Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Tuesday, 19 February 2019

27 Steps of May: Trauma, Isolasi Diri, dan Dunia Sulap


Rayya Makarim berhasil  menyajikan  sebuah skenario menarik  mengenai seorang korban perkosaan yang mengalami trauma berkepanjangan.


Trauma itu begitu mendalam, sedemikian rupa sehingga May, begitu nama gadis itu, tak pernah lagi beranjak keluar  dari rumahnya. Bahkan, ketika ada kejadian kebakaran sekalipun.  Delapan tahun lalu, saat  masih berusia 14 tahun,  dia diperkosa secara massal dan brutal secara tak terduga, dan kini May  menciptakan mekanismenya sendiri untuk mengatasinya.  Dia mengisolasi dan mengalienasi dirinya dari kehidupan sosial dan memblokade emosi dan memori. Dia menciptakan rutinitasnya yang ia jalani lagi dan lagi. Berbusana sama setiap hari, menyeterika, mendandani boneka-boneka selemari, bermain lompat tali. Ia seakan berharap bahwa rutinitas bisa membuat hidupnya terhindar dari hal-hal yang tak tertebak, dan berupaya melupakan masa lalunya. Jika ada satu saja hal yang berbeda dari ritual hariannya, atau yang membuatnya teringat dengan kejadian traumatis itu, maka ia pun melukai dirinya sendiri, mengiris pergelangan tangannya. “Karena tak seperti kenangan buruk yang abstrak,  rasa sakit bisa ia kontrol” terang Rayya Makarim, sang penulis skenario yang juga produser film 27 Steps of May arahan Ravi Bharwani.
Selama 8 tahun, May cari aman, menjalani hal yang itu-itu saja dengan rigid dan penuh kehati-hatian, menghindari masa silamnya. Sampai pada suatu hari, sesaat setelah kebakaran,  ia melihat tetangganya yang seorang pesulap dari lubang tembok kamarnya. Ia seakan melihat dunia baru yang lain, yang menawarkan misteri yang juga tak terduga, tapi tak mampu memadamkan rasa ingin tahunya. Tentu saja, saat tombol emosi dan memorinya sudah aktif, dia dipaksa untuk merasakan kembali kepedihan di malam itu, dan sebagai konsekuensinya, siklus aktivitasnya juga terancam terputus. Sejauh apa dunia sulap mengubah ritus  kesehariannya yang ketat  itu?
Menurut kritikus film  Chai Hee Suk, di film yang mini kata-kata ini, ketakutan akan ketakterdugaan, seperti yang terjadi 8 tahun lalu, bertemu dengan fenomena baru penuh kejutan yang mempesonanya: dunia sulap yang magis. Tapi, seperti halnya kemahiran bersulap, menyembuhkan luka mendalam juga perlu latihan, perjuangan, dan disiplin. Saya sepakat dengannya, dengan satu tambahan: film ini juga melibatkan penonton yang peduli dan cemas dengan sang karakter utama bila tak memenuhi lingkaran rutinitas hidupnya.
Tapi kisah May bukanlah satu-satunya cerita yang kuat. Cerita sang ayah, juga tak kalah menarik. Selama 8 tahun, ia  mencoba menyembuhkan trauma putrinya, namun selalu gagal. Ia lantas menyalahkan dirinya: petinju yang tak mampu melindungi anak semata wayangnya. Dia melarutkan dirinya dalam pekerjaan yang dia sangat kuasai: bertarung. Yang penting menyakiti, meledakkan energi ketakberdayaan dan rasa bersalahnya yang mendalam.   Ia juga menjadi pendiam dan menutup diri, menghindari pembahasan seputar malam jahanam di pasar malam itu, kecuali pada Sang Kurir yang acap mengantarkan segembolan boneka untuk May. Namun, begitu sampai rumah, ia menjelma menjadi lembut dan melayani rutinitas sang putri. Kedua cerita ini beberapa kali bertemu dalam satu muara. Dan perlahan, tindakan Sang Ayah yang agresif itu menyebabkannya pulang tak sesuai jadwal rutin dan itu, tentu saja, mengganggu ritual May.
Rayya, yang sudah lama berkolaborasi dengan Ravi, menyatakan bahwa ide awalnya adalah membuat film tentang keterasingan dan alienasi, sebuah tema favorit sang sutradara Impian Kemarau dan Jermal. “Semua film Ravi berisi soal isolasi  dan alienasi”. Tak terkecuali film ini. Lantas, muncul ide soal mengangkat kasus  Perkosaan Mei 1998. “Tetapi bukan tentang pemerkosaan massalnya, lebih ke cerita personal, bagaimana sang korban setelah kejadian,” terangnya. Dikembangkan sejak sekitar 6 tahun lalu, semua hal dibahas dalam persiapan. “Karena itu, menulis skenarionya hanya sekitar 2-3 draft saja, karena kami sudah menyepakati setiap detil adegan”.  Setiap adegan dan dialog tertulis dalam skenario dan siap untuk dieksekusi.
Dunia sulap terpilih karena, menurut Rayya,   “untuk menyembuhkan luka, persoalan harus dihadapi dan dituntaskan, dan untuk memulainya, perlu hal lain, hal yang asing tapi memukau dan jauh berbeda dengan dunianya,  yang membuatnya terhisap ke dunia asing itu”, ujarnya. Proses bagaimana May bisa menyimpang dari ritual harian yang ia ciptakan sendiri, baik secara disengaja atau tidak disengaja, baik akibat si Pesulap atau sang Ayah, adalah sebuah kecemasan (atau keasyikan?) tersendiri yang dirasakan penonton. Memang, pada cerita film ini, penonton seolah dipaksa untuk merasakan apa yang dirasakan oleh May dan ayahnya.   
Dan yang paling sulit adalah menuliskan adegan perkosaannya. “Saya merasa jijik dan tersiksa saat  menuliskannya. Kami diskusi banyak hal, tapi berupaya menghindari diskusi soal ini. Sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk mau tidak mau harus duduk dan menuliskannya,” ungkap Rayya yang sebelumnya sudah menelurkan enam  skenario film panjang itu. Sebelumnya, riset dilakukan dengan membaca data dan laporan terkait  korban perkosaan massal 1998 yang berdampak secara fisik, psikis, dan emosi.
Tema siklus kekerasan dan korban perkosaan adalah hal penting yang patut diungkap. Dalam film ini, walau tak secara eksplisit, tapi bisa terlihat bagaimana May adalah  korban kekerasan dan perkosaan dan sang ayah yang justru melakukan kekerasan di ring tinju karena merasa tak berdaya menghadapi kenyataan. Saat diputar perdana di Festival Film Busan, Rayya menyatakan ada satu wanita penonton yang bertanya sambil menahan tangis, dan berterima kasih atas film ini karena telah membuat hatinya tergerak. “Rupanya, dia juga korban perkosaan”, ujar Rayya. Tapi, sang penanya tadi menegaskan kalau sekarang dia sudah baik-baik saja.
Dua cerita yang sama kuat dan mengalir, tentang karakter-karakter dan profesi-profesi yang tak lazim,  tentang hubungan ayah dan anak yang sama-sama menutup diri, dan bagaimana untuk melupakan kelamnya masa lalu adalah dengan menghadapinya. Hal-hal ini adalah beberapa yang membuat skenario film ini dinobatkan menjadi pemenang dalam Festival Film Tempo kali ini (Ekky Imanjaya, dosen jurusan Film, Universitas Bina Nusantara)

