It;s official. We moved to Bristol!
Thank you, Norwich!
Be good to us, Bristol!
Tuesday, 29 September 2015
Monday, 24 August 2015
Jokodok, atawa Beberapa Pertanyaan untuk Aktivis Dakwah yang Acap Menghina dengan alasan menjadi oposisi
Pertama-tama
harus saya tegaskan: saya bukan Jokowi atau Ahok lovers, apalagi masuk dalam
bagian fans club. Dikotomi Jokowi-Prabowo itu sudah so last year dan kita semua
seharusnya menjadi warga negera yang kritis terhadap siapapun.
Saya di sini
focus pada fenomena pada banyaknya postingan
atau meme di media social yang menghina, melecehkan, merendahkan, dan
bahkan memberikan gelar atau sebutan yang buruk kepada Presiden Jokowi. Dan hal-hal
ini berasal dari kelompok aktivis dakwah/islam. Mereka menamai presiden RI
dengan Jokodok, Jokonyet, LAyak Dimasukkan ke Keranjang Sampah, dll. Buat Ahok,
lebih parah lagi, mengarah ke rasisme alias kecinaannya. Alasannya, mungkin,
karena Jokowi dan Ahok ini “musuh Islam”, jadi boleh-boleh saja dilecehkan. Benarkah
demikian?
Karena itu,
saya punya beberapa pertanyaan untuk para aktivis dakwah yang acap merendahkan
Presiden atau Gubernur DKI ini.
1. Mengapa kalian-kalian yang mengaku
aktivis dakwah/islam sering melecehkan, merendahkan, menghina, dan bahkan menjuluki Jokowi dengan hal-hal yang buruk?
Apakah pembenarannya?
2. Wahai para pembela Islam, apa
hukumnya melecehkan, merendahkan ,menghina, dan menjuluki orang lain dengan
label yang buruk dalam Islam?
3. Bagaimanakah NAbi Muhammad bersikap
terhadap orang-orang seperti ini?
4. Mungkin, alasannya karena ini “musuh
islam”. Bagaimana nabi dan para sahabat mencontohkan hal ini? Apakah nabi dan para sahabat
melakukannya? Atau malah mengkritik hal ini?
Saya penasaran sekali dengan jawabannya. Saya punya jawaban, sesuai Islam
yang saya pahami, yang tentu saja tidak
setuju dengan hal-hal demikian, siapapun pelakunya, siapapun obyek bully-nya.
Jawaban pertanyaan saya menurut
saya:
1. Saya tidak tahu.
2. Sepengetahuan saya:
a)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok
mencemooh kelompok lain, karena boleh jadi yang dicemooh itu lebih baik dari
mereka, dan janganlah sekelompok wanita mencemooh kelompok wanita lain, karena
boleh jadi yang dicemooh lebih baik dari mereka. Dan janganlah mencela dirimu
sendiri, serta janganlah memanggil (seseorang) dengan julukan yang jelek), dan
julukan jelek adalah termasuk kefasikan setelah orang itu beriman dan barang
siapa yan tidak bertaubat maka ia termasuk orang-orang yang dzalim. (Al-Hujrat:
11).
b)
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi
pencela.” (QS. Al Humazah:
1)
c)
diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa
rasulullah saw telah bersabda: “Seseorang
dianggap memiliki benih kejahatan dengan hanya menghina saudaranya yang
muslim.”
d)
Tirmidzi meriwayatkan –hadits hasan—dari
Watsilah bin al Asqa’ ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jangan engkau
cemooh saudaramu, karena Allah akan memberi rahmat baginya dan akan memberi
bala kepadamu.”
e)
, “Cukuplah
seorang itu dinilai jahat jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Muslim dari
Abu Hurairah)” [Taisir al Karim al Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan hal 953,
terbitan Dar Ibnul Jauzi].
f)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl: 125).
