Wednesday, 9 March 2022

Semua akan Covid pada Waktunya (?), Februari 2022

 Semarang 10 Februari -  Jakarta 18 Februari.

Lumayan 8 hari di Rumah Sakit.


Saat Turlap ke Semarang, hendak ke Malang, 10 Februari. Saat Antigen...eh positif. LAngsung PCR, eh positif juga. PeduliLindungi otomatis menghitam.

Padahal sudah menerapkan prokes ketat, lho. Mungkin karena Omicron? Lebih cepat menular tapi kurang mematikan.

11 Februari saya disewakan mobil untuk langsung ke IGD RS Firdaus (tempat adik saya praktik).

Sebenarnya tidak terlalu berat gejalanya. Cuma gatal-gatal tenggorokan, batuk, bindeng sedikit pilek.

Tapi karena ko-morbid (stroke gejala ringan), saya sebaiknya di RS saja, biar ada yang urus. Dan diinfus untuk beberapa hari (termasuk untuk menyuntik beberapa obat dalam bentuk cairan).

Lumayan sekitar seminggu sendirian di sana.

Alhamdullah sembuh.

Perjalanan Semarang -Jakarta




Diinfus dulu, ya

Hore, pulang! 




Surat Perpisahan untuk Koestraater, Belanda, 25 Aug 2008

 

25 Aug 2008, 01:46
to sandraparumIrwangreenfrog76NurainikhairunmiladiDaraDebbydeasylindasaviranifirsyah_aAlphaHelmyindriadianbetulWentzyssn720r.m.d.rochadiatmardewi_1979elis.widenhana_apsari
   
Translate message
Turn off for: Indonesian
dear koestraaters,

tak terasa setahun sudah saya di amsterdam, dan bergaul, tertawa bersama, saling membantu, gosip2, kadang sedikit konflik, dan yang pasti stress berat bersama2 kalian semua. tidak terasa ya?

tadi, pukul 11 lewat banyak saya (dibantu orang tua) pindah2an dari meer en vaart yang saya huni sepanjang setahun kurang 4 hari. saya pindah ke rumah tante di den haag (alpha, firman, dan deasy sudah pernah singgah ke toko cendana yang makanannya enak ini--halah masih promosi). dan saya akan berbasis di den haag hingga jumat, sebelum pergi dari negeri belanda. saya akan naik MAS MH17 dari schiphol jam 12.00, dan mungkin sudah di sana sejak jam 9 (dan setelah, ehm, ngecharge, baru balik ke jakarta tgl 3). dan mengingat sedang menemani orang tua di sini, maka kecil kemungkinan saya akan main2 lagi ke amsterdam. besok saya ke amsterdam sebentar untuk submit tesis (akhirnya!) setelah sebelumnya ngambil kopian chapter2 itu ke kantor nisa (makasih ya nisa) yang adalah juga kantor jurusan film studies uva (dan setelah itu ke volendam, rencananya).

jadi, dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, saya haturkan banyak terima kasih telah membantu, menemani,mengkritik, memuji, berdiskusi, tertawa bersama, saling curhat, dll. tanpa koestraater sepertinya saya sudah lama ditinggalkan kewarasan dan kenyamanan. dengan koestraaters sekalian, saya jadi bisa merasakan amsterdam sebagai rumah. saya juga haturkan mohon maaf lahir batin sekiranya ada kesalahan sengaja dan tidak disengaja (sekalian menjelang bulan puasa).

berawal dari japri2an dengan mila dan joan (tahu dari milis ppi-a, kl g salah ya?). dari mila, yang ternyata tinggal 1 gedung, bertemulah dengan nuntje. kami merayakan pertemuan itu di osdorplein, makan di...turkiyem. sementara joan datang bbrp hari kemudian. mila dan nuntje lantas mengajak saya ke sebuah tempat bernama koestraat, katanya tempat tinggal anak2 phd yg namanya mas irwan dan mbak debby. dari sanalah saya bertemu dua tokoh kita itu. eh di sana sudah ada joan. ada juga linda yang sesama ahli hisap (bareng nuntje juga--hmmm dia lagi asoi geboy di barcelona neh). lantas ada pirman yang saat itu kita kenal dengan istilah "parmer". hmm sapa lagi ya yang dateng pas pertemuan perdana itu? nana, kali ya? (enaknya ada 3 dokter di sini, jadi aman sugestinya).

pirman lantas membawa elis, sekplin, dewi, dll. deasy datang di pertemuan kedua.  tapi baru setelah awal 2008 gw dan deasy jadi lebih akrab (mengingat doi winter breaknya keliling eropa, ;P, dan gw juga sibuk "bulan madu"--halah). lantas, bbrp saat sebelum MI balik, kita main ke rumah sandra. di perjalanan itulah gw ketemu alpha. tentu saja, wenty dan helmy juga tak dilupakan. belakangan, saya mengajak rachma bergabung. dan baru bbrp hr lalu bertemu gitaris handal pakar lagu jadul dan chrisye, mas najib.

