Showing posts with label arsip. Show all posts
Showing posts with label arsip. Show all posts

Friday, 23 March 2018

(Cerpen) Tentang Hari Ketika Keputusan Itu Dibacakan

(Catatan: Cerpen lama saya, nemu pas sedang jalan-jalan virtual).
Tentang Hari Ketika Keputusan Itu Dibacakan
Cerpen Ekky Malaky
08.00 WIB
Hari itu adalah hari yang paling menentukan bagi Sang mantan pejabat yang pernah sangat berkuasa. Itu. Pak Fulan, sebut saja namanya begitu. Pak Fulan tidak menduga, selepasnya berkuasa, dia harus berhadapan dengan kasus-kasus lamanya. Padahal kasus itu sudah berhasil dipetieskan. Namun, sayang sekali, para pejabat pengadilan–sosok-sosok kuat yang membela dan menutupi segala kesalahannya–pun turut lengser bersamaan dengan turun tahtanya Pak Fulan.
Hari itu, Pak Fulan yang sudah tua, beruban, dan sakit-sakitan itu, bersama dengan anak dan istrinya di rumah dengan serius mendengarkan sidang kasasi dari Mahkamah Tinggi. Keputusan ini sangat dinanti-nanti tidak hanya oleh Pak Fulan sekeluarga dan juga oleh para pendukung setianya, tetapi oleh seluruh manusia di Indonesia yang ingin mengetahui keadilan jenis apa yang ditawarkan oleh para Hakim Agung itu. Pagi-pagi sekali Pak Fulan sekeluarga bangun dan mendengarkan siaran langsung itu dengan seksama. Para handai taulan dan beberapa wartawan memenuhi rumahnya di bilangan Pondok Harum, Bekasi Barat. Dan sebentar lagi, para Hakim Agung akan membacakan kasasinya–entah apakah dirinya akan dibebaskan, atau malah memperkuat keputusan dua pengadilan terdahulu yang memutuskan Pak Fulan bersalah.
10.50 WIB
Televisi di stasiun kereta itu masih menyaksikan siaran langsung maraton pembacaan kasasi. Maklum, kejadian seperti ini, pembacaan marathon itu, baru sekali-sekalinya diadakan. Tentu saja banyak orang yang ingin tahu, walau tidak sedikit pula yang bosan dan mengantuk. Para calon penumpang tampak hilir mudik di sana. Ada juga yang menunggu di ruang tunggu eksklusif atau duduk di lantai beralaskan koran. Para penjual koran lalu lalang.
Seorang calon penumpang, tampaknya hendak menunggu kereta menuju Bandung, memakai jas merek terkenal dan menenteng laptop di tangan kirinya. Sementara, tangan kanannya asyik bermain SMS. Dia sedang berdiri di depan ruang tunggu eksekutif.
Tiba-tiba, seseorang datang menjambret laptop itu. Kejadian itu begitu singkat dan cepat. Tiba-tiba saja laptop itu sudah berpindah tangan. Dan, segera saja penjambret itu menghilang dengan lincah di antara kerumuman, agaknya sudah terbiasa melakukan hal itu.
Calon penumpang berjas itu tidak tinggal diam. Segera saja dia berteriak sekuat tenaga: “Copeeet! Copeeet! Toloooong!”. Tidak sampai lima detik, para pengunjung langsung mengejar membantu sang korban. Sepertinya, massa merasa ada hiburan yang dahsyat dan gratis, bahkan bisa menyalurkan emosi jiwa, jika ada seseorang yang berprofesi pencopet dan sebangsanya. Tidak sampai 10 menit penjabret itu tertangkap, dan… kita bisa tebak sendiri akhir kisah ini. Hantaman kepalan tangan, tendangan yang bertubi-tubi, segera menghujani si penjabret. Padahal, si penjabret yang masih muda itu sudah minta tolong dan minta ampun bertubi-tubi. Tetapi, massa sepertinya tidak merasa bersalah menggebuginya. Atas nama massa, orang-orang seakan punya hak untuk membunuh.
Tidak sampai 30 menit kejadian itu berlangsung. Petugas keamanan segera melerai mereka. Massa bubar, laptop lenyap entah kemana, dan sang penjabret tergolek tak bergerak bersimbah darah–entah hidup entah mati.
Di stasiun kereta itu, siaran langsung maraton pembacaan keputusan kasasi Mahkamah Tinggi terus dibacakan. Sesekali tampak siaran langsung dari kediaman sang mantan pejabat yang tua renta itu sedang harap harap cemas menantikan keputusan. Dan, seorang kriminal kelas teri tak berdaya melawan amukan massa, sementara hasil curiannya ketlingsut entah ke mana…
12.29 WIB
