Monday, 14 November 2016

Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian

Resensi saya seputar buku terbaru Harry Potter, di Pabrikultur:

Semesta Harry Potter, 19 Tahun Kemudian
Harry Potter and the Cursed Child (Parts One and Two)
Penulis: Jack Thorne (berdasarkan cerita asli dari JK Rownling, John Tiffany dan Jack Thorne).
Edisi: Special Rehearsal Edition Script
Tebal: 343 halaman, hard cover
Penerbit:  Little Brown, London
Tahun: Juli 2016


Masih ingat dengan adegan terakhir di film terakhir Harry Potter  (The Deathly Hallows Part 2) lima  tahun lalu? 
Pasutri Harry dan Ginny mengantarkan anaknya, Albus,  ke peron 9 ¾ di stasiun King’s Cross, London. Orang-orang berlalu lalang dengan peralatan sekolah, hewan peliharaan dalam sangkar, sapu terbang, dan kostum Quidditch. Albus takut kalau dirinya dimasukkan Topi Penyeleksi  ke asrama Slytherin. Harry menghiburnya dengan pernyataan: “Albus Severus Potter. Namamu diambil dari dua kepala sekolah Hogwarts ternama. Salah satunya berasal dari Slytherin, dan dia adalah orang paling berani yang pernah ayah kenal”. Dan di dalam kereta api Hogwarts Express itu, dia duduk berhadapan dengan Rose "Rosie" Granger-Weasley, sepupunya. Bagaimana kelanjutannya?
Harry Potter and the Cursed Child adalah jawabannya. Dan, rupanya, sungguh tak mudah menjadi anak seorang penyihir terkenal sejagad.  Albus, tak seperti James abangnya,   tidak punya talenta ilmu sihir seperti ayahnya, dan berkawan dengan anak paling tidak tidak disukai karena reputasi orang tuanya, Scorpius  Malfoy, yang saat di kereta api duduk di sebelahnya. Belum lagi ada gosip yang bilang kawan akrabnya itu adalah anak haram You Know Who. Dan dia masuk Slytherin, pula!
Albus merasa ada semacam tekanan sosial yang seolah mewajibkannya sekeren dan “sesempurna” sang ayah, dan karenanya ia menjadi sangat kritis, akhirnya,  menyebalkan di mata bapaknya.   Harry Potter--kini  37 tahun dan ayah dari James, Albus dan Lily -- tak kepalang bingungnya menghadapi anak keduanya ini. Anaknya ini begitu memberontak dan selalu melawan sang ayah. Selamat datang di dunia Harry Potter, 19 tahun setelah Lord Voldemort dikalahkan.
Fokus cerita adalah seputar pencarian mesin waktu bernama Time Turner. Amos Diggory yang sudah renta, memohon pada Harry ,  yang bekerja di  Kementerian Sihir, untuk mengembalikan nyawa Cedric  anaknya lewat Time Turner, sebuah benda yang belum jelas keberadaannya dan, harusnya,  secara resmi semuanya sudah dihancurkan oleh Kementerian Sihir (ada yang bisa tebak, siapa Menterinya?). Maka, Albus, Scorpius dan Delphini Diggory, keponakan Amos yang sudah menjadi wanita muda, pun bertualang  mencarinya.
Sekali lagi, kita disuguhi dengan alam reka-percaya Harry Potter, lengkap dengan mantra sihir seperti alohomora dan  Lumos. Tak hanya itu, mengingat inti dari cerita ini adalah pencarian  mesin waktu, maka penggemar HP pun diajak kembali memasuki ke peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Harry Potter, yang sebaiknya  tak terlalu diungkap dalam tulisan ini demi menjaga keasyikan membaca. Karena ini persoalan mencari Cedric, Turnamen Triwizard adalah salah satunya (masih ingat Dumstrang Institute dan Beauxbatons Academy of Magic?). Nostalgia pembaca (dan penonton)  adalah target utama pemasaran buku ini, yang kebetulan diterbitkan nyaris serentak dengan pentas teaternya di West End (London) pada ulang tahun Harry (31 July).  Kita akan melihat perkembangan karakter Harry, Hermione, Ron, Ginny dewasa.
Sementara, generasi kedua mereka  “menikmati” (sebenarnya “menikmati” bukanlah kata yang tepat untuk menjelaskannya) masa-masa saat Snape dan Voldemort, juga Dumbledore dalam bentuk lukisan bergerak,  masih hidup, dengan cerita dan plot alternatif “bagaimana kalau”. Salah satunya, bagaimana gelapnya kediktatoran Voldemort saat di dunia dimana ia berkuasanya, dan bagaimana perlawanan bawah tanah menghadapinya. Yang terakhir ini, bagi sebagian orang, barangkali bisa dijadikan tamsil dan  juga prediksi paska kemenangan Donald Trump  (yang oleh banyak orang acap diasosiasikan mirip-mirip dengan “The Dark Lord”).  
Buku    ini   berbeda dengan karya JK Rowiling sebelumnya. Formatnya berbentuk skenario, karena memang skenario asli dari pentas Harry Potter and the Cursed Child Part One and Two. Mungkin, bagi sebagian pembaca, pada mulanya tidak terlalu mengasyikkan membaca kisah-kisah ini dalam format skrip. Namun, lama kelamaan juga akan terbiasa, dan akan membayangkan adegan-adegan di dalam buku sesuai fantasi masing-masing.  Dan jika sudah asyik masyuk, kita akan bisa membacanya dalam hitungan hari bahkan jam. Dan, semakin sedikit kita mengetahui cerita dan plot buku ini, semakin baik, karena ada banyak kejutan di dalamnya.
Pada awalnya, sebagian pembaca juga akan kebingungan menghapal karakter-karakter baru, karena sebagian dinamai dengan nama-nama karakter lama. Misalnya Albus Severus Potter yang berasal dari nama Dumbledore dan Snape. Atau James Sirius Potter, sang abang, yang diambil dari nama kakek dan kakek permandiannya.
Hal lain yang patut dicatat adalah pasar buku ini yang sempit dan menargetkan pembaca yang sudah menguasai pengetahuan trivia dari semesta Harry Potter, misalnya Hogsmead, Forbidden Forest,  atau Privet Drive di dunia muggle. Bagi yang bukan penggemar setia buku atau filmnya, perlu beradaptasi dengan kejadian, istilah, nama-nama karakter, dan konteks cerita  yang pernah muncul dalam 7 buku sebelumnya.
2016 merupakan tahun kembalinya Harry Potter. Studio Harry Potter di daerah kini dilengkapi dengan kereta api Hogwarts Express dan bisa makan malam di aulanya dengan membayar harga yang cukup mahal.  Pentasnya laris manis dan tiketnya laku ribuan lembar dan sulit didapat.  Dan menimbulkan debat karena Hermione berkulit hitam.   Dan November  ini beredar pula  film Fantastic Beasts and How to Find Them, yang mengambil setting 1926 alias 70 tahun sebelum serial Harry Potter dimulai.
Cursed Child, janji JK Rowling, adalah kisah terakhir dunia Harry Potter, walau film Fantastic Beast disinyalir akan dirilis dalam beberapa serial film.
Jadi, siapa dan bagaimanakah si Anak Terkutuk? Silahkan baca sendiri buku ini.  Selamat datang di semesta Harry Potter, 19 tahun kemudian.