tentu koestraat adalah tempat terfavorit buat ngumpul. tapi newking dan moksam serta de jaren juga tak kalah menariknya. juga crea sessions.

semoga persahabatan dan persaudaran kita tidak putus setelah secara fisik kita tidak bertemu. saya sudah merasakan kehilangan dan kerinduan dengan koestraaat dan amsterdam. mungkin kita bisa reunian di depok (MI? mbak DJ?) atau Jogja (the nunings? secara mau ambil paket juga--alasan!), atau Jakarta, atau mana pun.

apalagi ya?
segitu dulu deh? ini aja baru nemu bocoran wifi di rumah tante.
btw, mungkin pada mau sharing momen paling tak terlupakan bersama de koestraat? crea? malam tahun baruan? goyangan maut alpha? bbq? acara perpisahan MI dan jeng DJ? ym conference setelah tengah malam? atau? :)

sekali lagi, terima kasih dan maaf lahir batin.
untuk yang telah dan sebentar lagi akan submit chapters. selamat!
bagi yang masih berjuang! semoga dimudahkan segala urusan oleh-NYA.
bagi yang baru dateng, persiapkan mental dan kewarasan dengan cara (duh bahasanya orba banget) bergaullah dengan orang2 seperti kami2 ini. halah, garing kriuk kriuk.

maaf kalau cerita singkatnya kurang mengena, atau ada yg gak kesenggol. maklum, udah uzur.hehehe.

selamat tinggal!

salam kangen dan kompak selalu,
ekky, den haag.


ps:
alamat jakarta saya:
jln. paus dalam no. 47 Jakarta 13220. (belakang Arion Mal, gak jauh dari Terminal Rawamangun, ada jalur busway lho, halah).
0812 955 744 3
021-4715939

ps lagi: selamat menunaikan puasa bagi yang menjalankannya.

Tuesday, 11 January 2022

Stroke Gejala Ringan, Desember 2021

“Tidak ada Stroke ringan! Stroke ya Stroke! Yang ada hanyalah stroke gejala ringan!”

(Dr Dewi, dokter syaraf di RS Firdaus)

Peristiwa paling tak terlupakan tahun 2021 bagi saya tidak berhubungan dengan film atau kehidupan akademis. Tapi pada Kesehatan. Saya terkena stroke gejala ringan. berikut rinciannya. Saya tulis untuk catatan saya, dan mungkin pelajaran bagi orang lain.

Kamis-Jumat, 16-17 Desember

Bermula saat saya dan keluarga besar berlibur ke Puncak, Kamis-Jumat 16-17 Desember.  saat itu dingin, dan bibir saya kok kayak kebas gitu. Saya pikir karena cuaca dingin. Keesokan harinya, sesaat setelah Jumatan, saat mau pulang ke Jakarta, saya nyetir. Dan baru terasa kalau tangan kanan kok kesemutan—walau masih bisa digerakkan. Saya tetap nyetir hingga Jakarta, mampir sebentar di Cimory Land.

Sabtu 18 Desember

Penasaran dengan kesemutan di lengan kanan yang tak kunjung reda, saya ngecek ke IGD RS Graha Medika, dekat rumah. Saya mau pakai BPJS, ditanya: “Tapi kalau tidak dianggap darurat, tidak dicover BPJS, ya”.  Yang dianggap darurat adalah, sepenangkapan saya, diobservasi selama lebih dari 6 jam. Akhirnya saya pakai asuransi Kesehatan kantor saja.

Saya pun di-CT Scan. Tidak ada hal yang patut dicurigai. Tidak terlihat penyumbatan. Saya dikasih vitamin saja, seingat saya.

Senin 20 Desember,

Saya ke dokter syaraf di RS Siloam. Disarankan untuk MRI. Tapi saya pikir, coba pakai obat dulu, karena saya dibilang kemungkinan karena tidur tidak nyenyak, jadi dikasih vitamin syaraf supaya tidurnya lebih lelap.

Disarankan untuk olahraga 3 kali seminggu dengan olahraga ringan, seperti jalan kaki.

Di rumah, saya merasa tangan kanan masih kesemuatan. Kaki kanan juga, tapi tidak seberapa. Tidak ada yang mengganggu aktivitas, sebenarnya. Dan lidah seperti ada rambut atau benangnya. Saya baru sadar bahwa separuh badan saya,  sebelah kanan,  kebas, walau tidak “tebal”.

Rabu 22 Desember.

Janjian dengan Udin, teman lama dari London. Dan ada Hikmat juga, di Plaza Senayan. Saya naik ojol, karena kendaraan dipakai keluarga—tapi mereka nyusul belakangan. Malam itu kok saya agak-agak pegal sekitar  tengkuk dan lengan kiri (padahal yang kesemutan itu di sebelah kanan).

