Showing posts with label nebula. Show all posts
Showing posts with label nebula. Show all posts

Sunday, 3 January 2016

Manusia Sempurna Menurut Iqbal

Manusia Sempurna Menurut Iqbal Februari 13, 2007

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Malaky
sumber: https://ummahonline.wordpress.com/2007/02/13/manusia-sempurna-menurut-iqbal/
Terbit pertama kali di majalah Nebula.

Iqbal, banyak orang bilang, terpengaruh oleh Friedric Nietzsche. Bahkan, dia ingin membuat buku, The Book of a Lost Prophet, yang bergaya Nietzschean seperti Thus Spoke Zarathustra—tetapi kematian lekas memanggilnya. Banyak orang melihat bahawa “Insan Kamil” Iqbal terpengaruh oleh konsepUbermensche.
Walau bagaimanapun, sesungguhnya Iqbal lebih dari itu, dia menggali kembali konsep tentang Khalifah dalam ajaran Islam, khususnya Jami dan Rumi. Sedang dari Bergson, Iqbal terpengaruh dengan konsep “waktu”.
Khusus untuk Insan Kamil (Manusia Sempurna), konsep ini adalah salah satu fikiran inti Iqbal, di samping Khudi (Selfness, Ego). Memang, filsafat Iqbal adalah filsafat yang meletakkan semua kepercayaannya pada Manusia yang dilihatnya memegang kemungkinan tak terbatas, kemahuan untuk mengubah dunia, dan dirinya sendiri. Untuk Manusia Sempurna ini, Iqbal menulis:
Isilah telinga kami dengan musikmu
Bangkitlah dan bunyikan kecapi persaudaraan
Berilah kami kembali cawan anggur cinta
Berilah kami lagi hari-hari damai pada dunia
Kirimkan pesan perdamaian pada si gila perang
Insan kamil muncul dari suatu pencarian yang penuh semangat, suatu peneguhan kemuliaan yang berhasil. Untuk mencapai tataran ini, Ego harus melaluinya dengan tahapan-tahapan: (1) ketaatan kepada hukum, (2) penguasaan diri sendiri yang merupakan bentuk tertinggi kesedaran diri tentang peribadi, dan (3) kekhalifahan Ilahi.
Muhammad Iqbal, menerjemahkan Insan Kamil alias khalifatullah sebagai co-creator; dengan Allah sebagai Creator-nya. Seperti dalam salah satu sajaknya dalam Payam-i Masyriq (Pesan untuk Bangsa Timur), iaitu sebuah puisi sebagai jawapan dari West-östlicher Diwan dari Johann Wolfgang von Goethe.
Engkau telah ciptakan malam dan aku membuat lampu
Engkau telah ciptakan lempung dan aku membuat cangkir
—(Ekky Malaky)

Allamah Sir Muhammad Iqbal: Penyair Yang Pemikir

Allamah Sir Muhammad Iqbal: Penyair Yang Pemikir Mac 5, 2007

Posted by ummahonline in Catatan Kaki
trackback

Oleh: Ekky Malaky
Catatan: Dimuat pertama kali di majalah Nebula. Diterbitkanulang oleh Ummahonline.
https://ummahonline.wordpress.com/2007/03/05/allamah-sir-muhammad-iqbal-penyair-yang-pemikir/#more-550

Muhammad Iqbal adalah sosok besar dalam khazanah kebudayaan Islam. Pemikirannya dikemasnya dalam bentuk puisi, dan itu membuatnya abadi. Muhammad Iqbal, lahir 9 November 1877. Dia adalah seorang filsuf, pemikir, cendekiawan, ahli perundangan, reformis, politikus, dan yang terutama: penyair. Dia berjuang untuk kemahuan umat Islam dan menjadi “bapa spiritual” Pakistan.

