Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Friday, 21 August 2020

Jimi Jazz: Masa Lalu adalah Pemicu Adrenalin yang Berisik, Mentah, dan Bergelinjang!

Begitu saya menemukan album “Kebisingan Pancaroba Yang Merongrong” dari Jimi Jazz, band rekayasa Jimi Multazam (The Upstairs, Morfem), saya terkesiap dan seolah mencelat dan terpelanting ke masa lalu, tepatnya di pertengahan  dan akhir 1980an serta awal 1990an. Ketika saya SMP beranjak ke SMA, masa-masa mencari identitas, pembentukan selera,  dan tak sepenuhnya paham konteks tentang apa yang terjadi di dunia ini, tapi begitu menggairahkan dan menggembirakan penuh kebermainan.

Sampul album

Tahun-tahun itu, saya berkenalan dengan Crossover Trash Metal (setelah sebelumnya kesengsem dengan Thrash Metal dan lalu menemukan  Hardcore Punk). Tahun-tahun itu, selain band arusutama dari Heavy Metal, Thrash Metal, Speed Metal, Dead Metal, saya pun mengarungi dunia dengan pengalaman dan nuansa kebisingan yang agak berbeda. Tapi, waktu itu, saya tidak tahu kalau itu crossover. Tahunya, ya kalau tidak metal, ya punk.

Pengalaman pertama, saya ingat betul, di halte bis pertigaan Cikini-Raden Saleh tak jauh dari SMP 1, seorang kawan menyanyikan lagu Modern World dari DRI (Dirty Rotten Imbeciles) :

 Rapid transit, star wars

Traffic jam, no-wax floors

Tv dinner, nuclear reactor
Cordless phone, max factor
Modern world, modern world

 

Tak perlu waktu lama untuk mengeksplorasi band ini dan band serupa di genre ini.  Ciri khasnya: begitu bising, mentah, memuntahkan amarah dan protes, memicu adrenalin, dan durasinya kebanyakan pendek-pendek. Liriknya “padat karya” dan “tepat guna”, tak jarang politis dan kritis. Dan, mendengarkan band-band ini, membuat saya berbeda dan punya identitas dan eksklusivitas tersendiri, karena tak semua kawan tahu dan paham dengan genre yang (bagi saya kala itu) non-mainstream ini. Dan ini mengasyikkan.

Di antaranya, MOD (Methods of Destruction), SOD  (Stormtroopers of Death), dan….tentu saja Suicidial Tendencies (ST) (cinta pada pendengaran pertama, saat mendengarkan lagu I Saw Your Mommy dan I Shot Reagan, yang aromanya di awal-awal mirip dengan Torehkan Sendiri di Dada). Nama saya pun, di awal 1990an, sempat berubah menjadi Ekky Muir, mengikuti nama keluarga frontman ST.

Tentu saja, peran Metallica, yang mendaurulang lagu-lagu Misfits (Die Die Darling, Last Casess/Green Hell) serta memakai kaos tengkoraknya, membuat saya turut mengulik band-nya Glenn Danzig ini (sebut saja, I Turned Into a Martian dan Skull).

Jimi Jazz membuat saya terkenang dengan masa-masa “keemasan” itu.. Secara musikalitas (durasi pendek, tak jarang tiga jurus chord gitar, ngebut atau kombinasi ritme ngebut dan pelan) dan secara konteks penceritaan (lirik yang lugas, padat, kadang politis dan/atau penuh gelora), tentu tak bisa dipungkiri. 

Dalam sebuah video, Jimi menyatakan terus terang tentang proses kreatifnya, dan menyebut genre-nya secara jelas. “Trash Metal campur Punk Rock”, katanya. 


Bahkan, mereka latihan di studio membawakan lagu  Mommy Can I Go Out and Kill Tonight (Misfits) dan Subliminal (ST), yang polanya mirip dengan Laksanakan!)




Sejak era pensi awal 2000an, saya sudah menduga, suatu saat Jimi, yang memajang kaos Four of A Kind (DRI) dalam salah satu postingan Instagramnya, tentu akan rindu dan Kembali menjadi “anak metal”. Dan kejadian!

Tapi Jimi Jazz (saya menduga nama ini diambil dari salah satu lagu The Clash) tak berhenti sampai di situ. Tentu kita terpental kembali ke Orde Baru 1980an dan awal 1990an, Ketika punk dan metal merajalela. Tapi lebih dari itu, bahkan lirik lagunya pun sangat “Orde Baru”. Jimi dkk mengangkat isu-isu politik dan tonggak-tonggak bersejarah terkait budaya pop era itu.