Kamis 23 Desember

Takut kenapa-kenapa, saya ke IGD RS Siloam, juga dekat rumah. Ternyata saya demam, mungkin itu sumber dari pegal-pegal semalam. Setelah serangkaian tes, termasuk MRI, barulah ditemukan bahwa saya ada penyumbatan, alias “stroke ringan”. saya langsung masuk rawat inap, karena demam. PCR negatif, sedang dicari akar masalah. Kemungkinan demam berdarah, karena trombosit ada kecenderungan menurun. Diinfus bergantian antara parasetamol, neorobion, dan multivitamin.

Nutrician menganjurkan saya untuk menghindari gorengan, yang berpotensi membuat darah mengental. Dan hindari lemak, termasuk kulit ayam.

Di Siloam saya memakai asuransi Kesehatan kantor, dan 2 hari saya khawatirkan membengkak dan melewati plafon, karena rupanya banyak yang diobservasi.

Sabtu 25 Desember

Di hari libur itu, demam sudah menurun. dokter syaraf membolehkan saya pulang. Tapi saya masih gak enak badan, pegal-pegal. Tapi mau pindah BPJS saja. Tapi  takut BPJS tidak lewat rujukan puskesmas dulu dan belum pernah, dan tidak dianggap darurat oleh IGD (sehingga tidak bisa ditanggung).

Adik saya, yang dokter anak dan praktik di RS Firdaus, menyarankan agar ke Firdaus aja (itu di Cilincing, tidak jauh dari Mal Kelapa Gading), supaya memastkan kalau saya ditangani dengan baik dan bisa pakai BPJS. Saya ikuti.

Dicek ulang lagi dari awal, termasuk PCR untuk mengecek COVID. Negatif semua. Langsung diinfus juga.

Di sini saya diinfokan Dokter syaraf: “Bapak kena stroke gejala ringan. tidak ada yang Namanya stroke ringan yang ada hanyalah stroke gejala ringan!”. katanya ada penyumbatan, dan ini karena kekurangan oksigen.

Dokter penyakit dalam juga mengobservasi. Katanya, ada 3 hal yang perlu diperhatikan: obesitas (artinya: saya wajib menurunkan berat badan, dan juga olahraga rutin), hipertensi (yang selama ini in denial, tapi ya memang harus minum amlodipine rutin nih), dan juga diabetes (alhamdulillah belum, tapi mesti waspada karena ada keturunan gula).

(Alhamdulillah saya punya istri yang peduli dengan Kesehatan dan suaminya. Tiap hari disajikan buah-buahan. Dan rice cooker juga yang bisa menurunkan kadar gula hingga 50%).

Untungnya di sini, saya bisa dikunjungi adik saya, Dr. Mira. Dan juga orang tua yang rumahnya dekat. Kalau normalnya, umumnya semua pasien tidak boleh dibezoek selama pandemi.

 

Senin 27 Desember

Secara klinis, saya dinyatakan oke. Boleh pulang. Alhamdulillah.

Soal kesemutan di tangan kanan, mulut dan hidung, akan dilakukan dengan dengan rawat jalan.

 

Yang saya rasakan hingga sekarang, selain kebas tadi, adalah saya masih cepat capek. Sudah tidak bisa seaktif dulu, tidak bisa diforsir. Setidaknya selama masa pemulihan.  Mungkin karena masa pemulihan, mungkin karena obat-obatannya.

Saya dikasih pengencer darah, amlodipine (untuk hipertensi, ini wajib setiap hari),  obat kolesterol, suplemen syaraf dll.

Saya masih merasa di bagian kiri pegal-pegal atau kesemutan (kalau tidur). Biasanya cukup dengan neurobion yang pink cukup. Dan juga kadang nyeri di kepala belakang atau migren, saya kasih parasetamol biasa.

 

Awal 2022, semuanya berjalan lebih lambat dari biasanya.

Saya sementara ini tidak bisa lagi seaktif dulu. Paling tidak selama masa pemulihan ini. Sudah menolak undangan premiere film, wawancara, atau mengisi acara. Focus pada pekerjaan utama dulu (Binus, Dewan Kesenian Jakarta, dan tugas-tugas/komitmen sebelumnya). Mohon maaf.


Alhamdulillah tidak terlalu parah.

Hidup lebih sehat, jasmani dan rohani, fisik dan spiritual, adalah menjadi salah satu prioritas utama saya tahun ini.

Bismillah.

Thursday, 25 November 2021

Indorock sebagai Subkultur Budaya Indisch

Dalam rangka peluncuran buku Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia ( Donny Anggoro, 2021) dan 10 tahun wafatnya Andy Tielman (10 November 2011-2021), saya merilis ulang tulisan ini. Ini kata pengantar di bukunya Donny.


Indorock sebagai Subkultur Budaya Indisch

Oleh: Ekky Imanjaya (sutradara dokumenter The Tielmans)

 

Berbicara soal indorock, mengingatkan saya pada era 2007-2008, saat saya studi master di Universiteit van Amsterdam.  Saya  termasuk yang beruntung, dalam waktu setahun itu, saya  berhasil mengeksplorasi genre musik Indorock, dan budaya Indo/Indisch secara umum. Saat itu, saat itu  majalah Rolling Stone membuat artikel tentang Andy Tielman dan The Tielman Brothers, dan  saya yang berada di Belanda merasa wajib untuk  mengejar Andy Tielman, satu dari dua orang yang tersisa dari band legendaris The Tielman Brothers.