Iqbal adalah saksi dari zamannya yang saat itu sedang dalam titik terendah kesuraman. Negerinya, sebagaimana negeri Islam lainnya saat itu, sedang dalam keadaan terjajah, miskin, bodoh, dan terbelakang. Dan Iqbal, dengan kecerdasan intelektual, emosional,dan spiritual yang dianugerahi Tuhan, bergerak dan melesat, khususnya dalam hal penulisan dan pemikiran, bahkan tenaga dan waktu. Dia menulis dan terus menulis, dalam bahasa Urdu, Parsi, dan Inggeris. Dia berkelana ke Eropah, bergaul dengan banyak pemikir dan intelektual, untuk bekal perjuangannya.
Iqbal berjuang di All-India Muslim Leage di awal 1930an. Bersama Muhammad Ali Jinnah, dia merumuskan konsep Negara bagi Muslim India, dan tak pernah melihat berdirinya Pakistan tahun 1947 kerana sudah wafat pada 1938. Iqbal juga dijuluki Muffakir-e-Pakistan (Pemikir dari Pakistan) dan Shair-i-Mashriq(Penyair dari Timur), dan hari lahirnya dirayakan sebagai hari cuti umum dan dinamai �Iqbal Day� di Pakistan.
Iqbal lahir di Sialkot. Ayahnya, Shaikh Nur Muhammad adalah seorang penjahit yang taat beragama, dan mendalami tasawuf. Ibunya, Imam Bibi, pun seorang muslimah yang taat.
Iqbal menyelesaikan sekolah rendahnya di Sialkot. Bakatnya sebagai seorang penyair dimulai di sini, dan mulai dirasakan gurunya, Syed Mir Hasan. Iqbal pun lulus Scotch Mission School pada 1892 dan melanjutkan ke jurusan Liberal Arts di Scotch Mission College (Murray College) dan lulus ujian pada 1895. Setelah itu, ia melanjutkan ke Governtment College, Lahore dan mendapatkan gelaran Bachelor of Arts tahun 1897 untuk jurusan Filsafat, Bahasa Arab, dan Sastera Inggeris, dan gelaran Master of Arts pada 1899. Iqbal turut menerima pingat emas kerana menjadi satu-satunya calon yang sukses di bidang filsafat. Setelah itu, Iqbal mendalami bahasa Arab di Oriental College, Lahore, sebelum menjadi penolong profesor mata pelajaran Filsafat dan Sastera Inggris di Government College, Lahore, pada 1903.
Saat mendapatkan gelaran Master inilah, Iqbal bertemu dengan Sir Thomas Arnold, seorang cendekiawan yang pakar filsafat moden, yang kemudian menjadi jambatan Iqbal ke peradaban Barat, dan mempengaruhinya untuk melanjutkan pendidikan di Eropah.
Pada 1905, Iqbal pergi ke Inggeris untuk belajar di Trinity College, Cambridge University, dan juga belajar ilmu hukum di Lincoln Inn. Dia meraih gelar Bachelor of Arts dari Cambridge University tahun 1907, dan meraih gelaran Ph.D. di bidang filsafat dari Fakulti Filsafat di Ludwig-Maximilians University di Munich di tahun yang sama. Gelaran doktoralnya ini diraihnya dengan disertasi The Development of Metaphysics in Persian dengan bimbingan Prof Dr Friedrich Hommel.
Saat di Eropah inilah, Iqbal mulai menulis puisi dalam bahasa Parsi, kerana boleh dimengerti lebih banyak orang, seperti di Iran dan Afghanistan. Dan, saat di Inggeris, untuk pertama kalinya, Iqbal terjun ke politik. Tahun 1908, ia terpilih menjadi ahli jawatankuasa eksekutif The Muslim League cawangan Inggeris. Bersama Syed Hassan Bilgrami dan Syed Amir Ali, dia ikut membuat konsep perlembagaan Muslim League.
Iqbal memang sedang ingin berjuang untuk martabat bangsa dan umatnya. Saat itu, bangsa Muslim berada dalam kemunduran dan penjajahan Barat. Iqbal merasa terpanggil untuk memperbaiki nasib bangsa dan umatnya itu, salah satunya dengan pembaharuan pemikiran Islam agar kontekstual dengan jiwa zaman saat itu. “Sesungguhnya sudah masanya bagi kita saat ini untuk memelihara asas-asas Islam,” serunya. Dengarlah semangatnya:
Bangunlah, hai Muslim, hembuskan hidup yang baru Pada segenap jiwa yang hidup Bangkitlah dan nyalakan semangat Orang yang bernyawa Bangkitlah dan letakkan kakimu di jalan lain
Pada 1908, Iqbal pulang, dan sejak itu dia meniti karier di bidang akademik, perundangan, dan, yang paling didalaminya: puisi. Dia bekerja sebagai penolong profesor di Government College, Lahore, yang kemudian dilepaskannya pada 1909 kerana niatnya untuk memberi tumpuan penuh sebagai peguam. Tapi, dalam perjalanannya, Iqbal tidak dapat memberikan fokus sebagai seorang peguam, tetapi membahagi waktunya untuk perundangan dan perkembangan intelektual serta spiritualnya.
Tahun 1911, Iqbal membacakan pusinya Shikvah (Keluhan) pada pertemuan tahunan dari organisasi Anjuman Himayat-e-Islam, Lahore. Dan, pada 1913 puisinya Javab-e-Shikyah (Jawaban dari Keluhan) dibacakan di Mochi Gate, Lahore.
Asrar-i-Khudi (Rahsia Diri) terbit pada 1915. Inilah antologi puisi pertama Iqbal, dan ditulis dalam bahasa Parsi. Bukan sekadar puisi, tapi terkandung filsafat agama. Isinya berisi tentang pentingnya Ego. Bagi Iqbal, jawapan atas pertanyaan-pertanyaan esensial berkenaan dengan Ego sangatlah penting untuk persoalan moral, baik untuk individual ataupun masyarakat.
Rumuz-i-Bekhudi (Rahsia Kedirian), dibuat dalam bahasa Parsi tahun 1918. Tema utamanya berisi tentang masyarakat ideal, etika dan prinsip sosial dalam Islam, dan hubungan antara individu dan masyarakat. Di sini, Iqbal juga menjelaskan aspek-aspek penting dari agama lain. Iqbal melihat bahawa individu dan masyarakatnya sebenarnya saling mencerminkan satu dengan lainnya. Individu harus menjadi jiwa yang kuat sebelum bersatu dengan masyarakatnya. Dan, dengan berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya,Ego belajar menerima batas-batasan kebebasannya dan makna cinta.
Pada 1919, dia terpilih sebagai Setiausaha Agung Anjuman Himayat-e-Islam. Dan tahun 1923, sebagai penyair terkenal, Iqbal menerima gelar bangsawan dari Kerajaan Hindia-Belanda kerana antologi puisi Asrar-i-Khudi.
Pada 1931, Mohammad Ali (Jauhar) wafat, dan Muhammad Ali Jinnah hijrah ke London untuk memimpin organisasi di sana, maka secara automatik Iqbal memimpin umatnya, setidaknya sampai kepulangan Ali Jinnah pada 1935. Tak berlama-lama, pada 1931 dan 1932, Iqbal mengadakan diskusi dalam bentuk Persidangan Meja Bulat di Inggeris untuk membincangkan nasib India.
Bahkan, pada 1930, Iqbal sebenarnya sudah memperkenalkan konsep sebuah negara Muslim yang terpisah dari India, yang menjadi asas kepada pembentukan Pakistan. Tepatnya, pada 29 Disember 1930, pada sebuah acara All-India Muslim League, di Allahabad. Hal serupa, khususnya soal nasionalisme Muslim di India, dipertegas lagi saat pertemuan tahunan pada 21 Mac 1932.
Selama di Inggeris itu, Iqbal merenung dan menulis. Javid Nama adalah salah satu karyanya yang terkenal yang dibuat tahun 1932, dan dianggap sebagaiDivine Comedia dari Timur. Iqbal terpengaruh Ibnu Arabi, Marri, dan Dante. Iqbal, dipandu oleh Rumi sang guru, berjalan menembus langit menuju Sang Maha Tinggi. Ada berbagai permasalahan hidup yang dibahas, dan dijawab. Pada karya ini, si “aku” melakukan perjalanan ke langit, melewati langit demi langit sampai ke tangga tertinggi. Pada masing-masing langit, Iqbal menempatkan sejumlah tokoh (Barat dan Timur) yang menpengaruhi pemikirannya, mereka “ditempatkan” sesuai pencapaian pemikirannya dalam ehwal manusia bereksistensi penuh.
Tokoh-tokoh itu tak sekadar dihadirkan dan ditempatkan, melainkan juga dikritik dan dipelajari tingkat “kesalahannya” dalam menempuh jalan kemanusiaan. Nietzsche, misalnya, sebagai manusia Barat yang hanya sampai pada “penolakan”, namun disayangkan tak sempat mengenyam “penemuan”. Nietzsche hanya menyatakan kematian Tuhan, tanpa merumuskan gagasan baru mengenai Tuhan. Terakhir, dia berbicara untuk kaum muda dan semacam membimbing generasi baru.
Semaklah puisinya:
Apakah kau sekadar debu?
Kencangkan simpul pribadimu
Pegang selalu wujudmu yang alit
Betapa keagungan memulas pribadi seseorang 