3. Setahu saya:
a)
"Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis
Ibnu Mas'ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya
itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud." (Riwayat Thayalisi dan
Ahmad)
b)
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW naik
mimbar, lalu memanggil dengan suara keras. Sabda beliau, “Hai sekalian orang
yang telah masuk Islam dengan mulutnya, namun imannya tidak sampai ke hatinya,
janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah mencela mereka dan
janganlah menyelidiki kejelekan mereka, karena sesungguhnya orang yang
menyelidiki kejelekan saudaranya sesamamuslim, maka Allah membalas menyelidiki kejelekannya. Dan
barangsiapa diselidiki kejelekannya oleh Allah, maka Allah membuka kejelekannya
walaupun berada di dalam rumahnya”. [HR. Tirmidzi
dalam ‘Aridlatul Ahwadzi juz 8, hal. 141]
c)
Dari ‘Aisyah RA, ia berkat : Saya pernah berkata
kepada Nabi SAW, “Cukup bagimu dari Shafiyah begini dan begitu”. Sebagian
orang-orang yang meriwayatkan mengatakan : Yang dimaksud
‘Aisyah ialah, “Ia wanita yang pendek”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh
kamu telah mengatakan suatu kalimat seandainya dicampur dengan air laut sungguh
air laut itu menjadi keruh”. Dan ‘Aisyah pernah berkata, “Saya pernah
menceritakan tentang seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda, “Aku tidak
suka menceritakan (keburukan) seseorang meskipun akan mendapatkan upah sekian
dan sekian”. [HR. Abu Dawud,
Tirmidzi dan Baihaqi, Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih]
d)
Dari Abu hurairah RA, ia berkata : Dahulu ketika kami
di sisi Nabi SAW, ada seorang laki-laki berdiri. Lalu orang-orang sama berkata,
“Ya Rasulullah, alangkah sangat loyonya si fulan itu !”. Atau mereka
berkata, “Alangkah sangat lemahnya orang itu”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian
telah berbuat ghibat kepada teman kalian dan kalian telah makan dagingnya”.
[HR. Abu Ya’la, dan Thabrani meriwayatkan dengan lafadhnya], “Sesungguhnya ada
seorang laki-laki berdiri di sisi Nabi SAW, maka orang-orang melihat ketika dia
berdiri itu dalam keadaan loyo. Mereka berkata, “Alangkah sangat loyonya si
fulan itu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalian telah makan saudaramu dan
kalian telah berbuat ghibah kepadanya”.
e)
Imam Ahmad
meriwayatkan dari Abu Jubairah bin adh Dhahak, ia berkata: “Firman Allah: “Dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” turun untuk
kami Bani Salamah.” Abu Jubairah melanjutkan, “Ketika Rasululloh SAW tiba di
Madinah, kala itu setiap orang memiliki dua atau tiga nama. Siapa yang
memanggil, nama-nama itulah yang dipakai. Mereka berkata, “Wahai Rasululloh
SAW, sesungguhnya dia akan marah dengan nama itu. Kemudian turunlah ayat, “Dan
janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (HR
Ahmad). Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud. (Tafsir Ibnu Katsir,
Tafsir Al Qurthubi)
f)
Diriwayatkan
dari Abu Jubairah bin adh-Dhahak, ia berkata,
"Firman Allah, walaa tanaabazu bil alqaabturun kepada kami dan Bani Salamah." Ia
kembali berkata, "Ketika Rasulullah saw. datang mengunjungi kami tidak
seorangpun diantara kami kecuali ia memiliki dua nama, lalu Nabi saw.
memanggil, 'Ya fulan!' Lantas para sahabat berkata, 'Ya Rasulullah, ia marah
dipanggil dengan nama itu',"
g)
An-Nawawi
berkata dalam kitabnya al-Adzkaar (I/721),
"Ulama bersepakat diharamkannya memberi
gelar seseroang dengan gelar yang ia benci, baik gelar tersebut diambil dari
sifatnya, seperti al-A'masy(si rabun), al-Ajlah (si botak)... atau menjulukinya dengan
sifat ibu atau ayahnya atau julukan lainnya yang tidak disukai."
Para ulama sepakat boleh memberikan julukan
seperti itu jika seseorang tidak dikenal kecuali dengan gelar itu.
h)
4. Merendahkan “Musuh Islam” atau Non
Islam?
a)
Dari ‘Aisyah RA juga, ia berkata : Sesungguhnya untanya
Shafiyah binti Huyaiyyin sedang sakit, sedang Zainab mempunyai kelebihan
kendaraan. Maka Nabi SAW bersabda kepada Zainab, “Berikanlah unta kepadanya !”. Lalu (Zainab)
menjawab, “Saya disuruh memberi kepada wanita Yahudi itu !”. Kemudian Nabi SAW
marah dan meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah, Muharram dan sebagaian
bulan Shafar. [HR. Abu Dawud]
b) " dan
janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena
mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian
kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa
yang dahulu mereka kerjakan."(QS AL An'am:108)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat tersebut : Allah SWT melarang Rasul-Nya, Muhammad SAW, dan orang-orang yang beriman mencaci Tuhan-tuhan kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Tuhan orang-orang mukmin, padahal Allah adalah "Rabb, yang tiada ilah selain Dia....(Tafsiir Ibnu Katsiir Juz 7, Hal. 268, tahqiq :Syaikh Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh.)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat tersebut : Allah SWT melarang Rasul-Nya, Muhammad SAW, dan orang-orang yang beriman mencaci Tuhan-tuhan kaum musyrikin, meskipun cacian itu mengandung kemaslahatan, hal itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan itu sendiri, yaitu balasan orang-orang musyrik dengan cacian terhadap Tuhan orang-orang mukmin, padahal Allah adalah "Rabb, yang tiada ilah selain Dia....(Tafsiir Ibnu Katsiir Juz 7, Hal. 268, tahqiq :Syaikh Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh.)