Tapi justru kejadian tak terduga yang mengantarkan saya pada pertemuan pertama itu. Di    Bintang Theater di Pasar Malam Besar, 31 Mei  2008, Den Haag,  saya memisahkan diri dengan rombongan teman-teman, karena tertarik dengan poster Tjendol Sunrise. Ini adalah band kekinian saat itu, kumpulan anak muda yang punya semangat menghidupkan kembali Indorock. Mereka baru merilis album (sayangnya rilisnya hanya berselang beberapa hari sebelumnya), berkolaborasi dengan Andy Tielman.

Saya hanya kebagian menonton beberapa lagu terakhir. Tapi setelah itu saya tetap bertahan. Karena setelah itu ada pentas yang saya tunggu-tunggu, yang tak sengaja saya lihat posternya saat menuju ke panggung itu: Andy Tielman!

Saya pun menonton hingga habis, dari pembukaan, si mungil Lorraine Jane memberikan bunga kepada ayahnya, hingga lagu penutup Rasa Sajange/Glory Halelujah yang membuat seluruh ruangan bernyanyi Bersama. Semuanya saya abadikan dalam tulisan yang dimuat di Koran Tempo. Dan dengan pede saya tembak beliau: saya ingin membuat film dokumenter! Dan saya pun mengikutinya hingga ke kota kecil Bernama Steinweijk.

Seperti saya sebut di atas, Indorock adalah bagian dari budaya besar, budayaIndisch/Indo. Indorock di sini adalah aliran rock kaum Indisch/Indo. Ada tiga kategori untuk menyebut “indisch”. Pertama, orang Belanda murni atau ‘totok’ yang lahir di tanah jajahannya yaitu Indonesia. Kedua, adalah campuran antara Indonesia dengan Belanda seperti Alex –Eddie Van Halen bersaudara. Ketiga, adalah orang-orang murni Indonesia tapi bekerja untuk KNIL atau untuk pemerintah Belanda pada umumnya, seperti keluarga Tielman. Nah, ketiganya disebut “indisch” yang di Indonesia mereka juga dianggap sebagai “pengkhianat”, sedangkan  di Belanda mereka dianggap warga negara kelas dua—tak heran banyak yang hijrah, misalnya ke Los Angeles dan Australia.

Ketika mereka terpaksa harus berimigrasi secara besar-besaran pada 1957,  saat Presiden Sukarno memberi ultimatum kepada “warga indisch” ini untuk memilih kewarganegaraan,  maka di Belanda pun mereka mempunyai semacam sub kulturnya sendiri. Mereka ingin diakui sederajat. Karena itulah, menurut pentolan Tjendol Sunrise, Andy Tielman sangat penting karena bukan hanya pahlawan musik, tapi juga pahlawan kaum Indo.

Kaum indisch ini kemudian membuat Pasar Malam, yang menjadi Gerakan budaya untuk menunjukkan identitas dan mengukuhkan kesejarahan mereka dengan tanah air keduanya, Indonesia. Saya beruntung mengalami langsung subkultur itu di Belanda. Pasar Malam ini adalah ajang terbesar di sana selain North Sea Jazz dan Rotterdam Film Festival. Di Pasar Malam ini, atau juga acap disebut Festival Tong Tong, berkumpul subkultur kaum Indo lainnya: Bahasa Petjok, Indorock, Keroncong, dan tentunya berbagai makanan khas nusantara era colonial.

Andy Tielman, dengan Indorock-nya, dianggap sebagai pahlawan kaum Indisch. Pada 2008, sesaat sebelum pulang ke tanah air, saya berada di tengah persiapan acara Nederpop, yang rencananya saat itu digelar  Oktober 2008,  di mana di situ diperdengarkan pula lagu “Little Baby Rock of  Mine” (1959) yang dianggap sebagai pelopor “NederPop” alias musik pop Belanda. Dan tentu pengaruh band sekeluarga itu terhadap skena musik, termasuk kekaguman Jan Akkerman (salah satu gitar terbaik dunia) dan Golden Earring terhadap mereka.

Akhirnya, dengan lagu debut mereka itu, The Tielman Brothers diterima publik Negeri Kincir, setelah sebelumnya mereka pergi keliling Eropa,salah satunya ke Belgia, mengumandangkan irama “rock n roll”, yang kala itu masih asing dan dianggap pengaruh buruk. Mereka juga lalu berpetualang ke Hamburg. Masalahnya, yang sering dibahas jika membicarakan Indorock adalah mitos-mitos seperti The Beatles terinspirasi dari mereka ketika ke Hamburg. Padahal tidak cukup bukti soal hal ini, mengingat semua band era itu di Hamburg rata-rata memang punya aksi panggung gila-gilaan. Dan di Museum the Beatles di Liverpool, khususnya di bagian Hamburg, tidak ada nama The Tielman Brothers sedikitpun di antara daftar nama yang berjasa pada The Fab Four di era itu.

