Tuesday, 29 September 2015

Episode Bristol

It;s official. We moved to Bristol!

Thank you, Norwich!
Be good to us, Bristol!

Monday, 24 August 2015

Jokodok, atawa Beberapa Pertanyaan untuk Aktivis Dakwah yang Acap Menghina dengan alasan menjadi oposisi




Pertama-tama harus saya tegaskan: saya bukan Jokowi atau Ahok lovers, apalagi masuk dalam bagian fans club. Dikotomi Jokowi-Prabowo itu sudah so last year dan kita semua seharusnya menjadi warga negera yang kritis terhadap siapapun.
Saya di sini focus pada fenomena pada banyaknya postingan  atau meme di media social yang menghina, melecehkan, merendahkan, dan bahkan memberikan gelar atau sebutan yang buruk kepada Presiden Jokowi. Dan hal-hal ini berasal dari kelompok aktivis dakwah/islam. Mereka menamai presiden RI dengan Jokodok, Jokonyet, LAyak Dimasukkan ke Keranjang Sampah, dll. Buat Ahok, lebih parah lagi, mengarah ke rasisme alias kecinaannya. Alasannya, mungkin, karena Jokowi dan Ahok ini “musuh Islam”, jadi boleh-boleh saja dilecehkan. Benarkah demikian?

Karena itu, saya punya beberapa pertanyaan untuk para aktivis dakwah yang acap merendahkan Presiden atau Gubernur DKI ini.

1.      Mengapa kalian-kalian yang mengaku aktivis dakwah/islam sering melecehkan, merendahkan,  menghina, dan bahkan  menjuluki Jokowi dengan hal-hal yang buruk? Apakah pembenarannya?
2.      Wahai para pembela Islam, apa hukumnya melecehkan, merendahkan ,menghina, dan menjuluki orang lain dengan label yang buruk dalam Islam?
3.      Bagaimanakah NAbi Muhammad bersikap terhadap orang-orang seperti ini?
4.      Mungkin, alasannya karena ini “musuh islam”. Bagaimana nabi dan para sahabat mencontohkan  hal ini? Apakah nabi dan para sahabat melakukannya? Atau malah mengkritik hal ini?


Saya penasaran sekali dengan jawabannya. Saya punya jawaban, sesuai Islam yang saya pahami,  yang tentu saja tidak setuju dengan hal-hal demikian, siapapun pelakunya, siapapun obyek bully-nya.