Dan menguji cahayanya di kehadiran suria
Lalu pahatkan kembali rangka lama kepunyaanmu
Dan bangunlah wujud yang baru Wujud yang bukan semu
Atau pribadimu cuma lingkaran asap
Dia juga bertemu dengan filsuf Perancis, Henri Louis Bergson dan diktator Itali, Benito Mussolini. Dan, kedatangannya ke Sepanyol membuatnya menulis tiga puisi indah, yang terkumpul dalam Bal-i-Jibril (Sayap Jibril) terbitan 1935.
The Reconstruction of Religious Thought in Islam adalah karya bukan-fiksinya yang ketiga setelah Ilm Al-Iqtisad (Ilmu Ekonomi, 1903) dan disertasinya. Buku kumpulan ceramahnya dari Madras, Hyderabad, dan Aligargh ini adalahMagnum Opus-nya di bidang filsafat dan menjadi pegangan bagi pemikir Islam hingga saat ini. Isinya adalah “Pengetahuan dan Pengalaman Keagamaan”, “Konsep Tuhan dan Makna Doa”, “Manusia-Ego”, “Pradestinasi dan Kehendak Bebas”, “Semangat Kebudayaan Muslim”, dan “Prinsip Gerakan dalam Islam (Ijtihad)”. Iqbal meracik pengetahuan Islam tradisional dengan filsafat Barat dengan gaya dan fikirannya sendiri, tanpa terpengaruh oleh bangsa Barat.
Sekembalinya dari perjalanan ke Afghanistan tahun 1933, kesihatan Iqbal menurun, namun pemikiran keagamaan dan politiknya makin cemerlang, dan popularitinya berada dalam puncaknya. Salah satunya adalah idea mendirikan Idara Dar-ul-Islam, sebuah institusi tempat pendidikan khusus Ilmu Sosial Mutakhir dan Islam Klasik. Tampaknya, Iqbal ingin sekali menjadi jambatan bagi filsafat dan pengetahuan popular dengan ajaran Islam.
Iqbal berhenti dari pengamal perundangan pada tahun 1934, kerana kesihatannya menurun. Dan, akhirnya Iqbal wafat pada 21 April 1938 di Lahore�yang kemudian menjadi bahagian dari Pakistan. Sesaat sebelum wafatnya, sang penyair besar itu menggoreskan sajak:
Bila beta telah pergi meninggalkan dunia ini, Tiap orang kan berkata ia telah mengenal beta Tapi sebenarnya tak seorang pun kenal kelana ini, Apa yang ia katakan Siapa yang ia ajak bicara Dan darimana ia datang.
Namanya diabadikan menjadi nama Lapangan Terbang Pakistan, Allama Iqbal International Airport. Dan generasi setelahnya, tidak hanya Muslim, mengenangnya sebagai seorang pemikir besar yang mengabadikan fikirannya dengan puisi. Kerana, Iqbal begitu menghargai seni, khususnya puisi. Puisi, menurut Iqbal, adalah cahaya filsafat sejati dan pengetahuan yang lengkap. Tujuannya membantu manusia dalam perjuangannya melawan semua keburukan dengan mengimbau kepada unsur-unsur kemuliaan. Peranan seni adalah bersifat sosial. Ia adalah penuntun kemanusiaan. Dan, yang patut dicatat, Iqbal anti dengan konsep “Seni untuk seni”.
Rabindranath Tagore, setelah mendengar kematiannya, berkata bahawa kematian Iqbal menimbulkan keekosongan dalam kesusasteraan, yang seperti luka parah dan memerlukan waktu untuk menyembuhkannya. “India yang tempatnya di dunia begitu sempit, boleh menanggung derita akibat hilangnya seorang penyair yang sajak-sajaknya mengandung imbauan universal”, ujarnya.
Seorang kritikus sastera ternama, A.K. Brohi mengulas: “Jika mahkota burung merak menjadi sebab bagi kebanggaan Iran, Kooh-I-noor bermakna kejayaan dan martabat bagi mahkota Inggeris, maka Iqbal, kalau perlu, menjadi penghias dari halaman puitis setiap negeri.”
Sementara ideolog Ali Shari’ati menyatakan bahawa: “Nasihat terbesar Iqbal kepada kemanusiaan adalah: Mempunyai hati seperti Isa, fikiran seperti Sokrates, dan tangan seperti tangan Caesar, tapi semuanya berada dalam satu diri manusia, dalam satu makhluk kemanusiaan, berdasarkan satu semangat, untuk mencapai tujuan. Itulah, menjadi seperti Iqbal.”