Tentu saja berbicara soal subkultur budaya Indisch, khususnya Indorock, tidak hanya terhenti pada Andy Tielman dan The Tielman Brothers. Buku ini menarik karena, selain  masih sedikit yang membahas Indorock, juga membahas tentang band-bang Indorock lainnya. Dengan begitu, buku ini memperkaya wawasan kita tentang genre rock yang nyaris terlupakan ini. Dan uniknya, ada pembahasan tentang band Indonesia yang juga turut melestarikan music aliran ini.

 

Selamat kepada Bung Donny Anggoro atas terbitnya buku ini.

Kepada pembaca, selamat menikmati dan berselancar di semesta Indorock!

 Jakarta, 28 Juli 2021,

 

Ekky Imanjaya

 

 

Catatan:

Kata Pengantar untuk buku Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia (Penerbit Pelangi Sastra, 2021) karya Donny Anggoro.

  

Saturday, 11 September 2021

Deddy Mizwar Bicara Soal Kritik Film (versi panjang kata pengantar buku "A to Z about Indonesian Film", 2006)


Deddy Mizwar Bicara Soal Kritik Film

Hasil wawancara dengan Deddy Mizwar.
Versi pendeknya menjadi kata pengantar di buku A to Z about Indonesian FIlm (Dar!Mizan, 2006)
(25 Maret 2006)

Pada awalnya adalah undangan untuk pemberitaan soal film. Lantas muncul resensi, dan ada yang kritis soal film. Pada awalnya, semua orang diundang untuk menulis sebuah film. Sekarang pun masih ada yang dikasih ongkos, baru menulis film yang dimaksud. Kalau di luar negeri, sudah tidak ada lagi undangan-undangan semacam itu.

Kritikus film harus punya daya kritis. Tugasnya menjembatani sang pembuat film dengan penonton yang awam sekali pun. Kalau bisa, jadi sebuah apresiator, bukan hanya bagi penggemar film, tapi juga bagi awam. Tujuannya agar apresiasi soal film di masyarakat meningkat.

Ini tugas yang sulit. Karena banyak kritikus film yang terjebak pada masalah teknis yang awam tidak mengerti. Ini kelemahan kritikus, menulis dengan bahasa njelimet.

Selanjutnya, selain melihat film, kritikus harus mengetahui tentang cara berpikir si pembuat. Sehingga apa yang dia tulis lebih obyektif. Ada sisi pandangan yang lain. Karena, mungkin saja kita salah menangkap artikulasi bahasa gambar film. Tidak harus kenal pembuat filmnya, tapi minimal, tahu impian, pandangan, dan obsesinya.

Kenal sang pembuatnya boleh, tapi harus tetap tajam menulis. Dekat tapi kritik jalan terus. Kenal para sineas untuk tahu cara berpikir si pembuat. Untuk mengetahui, misalnya, pola ungkap apa yang belum dikuasai, penguasaan wawasan sosiologisnya, atau cara berpikirnya yang salah.

Terkadang kita melihat kritikus film jauh lebih pandai dari pembuat film itu sendiri. Kenapa? Karena lebih banbyak film yang ditonton dari pembuat film, jadi referensinya lebih tinggi. Jadi, pembuat film selalu tertinggal. Dan memang harus demikian. Kritikus film harus selangkah lebih maju wawasannya dari pembuat film. Seharusnya kritikus harus lebih pintar, dia tentu saja tidak harus bisa tidak bikin film, tapi harus selangkah di depan sang pembuat film. Karena pembuat film dan kritikus film adalah dua profesi yang jauh berbeda. Keduanya mempunyai fungsi dan tujuan masing-masing. Kritikus film memang harus tahu tentang wawasan teknis pembuatan film, tapi tak harus bisa ketrampilan teknisnya.

Kalau pembuat film tahu fungsi kritik film, no problem, menjadi tempat belajar. Kalau tidak sadar, ia akan marah dan mutung.

Yang penting adalah fungsinya sebagai jembatan apresiasi. Ini fungsi yang urgen saat ini, di saat industri film sudah tumbuh lagi di era ini.



Jaman dulu, bukan kritik yang terjadi, tapi pembantaian. Karena yang tidak perlu ditulis, ditulis juga. Akibatnya, penonton menganggap semua film Indonesia jelek, bahkan yang bagus pun dibilang jelek. Jadi, tidak ada yang menonton. Memang, ada yang jelek, tapi tidak semuanya jelek.

Semestinya pembuat film berterima kasih pada kritikus film yang (seharusnya) pengetahuannya tentang film lebih tinggi daripada dia. Bukan soal teknis tentu, tapi wawasannya. Dan kritikus film mendorong industri film secara kualitatif, sekaligus menjembatani, mentransformasi film kepada orang awam. Sehingga muncul apresiasi yang semakin meningkat di masyarakat. Maka dari itu, dibutuhkan banyak kritikus film.