Ada Petrus Semalam jelas kritik terhadap mereka terhadap fenomena Petrus (penembak misterius) yang membunuhi para preman.

Perjalananku sedikit terhambat Oleh kerumunan pada tanah lapang Tubuh tergeletak menjadi tontonan Lubang peluru dibelakang kepalanya Ada petrus semalam

 

Berikutnya: Lebak Bulus 1993 tentu membahas konser Metallica (yang saya juga menjadi bagian darinya) lengkap dengan hiruk pikuk yang juga direkam di film dokumenter Global Metal. Tak lupa, sentuhan personal pun dia torehkan dalam tulisan.

 

Gempar semua kawan sebaya

Metallica datang ke Ibu Kota

Lepas seragam menengah atas

Sebagai buruh palak nyokap tak tega

menabung dan mencari uang untuk mendapatkan tiket tertuang di lirik itu.  

Tak berhenti sampai di situ, konser itu juga menjadi saksi tentang militerisme yang, entah mengapa, masih memakai pendekatan keamaan (bahkan isu komunisme) bagi anak ABG yang mau menonton band yang lahir dari rahim kapitalisme.

 

Lebak Bulus bagai neraka

Jalan jongkok masuk dalam arena

Tentara dengan tongkat panjang

Menghantam setiap pemuda membangkang


Dan, tentu saja soal kerusuhan dan kebakarannya.

Tak lupa, Jimi Jazz menghormati para pionir dan senior, yang turut menempa identitas dan seleranya, dalam Gordanmosh.

Kami datang untuk Parau

Kami datang untuk Toilet

Kami datang Sucker Head

kami datang jelas untuk Roxx

 

Saya tak sempat mengalami kejayaan Pidpub dan PJ-PJ. Dan juga bukan anak Poster. Atau pun BB’s. tapi saya sempat menonton konser-konser band tersebut dalam berbagai kesempatan.  Dan ingatan pun menyeruak.

 

Lirik Laksanakan, karena cukup “gelap”, saya menafsirkannya dengan tawuran, sebuah “aktivitas ekskul” wajib para pelajar saat itu. Dan, berdasarkan video klip tak resmi ini, dugaan saya benar.


 

Menilik berbagai komentar di kolom Komentar, sebagian orang mengingatkan pada Hardcore punk (Black Flag, Dead Kennedys, Minor Threat) dan  Exploited, khususnya album Punk’s Not Dead (1981) dan  Bad brains (1982),   

Saya, era itu, kurang mengeksplorasi Hardcore Punk. Hanya beberapa saja. Yang paling mengena adalah   Misfits, khususnya album Walk Among Us (1982), Beware (1980), dan Earth A.D./Wolfs Blood.  Karena itu secara pribadi, Jimi Jazz mengingatkan pada lagu-lagu Crossover, yang kencang dan, jika birama melambat, biasanya berubah di tengah menjadi ngebut. Khususnya tahun-tahun awal Suicidal Tendencies (self-titled, 1983),  A.M.Q.A (misalnya album Mutant Cats from Hell, 1988), dan  DRI  khususnya album Four of A Kind, 1988), dan tentunya  S.O.D.

Jimi Jazz merilis lagu-lagunya di kanal YouTube Jimi Multazam di awal 2018, kala saya masih di Inggris dan tidak terlalu mengikuti skena musik indie Indonesia. Saya menemukannya dua tahun kemudian, kalau gabut di era pandemi. Tentu terlambat. Tapi tak mengapa. Efeknya masih bisa membuat bergelinjang menikmati musik bernuansa nostalgik.

Semoga pandemic segera berlalu, jadi saya bisa menyaksikan mereka konser langsung. Walau, tentu tubuh saya (yang tentunya berbeda stamina dengan yang 35 tahunan lalu) tak sepenuhnya setuju untuk terjun ke mosh pit.

Thursday, 12 April 2018

Glasgow, Blues, and A Piano Man


We went to Glasgow Central Station, and saw a piano, and still had few minutes before the train departed.
So, yeah, why not?

Taken by: Tito Imanda.