Jawaban  pertanyaan saya menurut saya:
1.      Saya tidak tahu.
2.      Sepengetahuan saya:
a)      Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok mencemooh kelompok lain, karena boleh jadi yang dicemooh itu lebih baik dari mereka, dan janganlah sekelompok wanita mencemooh kelompok wanita lain, karena boleh jadi yang dicemooh lebih baik dari mereka. Dan janganlah mencela dirimu sendiri, serta janganlah memanggil (seseorang) dengan julukan yang jelek), dan julukan jelek adalah termasuk kefasikan setelah orang itu beriman dan barang siapa yan tidak bertaubat maka ia termasuk orang-orang yang dzalim. (Al-Hujrat: 11).
b)      “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al Humazah: 1)
c)      diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa rasulullah saw telah bersabda: “Seseorang dianggap memiliki benih kejahatan dengan hanya menghina saudaranya yang muslim.” 
d)      Tirmidzi meriwayatkan –hadits hasan—dari Watsilah bin al Asqa’ ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jangan engkau cemooh saudaramu, karena Allah akan memberi rahmat baginya dan akan memberi bala kepadamu.” 
e)      , “Cukuplah seorang itu dinilai jahat jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim dari Abu Hurairah)” [Taisir al Karim al Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan hal 953, terbitan Dar Ibnul Jauzi].
f)      
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).
3.      Setahu saya:
a)      "Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas'ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud." (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)
b)      Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW naik mimbar, lalu memanggil dengan suara keras. Sabda beliau, “Hai sekalian orang yang telah masuk Islam dengan mulutnya, namun imannya tidak sampai ke hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah mencela mereka dan janganlah menyelidiki kejelekan mereka, karena sesungguhnya orang yang menyelidiki kejelekan saudaranya sesamamuslim, maka Allah membalas menyelidiki kejelekannya. Dan barangsiapa diselidiki kejelekannya oleh Allah, maka Allah membuka kejelekannya walaupun berada di dalam rumahnya”. [HR. Tirmidzi dalam ‘Aridlatul Ahwadzi juz 8, hal. 141]
c)      Dari ‘Aisyah RA, ia berkat : Saya pernah berkata kepada Nabi SAW, “Cukup bagimu dari Shafiyah begini dan begitu”. Sebagian orang-orang yang meriwayatkan mengatakan : Yang dimaksud ‘Aisyah ialah, “Ia wanita yang pendek”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kamu telah mengatakan suatu kalimat seandainya dicampur dengan air laut sungguh air laut itu menjadi keruh”. Dan ‘Aisyah pernah berkata, “Saya pernah menceritakan tentang seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda, “Aku tidak suka menceritakan (keburukan) seseorang meskipun akan mendapatkan upah sekian dan sekian”. [HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Baihaqi, Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih]
d)      Dari Abu hurairah RA, ia berkata : Dahulu ketika kami di sisi Nabi SAW, ada seorang laki-laki berdiri. Lalu orang-orang sama berkata, “Ya Rasulullah, alangkah sangat loyonya si fulan itu !”. Atau mereka berkata, “Alangkah sangat lemahnya orang itu”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibat kepada teman kalian dan kalian telah makan dagingnya”. [HR. Abu Ya’la, dan Thabrani meriwayatkan dengan lafadhnya], “Sesungguhnya ada seorang laki-laki berdiri di sisi Nabi SAW, maka orang-orang melihat ketika dia berdiri itu dalam keadaan loyo. Mereka berkata, “Alangkah sangat loyonya si fulan itu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalian telah makan saudaramu dan kalian telah berbuat ghibah kepadanya”.
e)      Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Jubairah bin adh Dhahak, ia berkata: “Firman Allah: “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” turun untuk kami Bani Salamah.” Abu Jubairah melanjutkan, “Ketika Rasululloh SAW tiba di Madinah, kala itu setiap orang memiliki dua atau tiga nama. Siapa yang memanggil, nama-nama itulah yang dipakai. Mereka berkata, “Wahai Rasululloh SAW, sesungguhnya dia akan marah dengan nama itu. Kemudian turunlah ayat, “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (HR Ahmad). Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud. (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurthubi)
f)       Diriwayatkan dari Abu Jubairah bin adh-Dhahak, ia berkata,
 "Firman Allah, walaa tanaabazu bil alqaabturun kepada kami dan Bani Salamah." Ia kembali berkata, "Ketika Rasulullah saw. datang mengunjungi kami tidak seorangpun diantara kami kecuali ia memiliki dua nama, lalu Nabi saw. memanggil, 'Ya fulan!' Lantas para sahabat berkata, 'Ya Rasulullah, ia marah dipanggil dengan nama itu'," 
g)      An-Nawawi berkata dalam kitabnya al-Adzkaar (I/721),
"Ulama bersepakat diharamkannya memberi gelar seseroang dengan gelar yang ia benci, baik gelar tersebut diambil dari sifatnya, seperti al-A'masy(si rabun), al-Ajlah (si botak)... atau menjulukinya dengan sifat ibu atau ayahnya atau julukan lainnya yang tidak disukai."
Para ulama sepakat boleh memberikan julukan seperti itu jika seseorang tidak dikenal kecuali dengan gelar itu.
h)       

4.      Merendahkan “Musuh Islam” atau Non Islam?
a)      Dari ‘Aisyah RA juga, ia berkata : Sesungguhnya untanya Shafiyah binti Huyaiyyin sedang sakit, sedang Zainab mempunyai kelebihan kendaraan. Maka Nabi SAW bersabda kepada Zainab, “Berikanlah unta kepadanya !”. Lalu (Zainab) menjawab, “Saya disuruh memberi kepada wanita Yahudi itu !”. Kemudian Nabi SAW marah dan meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah, Muharram dan sebagaian bulan Shafar. [HR. Abu Dawud]
b)      " dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."(QS AL An'am:108)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat tersebut : Allah SWT melarang Rasul-Nya, Muhammad SAW, dan orang-orang yang beriman mencaci Tuhan-tuhan kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Tuhan orang-orang mukmin, padahal Allah adalah "Rabb, yang tiada ilah selain Dia....(Tafsiir Ibnu Katsiir Juz 7, Hal. 268, tahqiq :Syaikh Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh.)