Sholahuddin al-Ayyubi: Pemimpin Perang Cerdas Nurani

Sholahuddin al-Ayyubi: Pemimpin Perang Cerdas Nurani Mac 19, 2007

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Malaky
Catatan: dimuat pertama kali di majalah Nebula. Diterbitkan ulang oleh Ummahonline.
https://ummahonline.wordpress.com/2007/03/19/sholahuddin-al-ayyubi-pemimpin-perang-cerdas-nurani/#more-563
Sholahuddin Al-Ayyubi, salah satu pemimpin besar sepanjang masa. FilemKingdom of Heaven karya Sir Ridley Scott merakam kecerdasan nurani panglima tertinggi Islam saat itu, Sholahuddin al-Ayyubi. Bahkan Barat pun menghargainya. Di tenda besar berwarna putih itu, di tengah-tengah Perang Salib yang menghabiskan banyak korban, waktu, dan biaya itu, terdengar dialog bernas antara Saladin dan tangan kanannya.
“Kita harus serang mereka sekarang,” usul sang tangan kanan Saladin.
“Tidak, kita buat perencanaan yang matang dulu,” sanggah Saladin.
“Kita akan menang, kerana ini sudah kehendak Allah,” teriak
“Kita akan menang kerana perencanaan yang matang,” ujar Saladin, sang pemimpin tertinggi pasukan Muslim.”…dan tentu saja kerana kehendak Allah,” segera sang pemimpin itu menambahkan.
Diskusi itu ditutup dengan kalimat Saladin: ”Di setiap pertempuran, aku selalu menang, tentu saja dengan kehendak Allah, kerana matangnya perencanaan perang,” tegasnya.
Dialog di atas mengandung banyak hikmah. Tentang betapa terencananya Saladin, atau yang kita kenal dengan nama Shalahuddin al-Ayyubi. Dan betapa Sholahuddin juga mendengarkan pernyataan anak buahnya. Juga percakapan filosofis tentang takdir dan peranan usaha manusia (ikhtiar). Dialog itu terakam lewat filem Kingdom of Heaven garapan Sir Ridley Scott yang pernah meraih Anugerah Oscar lewat Gladiator.
Sholahuddin di filem garapan Barat itu diperlihatkan sebagai sosok yang agung dan spiritual. Tengok saja adegan penghujung saat dirinya bernegosiasi dengan Balian dari Ibelin, panglima dari kaum Nashrani yang ketakutan dengan kemenangan Islam di Jerusalam kerana akan membalas membantai kaum Nasrani, sebagaimana mereka memperlakukan Muslim seratus tahun sebelumnya. Saladin hanya tersenyum dan menjawab: ”Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristian, bawa pasukan dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak ada pembunuhan,” katanya.
Sholahuddin Yusuf ibn Ayyub memang dikenal dengan toleransi yang tinggi dan penuh dengan rasa peri-kemanusiaan. Dalam setiap pertempuran, pesannya selalu sama: “minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak”. Dia disegani lawan-lawannya, sehingga dalam Perang Salib III, ada istilah ‘Saladin Tithe’ (“Zakat” melawan Saladin). Tapi namanya harum di medan perang yang panjang itu, dan diakui kawan dan lawan. Bersama dengan Raja Baldwin IV, dia menginginkan sebuah kota Yerusalam yang damai bagi ketiga agama besar, sebuah Kingdom of Conscience , Kingdom of Heaven (kerajaan nurani, kerajaan syurga).
Sebenarnya, bisa saja keturunan Kurdis (bukan-Arab) ini menyerang Jerusalem, kerana “..200 ribu pasukannya sudah siap tempur…” jelas Tiberias kepada Raja Baldwin. Tapi sang panglima itu tidak melakukannya, kerana sudah berkomitmen untuk tidak menyerang Jerusalem asalkan umat Muslim tidak diganggu. Tapi, seperti terlihat dalam filem itu, perjanjian dilanggar oleh raja baru Guy de Lusignan yang memerintahkan Raynald of Chatillon membunuh sekelompok kafilah Muslim yang sedang berdagang dan akan berhaji di Laut Merah, juga saudari Sholahuddin. Dan perang pun pecah. Pada Julai 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin dan berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa.
“Persahabatan”nya dengan musuh terbesarnya, Raja Richard I dari Inggeris—Raja Inggeris yang mengobarkan Perang Salib III yang dijuluki The Lion Heart–juga legendaris. Kepada Richard—satu-satunya raja yang pernah memukul mundur pasukan Muslim– Sholahuddin mengirimkan tabib terbaiknya—dan saat itu memang dunia Islam memimpin dunia sains dan teknologi termasuk kedoktoran. Saat Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor penggantinya. Bahkan, dalam satu pertempuran, saat berhadap-hadapan dengan Richard dari Inggris pada Perang Arsuf tahun 1191, di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan Richard saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain.
Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Di tahun 1192 keduanya untuk membahagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristian dan Jerusalem untuk Kaum Muslim. Perjanjian Ramla itu menyatakan bahawa Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristian. Bahkan, adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.
Sholahuddin pula yang menghidupkan semangat jihad merebut kota Jerusalem dengan inovasinya yang unik. Dia mengadakan acara menulis riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dalam rangka memperingati maulud nabi. Dan, lahirlah syair Barzanzi yang masih hidup hingga saat ini.
Budi baiknya dikenal tidak di kalangan muslim, tetapi juga lawan-lawannya. Tawanan diperlakukan secara terhormat dan manusiawi, tidak membuat mereka haus dan lapar. Pernah, saat berperang, Sholahuddin menangkap pasukan Salib yang berjumlah sangat besar sedangkan makanan yang tersedia tidak cukup buat mereka. Dengan lapang dada, akhirnya Sholahuddin membebaskan mereka tanpa syarat.
Kelahiran Tikrit (Irak) pada 532 Hijriah (1138 Masehi) di di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad ) dekat sungai Tigrisini begitu cerdas nurani dan emosinya. Mungkin kerana dia menghayati ilmu-ilmu yang didapatnya dari guru-gurunya—seperti ayahnya Najamuddin al-Ayyubi, Nuruddin Zangi dan pamannya Asaddin Shirkuh yang pejabat Dinasti Seljuk dan dekat dengan raja Suriah, Nuruddin Mahmud —di antaranya menguasai ilmu kalam, fikih, ilmu-ilmu al-Qur’an, dan juga hadits, di samping ketenteraan. Bahkan, ia memberikan catatan kaki (syarah) dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.
Berbeza dengan sultan kebanyakan, dia tidak membuat istana megah untuk dirinya. Tetapi, justeru masjid, hospital, dan universiti yang dibangunnya untuk publik, di Kaherah, Mesir.
Setahun setelah Perjanjian Ramla, setelah pulangnya Richard ke Inggeris, tepatnya 4 Mac 1193, Sholahuddin meninggal di Damsyik tidak lama setelah jatuh sakit. Ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, wang sebanyak satu dinar dan 36 dirham miliknya. Rupanya hartanya lebih banyak mengalir kepada golongan fakir miskin.
Saladin, begitu lidah Barat menyebutnya, sudah wafat. Tapi perilaku dan kecerdasan nuraninya akan terus dikenang, bahkan oleh Barat. Kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastera Eropah, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott. “Di Eropah” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi mahupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria,”
Kini makamnya menjadi salah satu destinasi kunjungan popular di Syria.

Sokrates, Korban Pertama Dari Demokrasi

Sokrates, Korban Pertama Dari Demokrasi April 4, 2007

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Malaky
catatan: diterbitkan pertama kali di majalah Nebula. diterbitkan ulang di ummahonlinehttps://ummahonline.wordpress.com/2007/04/04/sokrates-korban-pertama-dari-demokrasi/#more-529