Title of song: Amsterdam Blues 2017 version

Other Songs by me:

Amsterdam Blues (2007 version): https://www.youtube.com/watch?v=aO_fOJa-BNk
Salju di Jakarta https://www.youtube.com/watch?v=sF1lPcBi0WU

Bidadari Cinta:  https://www.youtube.com/watch?v=-m5xkrL0gxA

Monday, 5 February 2018

RIP Yockie Suryo Prayogo

RIP Yockie Suryo Prayoga, pemain keyboard favorit saya.
Saat zaman Multiply masih jadi tren, saya ikuti akun beliau, dan beliau juga ikuti akun saya.  Bahkan beberapa kali beliau mengomentari postingan saya. yang paling saya ingat, waktu itu, di Amsterdam 2008, saya kangen masakan Indonesia, dan mengunggah daftar makanan yang saya incar begitu tiba di tanah air. Komentarnya: "wah, itu lemak semua!", hehehe.
Sesaat setelah saya mudik ke Jakarta, saya bersama kawan-kawan datang ke konser 100 musisi terbaik Indonesia atau penghargaan/konser God Bless (saya lupa-lupa ingat) di markas Rolling Stone Indonesia. Saya pun sowan ke beliau yang kala itu tidak ikut manggung (karena God Bless main dengan formasi baru, yaitu Abadi Soesman <juga favorit saya> di keyboard). Saat bertemu, beliau sangat ramah dan masih ingat soal Multipy. "Waduh kamu anaknya sopan sekali..." katanya.

di Multiply-nya itulah, dia menjelaskan proses kreatifnya. Termasuk soal di balik "Air Mata", lagu favorit saya di Kantata Takwa". Dia tak segan-segan menjelaskan ke publik tentang kehidupan kelamnya itu.

Mas Yockie hadir di banyak skena musik Indonesia, yang kebetulan pas dengan selera saya. Misalnya, di album-album kolaborasinya dengan Chrisye dan Erros Jarot, God Bless, dan Kantata Takwa.

Saya suka dengan permainan keyboardnya yang nge-prog rock. Mengingatkan saya khususnya pada Genesis. Bahkan saat menggarap lagu pop pun, saya masih merasakan semangat seni dan ke-prog-rock-annya. Dan juga sound Hammond B-3-nya yang khas.
Image result for yockie suryoprayogo

Untuk mengenang beliau, berikut musik karya beliau yang saya suka. Sangat mainstream, sih, tapi saya tak peduli, yang penting saya suka. Keempat album di bawah ini  sering saya putar berulang-ulang menemani belajar atau kegiatan lainnya.

1. Kantata Tawa  - Kantata Takwa
2. Raksasa - God Bless
3. OST Badai Pasti Berlalu - Film Badai Pasti Berlalu
4. Semut Hitam - God Bless


Album yang juga sering saya dengar:
1. Sabda Alam - Chrisye


Selamat jalan, Mas Yockie...

Thursday, 7 July 2016

Lima Hal Seputar Lagu “Hari Lebaran” Karya Ismail Marzuki

“Minal Aidin wal Faizin,
Maafkan Lahir dan Batin,
Selamat Para Pemimpin,
Rakyatnya makmur terjamin”.

Lirik lagu di atas adalah refrain dari lagu “Hari Lebaran” karya Ismail Marzuki. Lagu yang popular di era 1950an oleh Lima Seirama  ini masih tetap terkenal hingga di era sekarang. Apa saja hal-hal menarik tentang lagu ini?
1.      Minal Aidin = Maaf Lahir Batin?
Setiap mau Hari Raya Idul Fitri, banyak orang yang memperingatkan bahwa “Minal Aidin” itu bukanlah bermakna “Maaf Lahir Batin”.  Juga ada yang sibuk menerangkan bahwa saling memaafkan di Hari Raya tidak lazim di banyak tempat, dan hanya terjadi di Indonesia (dan juga Malaysia).  Biasanya, dianjurkan untuk mengucapkan “Taqabballallu Minna Wa Minkum” (Semoga Allah menerima <Ibadah> kami dan kalian). Dalam tradisi lainnya, ada ucapan “Eid Mubarak” atau “Eid Said” (Selamat Hari Raya), dan “Kullu ‘Amin Wa Antum Bikhoirin” (Semoga Kita mendapatkan kebaikan sepanjang tahun”.

Tentu saja, “Minal Aidin” adalah juga bagian dari doa Hari Raya, yang intinya adalah mendoakan “Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang kembali (ke fitrah) dan mendapatkan Kemenangan (Takwa)”.  Doa ini, kabarnya,  pertama kali diucapkan oleh   seorang penyair pada masa keemasan Andalusia,  Shafiyuddin Al-Huli. Ucapan ini, dan juga tradisi saling memaafkan, masih bisa diperdebatkan, tapi saya berpendapat bahwa ini bersifat kultural, seperti ucapan Kullu Amin atau Eid Mubarak.
Lepas dari perdebatan di atas, saya menduga, lagu ini adalah yang turut mempopulerkan dan/atau menangkap jiwa zaman 1950an istilah “Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin”,  yang sekarang lazim diucapkan saat Idul Fitri di bumi nusantara.