Tulisan versi editnya dimuat di Majalah Tempo, 6 Desember 2018.
Tautan: https://majalah.tempo.co/read/156701/trauma-isolasi-diri-dan-dunia-sulap?fbclid=IwAR0Xx4erFRu9ELXMVmcxw93E2h_g7OMfiOrs6Ty2ba0L5NXIQu98EvBXOpM


Dan dimuat ulang di Pabrikultur: http://majalah.pabrikultur.com/film/92/27-Steps-of-May

Thursday, 30 November 2017

Kala Majid Majidi, Sineas Iran, Menafsirkan Nabi Muhammad

Resensi saya seputar film Muhammad the Messenger (2015) karya Majid Majidi.
Dimuat di Tirto.id, 30 November 2017.
Inilah cara saya merayakan Maulid Nabi SAW.
Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad.

Link: Di sini

Friday, 3 November 2017

Kumpulan Resensi Film Saya di Detikhot.com

Ada masa saya rajin menulis resensi film di Detikhot.com, khususnya antara 2010 hingga 2012.
Mumpung lagi semangat mengumpulkan karya-karya lama, saya telusuri karya-karya saya itu.
Ada sekitar 59 tulisan yang saya temukan di sana.
Berikut  tulisan-tulisannya. Silahkan klik judul-judul yang diinginkan.
Urutan di bawah ini bukan ranking dan acak semata.

detikcom



1. ALNI: Alangkah Bermasalahnya Negeri Ini, 19 April 2010




2. \'Minggu Pagi di Victoria Park\': Dunia Penuh Warna Buruh Migran, 10 Juni 2010,



3. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta: Bukan Sekadar Film Cinta Beda Agama, 21 Juni 2010


4. \'Metamorfoblus\': Sebuah Virus bernama Slank, 29 Oktober 2010,


5. \'In the Name of God\': Pernyataan Politik yang Keras tapi Menghibur, 11 November 2010,



6. \'13 Assassins\': Dunia Samurai di Mata Manusia Bebas, 19 April 2011



7. \'Lovely Man\', Kesederhanaan Cerita adalah Kekuatannya, 10 Mei 2012.




















25. \'Rapunzel\': Putri Berambut Panjang Keemasan dan Penggorengan Mautnya, 3 Desember 2010.








































Thursday, 11 February 2016

"Babi Buta yang Ingin Terbang" : Babi-Babi Buta yang Membabi Buta Ingin Dicintai

Babi Buta yang Ingin Terbang :
Babi-Babi Buta yang Membabi Buta Ingin Dicintai
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta
02/10/2009 15:12:38
www.rumahfilm.org



No New Year's Day to celebrate
No chocolate covered candy hearts to give away
No first of spring
No song to sing
In fact here's just another ordinary day

No April rain
No flowers bloom
No wedding Saturday within the month of June
But what it is, is something true
Made up of these three words that I must say to you

I just called to say I love you

(I just called to say I love you, Stevie Wonder, dinyanyikan ulang oleh Ramondo Gascaro)

Suatu hari, Linda kecil (Clarine Baharrizki ) bertanya pada Cahyono cilik (Darren Baharrizki):”Kalau sudah besar mau jadi apa?” Cahyono menjawab: ”Apa aja, asal jangan Cina”.