Kritikus film adalah bagian dari industri film itu sendiri. Bukan kelompok yang ekskusif. Kalau eksklusif, maka jadi musuh pembuat film.

Kalau kita mengkritik, dan pembuat film marah, tidak perlu khawatir, tidak ada masalah. Masalahnya, kalau filmmaker memusuhi kritikus film, dan kritik film tidak tumbuh, maka industri perfilman akan hancur. Karena orang awam akan berpikir bahwa orang film Cuma bisa berantem, bukan mengkaji kualitas.

Kritikus film punya banyak tempat berlatih. Tidak tergantung pada film di negerinya, dia bisa belajar dari film manca negera. Industri bisa dinamis tumbuhnya, karena banyaknya kritikus yang lahir. Dan kritikus film tidak bisa dihambat, karena film masuk dari mana dan apa saja.



Kritikus bisa membunuh industri film jika:

  • Gaya komunikasi kritikus film. Karena tulisannya dimuat di media masaa. Dia akan membunuh dunia film, kalau tidak mengenal komunikannya. Karena kritikus menulis tidak untuk orang film saja, tapi untuk orang awam.
  • Sikap orang film itu sendiri. Para pembuat film bisa bunuh diri jika tidak menanggapi kritikus dengan kritis. Karena kritikus adalah tangga untuk pencapaian yang lebih baik untuk masa akan datang. Bukan siapa sang kritikusnya, tapi apa isi tulisannya. Walau pun harus diakui, tidak semua kritikus baik wawasannya.
  • Wawasan kritikusnya harus selangkah lebih depan dari pembuat film. Setiap orang bisa mengkritik, tanpa wawasan. Siapa pun punya hak untuk mengkritisi. Tapi tidak semua bisa menulis kritik film. Kualitas kritikusnya juga menentukan bisa membunuh atau tidak. Kritikus harus punya imajinasi tinggi dalam mengapresiasi film. Misalnya, ada pemikiran: “seandainya dibeginikan…”, atau “kenapa terjebak hal ini, padahal kalau itu jauh lebih menarik”.

Kritikus film bisa berlatih kapan dan dimana saja. Kritikus bisa tumbuh subur karena fenomena open sky, di mailing list dan blog pun jadi.

Kalau betul, kritikus punya komitmen sebagai kritikus yang baik, dia bisa menjadi bagian positif dari industri film. Komitmen itu adalah kesadaran. Kesadaran kritikus yang benar, adalah kesadaran untuk tidak menghancurkan, atau semangat mencela. Tapi semangat mengkritisi.

Jadi, fungsi kritikus sangat penting dalam pertumbuhan industri film, selama memiliki kesadaran mengkritisi, bukan mencela.

Kritikus film akan dalam saat melihat sebuah film. Intinya adalah menangkap sebuah gagasan. Bukan bagaimana jalan cerita. Tapi substansi apa yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Tidak harus wawancara sang pembuat film, tapi mampu menangkap apa yang dia lihat.

Karena dalam mengapresiasi, akan ada tiga kemungkinan:

  1. Kritikus menangkap pesan dengan benar dan baik
  2. Kritikus kurang wawasan, dan untuk maju selangkah ,mesti banyak film yg harus dilihat, dan wawasan yang harus didalami.
  3. Sutradara kurang bisa mengungkapkan apa yg dipikirkan.

Kritikus harus punya sikap. Kalau ada yg berharga untuk ditulis, ya ditulis. Kalau tidak perlu ditulis, untuk apa? Kalau filmnya jelek, tidak perlu ditulis. Ngapain ditulis? Karena yang dikritisi adalah sesuatu yang baik. Sesuatu yang kau tulis harus sesuatu yang tberharga. Kalau filmnya tidak ditulis, otomatif filmnya jelek.

Mengenai buku ini, yang terpenting bahasanya tidak njelimet. Itu penting. Karena fungsi “jembatan apresiasi” tadi, tentu dengan gaya kritis. Buku ini tidak saja mendorong orang menonton film, tapi juga mendorong para pembuat film memahami komunikannya. Karena Ekky adalah wakil dari komunikannya.

Apalagi di Indonesia, karena berapa banyak orang yang secara sosio-ekonomi–dalam pengertian pendidikan, bukan dari financial–yang mau menonton film Indonesia? Dengan tulisan-tulisan Ekky, kita harapkan mereka mau menoleh film Indonesia dan menjadi bagian dari dialog antara film dengan diri mereka sendiri.

Semakin produktif kritikus film menulis, makin banyak kritikus, makin banyak apresiasi di kalangan awam, terutama di kalangan sosio-ekonomi dan pendidikan yang baik, untuk melihat film Indonesia.

Yang terpenting adalah: bagaimana caranya agar orang film tahu kelemahannya tapi tidak marah. Dan masyarakat mengerti oleh tulisanmu dan membuat apresiasinya lebih baik. Maka, kalau sudah demikian, hidupmu akan berarti, karena kau sudah menjadi sebaik-baiknya manusia, karena bermanfaat bagi sesama.