2.      Termasuk Paling Banyak Didaurulang
Lagu ini sangat terkenal, bahkan hingga ke negeri jiran. Malaysia. Seniman terbesar negeri itu, P Ramlee menyanyikan lagu ini di tahun 1977, dengan sedikit  penyesuaian lirik berdasarkan Bahasa Melayu (“Maafkan Zahir dan Batin”, misalnya). Lagu ini juga turut mempopulerkan istilah “Lebaran”, yang khas Jawa,” di sena, yang sebelumnya hanya mengenal “Aidil Fitri”. (https://www.youtube.com/watch?v=hazmjUUTy1M).


Di Indonesia, banyak yang menyanyikannya lagi. Penyanyi cilik Tasya Kamila juga menyanyikannya juga  di akhir 1990an (https://www.youtube.com/watch?v=QgtqmNPoX8E).  


Belakangan, Gita Gutawa juga mendendangkannya, 2013 (https://www.youtube.com/watch?v=OtaJ1N_DvYs  ).

3.      …Namun, Sedikit yang Memasukkan Lirik Bagian  ketiga.
Ismail Marzuki, yang orang Betawi asli, memperlihatkan kelihaiannya menulis lirik yang tajam dan kritis, namun jenaka,  dalam memandang fenomena sosial. Berikut bagian kedua dan ketiganya:

“Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik terem listrik perei
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe
Kakinya pade lecet babak belur berabe

Maafkan lahir dan batin, ulang taon idup prihatin
Cari uang jangan bingungin, bulan Syawal kita ngawinin

Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai buat berjudi
Sehari semalam main ceki mabuk brandi
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate
Si penjudi mateng biru dirangsang si istri


Maafkan lahir dan batin, ‘lan  taon idup prihatin
Kondangan boleh kurangin, kurupsi jangan kerjain”

Di bagian kedua terlihat bagaimana Ismail meledek fenomena orang kampung merayakannya, naik tram, jalan-jalan hingga “kaki pincang”…” lecet babak belur berabe”.
Sedangkan bagian ketiga sangat aktual hingga saat ini. Dengan berani, Ismail membeberkan kelakuan orang kota yang “berjudi”, “main ceki mabuk Brandi”, “kalah main pukul istri”.
Dan lagu ini ditutup dengan pernyataan yang sangat kuat: “kondangan boleh kurangin, korupsi jangan kerjain”.

Hampir semua musisi yang menyanyikan ulang lagu ini enggan untuk menaruh bagian terakhir dari lirik lagu. Padahal, menurut saya, disitulah nilai lebih lagu ini.
Lirik lagu utuhnya marak beredar di media social sekitar lebaran 1-2 tahun lalu.

4.      Kecuali Deredia
Pada 16 Juli 2015, Deredia, band yang mengkhususkan pada music periode 1950an,  menggunggah rekaman live mereka Ke Youtube. (https://www.youtube.com/watch?v=W3V5E6awazA), dan belakangan makin tersebar di media sosial menjelang Idul Fitri. Kali ini, mereka menyanyikan liriknya secara utuh, karena, seperti terbaca di kanal mereka,  “Bagian akhir dari lagu ini sangat menarik karena masih berkaitan dengan kondisi saat ini”.


Sebelumnya, di era 1960an, Didi dan Orkes Mus Mualim atau  Kwartet DBP Mascan juga telah mendaurulang lagu ini secara lengkap (https://www.youtube.com/watch?v=FaLrRClzpV4)

5.      Termasuk Lagu Sindiran

Denny Sakrie, dalam bukunya, mengutip buku Musik Indonesia dan Permasalahannya (JA Dungga dan L Manik, 1952) yang memetakan ada 4 lagu di era revolusi. Salah satunya adalah lagu-lagu sindiran yang “…melukiskan keburukan-keburukan dalam masyarakat Indonesia di masa perjuangan”. Salah satunya adalah “Ibu, Aku Tak Sudi Tukang Catut”. Lagu jenis ini tak banyak,, dibandingkan lagu tanah air berupa mars, lagu tanah air bersuasana tenang. Dan lagu-lagu percintaan, dan  acap tak diketahui pengarangnya.
Saya kira, lagu ini, walau beredar beberapa tahun setelah era revolusi, masih termasuk dalam kategori lagu sindiran yang pedas. Dan, karena itulah, saya merasakan nuansa yang berbeda, sedikit ngenyek gaya Betawi,  saat menyanyikan bait :”Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”.