Tahun 1981, di New York, Peter Drucker, sang penggagas pengurusan moden bertanya kepada Jack Welch, CEO General Electric Co (GE). Drucker melontarkan dua pertanyaan: “Seandainya anda belum terjun ke dunia perniagaan, maka apakah anda akan terjun ke dunia ini?” ujarnya. “Jika tidak, apa yang akan anda lakukan?” soalnya lagi.
Pertanyaan itu membuat Welch membawa GE kembali menjadi salah satu syarikat Amerika yang paling berjaya dalam 25 tahun terakhir. Ya, Drucker hanyalah bertanya dan tak pernah memberikan jawapan yang jelas dan langsung atas pertanyaan banyak CEO. “Pekerjaan saya adalah bertanya, dan adalah tugas andalah untuk mencari jawapan”, tutur lelaki yang meninggal pada 11 November 2005 yang lalu.
Drucker bukan sekadar berperanan sebagai “bidan” yang membantu para pemimpin perniagaan untuk melahirkan idea-ideanya. Sebenarnya, dia sedang meneladani Sokrates. Kaedah “kebidanan” adalah ciri khas Sokrates yang memang anak seorang bidan.
Dengan kaedah kebidanan inilah, Sokrates ditangkap kerana dituduh “mengajarkan”ajaran baru yang melawan ajaran banyak dewa dan menyesatkan banyak anak muda. Dan, saat diadili, Sokrates tetap teguh mempertahankan diri,dan mengakibatkan dirinya dijatuhi hukuman mati dengan cara meminum racun, kerana kalah dalam pemungutan undi — 281 undi lawan 220 undi. Dialog-dialog ini diabadikan oleh Plato, muridnya, lewatApologia. Dan sejarah mencatat, Sokrates adalah korban pertama dari demokrasi.
“Banyak alasan mengapa aku tak bersedih hati saat diputuskannya hukuman bagiku, wahai tuan-tuan. Hal itu memang telah kuduga semula, hanya saja terperanjat menyaksikan perbadingan undi yang hampir seimbang itu,” tutur Sokrates. Tenang. Dia menyatakan bahawa kenikmatan di akhirat sungguh besar “Sebab, selain mereka itu lebih bahagia daripada kita di sini, di sana mereka itu hidup abadi,” jelasnya. Keyakinan yang teguh membuatnya tidak takut mati. Bahkan saranan para sahabatnya untuk melarikan diri tak dipedulikanya.
Dengan kaedah kebidanan yang membuatnya berjalan-jalan dan bertanya-tanya kepada banyak orang, Sokrates dinyatakan bersalah oleh lawan-lawannya. Padahal dirinya hanya ingin menemukan jawapan dari Orakel Delphi, yang ditanyakan kawan lamanya Chaerefon, yang menyatakan bahawa tidak ada yang lebih bijaksana dari dirinya. Kerana ia tak merasa bijaksana, dia menanyakan kepada banyak orang, mulai dari politikus, pujangga, hingga intelektual, dan itu membuat musuhnya bertambah.
Sokrates ibarat lalat yang menganggu dan mencemuh mereka. Mereka tak hanya tak mampu memaparkan dalam hal apa mereka “bijaksana”. Bagi mereka, Sokrates di depan umum berupaya “membuktikan” bahawa sesungguhnya mereka tidak bijaksana.
Di jalan-jalan, Sokrates bertanya khususnya tentang definisi sebuah Arete(Keutamaan/Nilai, Virtue). Misalnya “apakah itu bijaksana?”, “Apakah itu keadilan?”, “Apakah itu kedermawanan?”, atau “Apa itu kejujuran?”. Dari satu pertanyaan, akan berbuah ke pertanyaan lainnya.
Setelah panjang berdebat, Sokrates mengunci soal-jawab tadi dengan berkata: “Demikianlah adanya, kita kedua-duanya sama-sama tidak tahu.”. Kaedah dialektika ini juga dipakai untuk melawan kaum sofis, yang mengajarkan ajarannya dengan cara retorik kosong untuk wang semata, dan bukan kerana semangat menyebarkan kebenaran.
Sayang lelaki tambun kelahiran Athens yang hidup tahun 470 S.M-399 S.M ini tidak pernah menuliskan ajarannya. Berkat Plato, yang baru berusia 28 tahun saat Sokrates gugur, dan beberapa muridnya, ajarannya menjadi abadi. Baginya, tujuan hidup adalah mencapai eudaimoia yang sering diterjemahkan dengan well-being (kebahagiaaan) yang bersifat objektif dibandingkanhappiness yang lebih subjektif. Eudaimonia juga bererti “suara hati dari Tuhan”, atau juga “jiwa (daimon) yang baik”. Hal ini dilanjutkan oleh Aristoteles, cucu muridnya, lewat etika eudaimonismenya.
Untuk mencapai kebahagiaan itu, jalannya adalah memaksimunkan Arete.Arete adalah nilai-nilai, misalnya kejujuran, keadilan, atau keberanian. Aretejuga bererti keutamaan seorang berdasarkan kudrat untuk apa ia dicipta. Seorang negarawan mempunyai Arete yang memungkinkannya menjadi politikus yang baik. Seorang tukang kasut yang mempunyai Arete akan menyebabkan ia menjadi seorang tukang yang baik. Dengan Arete, ia mendapat pengetahuan yang memungkinkannya menjadi seorang tukang atau politikus yang baik. Dan untuk memaksimunkan Arete, maka pendidikan sangat diperlukan.
Kalau kita tidak boleh memaksimumkan Arete, sama saja dengan pena yang tak berfungsi, pena yang tak lagi boleh dipakai menulis. Dalam bahasa pengurusan moden, Arete boleh bererti ”profesional”. Dalam Skala Motivasi Ian Marshall, di buku Spiritual CapitalArete masuk dalam kategori +4, penguasaan yang membuat orang mencapai aras puncak dalam kareirnya.
Sokrates juga orang pertama yang berjasa mengembalikan filsafat dari hanya membincangkan alam semesta kepada perbincangan seputar manusia. Slogannya yang terkenal adalah: “Kenali dirimu!”. Dari hasil “kebidannnya” dia berkesimpulan:”Aku tahu bahawa aku tidak tahu!”.
Sokrates dianggap banyak kalangan sebagai penyebar semangat monotheisme, walau ada yang bilang dia atheis atau politheis. Ajarannya diteruskan juga oleh Aristoteles, yang terkenal lewat The Unmoved Moveryang disebutnya sebagai Penyebab Pertama, yang banyak diyakini orang sebagai ajaran tauhid.
Dari tangan Sokrates lahirlah Plato dan Aristoteles, dua pemikir raksasa yang pengaruhnya begitu besar dalam peradaban mana pun, termasuk peradaban Islam abad pertengahan lewat paripatetisme dari Aristoteles dan Neo-Platonisme.
Dan dua cabang besar itu berawal dari sosok gemuk beristeri wanita cerewet yang acap memarahinya yang, sayangnya, tidak pernah menuliskan ajaran-ajarannya.
Masih boleh kita baca, harapannya pada generasi penerusnya: “Saya curahkan seluruh waktu saya dengan melakukan usaha memujuk kalian, pemuda dan orang tua, agar kepedulian pertama dan utama kalian bukan demi raga kalian atau pun harta kalian, melainkan demi kesejahteraan tertinggi jiwa kalian. Kekayaan tidak membawa kebaikan, tetapi kebaikan membawa kekayaan dan segala berkah lainnya, baik bagi individu maupun bagi Negara.”
Hari itu, setelah keputusan mati ditetapkan, Sokrates justeru menghibur teman-temannya yang bersedih. “Kini tiba saat kita berpisah. Aku menjelang mati, dan kalian menempuh hidup. Mana yang lebih baik, hanya Tuhanlah yang tahu”.

