Showing posts with label ngek. Show all posts
Showing posts with label ngek. Show all posts

Sunday, 24 May 2020

NGeK Live at Balairung Universitas Indonesia 1995

NGeK Live at Balairung Universitas Indonesia 1995.

Dua Puluh Lima Tahun Kemudian: Pengantar bootleg.

Sekitar setahun lalu, Hasymi Mohammad alias Amie, salah satu personil NGeK, menemukan harta karun: Rekaman NGeK Live di Balairung UI tahun 1995 di acara Lintas Budaya Islam, Nuansa Islam (Salam) UI. Salah satu konser terbesar kami pertama kali, 25 tahun lalu. Bagi kami, ini adalah perihal penting. Mengapa?
Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya dibahas dulu “makhluk” apa itu NGeK, khususnya bagi yang belum tahu. NGeK adalah semacam kelompok musik dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang mengangkat lagu-lagu etnis relijius. Berawal dari JJ Rizal Agung Pribadidua Ekky Imanjaya , dkk yang menonton pementasan Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kyai Kanjeng di Taman Ismail Marzuki di tahun 1994, yang memusikalisasi puisi di buku Abracadabra Kita Ngumpet. setelah menonton, kami kasak kusuk membuat kelompok musik dengan genre serupa. Maka kami pun merekrut beberapa rekan, membentuk NGeK. Awalnya, beberapa personil agak khawatir dengan penggunaan musik (biola dan keyboard), tapi setelah dicoba latihan beberapa lagu (yang pertama kali digarap adalah Ya Rasulallah, yang diprakarsai Musa Emyus), apalagi perpaduan keprak rebana berbalut sayatan biola dan latar keyboard, kami merasakan getaran magis, semacam gelombang spiritual yang menghubungkan antar personil. Sejak itu, setiap pentas, Ya Rasulullah selalu menjadi lagu pembuka.
Awalnya, NGeK adalah singkatan Nasyid Gang Kober, tempat kami nongkrong dan Latihan di Depok, tak jauh dari kampus UI. Namun, kami sepakat menjadi NGeK, yang maknanya bisa diintepretasikan apa saja oleh para pendengar. Tembang yang kami latih di awal adalah lagu-lagu daerah seperti shalawat Ya Rasulallah, Lir Ilir (karya Sunan Kalijaga), Tombo Ati (Sunan Bonang). Namun, seiring jalannya waktu, kami menggubah lagu sendiri, seperti Rasul Pilihan (diprakarsai vokalis Dede Suryani yang orang Sunda) dan Rindu Ramadhan (diprakarsai oleh JJ Rizal). Pertama kali NGeK pentas adalah pada 10 Mei 1995 di acara Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan oleh majalah Suara Mahasiswa UI. Tak lama kemudian, kami diundang manggung di Nuansa Islam (Salam) UI di Balairung UI yang biasanya dipakai untuk wisuda dan acara besar lainnya, yang rekamannya sudah bisa didengarkan ini. Artinya, ini adalah salah satu pentas terbesar pertama kami dalam hal jumlah penonton dan ruang lingkupnya yang nasional.
Tahun itu, 1995, menjadi tahun yang menentukan, karena merupakan awal-awal berdiri. Kami masih belum punya pengalaman dalam berkomunikasi dengan penonton, atau dengan aksi panggung. Canggung, demam panggung, dan penguasaan panggung yang masih belum matang. Kalau jeli, ada beberapa kesalahan, karena kurangnya jam terbang. Namun, di lain pihak, versi Live ini juga begitu menggetarkan karena menangkap elan vital dan spirit anak-anak muda yang ingin mensyiarkan Islam sambal melestarikan budaya local. Hal ini terlihat dalam rekaman bootleg Live at Balairung UI 1995 ini. Alhamdulillah, cukup banyak yang menerima kami di awal-awal karir kami. Bahkan senior kami, Snada, acap meminta kami untuk mendampingi pentas mereka, atau menggantikan mereka. Di Salam UI itu, MC-nya adalah Isa Alamsyah dan Agus Idwar yang kala itu masih di Snada. Dari bootleg itu juga terlihat bahwa pentas kami terdengar ala kadarnya, dengan keyboard Casio yang tidak untuk kelas professional (dan kemudian ompong, karena ada tuts yang tanggal).