(Dari berbagai sumber)
Dimuat di JakartaBeat 

Tuesday, 3 May 2016

BRISIK, my new band, and our first gig


from left to right: Ekky, Mey, Putu. photo by Arron
BRISIK, my new band, will perform at Indonesian Iconic Dishes and Folktales", Saturday 7th of May 2016, 11 am- 5 pm, Trinity Centre, Trinity Road, BS2 0 NW, Bristol.
We will play old school pop and folk songs at 11.40 and 13.50 GMT. 
Some numbers from Titiek Puspa, Vina Panduwinata, and many more.
profile: https://bristolindonesiansociety.wordpress.com/2016/05/03/brisik-bristol-indonesian-acoustic-group-band/

Sunday, 1 May 2016

Introducing: Brisik Band

it;s official. I have a new band now: Brisik (Bristol Indonesian Acoustic): https://bristolindonesiansociety.wordpress.com/2016/05/01/final-preparation/

We will have our first gig at "Iconic Indonesian Dishes and Folk Tales", an Indonesian fair, in Bristol, Saturday, 7 May.
More info about the event: https://bristolindonesiansociety.wordpress.com/

Sunday, 3 January 2016

Muzik, Tak Sekadar Penghias Langit Peradaban

Muzik, Tak Sekadar Penghias Langit PeradabanMei 6, 2007

Posted by ummahonline in Catatan Kaki, Kolum. 
trackback

Oleh: Ekky Malaky
catatan: kalau tak salah, pertama kali dimuat di majalah Nebula. Dimuatulang oleh Ummahonline.
https://ummahonline.wordpress.com/2007/05/06/muzik-tak-sekadar-penghias-langit-peradaban/#more-574
Kesenian, khususnya muzik, adalah salah satu unsur penting dalam peradaban. Dr. Yusuf Qardhawi sendiri pernah bilang bahawa muzik itu penting kerana berhubungan dengan naluri dan perasaan orang serta berfungsi membentuk bakat, perasaan, dan idealisme peribadi dengan berbagai wasilah yang sangat mengesankan baik yang biasa didengar, dibaca, dilihat, dirasakan, atau pun difikirkan.
Syeikh Qardhawi juga menyatakan bahawa seni itu mirip dengan ilmu pengetahuan. Ia boleh digunakan untuk kebaikan dan pembangunan, tetapi sekaligus boleh juga digunakan untuk kejahatan dan pengrusakan.
Menurut Syeikh Qardhawi yang beberapa kali datang ke Indonesia —salah satunya bertemu Dr Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri RI dan ketua umum Masyumi—ini, tujuan dari kesenian itulah yang menentukan hukumnya. Jika untuk urusan halal, seni menjadi halal. Jika digunakan untuk urusan haram, maka haram pula si ‘seni’ ini. Jadi, sebenarnya seni itu neutral-neutral saja.
Dalam sejarah kebudayaan Islam, muzik tidak sekadar menghiasi, bahkan berperanan penting dalam kehidupan. Ibnu Sina menulis satu bab khusus muzik dalam bukunya yang terkenal, al-Syifa. Al-Farabi bahkan membuat buku Kitab al-Musiqa al-Kabir dan teori-teorinya menjadi rujukan Barat hingga sekarang. Al-Ghazali menulis bab Sama’ (mendengar) pada bukumagnum opusnya: Ihya Ulumuddin. Para sufi seperti Jalaluddin Rumi membuat muzik sebagai alat untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan disandingkan dengan tarian thawaf para sufi yang legendaris itu.
Gitar berasal dari pemikir Islam yang saat itu menguasai Sepanyol. Sam Bimbo, saat melakukan pembelaan terhadap pilihan bermuziknya yang memakai gitar, menyatakan bahawa gitar yang kita kenal sekarang sebetulnya berasal dari Arab yang kemudian dibawa ke Spanyol. Orang Arab mengenalnya di abad ke-14, mula-mula dengan empat senar. Di abad ke-15, gitar mengubah menjadi lima senar dan abad ke-19 menjadi 6 senar. Hal ini tercantum dalam Encyclopedia Britanica.
Muzik tidak dianggap sebagai pelengkap penyerta, atau hanya sebatas hiburan. Tetapi lebih dari itu, adalah media pesan, pembangunan dan wadah ekspresi dari kecerdasan emosional bahkan spiritual.
Berawal dari Phytagoras, filsuf dari masa Yunani Kuno, yang mempunyai filsafat bilangan. Muzik adalah bahagian dari filsafat bilangan. Saat itu, muzik adalah kegiatan intelektual. Phytagoras juga menyelidiki pengaruh muzik terhadap kejiwaan sudah menjadi perhatian tersendiri. Sehingga, ada sebahagian orang saat itu yang menjadikan muzik sebagai terapi atau pengubatan psikologis.
Thuwannas merupakan model muzik yang terkenal pada masa Khalifah Rasyidin. Dan, sebahagian sejarahwan menganggap model ini merupakan aliran muzik Arab pertama yang dikolaborasi dari seni muzik Persia. Namun ritme atau aluanan nada dalam muzik tersebut belum beraturan. Ketika Daulah Umayyah I (623–750M) memperluas kekuasaannya, masyarakat Islam pun mengalami asimilasi dua peradaban besar, yaitu peradaban Persia dan Bizantium, dan keduanya mewarnai muzik Arab yang berkembang saat itu.
Pada akhir abad ke-8 M, muncullah seorang ahli muzik bernama Ibnu Misjah. Setelah itu kaum Muslimin banyak yang mempelajari buku-buku muzik yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, di antaranya pemikiran Phytagoras, dan India. Mereka mengarang kitab-kitab muzik baru dengan mengadakan penambahan, penyempurnaan, dan pembaharuan, baik dari segi alat-alat instrumen maupun dengan sistem dan teknisnya.