Akhirnya jam makan siang tiba! Deny, supir taksi, baru saja masuk ke warung padang “Siang Malam”. Sebuah hari yang melelahkan. Ia baru saja mengantarkan seorang warga negara Amerika Serikat ke bandara Soekarno-Hatta dan mendapatkan tip yang lumayan besar. Alhamdulillah, akhirnya dia bisa membelikan si kecil hadiah ulang tahun, walau telat tujuh bulan. Sambil menunggu pesanannya–nasi sayur dengan lauk perkedel dan rendang–dia menonton televisi. Saat itu, semua mata yang ada di sana, apakah penjual atau pembeli–sedang menyaksikan siaran langsung pembacaan keputusan kasasi Mahkamah Tinggi tentang kasus korupsi Anggaran Belanja Komisi Pendidikan dan Kebudayaan yang menimpa sang mantan pejabat.
Tetapi, tentu saja Deny tidak bisa berlama-lama. Dia harus kembali mencari rezeki dengan taksinya, sesaat setelah dia habis menyantap makan siang itu. Maka, dengan penuh semangat–karena akan membelikan si kecil oleh-oleh hadiah ulang tahunnya yang telat tujuh bulan–dia segera berangkat. Terik matahari yang meradang dan panas hawa yang menyerang tak membuat Deny menyerah. Kemacetan yang menjadi kesehariannya juga tak digubrisnya. Untunglah ada radio yang menjadi hiburan satu-satunya. Deny menyetel radio itu untuk melanjutkan mendengarkan sidang kasasi Sang mantan pejabat.
Alhamdulillah, akhirnya ada seseorang yang menyetop taksinya. Dua orang pria, satu berambut gondrong dan penuh tato, satu lagi berambut cepak dan berdasi. Mungkin, penyanyi rock dan managernya, pikir Deny.
“Bekasi, Bang!” jelas si gondrong singkat.
“Baik, Pak,” jawab Deny sedikit kaku.
“Naik tol saja, Bang,” sambung si cepak.
“Baik,” ujar Deny sambil membelokkan taksinya ke pintu gerbang tol terdekat.
Radio di dalam taksi itu masih menyiarkan siaran langsung. Dan, di sebuah sudut ring road jalan tol itu, kedua penumpang itu meminta Deny untuk meminggirkan mobilnya.
“Minggir, Pak?”
“Sudah ikuti saja kemauan kami…” kali ini si gondrong berkaos lengan buntung yang angkat bicara.
“Tapi, Pak…”
Belum sempat habis rasa keheranan Deny, tiba-tiba, sebuah benda dingin dan terasa tajam menempel di lehernya.
“Mana uang-uang lu. Kasih ke gue! Cepat!” kali ini si cepak menggertak
“Ayo cepat. Apa mau gue gorok leher lu ini! Heh!” tambah si gondrong, galak
“Tap…tapi…uang itu buat kado anak saya, Pak,” ujar Deny, mencari belas kasihan.
“Bodo amat, emangnya lu doang yang punya anak!” kata si gondrong sambil mengeplak kepala Deny.
“Cepat, kasih ke gue! Semuanya! Ayo, yang ada di dompet, di kantong! Semuanya!” agaknya si cepak tidak sabaran.
Mau tidak mau, Deny mengeluarkan semua harta yang ada di dalam saku dan dompetnya.
“Arloji lu juga! Buruan! Lepas!” teriak si gondrong, tepat di gendang telinga kiri Deny.
“Arloji ini, Pak? Jangan dong, Pak… Ini hadiah ulang tahun istri saya,” kata Deny. Ada sedikit getar dalam suaranya.
Kepala Deny terasa ada yang memukul. Keras.
“Lu ngelawan, ya! Gue bilangin, nurut aja kenapa sih!” si cepak kembali ringan tangan.
Mau tak mau, sekali lagi, sambil menahan geram dan takut, Deny mencopot arloji penuh kenangan itu.
“Sudah semua?”
“Sudah, Pak.”
“Jangan panggil bapak, emangnya gue bapak lu!”
“Iya, Bang… sudah… sudah!”
“Ya sudah. Sekarang kamu keluar!”
“Keluar, Pak, eh, Bang?”
“Iya! Lu budek, ya?”
“Tapi, ini bukan taksi saya, Bang.”
“Gue kagak mau tau… lu mau taksi ini dikasih apa leher lu gue gorok!” teriak si gondrong.
“Mau yang mana? Jawab!” tukas si cepak menimpali.
“Iya, iya… saya keluar…”
Deny keluar dari taksi itu. Si gondrong segera keluar dan mengambil alih kemudinya.
“Terima kasih, Bos. Nih goceng buat lu balik! Gue baek, kan?” ujar si gondrong sambil memasukkan selembar uang ke saku baju Deny. Deny tak berdaya dalam ancaman golok.
Mobil itu langsung melesat dan tak sampai lima menit sudah menghilang dari penglihatan. Di Taksi itu, kedua kriminil tadi tertawa terbahak-bahak.
“Akhirnya, kita berhasil. Bini gue bisa setop nyapnyapnya.”
“Iye, bang. Anak gue juga bisa diobatin muntabernya.”