Muzik, Tak Sekadar Penghias Langit Peradaban

Muzik, Tak Sekadar Penghias Langit PeradabanMei 6, 2007

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Malaky
catatan: kalau tak salah, pertama kali dimuat di majalah Nebula. Dimuatulang oleh Ummahonline.
https://ummahonline.wordpress.com/2007/05/06/muzik-tak-sekadar-penghias-langit-peradaban/#more-574
Kesenian, khususnya muzik, adalah salah satu unsur penting dalam peradaban. Dr. Yusuf Qardhawi sendiri pernah bilang bahawa muzik itu penting kerana berhubungan dengan naluri dan perasaan orang serta berfungsi membentuk bakat, perasaan, dan idealisme peribadi dengan berbagai wasilah yang sangat mengesankan baik yang biasa didengar, dibaca, dilihat, dirasakan, atau pun difikirkan.
Syeikh Qardhawi juga menyatakan bahawa seni itu mirip dengan ilmu pengetahuan. Ia boleh digunakan untuk kebaikan dan pembangunan, tetapi sekaligus boleh juga digunakan untuk kejahatan dan pengrusakan.
Menurut Syeikh Qardhawi yang beberapa kali datang ke Indonesia —salah satunya bertemu Dr Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI dan ketua umum Masyumi—ini, tujuan dari kesenian itulah yang menentukan hukumnya. Jika untuk urusan halal, seni menjadi halal. Jika digunakan untuk urusan haram, maka haram pula si ‘seni’ ini. Jadi, sebenarnya seni itu neutral-neutral saja.
Dalam sejarah kebudayaan Islam, muzik tidak sekadar menghiasi, bahkan berperanan penting dalam kehidupan. Ibnu Sina menulis satu bab khusus muzik dalam bukunya yang terkenal, al-Syifa. Al-Farabi bahkan membuat buku Kitab al-Musiqa al-Kabir dan teori-teorinya menjadi rujukan Barat hingga sekarang. Al-Ghazali menulis bab Sama’ (mendengar) pada bukumagnum opusnya: Ihya Ulumuddin. Para sufi seperti Jalaluddin Rumi membuat muzik sebagai alat untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan disandingkan dengan tarian thawaf para sufi yang legendaris itu.
Gitar berasal dari pemikir Islam yang saat itu menguasai Sepanyol. Sam Bimbo, saat melakukan pembelaan terhadap pilihan bermuziknya yang memakai gitar, menyatakan bahawa gitar yang kita kenal sekarang sebetulnya berasal dari Arab yang kemudian dibawa ke Spanyol. Orang Arab mengenalnya di abad ke-14, mula-mula dengan empat senar. Di abad ke-15, gitar mengubah menjadi lima senar dan abad ke-19 menjadi 6 senar. Hal ini tercantum dalam Encyclopedia Britanica.
Muzik tidak dianggap sebagai pelengkap penyerta, atau hanya sebatas hiburan. Tetapi lebih dari itu, adalah media pesan, pembangunan dan wadah ekspresi dari kecerdasan emosional bahkan spiritual.
Berawal dari Phytagoras, filsuf dari masa Yunani Kuno, yang mempunyai filsafat bilangan. Muzik adalah bahagian dari filsafat bilangan. Saat itu, muzik adalah kegiatan intelektual. Phytagoras juga menyelidiki pengaruh muzik terhadap kejiwaan sudah menjadi perhatian tersendiri. Sehingga, ada sebahagian orang saat itu yang menjadikan muzik sebagai terapi atau pengubatan psikologis.
Thuwannas merupakan model muzik yang terkenal pada masa Khalifah Rasyidin. Dan, sebahagian sejarahwan menganggap model ini merupakan aliran muzik Arab pertama yang dikolaborasi dari seni muzik Persia. Namun ritme atau aluanan nada dalam muzik tersebut belum beraturan. Ketika Daulah Umayyah I (623–750M) memperluas kekuasaannya, masyarakat Islam pun mengalami asimilasi dua peradaban besar, yaitu peradaban Persia dan Bizantium, dan keduanya mewarnai muzik Arab yang berkembang saat itu.
Pada akhir abad ke-8 M, muncullah seorang ahli muzik bernama Ibnu Misjah. Setelah itu kaum Muslimin banyak yang mempelajari buku-buku muzik yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, di antaranya pemikiran Phytagoras, dan India. Mereka mengarang kitab-kitab muzik baru dengan mengadakan penambahan, penyempurnaan, dan pembaharuan, baik dari segi alat-alat instrumen maupun dengan sistem dan teknisnya.
Beberapa di antaranya adalah Yunus bin Sulaimân Al-Khatîb (pengarang muzik pertama dalam Islam) yang menjadi rujukan teoritikus muzik Eropah, Khalîl bin Ahmad (pengarang buku teori muzik mengenai not dan irama), serta Ishâk bin Ibrâhîm Al-Mausully (memperbaiki muzik ‘Arab jâhilliyah dengan sistem baru lewat buku Kitab al-Alhan wa al-Angham, Buku Not dan Irama) yang dijuluki “Imam al-Mughanniyin” (Raja Penyanyi). Tokoh lainnya adalah Yahya bin Mansur Al-Mausuly (penulis teori muzik, terutama not huruf dan teori tari), Hunia bin Ishak (menyalin sejumlah teori muzik karangan dua filsuf Yunani, Plato dan Aristoteles,Problemata dan De Anima, serta menerjemahkanDe Voce karya Galen), Tsabit ibnu Qurra, Muhammad ibnu Zakaria ar Razi, dan Qusta ibnu Luqa.
Di masa Daulah Abbassiah (752-1258 M) di abad ke-9, seorang filsuf bernama al-Kindi merasakan bahawa muzik saat itu jauh dari olahan nada dan alunan atau ritme-ritme muzik, sehingga muzik pada saat terasa tanpa nada tidak berirama. Ia pun lantas menggarap muzik secara proposional dengan berbagai pendekatan, termasuk estetika (filsafat keindahan). Dalam perkembangannya ia mencipatakan ilmu muzik dalam berbagai mediasi. Di antaranya menciptakan not balok, karakter muzik dalam berbagai irama, muzik dan kejiwan manusia dan berbagai tinjauan psikologis. Ia pun dikenal sebagai pakar muzik pertama di kalangan intelektual Islam, bahkan ia mendirikan akademik muzik pertama di dunia Islam. Dan, akademi ini pun dikembangkan leh Al-Farabi, Sang Guru Kedua (Mu’alimi al-Tsani) yang telah melahirkan buku Al-Kabir, yang mengeksplorasi tarik suara di dunia muzik.
Alkisah, Suatu hari al-Kindi berkunjung ke istana untuk melihat pergelaran muzik. Di tengah pergelaran ia mengkritik alunan muzik yang digelar tadi, “Muzik yang aku dengar tadi tidak menarik dan tidak berirama.” Kerana kritikan itu, sang khalifah yang ikut mendengarkan acara itu langsung angkat suara, “Kalau kau memang boleh, tunjukkan iramamu.” Dengan tenangnya al-Kindi menjawab, “Aku meminta tiga permohonan, jangan tertawa, jangan menangis dan jangan tertidur.” Ia pun langsung melantunkan biolanya. Pada muzik pertama semua tertawa mendengarkan alunannya. Pada muzik kedua mereka berlinang airmata.dan pada pertengahan alunan muzik ketiga al-Kindi meninggalkan mereka, kerana semuanya tertidur lelap.”
Dari berbagai penelitiannya, Al-Kindi membagi pengaruh muzik terhadap kejiwaan menjadi tiga bahagian:
1. Al-Taraby; ritme atau alunan muzik yang yang menghasilkan sebuah hiburan, sehingga membuat seseorang hanyut ke dalam perasaan senang dan penuh kegembiraan.
2. Al-Aqdaamii; ritme atau alunan muzik yang membawa perasaan seseorang ke dalam nuansa heroik, semangat dan keberanian.
3. <i.al-syajwa</i.al-syajwa: ritme atau alunan muzik yang dapat menghanyutkan jiwa seseorang dalam keharuan dan kesedihan serta kedukaan, bahkan menembus naluri spiritual seseorang.
Pembahagian di atas mempunyai waktu-waktu tertentu dalam pengunaanya, sehingga alunan-alunan yang yang muncul dari sebuah muzik dapat menyentuh kondisi psikis seseorang dalam kondisi dan situasi tertentu. Hingga akhir hayatnya, selain menulis karya filsafat dan sains, al-Kindi menulis tak kurang dari tujuh buku tentang muzik.
Pada masa Bani Umaiyah II di Andalusia, didirikan banyak sekolah muzik, yang paling populer adalah milik Sa‘id ‘Abd-ul-Mu’mîn (wafat tahun 1294 M.).
Saat masa Andalusia inilah pengaruh kebudayaan Islam sangat dominan dalam keseharian masyarakat Eropah saat itu. Termasuk dalam bermuzik. Pada abad ke 8, seorang pendeta Kristen, St Medrad Evangel, mencoba memasukan unsur muzik Islam ke dalam muzik gereja. Seabad kemudian masyarakat Barat Spanyol mulai mengenal ritme dan metrum (pergantian naik turunnya suara secara teratur yang berasal dari Al Farabi abad 12). Kaum birokrat Sepanyol Kristian mengembangkan jenis muzik vokal troubadaour-muzik yang dimainkan secara solo yang kemudian menjadi embrio folklor atau muzik rakyat. Sejarah juga mencatat, saat itu pusat pabrik pembuatan alat-alat muzik yang sangat terkenal ada di kota Sevilla (Andalusia, Sepanyol).
Walau muzik berkembang, tapi tidak dicampuri oleh kemaksiatan, atau para hakim akan bertindak tegas. Kerana mereka tidak memposisikan muzik sebagai penghias langit peradaban yang bersifat materialistis, tapi juga berfungsi membangun kecerdasan emosi dan spiritual. Sekarang, pada umumnya, peran muzik direduksi hanya sekadar penghibur belaka, dan juga sebagai komoditi yang boleh dikemas untuk kemudian dijual dengan masif dan mahal.