Kedua anak ini memang mendapatkan banyak pengalaman buruk hanya karena mereka Cina. Padahal, Cahyono bukan Cina, tapi Jepang. Suatu saat, keduanya diganggu anak-anak nakal teman sekolah mereka, dan Linda menemukan obat mujarab untuk mengusir ketidaknyamanan itu: petasan. Linda, generasi keempat keturunan Cina di Indonesia, meyakini bahwa petasan bisa mengusir hantu-hantu, termasuk hantu sumber alergi dan kebencian terhadap Cina sepertinya dirinya.

Sejak itu, Linda selalu ditemani petasan. Bahkan, ia didatangi oleh seorang wartawan hiburan (diperankan Cesa David) karena mengukir rekor baru: gadis yang berani makan petasan! Linda memasukkan petasan itu ke dalam roti hotdog seperti layaknya sosis, mulai menyulut sumbu, dan…dor!

Linda (saat dewasa diperankan oleh Ladya Cherryl) berbuat apa saja untuk mengatasi masalah-masalah akibat identitas kecinaannya. Tujuannya satu: agar ia bisa dinyanyikan lagu I just called to say I love you, agar ia dicintai. Itulah sebabnya, ia dan orang-orang di sekitarnya selalu menyanyikan lagu dari Stevie Wonder itu, dengan harapan agar orang lain ikut menyanyi. Mereka cukup senang mendengarkan orang lain menyatakan cinta kepada mereka apa adanya, tanpa syarat kecuali mereka manusia dan layak dimanusiakan, walau hanya dalam bentuk syair belaka.

Linda melakukan segala hal agar ia diterima di lingkungannya. Dalam kasusnya, paling tidak agar tak ada lagi yang menganggunya hanya karena mata sipit dan kulit putihnya. Juga orang-orang di sekitarnya. Misalnya Verawati (Fajrin?), ibunya (Elizabeth Maria), yang mewakili Indonesia sebagai pebulutangkis, dan acap memenangi banyak piala, namun tidak mendapatkan penghargaan selayaknya. Ia tetap dipandang Cina, yang (seolah) adalah bukan warga Negara Indonesia yang utuh. (“Mana yang Indonesia, mana yang Cina,” celetuk salah satu penonton).

Kecewa dengan celetukan itu, ia berhenti bermain. Namun, bahkan di rumah pun, ia memakai kaos seragam bertuliskan Indonesia itu. Ia bergumul dengan persoalan identitas. Komentar penonton itu, seorang anak kecil, begitu menganggu batinnya, rupanya.

Yang paling fenomenal adalah Halim (Pong Harjatmo), sang ayah. Ia malu dengan fisiknya, khususnya matanya yang sipit. Maka, sang dokter gigi itu pun selalu memakai kacamata hitam, menutupi matanya –bahkan menyiletnya. Belakangan, dari keterangan di situs film ini, saya baru tahu kalau Halim buta. Ia juga mengganti nama Cinanya menjadi nama Melayu, masuk Islam, menikah lagi dengan seorang muslimah Jawa (Andhara Early) yang saat ikut Planet Idol memakai jilbab. Dan, demi cintanya pada istrinya yang ingin menjadi selebriti dan menang kontes itu, dan juga agar ia bisa hijrah ke sebuah tempat yang menerimanya apa adanya, ia melakukan pengorbanan apa pun.

Dan lihatlah, bagaimana ia dikerjai oleh sepasang homoseksual yang gemar atribut militer (pasangan mantan pejabat bernama Helmy dan Yahya ...ah, Edwin sedang bercanda nih ...atau geram?), supaya sang istri manggung dan ia mendapatkan green card ke Amerika. Dari belakang, analnya disodomi. Dari depan, ia harus melakukan oral seks. Adegan itu berlangsung cukup lama, dan Linda menyaksikannya diam-diam. Terlalu lama, malah. Mungkin saya terlalu kolot atau konservatif, tapi pertanyaan menyeruak tak terbendung di benak: apakah perlu adegan tersebut selama itu? Atau, apakah perlu adegan sedetail dan sevulgar itu? Atau, apakah perlu adegan itu?

Bukan hanya karakter-karakter di film Babi Buta yang Ingin Terbang melakukan apa pun agar ia diterima dan dicintai apa adanya. Agaknya, sang sutradara, Edwin, juga. Edwin sepertinya sadar bahwa ia sedang mengusung sebuah tema yang sensitif: identitas minoritas Cina di Indonesia. Dan, agaknya, agar temanya terterima, ia menggandeng isu sensitif seputar minoritas lainnya: kaum homoseksual.

Masalahnya, isu identitas Cina telah menemukan momentumnya, saat Mei 1998, dan pada 2008 sudah mulai banyak film yang merepresentasikaan mereka. Dari May, 9808, hingga film pendek seperti Papaku Hua dan Pacarku Lina yang diputar di Psychocinema 2008, di Atmajaya. Sementara, gerakan gay belum sepopuler itu, dan sepertinya masyarakat belum bisa menerima isu-isu mereka. Apalagi dalam menerima perilaku seksual, yang masuk wilayah privat, dipaparkan dengan gamblang dalam film yang ditonton ramai-ramai di ruang publik.

Saya bisa merasakan dan memahami kegeraman Edwin terhadap isu keterterimaan ras Cina di negeri ini. Tak hanya simbolis, ia juga menyelipkan pesan persaudaraan (bagaimana menghormati tetangga, misalnya) secara verbal dan eksplisit lewat khotbah agama Kristen di televisi yang selalu hadir di ruang tamu berulang-ulang.