Mobil taksi itu melesat kencang. Siaran langsung pembacaan keputusan Mahkamah Tinggi seputar kasus sang mantan pejabat masih saja terdengar di radio mobil itu.
15.43 WIB
Di bilangan Pondok Indah itu, suasana lumayan lancar. Satu dua mobil mewah hilir mudik melintasi perempatan lampu merah itu. BMW seri terakhir warna biru, VW Beetle merah muda, dan Ferrari kuning tampak menonjol dalam kerumunan itu.
Seperti biasa, ketika lampu menunjukkan warna merah, dan mobil-mobil mulai berhenti, banyak orang yang berjualan–mulai rokok hingga koran–yang mengerubungi. Tak ketinggalan pengamen dan pengemis, termasuk Dini dan Dina, pengamen anak-anak yang sibuk dengan krecekan dan suara seadanya.
Setelah ditolak beberapa mobil, Dini dan Dina mendatangi sebuah mobil Jaguar berwarna hitam di deretan kelima. Di dalam Jaguar itu, sepasang suami istri muda tampak sedang berbincang-bincang. Di kaca spion ada tasbih yang bergelayut. Sementara, di tengah-tengah mereka tampak ada televisi mini. Hmm… alangkah nyamannya, di Jakarta yang panas dan sumpek ini ada televisi yang siap menghibur kita kapan saja–tapi apa tidak takut risiko tinggi, ya?. Televisi itu sedang menyiarkan pembacaan kasasi Mahkamah Tinggi kasus Korupsi Anggaran Belanja Komisi Pendidikan dan Kebudayaan sang mantan pejabat, sebuah kasus lama yang nyaris terlupakan tapi berdampak besar bagi perekonomian negeri ini. Sesekali kesibukan dan kecemasan di kediaman Pak Fulan terlihat di sana.
Melihat sepasang pengamen cilik di samping kaca mereka, sang istri yang tampak sedang hamil tua itu sontak memberikan uang Rp 5.000. Dini dan Dina tampaknya senang, dari mulut mereka terdengar ucapan terima kasih berkali-kali. Tetapi, tidak dengan sang suami. Sang suami merengut, sepertinya BT.
“Lho, kok merengut, Mas? Jangan gitu, Mas. Aku lagi hamil tua nih, ntar ngaruh ke anak, lho.”
“Abisnya, kamu ngasih tuh dua orang pengamen itu…”
“Aduh, cuma serebong dua rebong. Sedekah, mas. Siapa tahu kita dapat pahala, dan si kecil bisa lahir dengan selamat…”
“Iya sih. Tapi kalau mau sedekah, ke yayasan mami saja. Lebih terjamin.”
“Ya, sudahlah. Memangnya, terjamin gimana?”
“Terjamin pasti akan sampai pada orang yang berhak.”
“Memangnya?”
“Ah, masak kamu lupa. Aku pernah ngasih ke pengemis di pinggir jalan. Eh tidak tahunya, mereka ada mafianya. Para pengamen dan pengemis itu diorganisir oleh para preman. Uang hasil kerja mereka diserahkan kepada si preman itu. Jadi, percuma, kan kita kasih ke mereka, toh mereka tidak menikmatinya.”
“Tai, Mas, itu kan sudah lama kejadiannya, 10 tahun lalu, dan di Surabaya.”
“Ah, sama saja. Aku terlanjur tidak percaya.”
“Tapi, Mas, kalau semua orang berpikiran seperti itu, siapa yang akan menolong mereka, anak jalanan itu, mas?”
“Bukan urusan kita. Kalau mau beramal, jangan tanggung-tanggung.”
“Tapi, Mas, bukankah yang penting niatnya. Urusan mengalir ke mana, jangan dipikirkanlah.”
“Gimana sih kamu. Ya kepikiran, dong. Kasihan anak-anak itu, kita kasih malah direbut para preman.”
“Lho, bukannya kasihan kalau mereka sama sekali tidak dikasih. Siapa tahu preman-preman itu malah menyiksa mereka.”
“Ah sudahlah, sekarang konsentrasi ke perut kamu sajalah. Sebentar lagi sampai rumah sakit.”
“Tapi, Mas.”
“Sudah. Jangan tapi-tapi.”
Lampu beralih ke warna hijau. Dan Jaguar hitam itu pun melesat kencang. Di dalam, sepasang suami istri tengah sibuk menyaksikan siaran langsung maraton Kasasi kasus Pak Fulan dari televisi mini yang terpasang di Jaguar mereka.
19.17 WIB
Akhirnya keputusan Kasasi yang dibacakan secara maraton oleh para Hakim Agung itu usai sudah. Sang mantan pejabat bebas! Wah, sepertinya akan ada pro dan kontra seputar hal ini. Wallahua’lam. Tetapi, sepertinya banyak sekali warga yang membicarakan hal ini. Di warung, rumah, pos ronda, dalam busway, kantor-kantor, mal, di mana-mana. Termasuk juga di rumah Utami dan Joko di sebuah kawasan kumuh sekitar Manggarai.