Beberapa di antaranya adalah Yunus bin Sulaimân Al-Khatîb (pengarang muzik pertama dalam Islam) yang menjadi rujukan teoritikus muzik Eropah, Khalîl bin Ahmad (pengarang buku teori muzik mengenai not dan irama), serta Ishâk bin Ibrâhîm Al-Mausully (memperbaiki muzik ‘Arab jâhilliyah dengan sistem baru lewat buku Kitab al-Alhan wa al-Angham, Buku Not dan Irama) yang dijuluki “Imam al-Mughanniyin” (Raja Penyanyi). Tokoh lainnya adalah Yahya bin Mansur Al-Mausuly (penulis teori muzik, terutama not huruf dan teori tari), Hunia bin Ishak (menyalin sejumlah teori muzik karangan dua filsuf Yunani, Plato dan Aristoteles,Problemata dan De Anima, serta menerjemahkanDe Voce karya Galen), Tsabit ibnu Qurra, Muhammad ibnu Zakaria ar Razi, dan Qusta ibnu Luqa.
Di masa Daulah Abbassiah (752-1258 M) di abad ke-9, seorang filsuf bernama al-Kindi merasakan bahawa muzik saat itu jauh dari olahan nada dan alunan atau ritme-ritme muzik, sehingga muzik pada saat terasa tanpa nada tidak berirama. Ia pun lantas menggarap muzik secara proposional dengan berbagai pendekatan, termasuk estetika (filsafat keindahan). Dalam perkembangannya ia mencipatakan ilmu muzik dalam berbagai mediasi. Di antaranya menciptakan not balok, karakter muzik dalam berbagai irama, muzik dan kejiwan manusia dan berbagai tinjauan psikologis. Ia pun dikenal sebagai pakar muzik pertama di kalangan intelektual Islam, bahkan ia mendirikan akademik muzik pertama di dunia Islam. Dan, akademi ini pun dikembangkan leh Al-Farabi, Sang Guru Kedua (Mu’alimi al-Tsani) yang telah melahirkan buku Al-Kabir, yang mengeksplorasi tarik suara di dunia muzik.
Alkisah, Suatu hari al-Kindi berkunjung ke istana untuk melihat pergelaran muzik. Di tengah pergelaran ia mengkritik alunan muzik yang digelar tadi, “Muzik yang aku dengar tadi tidak menarik dan tidak berirama.” Kerana kritikan itu, sang khalifah yang ikut mendengarkan acara itu langsung angkat suara, “Kalau kau memang boleh, tunjukkan iramamu.” Dengan tenangnya al-Kindi menjawab, “Aku meminta tiga permohonan, jangan tertawa, jangan menangis dan jangan tertidur.” Ia pun langsung melantunkan biolanya. Pada muzik pertama semua tertawa mendengarkan alunannya. Pada muzik kedua mereka berlinang airmata.dan pada pertengahan alunan muzik ketiga al-Kindi meninggalkan mereka, kerana semuanya tertidur lelap.”
Dari berbagai penelitiannya, Al-Kindi membagi pengaruh muzik terhadap kejiwaan menjadi tiga bahagian:
1. Al-Taraby; ritme atau alunan muzik yang yang menghasilkan sebuah hiburan, sehingga membuat seseorang hanyut ke dalam perasaan senang dan penuh kegembiraan.
2. Al-Aqdaamii; ritme atau alunan muzik yang membawa perasaan seseorang ke dalam nuansa heroik, semangat dan keberanian.
3. <i.al-syajwa</i.al-syajwa: ritme atau alunan muzik yang dapat menghanyutkan jiwa seseorang dalam keharuan dan kesedihan serta kedukaan, bahkan menembus naluri spiritual seseorang.
Pembahagian di atas mempunyai waktu-waktu tertentu dalam pengunaanya, sehingga alunan-alunan yang yang muncul dari sebuah muzik dapat menyentuh kondisi psikis seseorang dalam kondisi dan situasi tertentu. Hingga akhir hayatnya, selain menulis karya filsafat dan sains, al-Kindi menulis tak kurang dari tujuh buku tentang muzik.
Pada masa Bani Umaiyah II di Andalusia, didirikan banyak sekolah muzik, yang paling populer adalah milik Sa‘id ‘Abd-ul-Mu’mîn (wafat tahun 1294 M.).
Saat masa Andalusia inilah pengaruh kebudayaan Islam sangat dominan dalam keseharian masyarakat Eropah saat itu. Termasuk dalam bermuzik. Pada abad ke 8, seorang pendeta Kristen, St Medrad Evangel, mencoba memasukan unsur muzik Islam ke dalam muzik gereja. Seabad kemudian masyarakat Barat Spanyol mulai mengenal ritme dan metrum (pergantian naik turunnya suara secara teratur yang berasal dari Al Farabi abad 12). Kaum birokrat Sepanyol Kristian mengembangkan jenis muzik vokal troubadaour-muzik yang dimainkan secara solo yang kemudian menjadi embrio folklor atau muzik rakyat. Sejarah juga mencatat, saat itu pusat pabrik pembuatan alat-alat muzik yang sangat terkenal ada di kota Sevilla (Andalusia, Sepanyol).
Walau muzik berkembang, tapi tidak dicampuri oleh kemaksiatan, atau para hakim akan bertindak tegas. Kerana mereka tidak memposisikan muzik sebagai penghias langit peradaban yang bersifat materialistis, tapi juga berfungsi membangun kecerdasan emosi dan spiritual. Sekarang, pada umumnya, peran muzik direduksi hanya sekadar penghibur belaka, dan juga sebagai komoditi yang boleh dikemas untuk kemudian dijual dengan masif dan mahal.