(Dari berbagai sumber)
Bagi saya, mengkritisi pemimpin itu jihad yang mulia. tapi arahkan pada permasalahannya, bukan pada orangnya. kalau masih memberikan gelar buruk atau merendahkan, itu masih level haters yang hina. wallahua'lam.
Saturday, 4 July 2015
After Kuwait Bombing, Sunnis and Shiites Pray Together for Unity
Saatnya Muslim Sunni dan Muslim syiah bersatu melawan ISIS.
After Kuwait Bombing, Sunnis and Shiites Pray Together for Unity
After Kuwait Bombing, Sunnis and Shiites Pray Together for Unity
Thursday, 2 July 2015
Our schedule is out: London Indonesian Film Screenings 2015 , 2-4 October 2015
London Indonesian Film Screenings 2015
The 2015 London Indonesian Film Screenings presents a selection of some of the most exciting films to come out of Indonesia in recent years. The films touch on issues of reconciliation, love, diversity, and the Indonesian film tradition itself. We start off by screening the recent awarding winning Tabula Rasa, a film about about food and diversity which is sure to get everyone’s taste buds tingling. Selamat Pagi, Malam is a melancholic imaging of the Jakarta metropolis by one of Indonesia’s most promising director’s Lucky Kuswandi. Layu Sebelum Berkembangis a fascinating documentary looking at the education system in contemporary Indonesia. Sunday’s films present a range of long and short documentary films, together with two great feature films. We start off with a film about football and reconciliation, Cahaya dari Timur, set against the conflict in Ambon of the early years of the 21st century. This is followed by four short films by Tonny Trimarsanto. Bastian Meiresonne’s documentary on Indonesian action cinema,Garuda Power, is a great film with lots of unseen and archive footage.
The 2015 London Indonesian Film Screenings will presents a selection of some of the most exciting films to come out of Indonesia in recent years.
Indonesian film has experienced a remarkable revitalisation in the years since the fall of the New Order regime in 1998. In 2006 SOAS was delighted to host the first ever series of London Indonesian Film Screenings. Since then we have continued to play occasional Indonesian films open to the public. In 2013 we hosted a five day series of film screenings and a two day academic workshop devoted to Indonesian cinema. Now, in 2015, we will be holding the third such event, with an exciting range of film screenings again coupled with an academic workshop. The event will coincide with the annual Indonesia Kontemporer.
The 2015 London Indonesian Film Screenings presents a selection of some of the most exciting films to come out of Indonesia in recent years. The films touch on issues of reconciliation, love, diversity, and the Indonesian film tradition itself. We start off by screening the recent awarding winning Tabula Rasa, a film about about food and diversity which is sure to get everyone’s taste buds tingling. Selamat Pagi, Malam is a melancholic imaging of the Jakarta metropolis by one of Indonesia’s most promising director’s Lucky Kuswandi. Layu Sebelum Berkembangis a fascinating documentary looking at the education system in contemporary Indonesia. Sunday’s films present a range of long and short documentary films, together with two great feature films. We start off with a film about football and reconciliation, Cahaya dari Timur, set against the conflict in Ambon of the early years of the 21st century. This is followed by four short films by Tonny Trimarsanto. Bastian Meiresonne’s documentary on Indonesian action cinema,Garuda Power, is a great film with lots of unseen and archive footage.
To coincide with the film screenings the CSEAS and Centre for Film Studies is also organising a two-day Workshop on Indonesian Cinema, on 3-4 October, also to be held at SOAS. While an academic conference, all those interested in Indonesian film - academics, students and members of the public - are encouraged to attend.
These events are supported by the Centre for South East Asian Studies and Centre for Film Studies at SOAS as well as by the Embassy of the Republic of Indonesia in London. Special thanks should also be given to a number of individuals who have helped enormously in the planning of this event. Tonny Trimarsanto, Sheila Timothy of LIFELIKE Pictures, Katrin Schons at the Goethe institute, Sunny Soon and Indri, PT Kepompong Gendut, Bastian Meiresonne, Jane Savory and Nenna Chuku for giving so much administrative support, Jonah Foran, who designed the poster, and the AV team at SOAS for their technical support.