(Dari berbagai sumber)

Bagi saya, mengkritisi pemimpin itu jihad yang mulia. tapi arahkan pada permasalahannya, bukan pada orangnya. kalau masih memberikan gelar buruk atau merendahkan, itu masih level haters yang hina. wallahua'lam.

Thursday, 2 July 2015

Our schedule is out: London Indonesian Film Screenings 2015 , 2-4 October 2015

London Indonesian Film Screenings 2015
The 2015 London Indonesian Film Screenings will presents a selection of some of the most exciting films to come out of Indonesia in recent years.
Indonesian film has experienced a remarkable revitalisation in the years since the fall of the New Order regime in 1998. In 2006 SOAS was delighted to host the first ever series of London Indonesian Film Screenings. Since then we have continued to play occasional Indonesian films open to the public. In 2013 we hosted a five day series of film screenings and a two day academic workshop devoted to Indonesian cinema. Now, in 2015, we will be holding the third such event, with an exciting range of film screenings again coupled with an academic workshop. The event will coincide with the annual Indonesia Kontemporer.
The 2015 London Indonesian Film Screenings presents a selection of some of the most exciting films to come out of Indonesia in recent years. The films touch on issues of reconciliation, love, diversity, and the Indonesian film tradition itself. We start off by screening the recent awarding winning Tabula Rasa, a film about about food and diversity which is sure to get everyone’s taste buds tingling. Selamat PagiMalam is a melancholic imaging of the Jakarta metropolis by one of Indonesia’s most promising director’s Lucky Kuswandi. Layu Sebelum Berkembangis a fascinating documentary looking at the education system in contemporary Indonesia. Sunday’s films present a range of long and short documentary films, together with two great feature films. We start off with a film about football and reconciliation, Cahaya dari Timur, set against the conflict in Ambon of the early years of the 21st century. This is followed by four short films by Tonny Trimarsanto. Bastian Meiresonne’s documentary on Indonesian action cinema,Garuda Power, is a great film with lots of unseen and archive footage.
To coincide with the film screenings the CSEAS and Centre for Film Studies is also organising a two-day Workshop on Indonesian Cinema, on 3-4 October, also to be held at SOAS. While an academic conference, all those interested in Indonesian film - academics, students and members of the public - are encouraged to attend.  
These events are supported by the Centre for South East Asian Studies and Centre for Film Studies at SOAS as well as by the Embassy of the Republic of Indonesia in London. Special thanks should also be given to a number of individuals who have helped enormously in the planning of this event. Tonny Trimarsanto, Sheila Timothy of LIFELIKE Pictures, Katrin Schons at the Goethe institute, Sunny Soon and Indri, PT Kepompong Gendut, Bastian Meiresonne, Jane Savory and  Nenna Chuku for giving so much administrative support, Jonah Foran, who designed the poster, and the AV team at SOAS for their technical support.
Ben Murtagh, Ekky Imanjaya, Eric Sasono and Tito Imanda
Co-organisers London Indonesian Film Screenings 2015
Forthcoming Events
2 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 7:00 PM - 8:50 PM
Dr Ben Murtagh (SOAS, University of London) and Ekky Imanjaya (University of East Anglia)
3 October 2015, Russell Square: College Buildings, L67, 9:00 AM - 5:00 PM
3 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 5:15 PM - 6:50 PM
3 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 7:00 PM - 8:40 PM
4 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 1:00 PM - 3:30 PM
4 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 3:45 PM - 4:55 PM
4 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 5:05 PM - 4:25 PM

Our schedule is out: London Indonesian Film Screenings 2015 , 2-4 October 2015  https://www.soas.ac.uk/cseas/events/london-indonesian-film-screenings-2015/  

Monday, 29 June 2015

Islam Nusantara dan Urf

Saya bingung dengan orang-orang yang menolak konsep Islam Nusantara.  Islam Nusantara ini bukan hal baru, sudah berjalan dan terlaksana di masyarakat. Apakah ini karena Jokowi yang melontarkan, hingga melahirkan polemik? Semoga bukan karena itu. Ini pemikiran saya tentang Islam Nusantara.