Film ini terasa sangat personal –diawali dengan lokasi di Surabaya, tempat Edwin dibesarkan (tengok Jembatan Merah dan plat kendaraannya), hingga pengalaman hidupnya yang terungkap dalam wawancara dengan RF (LINK:http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_jokoedwin_1.htm). Dari sekadar bergurau, Edwin juga terlihat geram dan satir.

Bayangkan, Cahyono (Carlo Genta) yang bekerja sebagai editor program kriminal di televisi itu menyunting gambar-gambar kerusuhan Mei 1998 untuk peringatan 10 tahun Reformasi dengan latar lagu I Just Called To Say I Love You. Lagu tema ini memang selalu diulang-ulang di sekujur film, yang bagi sebagian penonton begitu mengganggu (mungkin saja itu reaksi yang diinginkan!).

Satu lagi, tidak cukup dengan karakter-karakter manusia sebagai penyampai pesan, Edwin juga merekam seekor babi di Gunung Bromo. Tentu saja ini metafor yang pas. Tidak hanya sebagai makanan khas kaum Tionghoa, babi, di masyarakat mayoritas Muslim di negeri ini, adalah sesuatu yang haram. Seperti itu pula saudara-saudara Cina kita (pernah dan mungkin hingga sekarang masih) diperlakukan oleh sebagian rakyat Indonesia. Semuanya dikemas dengan sangat personal.

Tidak masalah, memang, mengangkat tema dan gaya personal. Beberapa film mengangkat hal yang sama, seperti Years I was a Child-nya John Torres. Namun film sebaiknya juga memerhatikan penontonnya, paling tidak berupaya bagaimana agar film-filmnya dipahami oleh setidaknya kelompok tertentu. Apa lagi kalau ada pesan penting yang ingin disampaikan. Dalam hal ini, respon yang diinginkan adalah dinyanyikan dan dibisikkan kata-kata cinta dan perhatian: “I just called to say I love you”.

Dalam konteks ini, berpanjang-panjang dalam scene gay, misalnya, adalah sebuah tindakan kontraproduktif. Karena, sebagian penonton boleh jadi akan lebih mempersoalkan adegan sekitar lima menit itu dari pada keseluruhan pesan “identitas Cina-Indonesia” yang sudah digelontorkan sejak awal. Kecuali kalau sang sutradara tidak peduli dan jalan terus (dan asyik sendiri) dengan ide-idenya.

…Oke, semuanya: I just called to say I love you, I just called to say how much I care, I just called to say I love you, and I mean it from the bottom of my heart.***

Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)

Sutradara & penulis: Edwin

Pemain: Ladya Cherryl, Carlo Genta, Pong Harjatmo. 

Sunday, 3 January 2016

Empat Cerita Tentang Bom Bali

Empat Cerita Tentang Bom Bali Ogos 22, 2007

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Malaky
sumber: https://ummahonline.wordpress.com/2007/08/22/empat-cerita-tentang-bom-bali/#more-567

Sebuah peristiwa besar layak dikenang, dipelajari, setelah sebelumnya diabadikan. Tak sedikit pembuat filem yang mengangkat narasi besar ke dalam layar kaca. Dalam tradisi filem narasi, hadir misalnya WTC, Marie Antoinette, atau Tjoet Nyak Dhien dan Pemberontakan G30S PKI. Film-film itu merekonstruksi sejarah. Bagaimana dengan sejarah mutakhir Indonesia? Silakan lihat Long Road to Heaven yang berlatarbelakang Bom Bali 12 Oktober 2002.
Filem berdurasi dua jam arahan Enison Sinaro itu (entah mengapa judul bahasa Indonesianya kurang nendang, Makna di Balik Tragedi) merekonstruksi bagaimana sebuah gerombolan pengganas merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Juga dampaknya, baik bagi orang asing, atau warga Bali sendiri. Walaupun filem ini bagi pembuatnya hanyalah fiksi dan â€Å“terinspirasi oleh peristiwa sebenarnya”, tapi tak boleh dihindari rekonstruksi—khususnya berkenaan dengan tokoh-tokoh pengganas—telah terjadi. Paling tidak, Kalyana Shira Film telah berani mengambil langkah. 
Kali ini, gaya multiplot lagi yang digunakan. Ada empat plot besar yang mewakili waktu-waktu penting. Plot pertama adalah saat Hari-H, ketika bom meledak. Plot kedua adalah persiapan Imam Samudra dan anak buahnya. Cerita ketiga mengenai tujuh bulan menjelang pengeboman, saat Hambali, Azahari, Noordin M Top, dan Mukhlas bertemu di Thailand Selatan. Sedangkan yang terakhir berawal dari 8 bulan setelah kejadian, menjelang perbicaraan mahkamah.
Dua plot mereka ulang bagaimana kaum teroris bersatu, berencana, dan kemudian bermuara pada kesimpulan bahawa Bali menjadi sasarannya. Sedangkan dua plot lainnya bercerita tentang orang-orang biasa, baik dari orang bule atau warga Indonesia.
Tentang para pengganas, adegannya sungguh menarik. Baik di tingkat atasalias majlis syura, atau pun di tingkat bawah. Diceritakan tentang keretakan, yang manusiawi, yang terjadi antara mereka. Terbongkar misteri laptop Imam Samudra, misalnya. Atau, alasan mengapa Bali yang menjadi sasaran, dan bukan Singapura yang menjadi sasaran awal. Karakter tokoh-tokohnya juga kuat, khususnya Hambali (Surya Saputra). Dialog juga diatur dengan rapi, misalnya dialek dan sosiolek yang beragam, mulai dari Surabayaan, Malaysia, hingga Thailand. Juga pemilihan diksi semacam antum dan kon.
Sedangkan dua plot tentang sejarah orang kecil, sungguh mengharukan. Ada Hannah Catrelle (Mirrah Foulkes), wanita asal Amerika yang membantu para korban, yang lalu bertemu dengan Haji Ismail (Joshua Pandelaki), pria muslim yang telah lama menetap di Bali. Haji Ismail melambangkan Muslim yang moderat dan ramah, yang berhadapan dengan prasangka buruk para bule yang menganggap Islam sebagai musuh besar, khususnya Tim Dawson (John O̢۪Hare).
Sedangkan wartawati Australia Liz Thompson (Raelee Hill) yang bertugas untuk membuat liputan proses persidangan oleh Wayan Diya (Alex Komang), seorang Bali yang muram dan menyimpan banyak cerita.
Dari judulnya yang berbahasa Inggeris, juga para penulis senarionya yang berkebangsaan Malaysia dan Singapura (Wong Wai Leng dan Andy Logam-Tan) jelas filem itu mengarah pada festival kelas dunia. Apalagi TeleProductions International sebagai produser eksekutif. Tapi mengapa cerita harus digarap orang â€Å“luar”?
Yang menarik, awal dan akhir cerita diracik dengan ciamik. Selain cerita yang kuat, tata artistik dari Iri Supit juga hebat. Bandara Curug disulap menjadi Jalan Legian lengkap dengan Sari Club dan Paddy̢۪ Club. Sepertinya, kerja keras Enison dan Nia Dinata, sang produser, akan berbuah.
Dan terngianglah sebuah kalimat dari Haji Ismail: â€Å“Adakah jalan pintas ke syurga? Tidak ada. Jalan menuju syurga begitu panjang dan berliku.” Sebuah pernyataan yang menjadi pesan utama filem ini.