Joko, sang suami, asyik bercengkerama di rumah tetangga dengan beberapa teman sejawatnya. Mereka asyik ngerumpi seputar keputusan kasus sang mantan pejabat. Terkadang tawa yang terbahak-bahak membahana seisi ruangan, terkadang juga gumamam serius tentang betapa tidak seriusnya sistem pengadilan di negeri ini. Perdebatan tentang keputusan yang tidak adil dan keputusan Mahkamah Tinggi yang harus dihormati menyeruak. Walaupun pengangguran, Joko adalah lulusan SMU yang rajin baca koran. Boleh jadi, di lingkungan itu, pria berusia 35 tahun itu termasuk yang paling cerdas dan sering dimintai komentarnya.
Tiba-tiba dari rumah sebelah, rumah Joko, terdengar teriakan.
“Jokoooo! Enak aja lu asyik-asyik di sana! Emangnya gue pembantu elu! Balik ke sini! Cuci baju!” terdengar suara Utami menjerit memanggil suaminya.
Di rumah sebelah. Tampak ada beberapa cekikikan kecil. “Joko takut istri,” bisik sebuah suara. “Joko jadi kacung,” bisik suara lainnya.
Dengan agak malas, Joko turuti juga kemauan istrinya itu. Sesampainya di rumahnya, kembali Joko disambut dengan petuah-petuah kekesalan.
“Eh, memang sih lu pemimpin rumah tangga di sini, tapi bukan berarti lu bisa ongkang-ongkang kaki. Bantuin gue dong. Banyak kerjaan nih. Cuci motor lu, kek! Cuci baju, kek! Abis itu lu ngojek dah. Lumayan, pan buat nambah-nambah susu anak lu. Daripada ngerumpi melulu. Lu mau maki-maki kek, ngegosip semalam suntuk kek, tuh si fulan tetep aje bebas, omongan lu ngak ngaruh…”
“Iya, iya. Gue cuci baju. Tapi jangan malu-maluin gue di depan tetangga, dong…”
Utami bukannya terdiam, makin garang.
“Alah, malu, malu. Malu apaan. Lu sendiri nganggur, gak malu tuh ama tetangga? Kerjaannya nonton tipi, minta duit ama bininya. Boro-boro, mau bantuin gue jualan gado-gado, atau ngojek…”
“Gue kan sudah usaha, cari kerja ke mana-mana. Kalau gak usaha, lu baru boleh marah…”
“Alah, usaha apaan! Udah sana cuci piring…”
Joko segera masuk ke dapur. Dia sadar, istrinya susah distop kalau sedang ngomel. Dia sendiri memang punya andil, kesalahan. Sudah hampir enam bulan Joko tidak memberikan nafkah kepada sang istri, kecuali beberapa rupiah saja karena murah hati orang tuanya atau rezekinya hasil dari ojek motor.
Tak lama kemudian, Joko datang lagi ke berada depan, menemui Utami.
“Say, sabun cucinya abis, tuh…”
“Terus?”
“Ya, minta duit, mau beli…”
“Duit, duit. Sekali-kali pakai duit lu kenapa sih? Lu kan bisa minta orang tua lu! Kemana tuh? Atau ngojek, gitu kek. Emangnya gue bank apa dimintain duit melulu. Makanya jangan ngelayap terus. Kerja tiap hari nongkrong, gak jelas juntrungannya. Mau jadi apaan sih, lu? Anak lu tuh kasih makan….”
Waduh. Kok gara-gara sabun cuci yang murah saja kok nyerempet ke masalah tanggung jawabnya sebagai suami atau ayah? Dan di depan, para tetangga sibuk mengintip dan melihat apa yang tengah terjadi. Maklum, suara Utami menggelegar bak halilintar.
Joko tidak tahan lagi. Andai ia punya uang, Joko pasti akan membeli sabun cuci itu tanpa harus mengadu ke Utami. Tetapi, masalahnya bukan sekadar dia tidak punya uang. Tetapi sudah ke arah harga diri, rasa menghormati dan menghargai sesama pasangan yang sudah tidak ada. Dan perlakuannya yang acap mempermalukannya di depan umum.
Tanpa pikir panjang, diambilnya bensin yang ada di dekat sepeda motornya, tak sampai lima menit, disiramnya tubuh istrinya yang sedang menyapu halaman depan. Tak sampai 10 menit, api sudah melalap tubuh sang istri yang melolong minta tolong.
Joko segera ke tetangga sebelah. “Tolong, istri saya terbakar. Saya melapor dulu ke kantor polisi,” demikian ucapan singkat Joko, santai dan tanpa beban.
Saat ditinggalkan, tubuh Utami masih berbalut api. Dia berteriak minta tolong. Segera para tetangga berdatangan menolong. Tak jauh dari situ, sebuah televisi menyiarkan siaran langsung debat seputar keputusan bebas Sang mantan pejabat yang dibacakan secara maraton lebih dari 10 jam itu.
Demikianlah kasus-kasus “kecil” di hari pembebasan sang mantan pejabat. Demikian sekilat info.