NGeK lahir di pertengahan 1990an. Era itu, rohis (kerohanian Islam) di Jakarta, Depok, dan banyak kota besar sedang bergelora dengan dakwahnya yang khas. Aktivis dakwah kampus kala itu tak sedikit yang mengharamkan musik. Dan nasyid-nasyid dengan berbagai genre dan subgenre-nya pun merebak, dari yang bergaya Timur Tengah yang penuh semangat, kemelayuan yang spiritual, dan a-capella yang modern. Dalam kondisi ini, NGeK menjadi sebuah counter-culture, sesuatu yang oleh beberapa kalangan dianggap tak lazim, karena tidak aja memakai alat musik (seperti keyboard dan biola), tetapi juga Kembali ke khazanah seni budaya nusantara. Dan di panggung itu, kami merasa terhormat berbagi panggung dengan Snada, Izzatul Islam, juga Teater Kanvas.
Di era itu, ada musik dengan pendekatan indie, independen. Saya kira, saat itu mayoritas kelompok nasyid ada di luar industri musik arusutama. NGeK juga begitu. Kami menabung dari honorarium pentas-pentas kami untuk memproduksi sebuah album. Pada 1997, cita-cita kami terwujud. Album Wajib Ngaji”, berisi 9 lagu, beredar dan dirilis di acara Gong Paramuda di Pasaraya Blok M, Rabu, 10 September 1997, yang digelar oleh FAI Communication.
Personil NGeK saat rekaman album itu adalah : Agung Pribadi (Bedug,Vokal latar), JJ Rizal (rebana) Musa Emyus (rebana, tamtam), Alfian Siagian (Vokal bass), Ahmad Fauzan (rebana), Ekky Imanjaya (Keyboard, vokal latar), Syams Al Batavi (Tamborin, rebana), Hasymi Mohammad (tamtam), Arianto Bigman (Biola), Dede Suryadi (vokal utama), Beny Yanis (tamborin), Hendro Wicaksono (vocal bass), Muhaimin Suhu Imin (vokalis utama), Fadhli Arsil (Rebana).
Belakangan, Prasetyo, (Rebana, gamelan), ikut juga.
Setelah tampil di Salam UI 1995 itu, NGeK, alhamdulillah makin dikenal, dan kami pun diundang ke berbagai kampus, radio, bahkan acara nasional dan internasional. Di tahun yang sama, kami pentas di Festival Istiqlal yang diisi oleh seniman handal. Saat itu, kami menjadi pembuka SNADA. Tahun 1996, misalnya, kami diundang ke Sanlat Dompet Dhuafa, Silaturahmi Keluarga Alumni HMI (KAHMI). Tahun berikutnya, kami pentas di Gelar budaya TIM, Remaka Islam Sunda Kelapa, dan Malam Persahabatan Indonesia – Afrika di Hotel Sheraton Media. Dan 1998, kami pentas malam tahun baru di Renungan Tahun Baru 1998, Kuis Ramadhan SCTV, Halal Bihalal PT Peni, Departemen Parawisata, RS Pasar Rebo, dan Welcoming Dinner KADIn Negara-Negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Hotel Kempinski. NGeK juga sering tampil di beberapa pusat perbelanjaan antara lain Lippo Supermal Tangerang, Plaza Depok, Pasaraya Blok M, Pasaraya Manggarai, Mal Sunter,Mal Taman Anggrek. Setelah merilis album, kami juga diundang Live di beberapa radio, seperti RTC FM, Ath Thahiriyah, Asy Syafi-iyah, Delta, Pro FM Suara Antara Mas, El Shinta, ARH, MS Tri. Sebagian jejak kami terekam di situs ini: http://ngek.faithweb.com/
Menemukan Kembali rekaman Live 1995 ini membuka banyak memori dan nostalgia. Ingatan yang manis dipercaya akan menambah kebahagiaan dan akan membantu untuk meningkatkan imunitas di era swa-karantina ini. Semoga hal ini terjadi juga terhadap para pendengar yang setia sejak zaman mahasiswa. Sebenarnya, ada beberapa lagu yang sudah diaransemen dan dinyanyikan saat manggung, tapi belum direkam. Misalnya Innaneira (Idhul Fitri), Kampung Halaman, Rabbana Rabbana (Doa Nabi Adam AS) , Syair Abu Nawas, Selayang Pandang, dan Pamit. Semoga “harta karun” lain yang berisi lagu-lagu yang “previously unreleased” ini bisa ditemukan dan diunggah juga. Kalau ada yang pernah merekam atau tahu info soal ini, tolong hubungi kami.