Iran Tanpa Nuklear dan Ahmadinejad

Iran Tanpa Nuklear dan Ahmadinejad Mei 13, 2008

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Imanjaya
catatan: tulisan lama , di : Nebula. Diterbitkanulang oleh Ummahonline https://ummahonline.wordpress.com/2008/05/13/iran-tanpa-nuklear-dan-ahmadinejad/#more-724

Judul asli: Reich des Bösen
Judul Antarabangsa: Empire of Evil.
Sutradara: Mohammad Farokhmanesh,
Penerbit: Jerman, 2007
Temp0h: 90 minit
Jangan nilai buku dari sampulnya. Konsep ini sebaiknya diterapkan juga dalam filem ini, sebuah ole-ole dari International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) 2007. Suatu kali, dalam bukunya, Eep Saifullah Fatahngomel: “bangsa saya yang menyebalkan”. Tapi, mengutip Hikmat Darmawan yang mengulas bukunya, “..adakah bangsa yang tidak menyebalkan?”.
Semua warga bangsa selalu mengeluh tentang negerinya, tapi dalam hatinya, ia selalu mencintai tanah airnya. Demikian pula dengan Mohammad Farokhmanesh, kelahiran Shiraz, Iran, pada 1970, yang lantas mukim di Jerman. Kerana itulah, ia membuat filem dokumentari Reich des Bösen (judul antarabangsanya: Empire of Evil).
Jangan salah, filem tempoh 90 minit ini tidak semuanya bercerita tentang betapa kejam dan sadisnya bangsanya di bawah kekuasaan Wilayah al-Faqih, sistem politik kaum mullah yang dicanangkan Ayatullah Khomeini. Tapi, sebaliknya, justeru menyajikan keseharian dari lima orang karakternya, lima warganegara biasa.
Ada seorang wanita muda yang ingin sekali ikut pertandingan anggar dunia, tapi terhalang oleh fakta bahawa dirinya perempuan. Ada mahasiswi yang selalu dikekang ayahnya yang melarangnya menjadi penyanyi dan pelukis. Ada seorang guru bahasa Inggeris yang sangat nyaman dengan keadaan negerinya—bahkan ia ikut berkempen syariat Islam lewat siaran radio. Ada seorang miskin yang bahagia hanya dengan membetulkan alat-alat elektronik, khususnya komputer. Ada gadis cilik yang punya banyak bakat, sebagai simbol generasi penerus.
Kelimanya bertemu di awal dan akhir. Dan kelimanya disorot oleh Farokhmanesh dengan mendalam. “Saya selalu mendapatkan kesan kalau Iran itu seram, terorisme, nuklear. Saya ingin menunjukkan bahawa masyarakat Iran juga masyarakat yang hidup normal dalam kesehariannya,”ungkap sang sutradara, sesaat setelah pemutaran filemnya di IDFA, dalam sesi First Appearance. “Saya ingin menunjukkan, segala hal yang dilakukan pemerintah, tak selamanya dibenarkan oleh warganya. Saya menyajikan sisi lain dari negeri saya,”ungkap pemenang Gerd-Ruge Prize itu.
Serayesh, misalnya. Atlit anggar berprestasi itu tak boleh melihat suaminya, seorang atlit renang, latihan—demikian pula sebaliknya. Golsa, si gadis kecil pemain piano, bertanya tentang kewajiban berjilbab—sebuah pertanyaan wajar—kepada si penyiar radio yang spiritual. Abbas, pakar komputer yang hidup dengan ayahnya yang pencen dan ibunya yang cacat, juga seorang Basiji, seorang relawan yang ikhlas menjalani hidup untuk sewaktu-waktu dipanggil tugas oleh negara dan mati syahid seperti abangnya.
Filem ini berkisah tentang impian, kenyataan hidup, dan juga liku lima orang warga Iran. Ada banyak perspektif di sana, sebagaimana juga kehidupan. Di sana kita melihat orang bersenang-senang dalam ski, berbelanja kacamata Gucci, masuk ke restoran, dan makan hamburger—di samping juga perayaan asyura atau peringatan Revolusi Islam Iran.
Ini sedikit ole-ole dari IDFA ke-20, 22 November- 2 Disember lalu. “Sebenarnya, filem ini datang ke meja kami. Tapi akhirnya kami loloskan. Mengapa? Silakan saja lihat isinya,” jelas salah satu panitia, mengantarkan diskusi antara sutradara dan penonton, sesaat setelah pemutaran.