Thursday, 11 February 2016

"Babi Buta yang Ingin Terbang" : Babi-Babi Buta yang Membabi Buta Ingin Dicintai

Babi Buta yang Ingin Terbang :
Babi-Babi Buta yang Membabi Buta Ingin Dicintai
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta
02/10/2009 15:12:38
www.rumahfilm.org



No New Year's Day to celebrate
No chocolate covered candy hearts to give away
No first of spring
No song to sing
In fact here's just another ordinary day

No April rain
No flowers bloom
No wedding Saturday within the month of June
But what it is, is something true
Made up of these three words that I must say to you

I just called to say I love you

(I just called to say I love you, Stevie Wonder, dinyanyikan ulang oleh Ramondo Gascaro)

Suatu hari, Linda kecil (Clarine Baharrizki ) bertanya pada Cahyono cilik (Darren Baharrizki):”Kalau sudah besar mau jadi apa?” Cahyono menjawab: ”Apa aja, asal jangan Cina”.

Kedua anak ini memang mendapatkan banyak pengalaman buruk hanya karena mereka Cina. Padahal, Cahyono bukan Cina, tapi Jepang. Suatu saat, keduanya diganggu anak-anak nakal teman sekolah mereka, dan Linda menemukan obat mujarab untuk mengusir ketidaknyamanan itu: petasan. Linda, generasi keempat keturunan Cina di Indonesia, meyakini bahwa petasan bisa mengusir hantu-hantu, termasuk hantu sumber alergi dan kebencian terhadap Cina sepertinya dirinya.

Sejak itu, Linda selalu ditemani petasan. Bahkan, ia didatangi oleh seorang wartawan hiburan (diperankan Cesa David) karena mengukir rekor baru: gadis yang berani makan petasan! Linda memasukkan petasan itu ke dalam roti hotdog seperti layaknya sosis, mulai menyulut sumbu, dan…dor!

Linda (saat dewasa diperankan oleh Ladya Cherryl) berbuat apa saja untuk mengatasi masalah-masalah akibat identitas kecinaannya. Tujuannya satu: agar ia bisa dinyanyikan lagu I just called to say I love you, agar ia dicintai. Itulah sebabnya, ia dan orang-orang di sekitarnya selalu menyanyikan lagu dari Stevie Wonder itu, dengan harapan agar orang lain ikut menyanyi. Mereka cukup senang mendengarkan orang lain menyatakan cinta kepada mereka apa adanya, tanpa syarat kecuali mereka manusia dan layak dimanusiakan, walau hanya dalam bentuk syair belaka.

Linda melakukan segala hal agar ia diterima di lingkungannya. Dalam kasusnya, paling tidak agar tak ada lagi yang menganggunya hanya karena mata sipit dan kulit putihnya. Juga orang-orang di sekitarnya. Misalnya Verawati (Fajrin?), ibunya (Elizabeth Maria), yang mewakili Indonesia sebagai pebulutangkis, dan acap memenangi banyak piala, namun tidak mendapatkan penghargaan selayaknya. Ia tetap dipandang Cina, yang (seolah) adalah bukan warga Negara Indonesia yang utuh. (“Mana yang Indonesia, mana yang Cina,” celetuk salah satu penonton).

Kecewa dengan celetukan itu, ia berhenti bermain. Namun, bahkan di rumah pun, ia memakai kaos seragam bertuliskan Indonesia itu. Ia bergumul dengan persoalan identitas. Komentar penonton itu, seorang anak kecil, begitu menganggu batinnya, rupanya.

Yang paling fenomenal adalah Halim (Pong Harjatmo), sang ayah. Ia malu dengan fisiknya, khususnya matanya yang sipit. Maka, sang dokter gigi itu pun selalu memakai kacamata hitam, menutupi matanya –bahkan menyiletnya. Belakangan, dari keterangan di situs film ini, saya baru tahu kalau Halim buta. Ia juga mengganti nama Cinanya menjadi nama Melayu, masuk Islam, menikah lagi dengan seorang muslimah Jawa (Andhara Early) yang saat ikut Planet Idol memakai jilbab. Dan, demi cintanya pada istrinya yang ingin menjadi selebriti dan menang kontes itu, dan juga agar ia bisa hijrah ke sebuah tempat yang menerimanya apa adanya, ia melakukan pengorbanan apa pun.

Dan lihatlah, bagaimana ia dikerjai oleh sepasang homoseksual yang gemar atribut militer (pasangan mantan pejabat bernama Helmy dan Yahya ...ah, Edwin sedang bercanda nih ...atau geram?), supaya sang istri manggung dan ia mendapatkan green card ke Amerika. Dari belakang, analnya disodomi. Dari depan, ia harus melakukan oral seks. Adegan itu berlangsung cukup lama, dan Linda menyaksikannya diam-diam. Terlalu lama, malah. Mungkin saya terlalu kolot atau konservatif, tapi pertanyaan menyeruak tak terbendung di benak: apakah perlu adegan tersebut selama itu? Atau, apakah perlu adegan sedetail dan sevulgar itu? Atau, apakah perlu adegan itu?