Dan, Rafly Pun Bercerita…

Dan, Rafly Pun Bercerita… Februari 16, 2008

Posted by ummahonline in Catatan Kaki, Kolum. 
trackback

Oleh: Ekky Malaky
Aceh adalah gudangnya pencerita. Dari mulai Hamzah Fansuri, Tengku Pante Kulu yang melahirkan Hikayat Prang Sabi, hingga Agus Nur Amal yang moden lahir dari sana. Dan Rafly, yang sudah sangat popular di sana, adalah tukang cerita hebat di jalur muzik.
Semak saja kisah tentang kegetiran rakyat Aceh, tempat asalnya. Tentang GAM dan tsunami tergambar dalam Yatim. Kali ini Rafly memanifestasi keuniversalan muzik. Walau kita tak memahami maknanya, yang dilafazkan dalam bahasa Aceh, namun mampu mengetuk hati.
Dalam Ampuni, ia menyentak lagi.
Dari semua tanah ini, tanah ini yang Kau pilih
Cinta-Mu kepada kami, Kau panggil ingatkan kami
Tak layak kau tanya mengapa atau alasannya
Dan tiba-tiba ia melengking, membuat bulu kuduk berdiri.
Kau yang empunya semua, milik-Mu segala…
Dan diakhiri dengan munajat:
Ampuni kami, maafkan kami
Mampukan kami untuk mengerti
Rafly berdiri satu deret dengan Bimbo dan Haddad Alwy. Ia bicara dengan bahasa muzik dan langsung menghujam nurani, sehingga pendengar mudah tersentuh, dan kemudian berurai air mata.
Yang sudah akrabnya adalah Ya Rabbana, yang kerapkali didengarkan dalam latihan Mission Statement. Kali ini dalam versi bahasa Indonesia saja, dan ada tambahan perkusi di tengah.
Kasih Ibu, adalah calon hangat berikutnya. Senada dengan Ya Rabbana, nuansa tembang ini sendu dan langsung ke sasaran. Siapa yang tak tergugah bila mengenang kebaikan dan jasa seorang ibu?
Juga dengan Ridha yang merupakan adaptasi penulis lirik Maskirbi terhadap syair Rabiah al-Adawiyah (dan kerananya senafas dengan Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada gubahan Ahmad Dani yang dinyanyikan Chrisye).
Bila sujudku pada-Mu kerana takut neraka
Bakar aku dengan apinya
Bila sujudku pada-Mu kerana dapat surga
Tutup untukku surga itu
Namun bila sujudku demi Kau semata
Jangan palingkan wajah-Mu
Aku rindu menatap keindahanMu.
Tapi tak semua lagunya melankolik. Tak sedikit berirama “riang” namun sarat nasihat. Suara Hati, misalnya, yang mengkritik negeri ini yang banyak khianat dan dengki. Namun sayang, keprakan rebana yang biasa dieksporasi oleh kelompok Kande dkurangkan. Mungkin inilah kompromi seorang Rafly, yang menyebabkan irama pop ala Sakha lebih menyeruak dibandingkan gaya lokal genius Acehnya.
Dalam Nurul Qalbi yang upbeat sebenarnya mengasyikkan. Namun sungguh lebih dashyat bila ada permainan perkusi dan rebana yang harmonis dan saling bersahutan. Nilai etniknya tergerus. Atau pada Muara Teduh.
Lagu lain yang mengajak kita menghentakkan kaki dan tangan adalahMungkar Nangkir. Dengan perlahan, Rafly berkisah tentang dunia kubur.
Kenali dirimu hai anak adam
Akhirnya, sang pencerita kelas wahid itu menjadi nasional Sudah saatnya, memang. Saat penulis membuat liputan ke Lhokseumawe, di pertengahan 2005, banyak sekali album Rafly, bahkan hingga VCD karaokenya. Kini ia menjadi nasional. Bahkan dalam “Konsert Menembus Batas” tahun lalu, ia mencuri perhatian penonton dan pengamat muzik saat berduet dengan Dwiki Dharmawan lewat Meukondroe.
Sayang sekali, walau pun cengkok khas Rafly masih terdengar jernih dan asli, namun lagu latar yang mengiringinya begitu hangat. Nuansa etniknya kian lenyap, walau masih ada. Dan hentakan rebana yang berkurang menguatkan lagi hal ini. Inilah harga yang dibayar Rafly, yang kali ini tanpa kumpulan Kande.