Ben Murtagh, Ekky Imanjaya, Eric Sasono and Tito Imanda
Co-organisers London Indonesian Film Screenings 2015
Co-organisers London Indonesian Film Screenings 2015
Forthcoming Events
2 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 7:00 PM - 8:50 PM
Dr Ben Murtagh (SOAS, University of London) and Ekky Imanjaya (University of East Anglia)
3 October 2015, Russell Square: College Buildings, L67, 9:00 AM - 5:00 PM
3 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 5:15 PM - 6:50 PM
3 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 7:00 PM - 8:40 PM
4 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 1:00 PM - 3:30 PM
4 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 3:45 PM - 4:55 PM
4 October 2015, Russell Square: College Buildings, Khalili Lecture Theatre, 5:05 PM - 4:25 PM
Our schedule is out: London Indonesian Film Screenings 2015 , 2-4 October 2015 https://www.soas.ac.uk/cseas/events/london-indonesian-film-screenings-2015/
Tuesday, 30 June 2015
Monday, 29 June 2015
Islam Nusantara dan Urf
Saya bingung dengan orang-orang yang menolak konsep Islam Nusantara. Islam Nusantara ini bukan hal baru, sudah berjalan dan terlaksana di masyarakat. Apakah ini karena Jokowi yang melontarkan, hingga melahirkan polemik? Semoga bukan karena itu. Ini pemikiran saya tentang Islam Nusantara.
1. Dalam Ushul Fiqh (metodologi perumusan Fiqih), disebutkan salah satu sumber hukum Islam adalah Urf. Ada yang mendefiniskannya dengan “sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat dan diterima oleh akal sehat”. Ada yang menyamakannya denganadat istiadat. Saya menerjemahkannya dengan tradisi dan budaya serta kearifan lokal yang sudah diketahui dan dikenal baik di masyarakat. Dengan Urf ini, saya duga, Wali Songo melakukan dakwah kultural dengan memasukkan unsur wayang. Dan tentu Urf tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itulah, ketakutan bahwa Islam akan menjadi liberal seperti Turki di era Mustafa Kamal, tidaklah beralasan.
2. Urf, sebenarnya, dilakukan sejak era Nabi Muhammad. Termasuk melestarikan tradisi-tradisi Jahiliyah yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.
3. Ada yang bisa menjelaskan fenomeno merayakan Idul Fitri secara besar-besaran hingga ada yang mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Silahkan lihat di dunia Arab dan Eropa, mereka—setahu saya—tidak merayakan Idul Fitri dengan mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Hampir tidak ada ucapan “Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”. Tapi kalau Idul Adha, mereka baru merayakannnya dengan lebih meriah. Tentu tidak ada salahnya dengan yang biasa kita lakukan. Sah-sah saja. Dan, nilah bentuk dari Urf, menurut saya.
4. Adanya banyak perbedaan madzhab (termasuk Empat Imam besar sunni), salah satunya, menurut saya, karena urf, karena perbedaan konteks budaya, kebiasaan sosial, ekonomi dll-nya berbeda-beda. Kalau Islam itu satu, kenapa ada banyak madzhab fiqih dan tafsir Qur’an?
5. Soal Anti Arabisasi, saya sangat setuju. Islam itu untuk semesta alam. Orang Arab melakukan praktik Islam dengan Urf-nya. Karena itulah, di khutbahnya di Haji Wada’ nabi menekankan:
“Wahai para manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan bapak kalian itu satu. Ingatlah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang ajam/ asing, dan tidak bagi orang ajam (non arab) atas orang Arab, tidak bagi orang kulit merah atas kulit hitam, dan tidak bagi orang kulit hitam atas kulit merah kecuali dengan taqwa. Apakah sudah aku sampaikan?”
Tentu saja kita tidak boleh menafikan Bahasa Arab, karena AlQuran dan Sunnah itu dalam Bahasa Arab. Tapi tidak harus mengikuti tata cara kehidupan dan budaya mereka secara membabi buta. Tidak semua Bahasa Arab itu suci, yang suci itu Al Quran yang memang berbahasa Arab.
6. Allah itu satu, Islam itu satu. Tapi penafsiran dan praktiknya beda-beda. Karena penafsiran agama itu adalah praktik sosial budaya. Teks ditafsirkan oleh konteks. Tidak percaya, cobalah jalan-jalan ke luar negeri, coba temukan praktik keislaman yang berbeda-beda, dan disitulah keindahannya. Pegangannya sama, Quran yang sama, Dua Kalimat Syahadat yang sama, tapi aktivitas sosial budayanya (bahkan praktik ritualnya) berbeda-beda.