Friday, 1 January 2016

BENARKAH KEMISKINAN MENGANCAM? Belajar Arif dari Beberapa Film

Benarkah Kemiskinan Mengancam?
Belajar Arif dari Beberapa Film


Oleh: Ekky Imanjaya,
Redaktur Rumahfilm.org


Hidup sederhana
Gak punya apa-apa tapi banyak cinta
Hidup bermewah-mewahan
Punya segalanya tapi sengsara
Seperti para koruptor
Seperti para koruptor

(Seperti Para Koruptor, Slank)



Di Kompas (Minggu, 5/10), ada judul menarik: Ketika Kemiskinan Mengancam. Itulah judul resensi film Doa yang Mengancam, karya mutakhir Hanung Bramantyo. Benarkah kemiskinan adalah ancaman? Ataukah mentalitas dan tanggapan  masyarakat terhadap kemiskinan lah, yang justru merupakan ancaman? Saya tergelitik ingin memeriksa tesa dalam tulisan itu melalui representasi persoalan kemiskinan di film-film Indonesia lain.

Jelas sekali kemiskinan tergambar dalam Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008). Tapi, apakah ia menjadi sebuah ancaman yang membuat orang yang mengalaminya bergidik ketakutan? Tidak terlihat ada keluhan apa pun dari ke-12 anak-anak Belitong, mau pun para guru dan orang tua yang ada di sana. Itu karena prinsip “Hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya, bukan meminta sebanyak-banyaknya” benar-benar diterapkan dalam hidup mereka. Dan, mereka siap berkorban apapun demi cita-cita dan harapan yang jauh lebih mulia bahkan dari diri mereka sendiri.

Mereka sadar, kemiskinan harus dijalani, dan hanya dengan pendidikan mereka bisa mengatasinya. Karena itulah, alih alih menjadi buruh atau nelayan membantu meringankan beban orang tua, mereka (didorong untuk) terus bersekolah –hal yang aneh pada saat itu. “Buat apa sekolah, kalau akhirnya jadi buruh juga,” celetuk salah satu dari pegawai PN Timah di awal film.

Toh, kemiskinan tidak serta merta membuat hidup mereka jadi ”tak putus dirundung malang” dan serba nelangsa. Serba kekurangan, banyak halangan dan rintangan, tentu saja hadir senantiasa. Tapi tampaklah para tokoh utama di Laskar Pelangi tak menyerah, bersitahan menghadapi kemiskinan itu dengan terus bersekolah. Minimal, dengan terus percaya bahwa sekolah adalah penting untuk keluar dari kemiskinan itu.

Badut-Badut Kota (Ucik Supra, 1993), salah satu contoh film terbaik tentang bagaimana manusia modern Indonesia menyiasati kemiskinan. Sang tokoh utama, Dedi (Dede Yusuf) dan Menul (Ayu Azhari), begitu bijak dan sabar dalam menghadapi keserbakekurangan hidup –termasuk dimarahi Bu Kapten, sang pemilik rumah kontrakan, di depan banyak orang karena menunggak bayar. Mereka masih memiliki humor. Sang anak memanggil Dedi dengan “Daddy”, plesetan namanya yang juga kata Inggris untuk “ayah”. Jika ingin berhubungan badan, Dedi dan Menul memakai istilah “pusing”. 

Dedi jadi badut Ancol, sekadar untuk bertahan hidup. Dia masih terus berakhlak mulia, bahkan tetap jujur dengan mengembalikan dompet seorang kaya. Justru kejujuran itu yang membawanya pada pintu rezeki. Yang menarik adalah sosok filsuf nyentrik, rekannya membadut yang menyatakan dengan sok merenung dan sok getir bahwa: “Sungguh Keterlaluan! Sungguh keterlaluan kemiskinan kita!”, tetapi tetap menyatakan bahwa usaha untuk keluar dari kondisi prihatin itu  adalah dengan…tetap berpikir. Ada humor di situ, seperti di sekujur film, yang membuat mereka kuat menghadapi kemiskinan.

Humor juga sering jadi jurus sutradara Sjumandjaja dalam menggambarkan benteng pertahanan terhadap gempuran kemiskinan, seperti lewat film-film Si Doel-nya. Namun dalam SiMamad (Sjumandjaya, 1973), terasa suasana lebih serius. Film ini juga bercerita tokoh miskin yang tetap mempertahankan kejujuran dan nilai-nilai moral. Sebagai pegawai negeri (di masa awal Orde Baru), Mamad (Mang Udel) adalah satu-satunya orang yang tidak korupsi di kantornya. Hingga suatu saat istrinya hamil muda, dan ia terpaksa mencuri barang kecil-kecilan seperti ATK (alat-alat tulis kantor).

