Friday, 21 August 2020

Jimi Jazz: Masa Lalu adalah Pemicu Adrenalin yang Berisik, Mentah, dan Bergelinjang!

Begitu saya menemukan album “Kebisingan Pancaroba Yang Merongrong” dari Jimi Jazz, band rekayasa Jimi Multazam (The Upstairs, Morfem), saya terkesiap dan seolah mencelat dan terpelanting ke masa lalu, tepatnya di pertengahan  dan akhir 1980an serta awal 1990an. Ketika saya SMP beranjak ke SMA, masa-masa mencari identitas, pembentukan selera,  dan tak sepenuhnya paham konteks tentang apa yang terjadi di dunia ini, tapi begitu menggairahkan dan menggembirakan penuh kebermainan.

Sampul album

Tahun-tahun itu, saya berkenalan dengan Crossover Trash Metal (setelah sebelumnya kesengsem dengan Thrash Metal dan lalu menemukan  Hardcore Punk). Tahun-tahun itu, selain band arusutama dari Heavy Metal, Thrash Metal, Speed Metal, Dead Metal, saya pun mengarungi dunia dengan pengalaman dan nuansa kebisingan yang agak berbeda. Tapi, waktu itu, saya tidak tahu kalau itu crossover. Tahunya, ya kalau tidak metal, ya punk.

Pengalaman pertama, saya ingat betul, di halte bis pertigaan Cikini-Raden Saleh tak jauh dari SMP 1, seorang kawan menyanyikan lagu Modern World dari DRI (Dirty Rotten Imbeciles) :

 Rapid transit, star wars

Traffic jam, no-wax floors

Tv dinner, nuclear reactor
Cordless phone, max factor
Modern world, modern world

 

Tak perlu waktu lama untuk mengeksplorasi band ini dan band serupa di genre ini.  Ciri khasnya: begitu bising, mentah, memuntahkan amarah dan protes, memicu adrenalin, dan durasinya kebanyakan pendek-pendek. Liriknya “padat karya” dan “tepat guna”, tak jarang politis dan kritis. Dan, mendengarkan band-band ini, membuat saya berbeda dan punya identitas dan eksklusivitas tersendiri, karena tak semua kawan tahu dan paham dengan genre yang (bagi saya kala itu) non-mainstream ini. Dan ini mengasyikkan.

Di antaranya, MOD (Methods of Destruction), SOD  (Stormtroopers of Death), dan….tentu saja Suicidial Tendencies (ST) (cinta pada pendengaran pertama, saat mendengarkan lagu I Saw Your Mommy dan I Shot Reagan, yang aromanya di awal-awal mirip dengan Torehkan Sendiri di Dada). Nama saya pun, di awal 1990an, sempat berubah menjadi Ekky Muir, mengikuti nama keluarga frontman ST.

Tentu saja, peran Metallica, yang mendaurulang lagu-lagu Misfits (Die Die Darling, Last Casess/Green Hell) serta memakai kaos tengkoraknya, membuat saya turut mengulik band-nya Glenn Danzig ini (sebut saja, I Turned Into a Martian dan Skull).

Jimi Jazz membuat saya terkenang dengan masa-masa “keemasan” itu.. Secara musikalitas (durasi pendek, tak jarang tiga jurus chord gitar, ngebut atau kombinasi ritme ngebut dan pelan) dan secara konteks penceritaan (lirik yang lugas, padat, kadang politis dan/atau penuh gelora), tentu tak bisa dipungkiri. 

Dalam sebuah video, Jimi menyatakan terus terang tentang proses kreatifnya, dan menyebut genre-nya secara jelas. “Trash Metal campur Punk Rock”, katanya. 


Bahkan, mereka latihan di studio membawakan lagu  Mommy Can I Go Out and Kill Tonight (Misfits) dan Subliminal (ST), yang polanya mirip dengan Laksanakan!)




Sejak era pensi awal 2000an, saya sudah menduga, suatu saat Jimi, yang memajang kaos Four of A Kind (DRI) dalam salah satu postingan Instagramnya, tentu akan rindu dan Kembali menjadi “anak metal”. Dan kejadian!

Tapi Jimi Jazz (saya menduga nama ini diambil dari salah satu lagu The Clash) tak berhenti sampai di situ. Tentu kita terpental kembali ke Orde Baru 1980an dan awal 1990an, Ketika punk dan metal merajalela. Tapi lebih dari itu, bahkan lirik lagunya pun sangat “Orde Baru”. Jimi dkk mengangkat isu-isu politik dan tonggak-tonggak bersejarah terkait budaya pop era itu.