Saya pernah membaca Yusuf Qardhawi diwawancara Sabili era 1990an. Beliau menyatkaan bahwa Muslim sangat sulit bersatu. Karena berbeda orientasi, visi, misi, dan pendekatan. Ada yang gerakan spiritual lebih ditekankan, ada yang politik, ada pula yang pendidikan dan sosial. Cara memilih pemimpin berbeda juga. Karena itulah, menurut beliau, kita harus bekerja sama dan saling menghormati dan tetap bekerja menurut kesepakatan organisasi dan dan apa yang kita yakini. Saya kira, salah satu perbedaaanya juga karena Urf.
7. Selain Urf yang konteks adat istiadat, peranan latar belakang sejarah, geografi, perbedaan waktu, dan cuaca jug penting dan menjadi pertimbangan. Karena itulah, Tariq Ramadan, sebagai salah satu contoh, menulis buku berjudul To Be European Muslim.
Terakhir, silahkan simak pernjelasan singkat dan menarik ini. https://www.youtube.com/watch?v=xGgZy76VQyg
Wallahua'lam.
1. Dalam Ushul Fiqh (metodologi perumusan Fiqih), disebutkan salah satu sumber hukum Islam adalah Urf. Ada yang mendefiniskannya dengan “sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat dan diterima oleh akal sehat”. Ada yang menyamakannya denganadat istiadat. Saya menerjemahkannya dengan tradisi dan budaya serta kearifan lokal yang sudah diketahui dan dikenal baik di masyarakat. Dengan Urf ini, saya duga, Wali Songo melakukan dakwah kultural dengan memasukkan unsur wayang. Dan tentu Urf tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itulah, ketakutan bahwa Islam akan menjadi liberal seperti Turki di era Mustafa Kamal, tidaklah beralasan.
2. Urf, sebenarnya, dilakukan sejak era Nabi Muhammad. Termasuk melestarikan tradisi-tradisi Jahiliyah yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.
3. Ada yang bisa menjelaskan fenomeno merayakan Idul Fitri secara besar-besaran hingga ada yang mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Silahkan lihat di dunia Arab dan Eropa, mereka—setahu saya—tidak merayakan Idul Fitri dengan mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Hampir tidak ada ucapan “Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”. Tapi kalau Idul Adha, mereka baru merayakannnya dengan lebih meriah. Tentu tidak ada salahnya dengan yang biasa kita lakukan. Sah-sah saja. Dan, nilah bentuk dari Urf, menurut saya.
4. Adanya banyak perbedaan madzhab (termasuk Empat Imam besar sunni), salah satunya, menurut saya, karena urf, karena perbedaan konteks budaya, kebiasaan sosial, ekonomi dll-nya berbeda-beda. Kalau Islam itu satu, kenapa ada banyak madzhab fiqih dan tafsir Qur’an?
5. Soal Anti Arabisasi, saya sangat setuju. Islam itu untuk semesta alam. Orang Arab melakukan praktik Islam dengan Urf-nya. Karena itulah, di khutbahnya di Haji Wada’ nabi menekankan:
Tentu saja kita tidak boleh menafikan Bahasa Arab, karena AlQuran dan Sunnah itu dalam Bahasa Arab. Tapi tidak harus mengikuti tata cara kehidupan dan budaya mereka secara membabi buta. Tidak semua Bahasa Arab itu suci, yang suci itu Al Quran yang memang berbahasa Arab.
6. Allah itu satu, Islam itu satu. Tapi penafsiran dan praktiknya beda-beda. Karena penafsiran agama itu adalah praktik sosial budaya. Teks ditafsirkan oleh konteks. Tidak percaya, cobalah jalan-jalan ke luar negeri, coba temukan praktik keislaman yang berbeda-beda, dan disitulah keindahannya. Pegangannya sama, Quran yang sama, Dua Kalimat Syahadat yang sama, tapi aktivitas sosial budayanya (bahkan praktik ritualnya) berbeda-beda.
Saya pernah membaca Yusuf Qardhawi diwawancara Sabili era 1990an. Beliau menyatkaan bahwa Muslim sangat sulit bersatu. Karena berbeda orientasi, visi, misi, dan pendekatan. Ada yang gerakan spiritual lebih ditekankan, ada yang politik, ada pula yang pendidikan dan sosial. Cara memilih pemimpin berbeda juga. Karena itulah, menurut beliau, kita harus bekerja sama dan saling menghormati dan tetap bekerja menurut kesepakatan organisasi dan dan apa yang kita yakini. Saya kira, salah satu perbedaaanya juga karena Urf.