Yang Ekky ini lakukan penting. dan dibukukannya tulisan-tulisan ini malah lebih bagus. Semoga bisa meningkatkan apresiasi, apalagi bagi orang awam. (eimanjaya@yahoo.com)


Hasil wawancara yang menjadi kata pengantar untuk buku A to Z about Indonesian Film karya Ekky Imanjaya yang diterbitkan Dar!Mizan pada 30 Maret mendatang.

(25 Maret 2006)

Sunday, 27 December 2020

Catatan 2020: Surat terbuka untuk jamaah masjid di Era COVID yang tidak mematuhi Protokol Kesehatan

Catatan 2020

Tahun 2020, tahun pandemic. Semua orang dipaksa untuk menjalani normal baru, norma baru. Jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, hand sanitizer, Work From Home. Di seluruh dunia. Dan yang paling saya garisbawahi adalah banyaknya jamaah di masjid yang, tidak hanya tak mematuhi protokol Kesehatan, tapi cenderung meremehkan yang memakai masker dan jaga jarak. Hal ini penting digarisbawahi karena mereka berlindung denngan dalih takdir Allah atau alasan yang bagi mereka itu sangat syar’i, padahal bagi saya justru mereka tidak mematuhi sunnah nabi dan para sahabat terkait kondisi di kala wabah penyakit.

Simak obrolan ini:

“Wah, pak, pahalanya berkurang nih kayaknya”, kata seorang jamaah masjid, kepada mertua saya.

“Memang kenapa?”, tanya bapak mertua saya.

“Itu, bapak pake masker. Kan senyum itu ibadah. Kalau ketutupan masker, pahalanya berkurang, dong” jawab si jamaah tadi.

Bapak mertua saya tak mau kalah. Ia menangkis argument itu. “Eh, pahala paling afdhol itu kalua yang tidak kelihatan. Ente kan gak tahu,  kalau saya sedang senyum , walau pake masker. Jadi, pahalanya justru nambah, dong”.  Skat mat!

Adik ipar saya juga kena. Dalam salah satu ceramah, ada yang, sepertinya dengan sengaja, bertanya apa hukumnya shalat dengan berjarak, tidak merapatkan barisan seperti yang dicontoh nabi.

Saya sendiri kalau terpaksa shalat Jumat di sebuah masjid, pernah disuruh merapatkan barisan, padahal sudah dikasih tanda silang. Sejak itu, say acari masjid yang mematuhi protokol kesehatan, seperti di kompleks orang tua saya di Rawamangun, atau di KAmpus Binus Alam Sutera (yang sangat taat menjalani protocol bahkan dianjurkan membawa sajadah sendiri dan sudah berwudhu saat tiba di lokasi). Atau, kalau terpaksa, saya berdiri dan shalat di jalanan dengan membawa sajadah sendiri.

Alasan takdir ini seolah-olah begitu heroik. Sebuah stasiun televisi berlabel “Islam”, atau seorang mantan petinggi militer, dengan nada sama menyatakan bahwa justru di saat pandemi seperti ini saatnya semua orang beramai-ramai ke masjid untuk berdoa. “Kalau sudah kehendak Allah, kita pasti mati. Kalau belum saatnya, tidak akan mati”, kata mereka. Sekilas benar, tapi terasa ada yang kurang dalam argumentasi ini. Saya akan bahas di bawah ini.   

Lha, naik haji saya sempat dilarang di bulan-bulan pertama pandemic tahun ini. Shalat jumat saja sempat dilarang. Bahkan kalau hujan, saya dengar ceramah dari Habib Quraish Syihab, dibolehkan shalat di rumah, dan adzannya ada kalimat tambahan “sholluu di buyuutikum”. Sekarang peraturan itu sudah agak kendor, sudah ada shalat jumat berjamaah, dan umroh dengan protocol ketat. Maka sudah sepatutnya  patuhilah protokol Kesehatan. Dan niatkan itu untuk menghidupkan dan mengikuti sunnah nabi.

Sebaiknya kita meneladani sikap dan pendapat Rasulullah kala dilanda pandemi. Bagaimana nabi melihat kondisi kala wabah melanda?

 

Berikut pesan nabi terkait wabah.

(1)   , “Dari Abdullah bin Amir bin Rabi‘ah, Umar bin Khattab RA menempuh perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, Umar mendapat kabar bahwa wabah sedang menimpa wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi wabah di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.’ Lalu Umar bin Khattab berbalik arah meninggalkan Sargh,” (HR Bukhari dan Muslim). Sargh adalah sebuah desa di ujung Syam yang berbatasan dengan Hijaz. (An-Nawawi, Al-Minhaj, Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj). Dalam riwayat lain: ada yang tanya: “melawan takdir?”. Jawab: Saya menghindari takdir yang ini untuk menuju takdir yang lain?