Urutan lagu:.
1. Ya Rasulullah: 00.03-04.05
2. Sifat 20: 04.05-07.24
3. Tombo Ati: 07.24-13.10
4. Rasul Pilihan: 13.10-17.33
5. Wajib Ngaji: 17.33-22.52
6. Ilir-ilir: 22.52-27.30
7. Islam is Rising (aka Islam is Back): 27.30 - 31.05
Alih media rekam: Jaya Transfer
Rekayasa suara: Adam Putra
Penyelaras akhir/pasca rekaman: Hendro Wicaksono
Penyelia produksi rekaman: Hasymi Mohammad
Dokumentasi/koleksi foto: Yuli Asmini
Kata Pengantar : Ekky Imanjaya, Yuli Asmini
Keluarga besar NGeK mengucapkan
Selamat Idul Fitri.
Taqabballahu Minna wa Minkum
Minal Aidin wal Faizin
Mohon Maaf Lahir Batin

Wednesday, 13 November 2019

Mas Djadug: dari NGeK hingga "Tujuh Kali Sampai Mati".


Saya salah satu pengagum mendiang Djadug Ferianto, sebagai musisi, khususnya saat tergabung di Orkes Sinten Remen dan Kua Etnika. Tapi pertemuan pertama saya justru saat beliau berkolaborasi dengan Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kyai Kanjeng yang melakukan konser di TIM tahun 1994. Emha kala itu sedang pentas keliling dengan karya terbarunya, Abracadabra Kita Ngumpet. Saya, mahasiswa baru FSUI yang baru saja naik ke semester tiga, hadir sebagai penonton di hari pertama. Sebagai anak ingusan yang juga suka bermusik dan sedang mengeksplorasi music tradisional yang relijius, saya terkesiap dengan kolaborasi itu. Khususnya Tombo Ati yang dibawakan dengan begitu ekspresif.
Segera, saya, yang masih terngiang-ngiang pertunjukan itu, ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman yang seide--di antaranya JJ Rizal, Agung Pribadi, dan Musa Emyus--dan kemudian lahirlah NGeK, sebuah band etnis dengan nuansa relijius. Dan tentunya, “Tombo Ati” menjadi salah satu lagu yang kami garap. Untuk menggambarkan konteks, saat itu, pertengahan 1990an, wacana yang berkembang adalah musik itu haram dan nasyid begitu popular, tanpa terlalu banyak alternatif lainnya. Dan pendirian band dengan alat music (keyboard dan biola) oleh anak-anak rohis seperti saya adalah hal yang progresif bahkan ofensif bagi “kaum hijau”. Konser malam itu, dan tentu dengan mengumpulkan bukti-bukti tentang ketidakharaman musik (terima kasih untuk, di antaranya, DR. Yusuf Qardhawi), membuat saya mantap dengan “jalan sunyi” ini: NGeK.
Pertemuan kedua adalah malam tahun baru 1997, Pasar Seni Ancol. NGeK sepanggung dengan Mas Djadug dkk! Beliau sempat menyapa saya dan menyatakan senang ada “anak-anak kota” yang membawakan lagu-lagu tradisional (yang berkonotasi “kampung” macam Lir-Ilir dan Wajid Ngaji). Tentu saja, satu panggung dengan Mas Djadug adalah sebuah kebanggaan, sebagaimana saya bangga bisa sepanggung dengan Kantata Takwa (yang main akustikan live di FSUI 1998), bahkan saya main di keyboard Mas Jockie S
Pertemuan kedua ini juga membekas. Saat itu sudah mulai krisis ekonomi. Dan pada 1998 awal, gejolak mulai timbul dan gerakan mahasiswa mulai turun ke jalan. Saya,yang kala itu baru lulus S1 pada Februari 1998, juga ikutan. Di antaranya, ikut lenong keliling Teater Sastra UI dan ikut bantu-bantu JJ Rizal yang membentuk “Dari Kumpulannya yang Terbuang”. Saat diskusi soal yel atau lagu yang eye-catching untuk dibawakan saat demo, kami teringat dengan sebuah lagu yang dibawakan Mas Djadug di malam tahun baru 1997 itu: seingat saya, sayalah yang mengusulkan irama lagu “Lima linting Limalinting”. Lantas dibahas, termasuk oleh Agung Pribadi dan JJ Rizal. Dalam diskusi itu, Rizal mengusulkan nadanya agak disederhanakan, menirukan When The Saints Go Marching In”. dan jadilah lagu legendaris yang acap menggema di demonstrasi 1998 itu:”Tujuh Kali….Tujuh Kali…Tujuh Kali Sampai Mati…”.
Selamat Jalan, Mas Djadug,
Berikut "Tombo Ati" yang terpengaruh oleh Gamelan Kyai Kanjeng 1994 yang Mas Djadug berperan penting di dalamnya:

Tuesday, 28 May 2019

NGeK di YouTube

Image result for ngek wajib ngaji





Entah siapa orangnya, ada yang mengunggah beberapa lagu NGeK di YouTube.
Berikut linknya:

1. Wajib Ngaji


2. Ya Rasulallah


3. Rasul Pilihan


4. Barudati


5. Rindu Ramadhan


6. Sifat 20

7. Tombo Ati

Saturday, 2 July 2016

Momen-Momen Ramadhan Paling Berkesan Dalam Hidup Saya

Bulan puasa selalu istimewa di hati saya. Jadwal harian berubah. Bangun pagi buat sahur, malamnya tarawih. Beraktivitas dengan perut kosong. Buka puasa bersama dengan keluarga besar dan sahabat, tak jarang dengan reuni kecil dan besar. Setiap tahun berkesan dan bermakna. Tapi tentu ada yang paling membekas di hati.
Berikut adalah beberapa kisah yang paling berkesan di bulan Ramadhan dalam hidup saya.

1.       MedinaAzzahra Lahir, 2011

Walau saya tidak menulis berbagai pengalaman ini berdasarkan ranking, tapi tentu ini adalah peringkat pertama. Setelah 10 tahun pernikahan, tentu kehadiran seorang anak begitu dinantikan, tidak hanya oleh kami berdua, tapi juga oleh kakek neneknya, dan keluarga besar kedua belah pihak. Saya menjadi suami siaga, begadang di RS Budi Kemuliaan, termasuk buka puasa (baik di kantin rumah sakit atau di dalam kamar), sahur, dan shalat tarawih.  Bahkan orang tua saya sengaja I’tikaf di gedung sebelah, Masjid BI, salah satunya karena ingin dekat dengan RS.
Medina lahir 25Ramadhan, pagi hari, lewat operasi cesar.  Saya menunggu di depan kamar bedah, dan begitu lahir saya sendiri yang membisikkan adzan di kedua telinganya.
Bagi saya, hidup tidak dimulai saat saya berumur 40 tahun, tapi saat Medina lahir. Ini mungkin terdengar lebai, tapi sesungguhnya tidak. Saya akan tulis artikel tersendiri tentang Medina sebagai Jangkar saya.

2.       Menyelesaikan Master Tesis Pertama, 2002

Tahun 1998,   8 bulan setelah saya lulus S1 dari Sastra Arab FSUI, saya lanjut kuliah S2 Filsafat.  Dan, pada 2000 saya diterima kerja di Astaga.com, salah satu pengalaman berharga dalam karir saya di bidang jurnalisme. Tapi saking keasyikannya—khususnya meliput film dan music—kuliah, terutama penulisan tesis, agak terbengkalai.
Ramadhan 2002, saya kebut menulis tesis. Saat itu kami baru tinggal di rumah baru, pertama kalinya punya rumah sendiri. Setelah subuh, di luar kebiasaan, saya tidak tidur lagi, tapi tenggelam dalam kesibukan tesis.  Tak sampai setahun kemudian, saya lulus.
 Tak lama kemudian, tesis saya diterbitkan Teraju.