7. Selain Urf yang konteks adat istiadat, peranan latar belakang sejarah, geografi, perbedaan waktu, dan cuaca jug penting dan menjadi pertimbangan. Karena itulah, Tariq Ramadan, sebagai salah satu contoh, menulis buku berjudul To Be European Muslim.
Terakhir, silahkan simak pernjelasan singkat dan menarik ini. https://www.youtube.com/watch?v=xGgZy76VQyg
Wallahua'lam.
Thursday, 18 June 2015
Lima Film Indonesia berlatar Ramadhan.
Omong-omong, apa saja ya film
nasional kita yang bercerita seputar Ramadhan, atau minimal dengan latar
belakang bulan suci itu?
Film adalah alat untuk bercerita. Dan
tentunya pertanyaan di atas adalah wajar,
mengingat umat Muslim adalah yang mayoritas di Indonesia, tentunya banyak hal
yang bisa dikisahkan. Bila kita tilik,
Ramadhan adalah masa yang bisa mengubah kebiasaan dan bahkan kebijakan
dalam tingkat nasional. Memang tidak sedahsyat
di tanah Arab di mana mereka mengubah kebiasaan tidur dan beribadah, seakan “siang
menjadi malam dan malam menjadi siang”. Tapi kurang lebih sama semangat dan
dinamikanya. Jutaan manusia mengubah dan
menyesuaikan tradisi makan minum dan jam biologis serta jadwal harian mereka di
bulan ini. Bangun dini hari buat sahur, siang berlapar-lapar, dan malam sehabis pulang kantor shalat
Tarawih. Berbagai industri, dari mal hingga hiburan, pun melihat peluang itu, dan bersolek untuk
menjadi lebih saleh. Stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan banyak program
yang selaras dengan bulan puasa ini,
banyak yang mulai siaran sejak dini hari,dan juga sinetron dan kuis religious. Dan,
puncaknya adalah hari-hari terakhir ketika banyak orang pulang kampong, yang
memakan biaya trilyunan rupiah.
Kalau di dunia Barat, momen Natal
dirayakan dan diangkat ke berbagai jenis film layar lebar,mulai dari film anak
semacam Home Alone hingga film laga
seperti Die Hard, dan juga mengeksplorasi
tokoh Sinterklas dan kisah-kisah magis seputarnya. Bagaimana dengan Bulan Puasa? Kalau kita bahas soal lagu rohani, acara televisi
dari sinetron hingga kuis, tentu bertebaran. Tetapi berbeda ceritanya jika kita
membahas film bioskop. Tak disangka tak dinyana, entah mengapa, sedikit
sekali film-film Indonesia yang “merekam” tradisi tahunan ini. Walau banyak
film Islami, tapi entah kenapa nyaris tak satupun yang mencoba menangkap
momen-momen ritual ini. Justru para sutradara dan produser yang selama ini
sepertinya tidak diasosiasikan dengan film relijiuslah yang membuat film-film
dengan latar belakang Ramadhan. Dan bulan Ramadhan tidak sekadar tempelan saja,
tapi merupakan bagian integral dari cerita, karena cerita-cerita dalam
film-film itu akan hilang konteksnya kalau settingnya
diubah menjadi bulan lain.
Memang ada film yang secara
selintasan ada nuansa Ramadhan atau malam lebaran (yang adalah hari terakhir Ramadhan) yang
kental dengan suasana takbiran. Misalnya di film Cinta
Suci Zahrana (Chairul Umam, 2012), Rembulan
dan Matahari (Slamet Djarot, 1979), dan Boleh
Rujuk, Asal… (Maman firmansjah, 1986). Tapi adegannya hanya kurang dari 25
persen dari keseluruhan film dan bukan merupakan jiwa dari cerita. Ada dua film yang kisahnya terjadi menjelang Idul
Fitri, alias di bulan puasa, tapi belum saya tonton karena aksesnya susah didapat. Film itu berjudul Dosa Tak berampun (Usmar Ismail, 1951) dan Sangkar
Emas (Fred Young, 1952).
Tapi, film yang benar-benar dengan setting bulan Puasa, dan menunjukkan
dinamika ritual ibadah Ramadhan (sahur, puasa, tarawih, buka bersama) dan
menjadikan Ramadhan sebagai jiwa dari
film ini, hanya sedikit. Saya hanya menemukan 4 film panjang, dan 1 film pendek
dalam proyek omnibus. Dan lebih dari separuhnya adalah film anak-anak. Berikut film-film tersebut.