Thursday, 27 October 2016

Blessed Are The Strangers – the story of a convert Muslim community

Blessed Are The Strangers – the story of a convert Muslim community: Nafees Mahmud is a 5Pillars & RT UK journalist. You can follow him on Twitter @NxMahmud   Blessed Are The Strangers is a new documentary which tells the inspiring story about a group of Muslim converts in Norwich. Nafees Mahmud says it reveals some uncomfortable truths about the state […]



<-- About community of Ihsan Mosque, Norwich, UK

Friday, 2 September 2016

What Happened in Amsterdam (apparently did not) Stay in Amsterdam

About 9 years ago, early August 2007, I flew to Amsterdam to start my Master study at Universiteit van Amsterdam, until the end of August 2008.
I met great  people there, including Indonesia's Koestraat gang and Meer en Vaart house-mates.
Of course perfection was not our main aim. We just wanted to have fun and keep sane (while having salient problems of chapters and other issues. So, please mind our imperfection.

These are some videos showing what happened in Amsterdam in my Holland years:
1. Crea session:  Clock- Coldplay




2. Crea Session 2:  Wonderful tonight



3. Osdorp session: Nothing Else Matter


4.  Crea session: November Rain


5.  Osdorp sesion: Redemption Song


6. Osdorp session: Donna Donna
7.  Ordorp session: Suci dalam Debu:


8.  Meer en Vaart: Oh Darling



9. Crea: Trouble - Coldplay



10. Osdorp: One




And, in addition, i also pursued my other dream, to make a documentary on  
Andy Tielman, the frontman of The Tielman Brothers.
Deleted Scene:
Pasar Malam Besar 2008, Den Haag