Saturday, 16 February 2013

MEndadak ABRE

Mendadak ada semangat untuk mengumpulkan jejak rekam saya bermusik. file lagu-lagu NGeK masih ketinggalan di Jakarta. Tapi tiga lagu ABRE  alias Abortus Religius ada di dropbox. Maka saya pun membuat akun di Myspace. Selamat menikmati Efa, Fenomena, dan Jangan Pergi di sini

Oh ya, ini ada beberapa klip.
Ini adalah video klip official (cieile gaya pake istilah "official") dan satu-satunya dari ABRE: Fenomena. Diunggah 6-6-2010. Produksi Sindikat Jakarta:


Ini juga Fenomena, tapi versi live. Kami mengadakan konser mini di acara Swarakahwa, Coffeewar, Kemang Timur, Jakarta. Di lagu ini, kami meminta Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca untuk menjadi vokalis tamu. Februari 2010.







Lanjut...berikut adalah Minimanamunu, manggung menjelang pemilu kami mengusung lagu-lagu kritik sosial yang ringan dan kocak. Bertempat di acara Sunday Extravaganza Margocity, Depok, 2 Mei 2009. Ah, jadi kangen sama Almarhum Veda, drummer kami yang mengunggah video ini :((. RIP bro!



berikut adalah Aku Kecewa, masih tema yang sama, Mals Pemilu ). Kali ini di FIB UI, Depok 24 April 2009.

lebih lanjut, bisa ke akun FB kami atau ke Reverbnation.

Lantas, apa itu ABRE?
Abortus Religius a.k.a. ABRE adalah kelompok band alumni Fakultas Sastra (Sekarang FIB) UI, yang didirikan awal 1990an, dan lama vakum, dan akhirnya bermusik lagi pada 2009-2010. Mengusung lagu-lagu yang mengangkat fenomena yang terjadi di masyakarakat seputar politisi busuk, pemilu, caleg, dan golput dengan jenaka tapi serius. Intinya, ABRE menghimbau para pemilih agar berhati-hati dan tidak lekas percaya begitu saja dengan janji-janji caleg.

Nama "Abortus Religius" sebenarnya  bisa diartikan apa saja oleh siapa saja. Ada yang menyatakan arti term ini adalah semangat melepaskan kegiatan seni budaya dari label-label agama tertentu, dan menolak pengkotak-kotakan semacam itu--karena untuk menyatakan atau menyerap kebajikan dan kebaikan bisa dari aliran musik mana saja. Silahkan tafsirkan sendiri makna Abre menurut Anda.


Band ini terdiri dari Syukri Ahmad Fanani (vokal, gitar), Fahmi Alatas (bas), Ekky Imanjaya (keyboard), Hidayat 'Yayat' Tomu (lead gitar), Dodik Kidod (gitar) dan alm Veda Amrita (drum).