Mudik
(Muchyar Syamas, 2011)
Suka atau tidak suka, film yang
diproduseri Raam Punjabi ini cukup melukiskan suasana bulan suci Ramadhan. Lepas dari kuatnya aroma
sinetron—baik dari segi cerita yang cenderung banal dan berlebihan dan banyak kebetulannya, pengadeganan yang apa adanya, para karakter yang kurang berkembang dan hitam
putih, dan sinematografi pas-pasan—tapi inilah film yang jiwanya adalah
semangat mudik, salah satu elemen yang menempel kuat di benak banyak Muslim. Di sini, kita bisa melihat detil-detil
suasana khas, misalnya fenomena warteg yang ditutupi tabir hingga calo di
terminal bis, hiruk pikuk kendaraan yang hendak pulang kampung, kurma Arab yang
dibeli di Tanahabang, dan Jakarta yang
sepi saat Idul Fitri. Tentu, jangan berharap ini film dengan pendekatan syiar
dakwah seperti film religi, tapi lebih kepada mengeksplorasi dan mengolok-olok
keseharian karakter-karakternya—yang mungkin juga dialami banyak penonton.
Film berfokus pada Gunadi, anak desa
yang mengadu nasib di Jakarta tapi masih saja menganggur di tahun ketiganya.
Lestari, calon istrinya, menunggu untuk dinikahi. Tapi jangankan dana nikah, ongkos mudik saja
dia tidak punya. Hingga ia menjadi supir pribadi seorang konglomerat. Sementara itu, Kuncoro, bapak kosnya, juga pusing memilih mudik antara Bukit Tinggi
(tempat mertuanya) atau ke desanya di Jawa Tengah. Suami dari Yustina itu digambarkan mata duitan dan selalu
menggencet anak kosnya, kecuali satu orang yang tukang pengadu. Ada juga Iskandar, pejabat di Kementerian Sarana Publik yang
sudah tiga tahun tak pulang ke desanya di Wonosalam, Jogjakarta.
Singkat cerita, Gunadi ditolong oleh rekan kosnya
mendapatkan kerja sebagai supir pribadi Iskandar. Sebelumnya, ia narik taksi dan hampir menabrak Wulan, yang
baru saja selesai kawin kontraknya dengan pria asal Arab. Wulan pun berasa berhutang budi, tapi dengan
cara yang ekstrem. Dia “menculik” Gunadi dan memakai kendaraan milik sang
majikan, untuk pelesir. Walhasil, Gunadi
dipecat Iskandar, dan hanya dikasih pesangon seperlunya. Lebaran sudah di depan
mata, dan ia belum punya uang untuk mudik, apalagi buat nikah. Bagaimana Gunadi
menyelesaikan problematika ini?
Seputih Cinta Melati (Ari Sihasale, 2014)
Inilah film yang nafasnya adalah bulan Ramadhan. Dari
ritual ibadah keseharian hingga pesan moral untuk maaf memaafkan, tersaji di
sini. Atmosfir bulan suci puasa, seperti pembacaan ayat suci Al-Quran, buka
puasa, dan sahur keliling lengkap dengan berbagai kentongannya. Dari awal, pasutri Ari Sihasale
dan Nia Zulkarnaen, memang merencanakan film ini untuk liburan lebaran yang
bertemal lebaran dan Ramadhan.
Film berfokus pada si cilik Melati dan abangnya, Rian.
Mereka bertemu Ivan dan Erik, dua narapidana yang buron dari penjara, yang
menolong mereka saat kaki Melati terjepit. Mereka pun makin dekat, dan kedua
bocah itu tak tahu identitas teman barunya itu.
Rian mengajari Erik cara memancing, dan Melati mengajarkan Ivan untuk
menghafal al Quran. Masalahnya, Erik ingin kabur dari sana, tapi Ivan sudah
terlanjur akrab dengan Melati. Sampai akhirnya penduduk sana tahu siapa mereka
sebenarnya.
Rindu Kami
PadaMu (Garin Nugroho, 2004).