1. The Tielmans Part 1



2. The Tielmans Part 2





After returning to Jakarta, i got at least 2 unfinished songs in my mind.
1. Amsterdam Blues


2. Bidadari Cinta:


Wednesday, 10 August 2016

Jika Bertikai dengan Landlord Soal Pengembalian Deposit Rumah

Pindahan rumah di Inggris tidak selamanya mulus. Ada kalanya landlord (bapak kos) atau landlady (ibu kos). Kadang, mereka minta deposit kita dipotong dengan jumlah yang fantastis. Kadang ada saja kesalahan yang mereka lihat, dan dikaitkan dengan kontrak awal kita.
Saya pernah mengalami hal seperti ini. Untuk mencegah hal ini terjadi lagi, atau jika sedang mengalami masalah ini, berikut kiat dari saya:

1.       Baca hak dan kewajiban kita baik-baik di kontrak sewaktu pertama kali pindah ke rumah itu, dan sesaat sebelum pindahan.
2.       Jika di hari kita pindah, landlord minta anu itu, jangan langsung diputuskan setuju. Karena kita punya hak untuk menunda kesepakatan deposit mau dipotong berapa.
3.       Jika ada yang dituduhkan (misalnya, kasurnya  ada noda, dan minta ganti), kita ikut cek, kalau perlu difoto. Kalau perlu, ada saksi. Tapi agak susah memang kalau hari itu kita benar-benar pindah dan mengosongkan rumah, karena kita sudah pusing dengan berbagai urusan printilan pindahan.
4.       Berbagai tagihan yang diklaim mereka, kita minta bukti tanda terimanya. Berbagai elemen yang mereka bebankan ke kita, kita cek lagi apakah memang benar-benar ada di dalam kontrak.
5.       Di Inggris, setiap  ngontrak rumah, kita diminta memberikan deposit di muka, dengan harga bervariasi (mulai dari sekian puluh persen dari harga hingga 2 bulan kontrak). Biasanya deposit ditaruh di sebuah perusahaan. Kalua ada pertikaian, ada skemanya untuk memberitahukan  kepada mereka bahka kita sedang bermasalah, agar deposit tidak segera ditransfer ke landlord. Tapi ini ada batas waktunya, misalnya hingga 3 bulan setelah mengosongkan rumah.
Misalnya, saya waktu itu pakai MyDeposits: kalua insurance based, ini panduannya: https://www.mydeposits.co.uk/tenants/raise-a-dispute/
6.       Ada baiknya menghubungi citizens advice center di kota masing-masing untuk memikirkan langkah selanjutnya dalam berdiskusi dengan landlord. Mereka lebih tahu untuk konteks Indonesia dari kita. Print semua bentuk komunikasi kita dengan landlord selama ini sebagai bukti. Di Bristol ada Citizens Advice Bristol: https://www.bristolcab.org.uk/
7.       Kita juga bias search berbagai nasihat secara online di Citizens Advice itu: https://www.citizensadvice.org.uk/resources-and-tools/search-navigation-tools/Search/
8.       Jika landlord tidak menjawab email kita selama beberapa lama, tanya ke advice center, dan bikin surat yang diposkan. Ini namanya Letter Before Action.  Dan landlord wajib menjawabnya. Berikut panduan membuat suratnya, termasuk apa saja yang harus ditulis di sana.  https://www.citizensadvice.org.uk/consumer/going-to-court/going-to-court/taking-court-action/step-one-write-a-letter-before-action/
9.       Kalau landlord sudah menurunkan tuntutan, jangan tetap ngotot agar tuntutan kita dipenuhi sepenuhnya. Kita tanya advisor dulu. Karena, boleh jadi harga yang ditawarkan itu masuk akal dan hal yang lazim.

10.   Kalau Cuma beda 40-50 pounds antara tuntutan mereka dan harapan kita, kita kasih saja. Karena kalau ke pengadilan ongkosnya jauh lebih mahal.
11, City Council juga punya layanan dan info soal tenancy. misalnya di sini: https://www.bristol.gov.uk/housing/tenant-participation-resources-for-tenants


Beberapa link bermanfaat lainnya: http://www.landlordlawblog.co.uk/2014/08/06/if-you-want-free-tenant-legal-advice-here-are-15-places-you-can-get-help/

Semoga kita terhindar (lagi) dari hal sedemikian. Karena hal ini benar-benar menguras energi, pikiran dan waktu.



Wednesday, 3 August 2016

Meet the Tielmans : (Kisah Pertemuanku dengan Andy Tielman dan Keluarga,8 Tahun Lalu)

Meet the Tielmans

3 August 2008 at 16:35

Catatan: Kenangan 8 tahun lalu saat bertemu dengan Andy Tielman sekeluarga.