Di situlah tragedi terjadi. Dirundung rasa bersalah yang amat sangat, Mamad tak peduli lagi dengan kebutuhan hidup keluarganya, bahkan ia mengaku ke atasannya bahwa dia korupsi dan minta dihukum. Baginya, nilai-nilai moralitas dan spiritualitas dijunjung di atas nilai materialistik –walau dunia seolah tak peduli.

Gambaran lain yang sangat menarik tentang kemiskinan di kota, bisa kita lihat pada Rindu Kami Pada-Mu (Garin Nugroho, 2004). Film ini dengan jelas menegaskan bahwa masyarakat urban di perkampungan  tidak saja mencoba menjalani hidup apa adanya dengan berbagai usaha tanpa kenal lelah dan keluh, tetapi juga meninggikan semangat solidaritas dan gotong royong. Misalnya, para tetangga yang mau mudik menitipkan kunci rumah dan bahkan ayam kepada pemilik warung dan penjaga masjid.

Alih-alih saling menjegal dan menyikut, mereka saling bantu membantu dan tolong menolong.  Dan sentilan-sentilan kritik sosial juga hadir. Misalnya, celetukan bahwa orang-orang lebih suka menyepuh emas dan berbelanja baju baru untuk berlebaran daripada mengeluarkan uang untuk sumbangan pembangunan masjid. Kemiskinan tidak membuat mereka nafsi-nafsi (egois), saling menginjak, atau mengubah watak idealisme mereka menjadi makhluk pencari untung semata.

*

Nah, bagaimana dengan gambaran kemiskinan dalam Doa yang Mengancam? Benarkah, di film terbaru Aming ini, kemiskinan itu sungguh mengancam dan menjadi alasan untuk melakukan hal-hal yang mengubah seseorang menjadi murtad, penyembah setan, atau menjadi kriminal, menghalalkan segala cara, pendek kata: menjadi jahat dan berlaku buruk?

Jika kita melihat separuh jalan pertama, jawabannya: iya. Bagi Madrim, sang tokoh utama, ia harus menjadi kaya raya agar bisa mendapatkan cinta Leha, istrinya, kembali –juga menjadi solusi bagi seluruh persoalannya. Tetapi, setelah kemiskinan menjadi kekayaan, dan uang berlimpah, apakah ia mendapatkan kebahagiaan yang didapat? Apakah persoalannya terselesaikan?

Ternyata, di paruh terakhir, penonton disuguhi sebuah hikmah bahwa kebahagiaan spiritual lebih baik dari kebahagiaan material (uang, kekayaan), bahkan emosional (cinta, dihormati, dihargai). Ternyata, di film itu, bukan kemiskinan yang menjadi ancaman yang sebenarnya. Saat Madrim kaya raya, ternyata ia merasa hampa.

Uang bukan jawaban, rupanya. Justru perenungan Madrim terhadap kemiskinan, dan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya, membuatnya melakukan semacam perjalanan spiritual untuk meraih kebahagiaan yang lebih dari sekadar kekayaan dan kekuasaan. Sebenarnya, ia rindu akan istrinya, yang justru menjadi sumber awal segala cerita.

Ternyata, masalahnya bukan terletak pada kondisi objektif kemiskinan itu sendiri. Masalahnya ada pada respons, perilaku, dan pandangan-dunia sang manusia terhadap fenomena bernama kemiskinan.  Jika manusianya punya visi dan misi yang mulia yang ingin dicapai, ingin mempertahankan nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan pengorbanan (altruisme), dan mencari kebahagiaan hakiki, maka kemiskinan bukan sebuah ancaman. Atau jika sang pejalan kehidupan itu  bisa memaknai hidup (seperti diajarkan Victor Frankl –silakan baca!), atau lewat nilai-nilai seperti yang terpapar dalam film-film kita di atas.

Ini sejalan dengan ide  KH Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Meraih Kebahagiaan. Intinya:  bahagia atau menderita itu pilihan. Musibah, seperti  kehilangan anak, kebakaran rumah, penyakit, kecelakaan, kemelaratan, penghinaan, pengkhianatan, berasal dari luar dan sebuah keniscayaan atau realitas objektif. Sementara, kebahagiaan bersifat subjektif. Orang miskin bisa memilih apakah dia merasa tertekan atau bergembira dalam kondisi yang sama.

Kita bisa belajar dari Dedi, Mamad, atau Ikal dan Lintang serta Pak Harfan dan Ibu Mus untuk soal ini. (*)