 

Ini menangkis tudingan tentang alasan takdir di atas. Hal lainnya, terkait takdir adalah adanya sebuah Riwayat seorang Arab Badui yang tidak mau mengikut kudanya dengan alasan “saya tawakkal (put your trust in god) kepada Allah”. Nabi menyatakan: Qil (ikat dulu), tsumma tawakal.

 

Satu lagi terkait takdir:

Firman Allah:

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ

إِنَّ ٱللهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ  

Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS al-Baqarah: 195)

Dengan tegas kita diwajibkan untuk tidak menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Kalau sudah tahu itu penyakit menular berbahaya, tentunya kalau masih “nekad” tidak taat pada protokol Kesehatan, tentu ini sudah menjurus pada “kebinasaan”.

 

(2)     Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari secara mua'llaq dari hadits Abu Hurairah dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda:
"Hindarilah orang yang terkena lepra seperti halnya kalian menghindari seekor singa."

Ini juga argumen UStadz Abdul Shamad saat ditanya hukum shalat berjamaah di masjid kala pandemic. Beliau kala itu  lebih memilih shalat di rumah sampai kondisi memungkinkan.

 (3)   Sementara dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

"Janganlah (unta) yang sakit itu didekatkan dengan (unta) yang sehat."

 

Artinya, perlu adanya jaga jarak bahkan karantina.

 

(4)   “Dari Siti Aisyah RA, ia mengabarkan kepada kami bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukannya, ‘Zaman dulu tha’un adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seorang hamba yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di negerinya dengan bersabar seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,’” (HR Bukhari).

Setelah ikhtiyar, berusaha sebaik mungkin untuk berlindung, barulah kita bisa tawakkal dan percaya bahwa kalau pun wafat ganjarannya adalah mati syahid. Hal ini perlu dilakukan supaya Kesehatan mental kita juga terjaga.

 

Terkait karantina:

Kata "karantina" aslinya adalah Bahasa Italia "quarantine", yang bermakna 40 hari.  Karantina 40 hari, setelah sebelumnya 30 hari (Trentino) ini diterapkan sekitar tahun 1400 oleh Pemda  Venesia kepada seluruh ABK yang berlabuh di Pelabuhan Ragusa supaya mereka bersih dari penyakit campak. Ide karantina (mengurung diri 40 hari) ini diambil dari pemikiran Ibnu Sina, filsuf dan pakar kedokteran asal Persia yang memakai istilah al-Arba'iniya ("empat puluh") yang secara harfiah berarti quarantine dalam Bahasa Italia.

 

Norma Baru sebagai Ma’ruf

 

Harus diakui, memang susah mengubah perilaku di era normal baru, norma baru. Apalagi dalam waktu mendadak. Norma baru saya terjemahkan dengan ma’ruf, yaitu segala sesuatu yang baik yang sudah diketahui secara umum. Protokol Kesehatan sepatutnya kita perlakukan atau jadikan sebagai hal yang makruf.  Jika kepatuhan untuk protokol kesehatan ini dianggap sebagai hal yang ma'ruf dan sunnah (meneladani nabi), diharapkan banyak jamaah yang   "insyaf" memakai masker, jaga jarak, dan bawa sajadah sendiri.

Semoga saja jamaah yang tidak mematuhi protokol kesehatan ini tidak sebanyak yang saya duga. Kabarnya banyak masjid di berbagai tempat  yang masih mematuhi protokol kesehatan. Alhamdulilalh kalau benar.



Dimodifikasi dari Khutbah Jumat 6 November 2020 di Masjid Kampus Binus Alam Sutera


Best Moments of 2020

 Of course, 2020 is THE unforgettable year for all of us: COVID19, Pandemic situation, WFH, health protocol, masker/mask, hand sanitizer, physical distancing, etc. The situation forced us to adapt to how we live with the so-called "New Normal".

Zoom, virtual meeting, and similar terms are chosen to be alternative ways to communicate, and to organize events, etc.

Here are my best moments of 2020: Kultum, #ReboPiano, #NongkrongBareng, some big reunions. 

And: TIKTOK! 


Lisa, An Anomalous pre-State Ibuism Film, for Film/Gender Conference by Kafein (Asosiasi Pengkaji Film Indonesia) and UNESCO. This conference and ICOBAR conference were among my first virtual academic conferences in 2020.



Panic Room #2: Masa Depan Film B di Indonesia | with Ekky Imanjaya dan Kolong Sinema



Binus' 1st Academic Series : Rethinking Southeast Asian Cinema Studies



Reuni NGek, Minggu 30 Mei 2020


dan Peluncuran   Bootleg Live at Balairung UI 1995

Madani Film Festival



Nongkrong Bareng Ekky-Rini, Starting 13 June 2020




Madani Talk - Haul Yasmin Ahmad "Warisan Kak Min", 25 Juli 2020



Kultum Ekky-Hikmat (Kuliah Tujuh Movies, starting March on Instagram.


Kritik Film, Riwayatmu Kini - Webinar Reuni Rumah Film, 9 Mei 2020




Rebo Piano


Medina and Rossy homecoming, followed by Medina's 9th Birthday, 25 August 2020