1. Dalam Ushul Fiqh (metodologi perumusan Fiqih), disebutkan salah satu sumber hukum Islam adalah Urf. Ada yang mendefiniskannya dengan “sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat dan diterima oleh akal sehat”. Ada yang menyamakannya denganadat istiadat. Saya menerjemahkannya dengan tradisi dan budaya serta kearifan lokal yang sudah diketahui dan dikenal baik di masyarakat.  Dengan Urf ini, saya duga, Wali Songo melakukan dakwah kultural dengan memasukkan unsur wayang. Dan tentu Urf tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itulah, ketakutan bahwa Islam akan menjadi liberal seperti Turki di era Mustafa Kamal, tidaklah beralasan.
2. Urf, sebenarnya,  dilakukan sejak era Nabi Muhammad. Termasuk melestarikan tradisi-tradisi Jahiliyah yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.
3. Ada yang bisa menjelaskan fenomeno merayakan Idul Fitri secara besar-besaran hingga ada yang mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Silahkan lihat di dunia Arab dan Eropa, mereka—setahu saya—tidak merayakan Idul Fitri dengan mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Hampir tidak ada ucapan “Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”. Tapi kalau Idul Adha, mereka baru merayakannnya dengan lebih meriah. Tentu tidak ada salahnya dengan yang biasa kita lakukan. Sah-sah saja. Dan, nilah bentuk dari Urf, menurut saya.
4. Adanya banyak perbedaan madzhab (termasuk Empat Imam besar sunni), salah satunya, menurut saya,  karena urf, karena perbedaan konteks budaya,  kebiasaan sosial, ekonomi dll-nya berbeda-beda. Kalau Islam itu satu, kenapa ada banyak madzhab fiqih dan tafsir Qur’an?
5. Soal Anti Arabisasi, saya sangat setuju. Islam itu untuk semesta alam. Orang Arab melakukan praktik Islam dengan Urf-nya. Karena itulah, di khutbahnya di Haji Wada’ nabi menekankan:

“Wahai para manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan bapak kalian itu satu. Ingatlah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang ajam/ asing, dan tidak bagi orang ajam (non arab) atas orang Arab, tidak bagi orang kulit merah atas kulit hitam, dan tidak bagi orang kulit hitam atas kulit merah kecuali dengan taqwa. Apakah sudah aku sampaikan?”

Tentu saja kita tidak boleh menafikan Bahasa Arab, karena AlQuran dan Sunnah itu dalam Bahasa Arab. Tapi tidak harus mengikuti tata cara kehidupan dan budaya mereka secara membabi buta. Tidak semua Bahasa Arab itu suci, yang suci itu Al Quran yang memang berbahasa Arab.

6. Allah itu satu, Islam itu satu. Tapi penafsiran dan praktiknya beda-beda. Karena penafsiran agama itu adalah praktik sosial budaya. Teks ditafsirkan oleh konteks. Tidak percaya, cobalah jalan-jalan ke luar negeri, coba temukan praktik keislaman yang berbeda-beda, dan disitulah keindahannya. Pegangannya sama, Quran yang sama, Dua Kalimat Syahadat yang sama, tapi aktivitas sosial budayanya (bahkan praktik ritualnya) berbeda-beda.
Saya pernah membaca Yusuf Qardhawi diwawancara Sabili era 1990an. Beliau menyatkaan bahwa Muslim sangat sulit bersatu. Karena berbeda orientasi, visi, misi, dan pendekatan. Ada yang gerakan spiritual lebih ditekankan, ada yang politik, ada pula yang pendidikan dan sosial. Cara memilih pemimpin berbeda juga. Karena itulah, menurut beliau, kita harus bekerja sama dan saling menghormati dan tetap bekerja menurut kesepakatan organisasi dan dan apa yang kita yakini. Saya kira, salah satu perbedaaanya juga karena Urf.
7. Selain Urf yang konteks adat istiadat, peranan latar belakang sejarah, geografi, perbedaan waktu, dan cuaca jug penting dan menjadi pertimbangan. Karena itulah, Tariq Ramadan, sebagai salah satu contoh, menulis buku berjudul To Be European Muslim.
Terakhir, silahkan simak pernjelasan singkat dan menarik ini. https://www.youtube.com/watch?v=xGgZy76VQyg

Wallahua'lam.