3 Doa 3 Cinta : Jendela Dunia bernama Pesantren

Film
3 Doa 3 Cinta
Jendela Dunia bernama Pesantren  
Oleh: Ekky Imanjaya
Nurman Hakim, sutradara yang santri itu, membuat film tentang dunia yang pernah diakrabinya. Hasilnya, sebuah jendela melihat Indonesia. 
Film yang baik adalah film yang menawarkan banyak gagasan dan cerita di dalamnya. Itulah sebabnya film komedi seks seperti Quickie Express bisa diputar di Udine Far East Festival—dan kemudian menjadi film terbaik di Jiffest 2008. Paling tidak, mengutip pertimbangan juri Jiffest 2008, lewat Quickie Express kita dapat melihat banyak hal tentang Indonesia. 3 Doa 3 Cinta adalah film semacam itu.
Tentu saja, tergambar dengan sangat jelas dari menit pertama, bahwa Nurman Hakim, sang sutradara dan sekaligus penulis skenario, hendak menolak anggapan bahwa Islam identik dengan kekerasan dengan menggambarkan wajah Islam yang ramah dan tersenyum.  Sebuah representasi dari citra mayoritas umat Islam di Indonesia yang mulai tertutupi dalam liputan media oleh pekikan kaum Islam garis keras yang hiruk pikuk.
Adegan pertama film ini gamblang menggambarkan itu: bagaimana dua orang kyai menafsirkan ayat “sensitif”: Wa lan tardho ankal yahudu wa laan-Nashara…(“Tak akan rela orang Yahudi dan Nasrani....”). Romo kyai, pengasuh pondok pesantren al-Hakim menyatakan bahwa ayat itu hanya untuk kaum Yahudi dan Nasrani yang memerangi kita. Sedangkan seorang kyai fundamentalis menyatakan bahwa itu adalah ayat perang. Dan isu itu pun mewacana bersama kisah lainnya.
Tidak hanya lewat kata-kata verbal, Nurman menyingkap sisi kemanusiaan dari para santri dan ustadz lewat adegan demi adegan, tanpa perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan mereka. Misalnya, ada pengajar atau santri senior yang kemayu dan memang ternyata menyukai sesama lelaki. Atau beberapa santri yang enggan dan mengantuk bila mengaji dan shalat Subuh. Atau saat santri pria ereksi di pagi hari.
Pengalaman hidup sang sutradara yang tiga tahun nyantri di Semarang membuat film ini berhasil menelusuri berbagai kisah di pesantren. Tentu saja menu utamanya adalah trio Huda  (Nicolas Saputra),  Syahid (Yoga Bagus Satatagama), dan Rian (Yoga Pratama) yang acap menyelinap keluar pesantren untuk “dugem” di Pasar Malam.
Penonton bisa melihatnya dari sisi nilai-nilai keluarga. Tentang Huda yang selalu bertanya mengapa ia “dibuang” ke pesantren oleh ibunya, dan melakukan apapun untuk mencari sang bunda, termasuk minta tolong cewek matre pedangdut amatir, Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo). Rian berasal dari keluarga berantakan akibat perceraian. Sedangkan Syahid yang berasal dari keluarga miskin harus merawat sang ayah yang sakit keras dan butuh banyak biaya, dan tak punya pilihan kecuali menjual sawah mereka. Syahid pula yang paling tahan mengaji diam-diam pada si kyai jihad, dan karena kepahitan hidupnya bersedia jadi calon pembom bunuh diri.
Menarik juga memerhatikan kamera handycam hadiah ulang tahun sang mama buat Rian. Kamera itulah yang merekam banyak mozaik kegiatan, sepotong sepotong: dari mengintip  gadis salehah idola dari balik ‘tembok ratapan’, casting Dona Satelit, hingga latihan militer kaum Islam militan. Dikaitkan dengan klimaks yang tiba-tiba mengenaskan, rekaman-rekaman itu seolah hendak mengkritisi anggapan bahwa apa yang terekam dan terpampang pada layar kamera adalah realitas apa adanya, sehingga dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Kritik ini diarahkan pada citra negatif serba gebyah uyah dari Barat tentang Islam dan kekerasan. Juga berbagai tayangan di televisi –gosip, berita kriminal, dan lain-lain– yang secara epistemologis diamini sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal, kamera mengikuti gagasan orang yang memegangnya, yang menangkap kenyataan sepotong sepotong sesuai arahan sutradara atau petunjuk skenario. Hasilnya, sebuah kesimpulan gegabah yang mencerminkan kebodohan intel kita.
Banyak bagian dari film ini bekerja cukup baik. Bagian art, khususnya, berhasil meyakinkan orang bahwa kisah mengambil waktu beberapa bulan sebelum 11 September 2001 dengan memakai  properti seperti uang kertas masa itu, jam dinding bayi “No Problem”, hingga logo SCTV Ngetop yang lawas. Djadug Ferianto juga berhasil meracik musik-musik yang bersumber dari shalawatan tradisional (mengingatkan pada ilustrasi musi dalam Harimau Tjampa-nya Djajakusuma, atau Al-Kautsar karya Chaerul Umam/Asrul Sani) dan memperkuat atmosfer pesantrenan 
Film ini mengobati rindu keterwakilan umat Islam tradisional dan pesantren di pentas film nasional. Sudah lama film Indonesia yang bermutu tidak mengangkat kehidupan di pesantren, apalagi pesantren tradisional seperti Tebuireng atau Pabelan.  Paling tidak, Pabelan menjadi tempat syuting setelah sekitar 30 tahun sebelumnya dipakai untuk Al-Kautsar.
Pengakuan mutu juga melekat pada film ini. Ia terpilih ikut serta di Festival Film Pusan. Dan, dari 7 nominasi FFI 2008, Yoga Pratama mendapat piala Citra untuk pemeran pembantu pria terbaik. Tak buruk untuk sebuah film yang sangat kental menampilkan dunia pesantren yang selama ini tercitrakan kumuh, terbelakang, malah kadang jadi “sarang teroris”.
Judul: 3 Doa 3 Cinta 
Sutradara & Skenario: Nurman Hakim 
Bintang: Nicolas Saputra, Yoga Pratama,
Yoga Bagus, Dian Sastro
Durasi: 114 menit