Bukan hanya karakter-karakter di film Babi Buta yang Ingin Terbang melakukan apa pun agar ia diterima dan dicintai apa adanya. Agaknya, sang sutradara, Edwin, juga. Edwin sepertinya sadar bahwa ia sedang mengusung sebuah tema yang sensitif: identitas minoritas Cina di Indonesia. Dan, agaknya, agar temanya terterima, ia menggandeng isu sensitif seputar minoritas lainnya: kaum homoseksual.

Masalahnya, isu identitas Cina telah menemukan momentumnya, saat Mei 1998, dan pada 2008 sudah mulai banyak film yang merepresentasikaan mereka. Dari May, 9808, hingga film pendek seperti Papaku Hua dan Pacarku Lina yang diputar di Psychocinema 2008, di Atmajaya. Sementara, gerakan gay belum sepopuler itu, dan sepertinya masyarakat belum bisa menerima isu-isu mereka. Apalagi dalam menerima perilaku seksual, yang masuk wilayah privat, dipaparkan dengan gamblang dalam film yang ditonton ramai-ramai di ruang publik.

Saya bisa merasakan dan memahami kegeraman Edwin terhadap isu keterterimaan ras Cina di negeri ini. Tak hanya simbolis, ia juga menyelipkan pesan persaudaraan (bagaimana menghormati tetangga, misalnya) secara verbal dan eksplisit lewat khotbah agama Kristen di televisi yang selalu hadir di ruang tamu berulang-ulang.

Film ini terasa sangat personal –diawali dengan lokasi di Surabaya, tempat Edwin dibesarkan (tengok Jembatan Merah dan plat kendaraannya), hingga pengalaman hidupnya yang terungkap dalam wawancara dengan RF (LINK:http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_jokoedwin_1.htm). Dari sekadar bergurau, Edwin juga terlihat geram dan satir.

Bayangkan, Cahyono (Carlo Genta) yang bekerja sebagai editor program kriminal di televisi itu menyunting gambar-gambar kerusuhan Mei 1998 untuk peringatan 10 tahun Reformasi dengan latar lagu I Just Called To Say I Love You. Lagu tema ini memang selalu diulang-ulang di sekujur film, yang bagi sebagian penonton begitu mengganggu (mungkin saja itu reaksi yang diinginkan!).

Satu lagi, tidak cukup dengan karakter-karakter manusia sebagai penyampai pesan, Edwin juga merekam seekor babi di Gunung Bromo. Tentu saja ini metafor yang pas. Tidak hanya sebagai makanan khas kaum Tionghoa, babi, di masyarakat mayoritas Muslim di negeri ini, adalah sesuatu yang haram. Seperti itu pula saudara-saudara Cina kita (pernah dan mungkin hingga sekarang masih) diperlakukan oleh sebagian rakyat Indonesia. Semuanya dikemas dengan sangat personal.

Tidak masalah, memang, mengangkat tema dan gaya personal. Beberapa film mengangkat hal yang sama, seperti Years I was a Child-nya John Torres. Namun film sebaiknya juga memerhatikan penontonnya, paling tidak berupaya bagaimana agar film-filmnya dipahami oleh setidaknya kelompok tertentu. Apa lagi kalau ada pesan penting yang ingin disampaikan. Dalam hal ini, respon yang diinginkan adalah dinyanyikan dan dibisikkan kata-kata cinta dan perhatian: “I just called to say I love you”.

Dalam konteks ini, berpanjang-panjang dalam scene gay, misalnya, adalah sebuah tindakan kontraproduktif. Karena, sebagian penonton boleh jadi akan lebih mempersoalkan adegan sekitar lima menit itu dari pada keseluruhan pesan “identitas Cina-Indonesia” yang sudah digelontorkan sejak awal. Kecuali kalau sang sutradara tidak peduli dan jalan terus (dan asyik sendiri) dengan ide-idenya.

…Oke, semuanya: I just called to say I love you, I just called to say how much I care, I just called to say I love you, and I mean it from the bottom of my heart.***

Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)

Sutradara & penulis: Edwin

Pemain: Ladya Cherryl, Carlo Genta, Pong Harjatmo. 

Thursday, 28 January 2016

Lima Alasan Mengapa Ide “Fatwa Haram Golput” adalah Kemunduran


Versi editnya dimuat di Majalah Madina Edisi Anniversary, Th II Januari-Februari 2009.

28 January 2009 at 16:22
Catatan: tulisan ini dibuat sebelum MUI membuat fatwa "Golput haram" yang kita bisa dibuat berdebat panjang soal definisi "pemimpin yang memenuhi syarat" itu.Setelah terbit fatwa Haram MUI, tulisan ini makin memperkuat dirinya untuk menjadi oposisi fatwa itu.

