindah ke Bristol, dari Norwich.

Dalam bidang akademis, supervisor saya menyarankan saya untuk mempresentasikan bab-bab saya di dua dari konperensi terbaik di bidang Kajian Film, yaitu SCMS (Society for Cinema and Media Studies) dan MECCSA (Media, Cultural, and Communication Studies Association), dan saya berhasil melaksanakanya. SCMS, sejauh ini, adalah konperensi terbaik yang pernah saya ikuti. Saya mendapatkan jaringan-kerja yang sangat luas dan kelas dunia. Panel saya didatangi oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, yang sebelumnya saya cuma tahu di media social, atau baca karyanya (misalnya, Kate Egan, Austin Fisher, dan Johnny Walker ). Dan,lebih banyak lagi nama besar yang saya temui (Barbara Klinger, Linda Williams, Tom Gunning, Andrew Dudley, Matt Hill, dan banyak lagi), yang sebelumnya Cuma saya ketahui lewat bacaan-bacaan saja. Mengapa “keluar dari Zona NYaman?”, karena keduanya adalah yang terbaik di bidang kajian sinema, dan kajiannnya lebih umum sifatnya (tidak seperti Cine-Excess, atau Global Exploitation Cinema, yang sangat spesifik ke topik tesis saya, misalnya), dan tidak banyak akademisi di bidang kajian sinema tahu tentang sinema Indonesia. Sebaliknya, sedikit sekali akademisi dari Kajian Area (Kajian Indonesia, atau Asia Tenggara) yang minat dengan sinema.

Dan, alhamdulillah, saya 2 penghargaan dari kampus saya, University of East Anglia (UEA), yaitu Student Award (UEA engagement award) dan   Public Engagement Prize (UEA Graduate School Prizes 2015).

front cover of Plaridel Journal i guest-edited
Selain itu, saya diberi kesempatan untuk menjadi penyunting tamu jurnal Plaridel. Untuk pertama kalinya, saya merasakan kerepotan dan kewalahan mengelola sebuah jurnal ilmiah, namun sangat menikmati prosesnya, karena saya boleh membingkai topik dan mengundang orang-orang penting menulis sesuatu yang berkaitan dengan bidang riset yang sedang saya geluti.  Saya menerima banyak tulisan menarik dan orang-orang keren, termasuk Prof. Xavier Mendik (salah satu Begawan di bidang cult cinema). Dan juga, bersentuhan (lagi) dengan orang-orang keren yang mau membantu sebagai reviewer.

Tahun ini pula, saya mendapat kehormatan untuk berkorespondensi dan menjadi salah satu panitia serta menjadi moderator dari Henry Jenkins, salah satu tokoh utama di bidang fan culture studies, aca/fan, dan participatory culture.

Urusan non-akademis juga tak kalah menarik tahun ini. Yang paling berkesan adalah mengunjungi Studio Harry Potter, dan menikmati seri terbaru Doctor Who (Semoga saya bisa mengunjungi studionya di Cardiff, tahun depan).

Kekurangan saya, salah satunya, adalah kebanyakan konperensi (buat networking juga) serta membuat acara-acara (termasuk co-organizer di Workshop on Indonesian Cinema di SOAS dan London Indonesian Film Screenings), dan kurang fokus pada penerbitan paper di jurnal. Jadi, salah satu resolusi utama saya tahun 2016 adalah menerbitkan salah satu (atau dua) bab dalam tesis  saya di jurnal ilmiah internasional. Resolusi kedua utama saya:  lulus kuliah, atau setidaknya menyerahkan draft final tesis saya.

Tetapi tak ada yang lebih membahagiakan saya daripada melihat Medina, anak saya yang baru berusia 4 tahun itu, selesai fase toilet training. Dan kini, dia sedang sibuk membaca (tepatnya; mengeja) buku cerita.  Medina juga suka sekali dengan dongeng dan buku cerita. Buku horror pertamanya adalah Killer Gorilla. Dia senang ditakut-takuti dengan buku itu. Bukan takut dalam arti “takut” sewaktu menonton Doctor Who (yang ada banyak makhluk anehnya), tapi takut-takut senang nagih gitu.


Terima kasih semuanya! Terima kasih kepada para tamu yang berkunjung!  Alhamdulillah

Sampai ketemu di tahun 2016.




Thursday, 7 March 2013

Pan's Labyrinth review competition

I just got this email from Picturehouse in London. I lost the competition, but I am happy though :).

-->
Hi Ekky,

Thank you for entering our Pan's Labyrinth review competition.
Unfortunately whilst you haven't won first place, we really liked your review and you're in our top-three of runners-up! Let me know your address and we can send you an original vintage Pan's poster.
Thanks again!
Frances
<--
 
 
Oh ya, here's my review

Monday, 4 March 2013

Princess Ofelia in Two Worlds


Spain in 1944 is covered by gloomy night and opaque noon, particularly in Navarra Hill, where the battle seems never end and the gunpowder smoke smells everywhere. It has been 5 years since the civil war ends, but the tension of fear never goes away, especially for 11 year old girl named Ofelia (Ivana Baquero). She stays with her pregnant mother (Ariadna Gill), and her stepfather, the ruthless Kapitan Vidal (Sergi Lopez) who fights against the rebellion. Until she finds out the true, the fact that she is the lost Princess Moana from fairy tale.
And this truth forces the audience to decide: do we believe this dreamland full of a faun, monsters, and fairies? Or, do we follow adults reason and think that the underworld is just a way for a little girl to escape from the cruelty of life? Your decision will determine whether the film has a happy or sad ending. Nonetheless, the director, Guillermo del Toro drags us to agree with him: the real world is more sadistic than any monster imagined by anyone.
And he chose unique storytelling. Common people usually ask: what genre is it? Drama or fantasy, or mixed genre? Who is the target audience? Children (because of the fairy tale) or adult (because of the realistic violence). But, those kinds of questions are not valid, since the director is not into formulaic genre but rather to movement and style.  
The film tells a story about the magical adventure of Ophelia. In the middle inhuman battle, she was assigned by Pan the Faun to complete 3 complicated tasks, as requirements for her coming back as a Royal Princess. Those tasks are exams for her since she went out and got lost for experiencing “…blue skies, soft breeze, and sunshine, despite she lived in, according to Pan, “…the underground realm, where there are no lies or pain. So, the Alice in Wonderland spirit begins. Beside Pan (Doug Johnson), Mercedes the maid (Maribel Verdu) also plays an important role.
So, it is up to you, the audience, whether you want to buy discourses served by the Faun, or believe that those are just tales from a girl who wants to escape from unfriendly reality 


Title: Pan’s Labyrinth 
Original Title:  Laberinto del Fauno 
Year: 2006
Director: Guillermo del Toro.
Cast: Ivana Baquero, Sergi López, Maribel Verdú, Doug Jones, Ariadna Gil