Dan, Rafly Pun Bercerita…

Dan, Rafly Pun Bercerita… Februari 16, 2008

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Malaky
Aceh adalah gudangnya pencerita. Dari mulai Hamzah Fansuri, Tengku Pante Kulu yang melahirkan Hikayat Prang Sabihingga Agus Nur Amal yang moden lahir dari sana. Dan Rafly, yang sudah sangat popular di sana, adalah tukang cerita hebat di jalur muzik.
Semak saja kisah tentang kegetiran rakyat Aceh, tempat asalnya. Tentang GAM dan tsunami tergambar dalam Yatim. Kali ini Rafly memanifestasi keuniversalan muzik. Walau kita tak memahami maknanya, yang dilafazkan dalam bahasa Aceh, namun mampu mengetuk hati.
Dalam Ampuni, ia menyentak lagi.
Dari semua tanah ini, tanah ini yang Kau pilih
Cinta-Mu kepada kami, Kau panggil ingatkan kami
Tak layak kau tanya mengapa atau alasannya
Dan tiba-tiba ia melengking, membuat bulu kuduk berdiri.
Kau yang empunya semua, milik-Mu segala…
Dan diakhiri dengan munajat:
Ampuni kami, maafkan kami
Mampukan kami untuk mengerti
Rafly berdiri satu deret dengan Bimbo dan Haddad Alwy. Ia bicara dengan bahasa muzik dan langsung menghujam nurani, sehingga pendengar mudah tersentuh, dan kemudian berurai air mata.
Yang sudah akrabnya adalah Ya Rabbana, yang kerapkali didengarkan dalam latihan Mission StatementKali ini dalam versi bahasa Indonesia saja, dan ada tambahan perkusi di tengah.
Kasih Ibu, adalah calon hangat berikutnya. Senada dengan Ya Rabbana, nuansa tembang ini sendu dan langsung ke sasaran. Siapa yang tak tergugah bila mengenang kebaikan dan jasa seorang ibu?
Juga dengan Ridha yang merupakan adaptasi penulis lirik Maskirbi terhadap syair Rabiah al-Adawiyah (dan kerananya senafas dengan Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada gubahan Ahmad Dani yang dinyanyikan Chrisye).
Bila sujudku pada-Mu kerana takut neraka
Bakar aku dengan apinya
Bila sujudku pada-Mu kerana dapat surga
Tutup untukku surga itu
Namun bila sujudku demi Kau semata
Jangan palingkan wajah-Mu
Aku rindu menatap keindahanMu.
Tapi tak semua lagunya melankolik. Tak sedikit berirama “riang” namun sarat nasihat. Suara Hati, misalnya, yang mengkritik negeri ini yang banyak khianat dan dengki. Namun sayang, keprakan rebana yang biasa dieksporasi oleh kelompok Kande dkurangkan. Mungkin inilah kompromi seorang Rafly, yang menyebabkan irama pop ala Sakha lebih menyeruak dibandingkan gaya lokal genius Acehnya.
Dalam Nurul Qalbi yang upbeat sebenarnya mengasyikkan. Namun sungguh lebih dashyat bila ada permainan perkusi dan rebana yang harmonis dan saling bersahutan. Nilai etniknya tergerus. Atau pada Muara Teduh.
Lagu lain yang mengajak kita menghentakkan kaki dan tangan adalahMungkar Nangkir. Dengan perlahan, Rafly berkisah tentang dunia kubur.
Kenali dirimu hai anak adam
Akhirnya, sang pencerita kelas wahid itu menjadi nasional Sudah saatnya, memang. Saat penulis membuat liputan ke Lhokseumawe, di pertengahan 2005, banyak sekali album Rafly, bahkan hingga VCD karaokenya. Kini ia menjadi nasional. Bahkan dalam “Konsert Menembus Batas” tahun lalu, ia mencuri perhatian penonton dan pengamat muzik saat berduet dengan Dwiki Dharmawan lewat Meukondroe.
Sayang sekali, walau pun cengkok khas Rafly masih terdengar jernih dan asli, namun lagu latar yang mengiringinya begitu hangat. Nuansa etniknya kian lenyap, walau masih ada. Dan hentakan rebana yang berkurang menguatkan lagi hal ini. Inilah harga yang dibayar Rafly, yang kali ini tanpa kumpulan Kande.