Alkisah, Hidayat Nurwahid dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Gedung DPR menyatakan perlunya ada fatwa melarang golput bagi umat Islam pada Pemilu nanti. “Saya menyarankan agar dibuat fatwa antara MUI, NU dan Muhammadiyah untuk mengeluarkan fatwa haram bagi golput. Ini perlu dilakukan karena banyak masyarakat yang sekarang apatis terhadap Pemilu nanti,” katanya. Mungkin sang ustadz baru mengevaluasi berbagai pilkada yang baru digelar. Untunglah, (ya, untunglah!) MUI lantas menolaknya. “Sebetulnya, fatwa mengharamkan golput tidak usah dikeluarkan. Karena kan yang golput tidak bisa dikatakan berdosa. Paling-paling, kita hanya bisa memberikan imbauan kalau masyarakat diwajibkan berpartisipasi untuk memikirkan nasib bangsa pada Pemilu nanti. Jadi, istilahnya imbauan saja, bukan fatwa,” kata Ketua MUI Amidhan.

Tiba-tiba saya teringat DR. Kuntowijoyo, pada 1998 ia pernah menulis Enam Alasan Tidak Mendirikan Parpol Islam. Secara sederhana, ke-6 alasan itu adalah:

1. Mengakibatkan terhentinya mobilitas sosial vertikal ummat Islam yang selama periode a politik Ummat Islam telah menunjukkan tren menaik;

2. Disintegrasi umat yang diakibatkan fanatisme pada partai akibat diprovokasi para jurkam;

3. Umat menjadi miopis yang hanya mampu melihat realitas-realitas yang dekat dan berorientasi kekuasaan;

4. Pemiskinan perspektif dengan menuntun umat pada satu perspektif saja, yaitu perspektif partai;

5. Runtuhnya proliferasi atau penyebaran kepemimpinan ummat, apabila sebelumnya kepemimpinan ummat bisa datang dari berbagai kelompok maka dengan berdirinya partai politik umat hanya akan mengakui pemimpin dari partai politiknya saja;

6. Alienasi di kalangan pemuda karena tercerabutnya mereka dari akar agama yang diakibatkan oleh berbedanya pandangannya dengan apa yang dialaminya.

Saya kira keenam poin di atas masih relevan dengan masa kiwari. Dan tentu saja, semua itu harus ditarik kembali dari pandangan-dunia Kuntowijoyo yang meracik konsep Ilmu Sosial Profetik. Berikut penjelasan a la Kuntowijoyo mengapa keinginan untuk fatwa mengharamkan golput adalah sebuah kemunduran:



1. Bertentangan dengan objektivikasi

salah satu gagasan terpenting Kunto. Objektivikasi (objectivication) berasal dari “objektif” yang berarti membuat sesuatu itu menjadi obyektif, the act of objectifying. Objektivasi artinya adalah menerjemahkan ajaran Islam (termasuk syariat) yang sudah terinternalisasi dalam diri seorang Muslim ke dalam kategori-kategori atau nilai-nilai yang objektif, sehingga ia terkesan tidak hanya milik umat Islam semata, tetapi juga milik semua orang dalam kerangka Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Suatu perbuatan disebut objektif bila perbuatan itu dirasakan oleh orang di luar komunitas Islam sebagai sesuatu yang wajar dan bukan sebagai perbuatan keagamaan, walaupun berangkat dari semangat keislaman. Objektivikasi adalah jalan untuk membebaskan umat dari prasangka-prasangka subjektif birokrasi, umat sendiri dan juga non-umat; ia merupakan jalan tengah dari perdebatan panjang tentang negara Islam di satu pihak dan negara sekular di pihak lain. Dengan adanya ide fatwa anti-golput, maka targetnya jelas adalah calon pemilih Muslim saja, dan tentu terperosok dalam berbagai prasangka. Kalau, misalnya, PKS meminta KPU untuk kampanye anti golput, atau menganjurkan diri mereka dan partai (Islam) lain untuk menyebarkan ide anti-golput, tentu akan lain dampaknya.



2. Politik satu dimensi, agama banyak dimensi

Poin ini bagian dari “pemiskinan perspektif” dan “runtuhnya proliferasi atau penyebaran kepemimpinan ummat”. Dengan konsentrasi di partai politik-- dengan upaya mempolitisir fatwa dan institusi agama semacam MUI—umat menjadi terfokus pada kepentingan politik. Akibatnya, apa pun niat baik dan perilaku mulia mereka (menolong korban bencana, bakti sosial) akan terlihat sebagai upaya politik dan bukan bagian dari syiar Islam yang murni.



3. Miopis

Akibat dari politik yang berdimensi tunggal, maka yang terjadi adalah myopic (kacamata kuda) kepentingan. Karena itu, apapun akan dilakukan untuk meraup sebanyak mungkin pemilih, termasuk fatwa. Dampaknya bisa cukup fatal, otomatis hal itu akan membatasi pemilih pada umat Islam, dan karenanya akan meruntuhkan konsep partai terbuka yang selama ini telah susah payah dibangun PKS. Kacamata kuda membuat pandangan menyempit hanya ke kepentingan politik dan parpol. Dampak lainnya adalah terbengkalainya atau dianaktirikannya dimensi lainnya, sebut saja seni budaya.