Thursday, 18 June 2015

Lima Film Indonesia berlatar Ramadhan.

Omong-omong, apa saja ya film nasional kita yang bercerita seputar Ramadhan, atau minimal dengan latar belakang bulan suci itu?


Film adalah alat untuk bercerita. Dan tentunya  pertanyaan di atas adalah wajar, mengingat umat Muslim adalah yang mayoritas di Indonesia, tentunya banyak hal yang bisa dikisahkan. Bila kita tilik,   Ramadhan adalah masa yang bisa mengubah kebiasaan dan bahkan kebijakan dalam tingkat nasional.  Memang tidak sedahsyat di tanah Arab di mana mereka mengubah kebiasaan tidur dan beribadah, seakan “siang menjadi malam dan malam menjadi siang”. Tapi kurang lebih sama semangat dan dinamikanya.  Jutaan manusia mengubah dan menyesuaikan tradisi makan minum dan jam biologis serta jadwal harian mereka di bulan ini. Bangun dini hari buat sahur, siang berlapar-lapar,  dan malam sehabis pulang kantor shalat Tarawih. Berbagai industri, dari mal hingga hiburan,  pun melihat peluang itu, dan bersolek untuk menjadi lebih saleh. Stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan banyak program yang selaras dengan  bulan puasa ini, banyak yang mulai siaran sejak dini hari,dan juga sinetron dan kuis religious. Dan, puncaknya adalah hari-hari terakhir ketika banyak orang pulang kampong, yang memakan biaya trilyunan rupiah.

Kalau di dunia Barat, momen Natal dirayakan dan diangkat ke berbagai jenis film layar lebar,mulai dari film anak semacam Home Alone hingga film laga seperti Die Hard, dan juga mengeksplorasi tokoh Sinterklas dan kisah-kisah magis seputarnya.  Bagaimana dengan Bulan Puasa?  Kalau kita bahas soal lagu rohani, acara televisi dari sinetron hingga kuis, tentu bertebaran. Tetapi berbeda ceritanya jika kita membahas film bioskop.  Tak  disangka tak dinyana, entah mengapa, sedikit sekali film-film Indonesia yang “merekam” tradisi tahunan ini. Walau banyak film Islami, tapi entah kenapa nyaris tak satupun yang mencoba menangkap momen-momen ritual ini.  Justru  para sutradara dan produser yang selama ini sepertinya tidak diasosiasikan dengan film relijiuslah yang membuat film-film dengan latar belakang Ramadhan. Dan bulan Ramadhan tidak sekadar tempelan saja, tapi merupakan bagian integral dari cerita, karena cerita-cerita dalam film-film itu akan hilang konteksnya kalau settingnya diubah menjadi bulan lain.

Memang ada film yang secara selintasan ada nuansa Ramadhan atau malam lebaran  (yang adalah hari terakhir Ramadhan) yang kental dengan suasana takbiran. Misalnya di film  Cinta Suci Zahrana (Chairul Umam, 2012), Rembulan dan Matahari (Slamet Djarot, 1979), dan Boleh Rujuk, Asal… (Maman firmansjah, 1986). Tapi adegannya hanya kurang dari 25 persen dari keseluruhan film dan bukan merupakan jiwa dari cerita. Ada dua  film yang kisahnya terjadi menjelang Idul Fitri, alias di bulan puasa, tapi belum saya tonton karena  aksesnya susah didapat. Film itu berjudul Dosa Tak berampun (Usmar Ismail,  1951) dan Sangkar Emas (Fred Young, 1952).

Tapi, film yang benar-benar dengan setting bulan Puasa, dan menunjukkan dinamika ritual ibadah Ramadhan (sahur, puasa, tarawih, buka bersama) dan menjadikan Ramadhan sebagai jiwa  dari film ini, hanya sedikit. Saya hanya menemukan 4 film panjang, dan 1 film pendek dalam proyek omnibus. Dan lebih dari separuhnya adalah film anak-anak.  Berikut film-film tersebut.

