Ada masa saya rajin menulis resensi film di Detikhot.com, khususnya antara 2010 hingga 2012.
Mumpung lagi semangat mengumpulkan karya-karya lama, saya telusuri karya-karya saya itu.
Ada sekitar 59 tulisan yang saya temukan di sana.
Berikut tulisan-tulisannya. Silahkan klik judul-judul yang diinginkan.
Urutan di bawah ini bukan ranking dan acak semata.
Tahun ini, saya sekeluarga mengalami banyak kejadian yang, boleh
disebut, keluar dari Zona Nyaman. Pertama, kami pindah ke Bristol, dari Norwich.
Dalam bidang akademis, supervisor saya menyarankan saya
untuk mempresentasikan bab-bab saya di dua dari konperensi terbaik di bidang
Kajian Film, yaitu SCMS (Society for Cinema and Media Studies) dan MECCSA
(Media, Cultural, and Communication Studies Association), dan saya berhasil
melaksanakanya. SCMS, sejauh ini, adalah konperensi terbaik yang pernah saya
ikuti. Saya mendapatkan jaringan-kerja yang sangat luas dan kelas dunia. Panel
saya didatangi oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, yang sebelumnya saya cuma
tahu di media social, atau baca karyanya (misalnya, Kate Egan, Austin Fisher,
dan Johnny Walker ). Dan,lebih banyak lagi nama besar yang saya temui
(Barbara Klinger, Linda Williams, Tom Gunning, Andrew Dudley, Matt Hill, dan
banyak lagi), yang sebelumnya Cuma saya ketahui lewat bacaan-bacaan saja.
Mengapa “keluar dari Zona NYaman?”, karena keduanya adalah yang terbaik di
bidang kajian sinema, dan kajiannnya lebih umum sifatnya (tidak seperti
Cine-Excess, atau Global Exploitation Cinema, yang sangat spesifik ke topik
tesis saya, misalnya), dan tidak banyak akademisi di bidang kajian sinema tahu
tentang sinema Indonesia. Sebaliknya, sedikit sekali akademisi dari Kajian Area
(Kajian Indonesia, atau Asia Tenggara) yang minat dengan sinema.
Dan, alhamdulillah, saya 2 penghargaan
dari kampus saya, University of East Anglia (UEA), yaitu Student Award (UEA engagement award)
dan Public Engagement Prize (UEA Graduate School Prizes 2015).
front cover of Plaridel Journal i guest-edited
Selain itu, saya diberi kesempatan
untuk menjadi penyunting tamu jurnal Plaridel. Untuk pertama kalinya, saya
merasakan kerepotan dan kewalahan mengelola sebuah jurnal ilmiah, namun sangat
menikmati prosesnya, karena saya boleh membingkai topik dan mengundang
orang-orang penting menulis sesuatu yang berkaitan dengan bidang riset yang
sedang saya geluti. Saya menerima banyak
tulisan menarik dan orang-orang keren, termasuk Prof. Xavier Mendik (salah satu
Begawan di bidang cult cinema). Dan juga, bersentuhan (lagi) dengan orang-orang
keren yang mau membantu sebagai reviewer.
Tahun ini pula, saya mendapat kehormatan untuk berkorespondensi
dan menjadi salah satu panitia serta menjadi moderator dari Henry Jenkins,
salah satu tokoh utama di bidang fan culture studies, aca/fan, dan participatory culture.
Urusan non-akademis juga tak kalah menarik tahun ini. Yang
paling berkesan adalah mengunjungi Studio Harry Potter, dan menikmati seri
terbaru Doctor Who (Semoga saya bisa mengunjungi studionya di Cardiff, tahun
depan).
Kekurangan saya, salah satunya, adalah kebanyakan konperensi
(buat networking juga) serta membuat acara-acara (termasuk co-organizer di
Workshop on Indonesian Cinema di SOAS dan London Indonesian Film Screenings), dan kurang fokus pada penerbitan paper
di jurnal. Jadi, salah satu resolusi utama saya tahun 2016 adalah menerbitkan
salah satu (atau dua) bab dalam tesis saya di jurnal ilmiah internasional. Resolusi kedua
utama saya: lulus kuliah, atau
setidaknya menyerahkan draft final tesis saya.
Tetapi tak ada yang lebih membahagiakan saya daripada
melihat Medina, anak saya yang baru berusia 4 tahun itu, selesai fase toilet
training. Dan kini, dia sedang sibuk membaca (tepatnya; mengeja) buku cerita. Medina juga suka sekali dengan dongeng dan
buku cerita. Buku horror pertamanya adalah Killer Gorilla. Dia senang
ditakut-takuti dengan buku itu. Bukan takut dalam arti “takut” sewaktu menonton
Doctor Who (yang ada banyak makhluk anehnya), tapi takut-takut senang nagih
gitu. J
Terima kasih semuanya! Terima kasih kepada para tamu yang berkunjung! Alhamdulillah
I just got this email from Picturehouse in London. I lost the competition, but I am happy though :).
-->
Hi Ekky,
Thank you for entering our Pan's Labyrinth review competition.
Unfortunately whilst you haven't won first place, we really liked your review and you're in our top-three of runners-up! Let me know your address and we can send you an original vintage Pan's poster.
Spain in 1944 is covered by gloomy night and opaque noon, particularly in Navarra Hill, where the battle seems never end and the gunpowder smoke smells everywhere. It has been 5 years since the civil war ends, but the tension of fear never goes away, especially for 11 year old girl named Ofelia (Ivana Baquero). She stays with her pregnant mother (Ariadna Gill), and her stepfather, the ruthless Kapitan Vidal (Sergi Lopez) who fights against the rebellion. Until she finds out the “true”, the “fact” that she is the lost Princess Moana from fairy tale.
And this “truth” forces the audience to decide: do we believe this dreamland full of a faun, monsters, and fairies? Or, do we follow adult’s reason and think that the underworld is just a way for a little girl to escape from the cruelty of life? Your decision will determine whether the film has a happy or sad ending. Nonetheless, the director, Guillermo del Toro drags us to agree with him: the real world is more sadistic than any monster imagined by anyone.
And he chose unique storytelling. Common people usually ask: “what genre is it? Drama or fantasy, or mixed genre? Who is the target audience? Children (because of the fairy tale) or adult (because of the realistic violence). But, those kinds of questions are not valid, since the director is not into formulaic genre but rather to movement and style.
The film tells a story about the magical adventure of Ophelia. In the middle inhuman battle, she was assigned by Pan the Faun to complete 3 complicated tasks, as requirements for her coming back as a Royal Princess. Those tasks are exams for her since she went out and got lost for experiencing “…blue skies, soft breeze, and sunshine”, despite she lived in, according to Pan, “…the underground realm, where there are no lies or pain”. So, the Alice in Wonderland spirit begins. Beside Pan (Doug Johnson), Mercedes the maid (Maribel Verdu) also plays an important role.
So, it is up to you, the audience, whether you want to buy discourses served by the Faun, or believe that those are just tales from a girl who wants to escape from unfriendly reality
Title: Pan’s Labyrinth Original Title: Laberinto del Fauno Year: 2006 Director: Guillermo del Toro. Cast: Ivana Baquero, Sergi López, Maribel Verdú, Doug Jones, Ariadna Gil