Ada Petrus Semalam jelas kritik terhadap mereka terhadap fenomena Petrus (penembak misterius) yang membunuhi para preman.

Perjalananku sedikit terhambat Oleh kerumunan pada tanah lapang Tubuh tergeletak menjadi tontonan Lubang peluru dibelakang kepalanya Ada petrus semalam

 

Berikutnya: Lebak Bulus 1993 tentu membahas konser Metallica (yang saya juga menjadi bagian darinya) lengkap dengan hiruk pikuk yang juga direkam di film dokumenter Global Metal. Tak lupa, sentuhan personal pun dia torehkan dalam tulisan.

 

Gempar semua kawan sebaya

Metallica datang ke Ibu Kota

Lepas seragam menengah atas

Sebagai buruh palak nyokap tak tega

menabung dan mencari uang untuk mendapatkan tiket tertuang di lirik itu.  

Tak berhenti sampai di situ, konser itu juga menjadi saksi tentang militerisme yang, entah mengapa, masih memakai pendekatan keamaan (bahkan isu komunisme) bagi anak ABG yang mau menonton band yang lahir dari rahim kapitalisme.

 

Lebak Bulus bagai neraka

Jalan jongkok masuk dalam arena

Tentara dengan tongkat panjang

Menghantam setiap pemuda membangkang


Dan, tentu saja soal kerusuhan dan kebakarannya.

Tak lupa, Jimi Jazz menghormati para pionir dan senior, yang turut menempa identitas dan seleranya, dalam Gordanmosh.

Kami datang untuk Parau

Kami datang untuk Toilet

Kami datang Sucker Head

kami datang jelas untuk Roxx

 

Saya tak sempat mengalami kejayaan Pidpub dan PJ-PJ. Dan juga bukan anak Poster. Atau pun BB’s. tapi saya sempat menonton konser-konser band tersebut dalam berbagai kesempatan.  Dan ingatan pun menyeruak.

 

Lirik Laksanakan, karena cukup “gelap”, saya menafsirkannya dengan tawuran, sebuah “aktivitas ekskul” wajib para pelajar saat itu. Dan, berdasarkan video klip tak resmi ini, dugaan saya benar.


 

Menilik berbagai komentar di kolom Komentar, sebagian orang mengingatkan pada Hardcore punk (Black Flag, Dead Kennedys, Minor Threat) dan  Exploited, khususnya album Punk’s Not Dead (1981) dan  Bad brains (1982),   

Saya, era itu, kurang mengeksplorasi Hardcore Punk. Hanya beberapa saja. Yang paling mengena adalah   Misfits, khususnya album Walk Among Us (1982), Beware (1980), dan Earth A.D./Wolfs Blood.  Karena itu secara pribadi, Jimi Jazz mengingatkan pada lagu-lagu Crossover, yang kencang dan, jika birama melambat, biasanya berubah di tengah menjadi ngebut. Khususnya tahun-tahun awal Suicidal Tendencies (self-titled, 1983),  A.M.Q.A (misalnya album Mutant Cats from Hell, 1988), dan  DRI  khususnya album Four of A Kind, 1988), dan tentunya  S.O.D.

Jimi Jazz merilis lagu-lagunya di kanal YouTube Jimi Multazam di awal 2018, kala saya masih di Inggris dan tidak terlalu mengikuti skena musik indie Indonesia. Saya menemukannya dua tahun kemudian, kalau gabut di era pandemi. Tentu terlambat. Tapi tak mengapa. Efeknya masih bisa membuat bergelinjang menikmati musik bernuansa nostalgik.

Semoga pandemic segera berlalu, jadi saya bisa menyaksikan mereka konser langsung. Walau, tentu tubuh saya (yang tentunya berbeda stamina dengan yang 35 tahunan lalu) tak sepenuhnya setuju untuk terjun ke mosh pit.

Saturday, 25 July 2020

Nongkrong Bareng #4: Gayatri Nadya/Kolektif Film: Serba-Serbi Alternatif...