Mudik (Muchyar Syamas, 2011)
Suka atau tidak suka, film yang diproduseri Raam Punjabi ini cukup melukiskan suasana  bulan suci Ramadhan. Lepas dari kuatnya aroma sinetron—baik dari segi cerita yang cenderung banal dan  berlebihan dan banyak kebetulannya,  pengadeganan yang apa adanya,  para karakter yang kurang berkembang dan hitam putih, dan sinematografi pas-pasan—tapi inilah film yang jiwanya adalah semangat mudik, salah satu elemen yang menempel kuat di benak banyak Muslim.  Di sini, kita bisa melihat detil-detil suasana khas, misalnya fenomena warteg yang ditutupi tabir hingga calo di terminal bis, hiruk pikuk kendaraan yang hendak pulang kampung, kurma Arab yang dibeli di Tanahabang,  dan Jakarta yang sepi saat Idul Fitri. Tentu, jangan berharap ini film dengan pendekatan syiar dakwah seperti film religi, tapi lebih kepada mengeksplorasi dan mengolok-olok keseharian karakter-karakternya—yang mungkin juga dialami banyak penonton.
Film berfokus pada Gunadi, anak desa yang mengadu nasib di Jakarta tapi masih saja menganggur di tahun ketiganya. Lestari, calon istrinya, menunggu untuk dinikahi.  Tapi jangankan dana nikah, ongkos mudik saja dia tidak punya. Hingga ia menjadi supir pribadi seorang konglomerat.  Sementara itu, Kuncoro,  bapak kosnya,  juga pusing memilih mudik antara Bukit Tinggi (tempat mertuanya) atau ke desanya di Jawa Tengah. Suami dari Yustina   itu digambarkan mata duitan dan selalu menggencet anak kosnya, kecuali satu orang yang tukang pengadu.  Ada juga Iskandar,   pejabat di Kementerian Sarana Publik yang sudah tiga tahun tak pulang ke desanya di  Wonosalam, Jogjakarta.
Singkat  cerita, Gunadi ditolong oleh rekan kosnya mendapatkan kerja sebagai supir pribadi Iskandar. Sebelumnya, ia  narik taksi dan hampir menabrak Wulan, yang baru saja selesai kawin kontraknya dengan pria asal Arab.  Wulan pun berasa berhutang budi, tapi dengan cara yang ekstrem. Dia “menculik” Gunadi dan memakai kendaraan milik sang majikan,  untuk pelesir. Walhasil, Gunadi dipecat Iskandar, dan hanya dikasih pesangon seperlunya. Lebaran sudah di depan mata, dan ia belum punya uang untuk mudik, apalagi buat nikah. Bagaimana Gunadi menyelesaikan problematika ini?

 Seputih Cinta Melati (Ari Sihasale, 2014)

Inilah film yang nafasnya adalah bulan Ramadhan. Dari ritual ibadah keseharian hingga pesan moral untuk maaf memaafkan, tersaji di sini. Atmosfir bulan suci puasa, seperti pembacaan ayat suci Al-Quran, buka puasa, dan sahur keliling lengkap dengan berbagai  kentongannya. Dari awal, pasutri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, memang merencanakan film ini untuk liburan lebaran yang bertemal lebaran dan Ramadhan.
Film berfokus pada si cilik Melati dan abangnya, Rian. Mereka bertemu Ivan dan Erik, dua narapidana yang buron dari penjara, yang menolong mereka saat kaki Melati terjepit. Mereka pun makin dekat, dan kedua bocah itu tak tahu identitas teman barunya itu.  Rian mengajari Erik cara memancing, dan Melati mengajarkan Ivan untuk menghafal al Quran. Masalahnya, Erik ingin kabur dari sana, tapi Ivan sudah terlanjur akrab dengan Melati. Sampai akhirnya penduduk sana tahu siapa mereka sebenarnya.

Rindu Kami PadaMu (Garin Nugroho, 2004).