Satu lagi film keluarga dengan anak-anak sebagai tokoh
utamanya. Inilah film Garin yang paling komunikatif. Kisahnya terjadi di bulan
Ramadhan di sebuah pasar tradisional di pinggiran Jakarta yang kumuh. Banyak
karakter di dalam film ini, saling terkait dan diikat oleh rasa kebersamaan
sebuah perkampungan yang masih menghidupkan semangat gotong royong. Ada Pak Haji Arif yang masjidnya tak berkubah
karena kurang dana. Ada seorang suami yang bertobat dengan menjadi penjaga
masjid. Istrinya kabur karena tak tahan dipukuli, dan sejak itu anaknya selalu
menggelar sajadah kosong, berharap ibunya akan datang. Ada bocah yang hidup
dengan abangnya penjual telur asin dan mencari sosok ibu dalam seorang
karyawati bernama Cantik. Ada Rindu yang tuna rungu dan terpisah dari
abangnya karena bencana alam, dan
diangkat anak oleh penjaga warung. Semuanya bermuara pada pencarian sosok ibu
dan nilai-nilai keibuan, dan semuanya terjadi di bulan Ramadhan.
Menjelang Lebaran, banyak penduduk sekitar bersiap
untuk pulang kampung, dan menitipkan banyak hal—dari kunci rumah hingga ayam
jago—kepada orang-orang yang tidak mudik, seperti ke merbot masjid dan ibu
penjaga warung. Dan, karena salah satu lokasi utamanya adalah masjid yang tak
berkubah, banyak adegan dilakukan di sini, termasuk shalat wajib dan tarawih
berjamaah. Dan, tentu, lagu Rindu Kami
Padamu dari Bimbo memperkuat semangat religi yang menyayat hati.
Untuk
Rena (Riri Riza 2005)
Bulan Puasa,
rumah panti asuhan, dan kisah tentang tragedy Aceh Tsunami. Ketiganya saling
berkaitan dalam film produksi Miles Films ini. Berkisah tentang Rena dan “adik-adik”nya di
Rumah Matahari, sebuah panti asuhan di luar kota Jakarta. Mereka sangat kompak.
Rena sangat protektif dan berupaya mencegah para tetamu mengadopsi adik-adiknya
yang lucu, dengan cara membuat berbagai ulah yang nakal. Suatu hari, datanglah
tamu misterius, Yudha, ke sana dan menginap setiap akhir pekan. Awalnya, Rena dan kawan-kawan agak curiga dan
menjaga jarak seraya bertanya: “Apa maunya Om Yudha rutin ke tempat kami?”.
Tapi, lama-lama cair juga mereka. Karena Yudha orang yang ramah dan ringan
tangan, termasuk memperbaiki saluran air yang tersendat. Tapi pertanyaannya
masih terngiang: Apa motif utama Yudha datang ke sana?
Film ini
juga mengajarkan agar kita tidak melihat seseorang dari tampilan fisik saja,
tetapi juga kepribadiannya, dan agar tidak berburuk sangka kepada orang lain.
3ll4
(Wisnu Surya Pratama, 2010)
Ini adalah film berdurasi kurang dari
8 menit yang ada dalam kumpulan film pendek Belkibolang.
Film yang disutradarai oleh Wisnu Surya Pratama ini
berkisah tentang sahur di hari terakhir
Ramadhan. Dini hari itu, Ella, seorang pelacur asal Surabaya,
ngobrol dengan Pak Gendut, penjual bebek
bakar asal Madura dengan Bahasa daerah masing-masing. Di sini, profesi pelacur tidak dilihat hitam
putih atau sesuatu yang hina dina, tapi sebagai sosok manusiawi. Ella punya
tanggung jawab di kampungnya. Dia hari itu hendak mudik, dengan membawa
oleh-oleh berupa uang yang banyak untuk keluarganya, dan kaca mata untuk
ayahnya tercinta. Keluarganya tidak tahu profesi Ella, kecuali hanya info
banyak ia bekerja di Jakarta dan lebaran pulang membawa rezeki. Seolah-oleh
Ella punya dua identitas yang saling bertolak belakang. Sebagai pekerja seks
komersial, ia genit dan merayu. Tapi sebagai anggota keluarga, ia mengubah cara
bicara (seperti saat berbicara dengan ibunya di telepon) dan busananya.
Citranya juga berbalik ketika bersiap pulang kampung: Ella sebagai seseorang
yang bekerja di Jakarta dan punya tanggung jawab menafkahi keluarga, ini adalah
salah satu representasi salah seorang warga Jakarta. Dan semuanya terjadi di
satu malam menjelang subuh, di bulan Ramadhan. Sebuah kritik konsumerisme,
komersialisme, dan materialisme sudah merajalela, bahkan tak mampu dibentengi
oleh Ramadhan?
Dimuat di Majalah ESQ Life, Juni 2015.
http://www.esqlife.com/article/ramadhan-dan-kehidupan/
Subscribe to:
Posts (Atom)