Nongkrong Bareng #4
NB: Gayatri Nadya (Kolektif Film)
Barangkali, distribusi adalah “makhluk” yang paling gelap dalam ekosistem perfilman di Indonesia. Nongkrong Bareng kali ini menampilkan Gayatri Nadya (nana) dari Kolektif Film yang berkecimpung di dunia distribusi film.
Kita ngobrol ngalor ngidul tentang bagaimana memenuhi kebutuhan penonton akan film-film di luar arusutama, termasuk film-film hasil restorasi dan film klasik lainnya. Juka terkait sirkulasi film di luar Pulau Jawa, dengan tantangannya yang berbeda-beda, khususnya di tempat-tempat yang belum ada bioskop. Yang menarik juga adalah soal peredaran film Indonesia di luar negeri, termasuk penyediaan subtitle yang juga menjadi masalah tersendiri.

Tentu saja kami membahas pengalaman Asmayani Kusrini (Bakulkultur, Belgia) bekerjasama dengan Kolektif yang melakukan penayangan rutin film Indonesia di bioskop Cinema Aventure Brussels selama setahun. Di antaranya pemutaran "Sunya", "Turah", dan "Ziarah".

Tak ketinggalan juga tentang nyaris tertundanya "Film Musik Makan 2020”, mensiasai kelambanan pengiriman film di era pandemi, dan upaya melebarkan sayap keluar komunitas dan perusahaan non-film
https://www.youtube.com/watch?v=IFZqmLxGIBA

Sunday, 19 July 2020

Selamat Jalan, Pak Sapardi

Pagi ini saya kaget membaca berita duka. Pak Sapardi Djoko Damono (SDD) telah wafat di usia 80 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga husnul khatimah. Alfatihah. Saya mengenal Pak Sapardi saat kuliah di Fakultas Sastra UI, sebagai dosen dan satrawan. Saat itu, mulailah saya berkenalan dan bahkan mencoba menulis puisi (dan mengirimkannya untuk "bakal calon" kekasih"). Dan pada 1995 hingga 1999, adalah saat beliau menjadi Dekan FSUI. Itulah saat saya produktif berkesenian dan menulis. Saat saya rajin ke berbagai acara pembacaan puisi, diskusi budaya, dan juga musik, dan diskusi keagamaan. Termasuk di PUALAM (Pentas Umum Teater Kolam) yang merupakan acara rutin FSUI. Dan puisi-puisi pak Sapardi tentu adalah salah satu yang mempengaruhi saya. Adanya musikalisasi puisi Ari-Reda yang mengangkat puisi-puisi SDD juga menambah kecintaan saya pada medium puisi, dan pada karya-karya SDD. Tentu "Aku Ingin" adalah favorit banyak orang, yang memakainya untuk gombalan ke gebetannya hingga mencetaknya di berbagai surat undangan pernikahan. Tapi judul lain tak kalah mempesonanya: Di antaranya: "Hujan Bulan Juni", "Ku Hentikan Hujan", dan "Pada Suatu Hari Nanti".
Hingga sekarang, saya masih terkagum-kagum dengan pemilihan diksi dan imajinasinya. Termasuk dalam puisi "Bunga, 1" (1975): "Bahkan bunga rumput itu pun berdusta. Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangkai dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api…." Saat saya menjadi redaktur majalah D'Maestro, pertengahan 2000an, saat menyusun pertanyaan untuk reporter saya yang ditugaskan mewawancarai SDD, saya secara spesifik menulis 1 pertanyaan seputar mengapa diksi-diksinya begitu "ajaib", termasuk pemilihan kata "geraham". Kalau tidak salah, terakhir ketemu di Dia.Lo.Gue tahun lalu. Dan baru ngeh kalau beliau produktif dalam menerbitkan buku. Saya tak sempat meminta tanda tangan atau lupa apakah pernah berfoto bersama beliau. Jadi, saya tak bisa menaruh kenang-kenangan itu di medsos. Tapi, sebagai Dekan FSUI, beliaulah yang menorehkan tanda tangan di ijasah S1 saya. Dan itu sudah cukup bagiku. Selamat jalan pak Sapardi. Pada Suatu Hari Nanti (1991) "Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri". (Musikalisasi oleh Ari Reda - Pada Suatu Hari Nanti) https://www.youtube.com/watch?v=1671IvrZsQU

Wednesday, 10 June 2020

Aku Cinta Kau dan Dia (Dewa 19 Cover)



Aku Cinta Kau dan Dia (Dewa 19 Cover)


#ReboPiano #dirumahaja #stayhome #stayathome

Wednesday, 3 June 2020

Self-Quarantine Blues

Self-Quarantine Blues

Blues Swa Karantina.
Just play and tell your angst to your piano.#ReboPiano