Satu lagi film keluarga dengan anak-anak sebagai tokoh utamanya. Inilah film Garin yang paling komunikatif. Kisahnya terjadi di bulan Ramadhan di sebuah pasar tradisional di pinggiran Jakarta yang kumuh. Banyak karakter di dalam film ini, saling terkait dan diikat oleh rasa kebersamaan sebuah perkampungan yang masih menghidupkan semangat gotong royong.  Ada Pak Haji Arif yang masjidnya tak berkubah karena kurang dana. Ada seorang suami yang bertobat dengan menjadi penjaga masjid. Istrinya kabur karena tak tahan dipukuli, dan sejak itu anaknya selalu menggelar sajadah kosong, berharap ibunya akan datang. Ada bocah yang hidup dengan abangnya penjual telur asin dan mencari sosok ibu dalam seorang karyawati bernama Cantik. Ada Rindu yang tuna rungu dan terpisah dari abangnya  karena bencana alam, dan diangkat anak oleh penjaga warung. Semuanya bermuara pada pencarian sosok ibu dan nilai-nilai keibuan, dan semuanya terjadi di bulan Ramadhan.  
Menjelang Lebaran, banyak penduduk sekitar bersiap untuk pulang kampung, dan menitipkan banyak hal—dari kunci rumah hingga ayam jago—kepada orang-orang yang tidak mudik, seperti ke merbot masjid dan ibu penjaga warung. Dan, karena salah satu lokasi utamanya adalah masjid yang tak berkubah, banyak adegan dilakukan di sini, termasuk shalat wajib dan tarawih berjamaah. Dan, tentu, lagu Rindu Kami Padamu dari Bimbo memperkuat semangat religi yang menyayat hati.

Untuk Rena (Riri Riza 2005)

Bulan Puasa, rumah panti asuhan, dan kisah tentang tragedy Aceh Tsunami. Ketiganya saling berkaitan dalam film produksi Miles Films ini.  Berkisah tentang Rena dan “adik-adik”nya di Rumah Matahari, sebuah panti asuhan di luar kota Jakarta. Mereka sangat kompak. Rena sangat protektif dan berupaya mencegah para tetamu mengadopsi adik-adiknya yang lucu, dengan cara membuat berbagai ulah yang nakal. Suatu hari, datanglah tamu misterius, Yudha, ke sana dan menginap setiap akhir pekan.  Awalnya, Rena dan kawan-kawan agak curiga dan menjaga jarak seraya bertanya: “Apa maunya Om Yudha rutin ke tempat kami?”. Tapi, lama-lama cair juga mereka. Karena Yudha orang yang ramah dan ringan tangan, termasuk memperbaiki saluran air yang tersendat. Tapi pertanyaannya masih terngiang: Apa motif utama Yudha datang ke sana?
Film ini juga mengajarkan agar kita tidak melihat seseorang dari tampilan fisik saja, tetapi juga kepribadiannya, dan agar tidak berburuk sangka kepada orang lain.

3ll4 (Wisnu Surya Pratama, 2010)

Ini adalah film berdurasi kurang dari 8 menit yang ada dalam kumpulan film pendek Belkibolang. Film yang disutradarai oleh Wisnu Surya Pratama ini berkisah tentang sahur di hari terakhir  Ramadhan. Dini hari itu, Ella, seorang pelacur asal Surabaya, ngobrol  dengan Pak Gendut, penjual bebek bakar asal Madura dengan Bahasa daerah masing-masing.  Di sini, profesi pelacur tidak dilihat hitam putih atau sesuatu yang hina dina, tapi sebagai sosok manusiawi. Ella punya tanggung jawab di kampungnya. Dia hari itu hendak mudik, dengan membawa oleh-oleh berupa uang yang banyak untuk keluarganya, dan kaca mata untuk ayahnya tercinta. Keluarganya tidak tahu profesi Ella, kecuali hanya info banyak ia bekerja di Jakarta dan lebaran pulang membawa rezeki. Seolah-oleh Ella punya dua identitas yang saling bertolak belakang. Sebagai pekerja seks komersial, ia genit dan merayu. Tapi sebagai anggota keluarga, ia mengubah cara bicara (seperti saat berbicara dengan ibunya di telepon) dan busananya. Citranya juga berbalik ketika bersiap pulang kampung: Ella sebagai seseorang yang bekerja di Jakarta dan punya tanggung jawab menafkahi keluarga, ini adalah salah satu representasi salah seorang warga Jakarta. Dan semuanya terjadi di satu malam menjelang subuh, di bulan Ramadhan. Sebuah kritik konsumerisme, komersialisme, dan materialisme sudah merajalela, bahkan tak mampu dibentengi oleh Ramadhan?

Dimuat di Majalah ESQ Life, Juni 2015.
http://www.esqlife.com/article/ramadhan-dan-kehidupan/