Iran Tanpa Nuklear dan Ahmadinejad

Iran Tanpa Nuklear dan Ahmadinejad Mei 13, 2008

Posted by ummahonline in Catatan KakiKolum
trackback

Oleh: Ekky Imanjaya
catatan: tulisan lama , di : Nebula. Diterbitkanulang oleh Ummahonline https://ummahonline.wordpress.com/2008/05/13/iran-tanpa-nuklear-dan-ahmadinejad/#more-724

Judul asli: Reich des Bösen
Judul Antarabangsa: Empire of Evil.
Sutradara: Mohammad Farokhmanesh,
Penerbit: Jerman, 2007
Temp0h: 90 minit
Jangan nilai buku dari sampulnya. Konsep ini sebaiknya diterapkan juga dalam filem ini, sebuah ole-ole dari International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) 2007. Suatu kali, dalam bukunya, Eep Saifullah Fatahngomel: “bangsa saya yang menyebalkan”. Tapi, mengutip Hikmat Darmawan yang mengulas bukunya, “..adakah bangsa yang tidak menyebalkan?”.
Semua warga bangsa selalu mengeluh tentang negerinya, tapi dalam hatinya, ia selalu mencintai tanah airnya. Demikian pula dengan Mohammad Farokhmanesh, kelahiran Shiraz, Iran, pada 1970, yang lantas mukim di Jerman. Kerana itulah, ia membuat filem dokumentari Reich des Bösen (judul antarabangsanya: Empire of Evil).
Jangan salah, filem tempoh 90 minit ini tidak semuanya bercerita tentang betapa kejam dan sadisnya bangsanya di bawah kekuasaan Wilayah al-Faqih, sistem politik kaum mullah yang dicanangkan Ayatullah Khomeini. Tapi, sebaliknya, justeru menyajikan keseharian dari lima orang karakternya, lima warganegara biasa.
Ada seorang wanita muda yang ingin sekali ikut pertandingan anggar dunia, tapi terhalang oleh fakta bahawa dirinya perempuan. Ada mahasiswi yang selalu dikekang ayahnya yang melarangnya menjadi penyanyi dan pelukis. Ada seorang guru bahasa Inggeris yang sangat nyaman dengan keadaan negerinya—bahkan ia ikut berkempen syariat Islam lewat siaran radio. Ada seorang miskin yang bahagia hanya dengan membetulkan alat-alat elektronik, khususnya komputer. Ada gadis cilik yang punya banyak bakat, sebagai simbol generasi penerus.
Kelimanya bertemu di awal dan akhir. Dan kelimanya disorot oleh Farokhmanesh dengan mendalam. “Saya selalu mendapatkan kesan kalau Iran itu seram, terorisme, nuklear. Saya ingin menunjukkan bahawa masyarakat Iran juga masyarakat yang hidup normal dalam kesehariannya,”ungkap sang sutradara, sesaat setelah pemutaran filemnya di IDFA, dalam sesi First Appearance. “Saya ingin menunjukkan, segala hal yang dilakukan pemerintah, tak selamanya dibenarkan oleh warganya. Saya menyajikan sisi lain dari negeri saya,”ungkap pemenang Gerd-Ruge Prize itu.
Serayesh, misalnya. Atlit anggar berprestasi itu tak boleh melihat suaminya, seorang atlit renang, latihan—demikian pula sebaliknya. Golsa, si gadis kecil pemain piano, bertanya tentang kewajiban berjilbab—sebuah pertanyaan wajar—kepada si penyiar radio yang spiritual. Abbas, pakar komputer yang hidup dengan ayahnya yang pencen dan ibunya yang cacat, juga seorang Basiji, seorang relawan yang ikhlas menjalani hidup untuk sewaktu-waktu dipanggil tugas oleh negara dan mati syahid seperti abangnya.
Filem ini berkisah tentang impian, kenyataan hidup, dan juga liku lima orang warga Iran. Ada banyak perspektif di sana, sebagaimana juga kehidupan. Di sana kita melihat orang bersenang-senang dalam ski, berbelanja kacamata Gucci, masuk ke restoran, dan makan hamburger—di samping juga perayaan asyura atau peringatan Revolusi Islam Iran.
Ini sedikit ole-ole dari IDFA ke-20, 22 November- 2 Disember lalu. “Sebenarnya, filem ini datang ke meja kami. Tapi akhirnya kami loloskan. Mengapa? Silakan saja lihat isinya,” jelas salah satu panitia, mengantarkan diskusi antara sutradara dan penonton, sesaat setelah pemutaran.