Gadis berusia 12 tahun itu memeluk ibunya. Sang ibu membelai-belai rambut anaknya, di belakang panggung Pasar Malam Steenweijk , Belanda. Tiba-tiba Loraine Jane, nama gadis imut itu, menoleh ke arahku, dan menitikkan air mata. Aku yang sedang merekam kejadian itu terkejut, dan langsung mematikan handycam sederhanaku. “Apa yang tengah terjadi?” tanyaku dalam hati. Dalam hitungan detik, sang ibu menghampiriku (dan membuatku makin bertanya-tanya, “apakah ini salahku?”. Carmen, sang ibu, menjelaskan situasi itu:”Tahukah kenapa Loraine menangis? Dia melihatmu dan ingat akan orang-orang di Jakarta yang amat baik kepadanya selama 10 hari kami di sana”. Mereka sekeluarga memang baru tiba dari Jakarta untuk konser di Jakarta Rock Parade. Aku mengangguk-angguk, awalnya, dan berkata, “so sweet…”. Carmen menegaskan lagi:”Don’t you get it? Itu karena KAMU mengingatkannya pada mereka”. Ah, aku jadi makin terharu mendengarnya.

Demikianlah keluarga inti Andy Tielman. Andy, Carmen, Loraine Jane, sangat ramah kepada saya. Saat itu saya ke sana dalam rangka mengambil gambar untuk film dokumenter mengenai Pak Andy, juga membahas beberapa kesepakatan mengenai itu. Saat mengetahui bahwa saya menempuh jarak lebih dari 2 jam untuk ke festival sederhana itu, Carmen berujar: “Wah, sayang sekali, kita pulang ke arah yang berbeda. Dusseldorf yang berjarak 2 jam dari sini. Kalau satu arah, kamu bisa menumpang kami”. Dia juga memberikan DVD live Pak Andy di Scheveningen tahun 2004 dan CD terbarunya bersama Tjendol Sunrise, 21st Century Rock (yang sudah saya incar sejak Pasar Malam Besar akhir Mei lalu tapi saya tak kuasa membeli karena terlalu miskin). Ia juga memberikan koin konsumsi kepada saya untuk makan malam. "Setidaknya, ini yang bisa kami lakukan, jelasnya".

Pak Andy sendiri tak jauh berbeda. Dengan ramah, ia berbicara kepada saya dan kepada siapa pun. Tak terlihat jarak antara dia dengan penggemarnya yang selalu memintanya berfoto, tanda tangan, atau sekadar menyapa. Sejak ia menelpon saya dua hari sebelumnya, dan hingga saat bertemu sore itu, dia selalu berbicara betapa orang-orang di Indonesia bersifat ramah dan baik kepadanya dan keluarganya. Padahal ia Cuma 10 hari di Jakarta dalam rangka Jakarta Rock Parade. “Band-band muda di Indonesia bagus-bagus!”, katanya. Ia juga membanggakan bermain bersama Awan (Sore), Emil (Naif), dan David Tarigan, sambil memperlihatkan foto dan tulisan soal itu di berbagai media, di antaranya Kompas dan Rolling Stone Indonesia. Salah satu tajuknya:” Andy TIelman Meraja”. “Saya benar-benar tidak menyangka ditonton delapan ratus orang, dan semuanya anak muda!” ungkapnya. “Usia saya sudah tinggi, tetapi saya masih begitu dihargai!”. “Tentu saja, karena Pak Andy kan legenda hidup,” jelas saya. Ia pun menyatakan senang bertemu dengan musisi muda, juga wartawan-wartawan musiknya. “Tolong kalau ada tulisan-tulisan tentang saya di Media di Indonesia, minta kirim ke saya, ya?” katanya.

Pak Andy pun menjelaskan bahwa, dengan band yang sama, ia akan kembali menggelar tur di beberapa kota Indonesia. “Kamu kerjasama saja dengan mereka. Coba kontak mereka untuk kepentingan film dokumentermu. Siapa tahu ada jalan untuk mencari sponsor,” sarannya. Memang, walau masih belum terbayang soal pendanaan, tapi saya nekad terus merekam sepak terjang penerima Orde of Nassau dari Ratu Beatrix atas jasanya mengembangkan musik pop di Belanda itu. Dan Pak Andy begitu perhatian soal ini. “Sayang kalau cuma menjadi film kecil,” katanya.