4. Dari ilmu kembali ke ideologi

Kuntowijoyo melakukan pemetaan atas sejarah umat Islam di negeri ini: mitos, ideologi, dan ilmu. Sekadar penyegaran, mitos adalah cara berpikir mistis yang mengandaikan bahwa dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan keramat dan irrasional, dan terkait dengan legitimasi kekuasaan; contohnya Tjokroaminoto dari Syarikat Islam adalah Ratu Adil. Pada tahap ideologi, orang menyalurkan kepentingan secara kolektif lewat organisasi modern dan akhirnya parpol-parpol Islam. Kunto menyatakan bahwa saatnya untuk tahapan ketiga, yaitu ilmu. Caranya, dengan objektivikasi (poin pertama). Jika ideologi tertutup, maka ilmu bersikap terbuka. Sifat khas ideologi adalah subjektif dan mempunyai tujuan kolektif tertentu, da dan cenderung kaku menghadapi kenyataan. Sedangkan ilmu lebih obyektif, dan tujuannya menjadi “rahmat semesta alam”.

“Orang mengira bahwa Islam hanya bisa diterjemahkan ke dalam satu jenis saja, yaitu ideologi. … [Padahal] Islam hanya memasuki babak baru dalam politik… yaitu periode ilmu.” tulisnya. Tujuannya jelas: mencegah sekularisasi sekaligus dominasi satu kelompok agama atas kelompok lainnya, dan mencegah konflik dan debat kusir seputar idelogi dan bentuk Negara (Negara Islam, nasionalis, sekular, dll). Nah, dengan mengubah tahap “ideologi” menjadi “ilmu”, tidak perlu lagi sebuah fatwa yang sifatnya memaksa bahkan mengikat dan mengancam kelompok tertentu (jika seorang Muslim tidak dilaksanakan akan berdosa!). dengan menjadi ilmu, maka Islam (atau agama pada umumnya) tidak lagi berwujud identitas atau simbol (dengan kosakata semacam: MUI, fatwa, haram), tetapi ditransformasikan menjadi sumber pemecahan masalah bersama secara objektif, dan konflik pun terhindarkan. Kalau pun ada parpol Islam atau agama lain, sifatnya tidak partisan karena nilai-nilai yang diperjuangkan sudah diterjemahkan (diobjektivikasi) hingga bisa dipahami dan diterima banyak orang. Dengan demikian, PKS atau parpol agama lainnya tidak terkesan egois dan hanya memperjuangkan kelompok Islam tertentu, tetapi juga seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Dengan usulan fatwa haram golput, maka mereka tentu tak membidik pemilih yang berideologi selain Islam, karena fatwa macam itu tidak mempan bagi nasionalis atau sosialis (walau pun di KTP tertulis Islam).



5. Terkesan Mempolitisir Agama

Miopik tadi berakibat (dalam kesan orang luar, wallahua’lam niat sesungguhnya) anggapan PKS mempolitisir agama hanya untuk kepentingan sesaat. Hal-hal yang sifatnya mubah (memilih adalah hak warga negara) menjadi haram (memilih adalah kewajiban warga negara). Hal yang profan (mualamah; semuanya boleh kecuali yang diharamkan) menjadi sakral (ibadah dan diberi muatan “dosa jika tak dilakukan”; semua diharamkan kecuali yang diperintahkan). Hal ini tentu tidak menarik simpati bagi pemilih Muslim non-PKS apalagi yang jelas-jelas non-Muslim atau tidak berideologi Islam. Dalam al-Qur’an ditegaskan:” Hai orang-orang yang beriman,janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Maidah: 87)



Golput adalah hal biasa. Robert P Clark, peneliti asal University George Mason, Amerika Serikat dalam penelitiannya menyampaikan bahwa di negara-negara berkembang yang telah mengembangkan demokrasi melalui pemilu seperti India, Tanzania, Nigeria, Meksiko, dan Brazil, tingkat partisipasi pemilu hanya mencapai 64,5 persen. Bahkan di negara yang demokrasinya sudah maju seperti Amerika Serikat, tingkat partisipasi pemilu hanya mencapai 40-50 persen saja (hupelita.com). Yang menarik, Direktur Center for Electoral Reform (Cetro) Jakarta, Haidar N Gumay, menyatakan, dari hasil survei yang dilakukan bulan September lalu 80% responden pemilih menyatakan akan ikut memilih Pemilu legislatif mendatang. ”Jadi gerakan Golput di Indonesia belum merupakan ancaman serius pada Pemilu legislatif 2009,” katanya pada Seminar Nasional Ancaman Golput Pemilu 2009 yang digelar Kelompok Diskusi Wartawan (KDW) Pemprov Jateng di Vina House Semarang, Rabu (10/12) (Solopos.net). Nah!

Wallahua’lam bisshawab.