Pak Andy sekeluarga benar-benar terkesan dengan publik Jakarta. Bahkan kota Jakarta yang sumuk dan macet itu begitu dinikmatinya. “Belanda sekarang panas. Kalau di Jakarta kan dimana-mana ada pendingin,” ujarnya. “Kita jalan-jalan ke Senayan City, Blok M Plaza, menyenangkan. Dan makanannya, semua serba murah,” kata Carmen.

Atas dasar itulah (silahkan disimak baik-baik) dia menyatakan berminat untuk tinggal di Indonesia minimal setahun, kalau perlu lima tahun. “Saya akan berbicara dengan Pak Dubes. Pak Agum Gumelar, ayah Zeke, sudah membantu menghubungkannya”, ujarnya. “Iya, Pak, Loraine sekolah di SD-nya Obama…” seloroh saya, sambil menyeruput soto Madura yang rasanya mirip soto Betawi. Apalagi waktu saya bilang soal proyek solidaritas musik yang diposting Adib Hidayat di Multiply dan Facebook. “Saya seharusnya berada di Jakarta,” tegasnya. “Kalau pak dubes bersedia, dibantu oleh tulisan dari media, dan juga permintaan anak-anak muda, mungkin harapan saya ini akan tercapai,” katanya. “Langsung saja todong ke pak Dubes waktu manggung 17 Agustus di KBRI, pak!” kata saya, memberi saran. Bagi saya, pernyataan penting ini harus saya kabarkan di sini. Mungkinkah ada jalan?

Pak Andy juga ingin bertemu dengan Ahmad Albar, musisi Indonesia yang 8 tahun berkarir di Belanda. “Dia sudah keluar dari penjara, kan? Sedang apa dia sekarang?” tanyanya.

Pukul 23 lewat. Saya harus mengejar kereta terakhir ke Amsterdam. semua urusan sudah dibicarakan. Saat terakhir saya merekamnya, Pak Andy masih saja berucap:”Jangan lupa kirim salam buat teman-teman, ya?”.

**

Ternyata perjalanan saya ke dan dari Steinweijk ini begitu penuh aral. Awalnya, dari Amsterdam seharusnya saya overstappen di Amersfoort , dan pindah kereta langsung ke Steinweejk arah Leeuwarden. Namun, dari Amersfoort saya harus ke Zwolle baru kemudian ke tujuan akhir. Tapi tak apa. Begitu tiba di kota kecil itu, hati saya terobati. Kota yang sederhana, dan rumah-rumahnya bernuansa art-deco—dan di kota metropolitan macam Amsterdam, susah sekali menemukan bentuk rumah, biasanya penduduk tinggal di flat-flat bersahaja; atau sekalian gedung megah dan tinggi—dan asri. Ketemu dengan keluarga Tielmans juga sebuah kebahagiaan spiritual sendiri, apalagi dengan hasil-hasil yang memuaskan. Ditambah bonus, saya ketemu (dan minta tandatangan di CD-nya, tentu saja) dengan Riem de Wolff dari Blue Diamonds.
Masalah terbesar adalah sewaktu pulang. Di kota kecil macam Steinweijk, kereta api tidak berjalan 24 jam. Saya ketinggalan kereta menuju Amersfoort, dan satu-satunya yang ada hanyalah ke Zwolle. Maka, saya pun naik. Sialnya, di Zwolle, sudah tidak ada kereta sama sekali. Waktu menunjukkan pukul 12.30 saat saya tiba di Zwolle, dan kereta berikutnya beranjak pada 05.15. Saya pun mencari hotel terdekat, untuk sekadar numpang tidur. Namun, apadaya, setelah 15 menit berjalan di kegelapan malam dan sepinya jalan, petugas hotel menolak saya hanya dari sebuah loadspeaker dan hanya beberapa kata.”Ada yang bisa saya bantu? Sudah penuh! Sudah tutup!”. Walhasil, saya pun menginap di stasiun kereta. Untunglah tiap jam ada petugas stasiun berseragam kuning yang lalu lalang, dan ada seorang pengendara sepeda dengan banyak perabotan yang juga menginap di samping saya. Ya sudah, saya nikmati saja, sambil melahap buku Deep Time of the Media: Toward an Archaeology of Hearing and Seeing by Technical Means dari Siegfried Zielinski—sebuah buku seputar Arkeologi Media dan Variantologi yang luar biasa mencerahkan.

Begitulah. Pukul 05.15 saya masuk kereta pertama, dan tiba di Amsterdam Centraal pukul 07.00. sebuah pengalaman yang berharga dan begitu mahal (mengingat tiket pulang saya hangus dan harus beli lagi). Tapi semuanya tertebus!