3.       


Menonton Konser Reuni The Police, 2007

Agustus 2007, untuk kedua kalinya, saya menginjakkan kaki ke negeri Belanda. Yang pertama adalah tugas liputan sekitar 1-2 tahun sebelumnya, dan tak lebih dari 2 minggu. Tapi kali ini saya tinggal lebih lama, setahun, karena menempuh studi master yang kedua di Universiteit van Amsterdam. Begitu tahu The Police akan reuni bulan September, tak pikir panjang, saya langsung beli tiketnya, di Amsterdam Arena (stadion-nya Ajax), 14 September. Saya tak menduga bahwa konser itu bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan, yang berlangsung 17 jam!
Untunglah semuanya berjalan lancar. Saya tiba sekitar pukul 8 malam. Menunggu sejam lebih di dalam stadium sepakbola itu. Awalnya, saya tak boleh bawa minuman atau makanan apapun, seperti yang berlaku umum. Maklum, panitia akan jualan di dalam. Namun saya agak ngotot, dan akhirnya salah satu petugas bilang:” apakah ini air minum untuk minum obat?”, saya langsung samber:”iya, pak”. Daripada ribet, hehehe.

Maka saya pun menonton The Police, yang sesuai dengan ekspetasi saya: keren abis! . Saya buka puasa pukul 9 malam waktu Belanda (GMT+1), saat menyaksikan anaknya Sting main bersama band-nya, Fiction Plan, sebagai band pembuka, yang keren abis itu.
Dan saya pun menuliskan laporan pandangan mata untuk Majalah MTV TRax, November 2007.

Namun saya tahu, menonton konser di bulan puasa itu, apalagi di hari pertama, sesuatu yang penuh perjuangan. Sebisa mungkin, saya hindari hal seperti ini.

(konser besar lainnya yang saya tonton adalah The Cure di Ahoy Rotterdam, 18 Maret 2008).


4.       Begadang sekeluarga menonton film seri Silat, 1983-1984

Saya agak lupa tahun berapa, tapi yang pasti waktu SD di Surabaya, dan kami baru punya video player (Betamax). Saya sekeluarga begadang, sejak habis tarawih hingga menjelang sahur, menonton film serial silat yang kami sewa dari Trio Video Tara ataupun tukang video keliling.
Favorit kami adalah: Sin Tiaw Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu, dan To Liong To. Seri lainnya adalah Demi-God and Semi-Devil dan PEndekar Harum.  Entah kenapa, kami luput menonton Pendekar Ulat Sutra dan Princess Cheung Ping secara utuh.
Setelah bangun pagi, ya kami nonton lagi. Maklum, waktu itu masih SD, dan Ramadhan liburan sebulan penuh (saya lupa, entah karena memang itu kebijakan nasional, atau kebijakan sekolah saya yang memang sekolah NU).

5.       Pesantren I’Tikaf Ramadhan, pertengahan 1990an.
Saat masa transisi antara baru mulai kuliah di FSUI dan melepas kuliah di Jayabaya, saya diundang ke acara ini. Acaranya di Pesantren Budi Mulya, Yogyakarta. Organisasinya dari PIR Laboratorium Dakwah.  Pencetusnya Amien Rais, dan pembicaranya kelas wahid semua, termasuk  Yunahar Ilyas, Adaby Darban. Sayang Pak Kuntowijoyo, favorit saya, tidak mengisi acara karena waktu itu sudah sakit-sakitan.

6.       Berburu Shalat Malam, awal 1990an
Awal 1990an, I’tikaf belum semarak sekarang. Sewaktu SMA dan awal kuliah, dan masih agak  lumayan aktif di kerohanian Islam, saya bersama teman-teman sering berburu shalat malam berjamaah, mulai isya hingga menjelang sahur. Ma’had Al-Hikmah adalah salah satu tempat favorit, karena di sana imamnya bagus bacaan murottalnya, yang semalam bisa habis satu juz (kalau 10 hari terakhir bisa lebih).

7.       Safari Ramadhan Keliling Jawa – Bali, 2006
Tahun 2006, sewaktu saya masih bekerja di Majalah Nebula (yang dikelola oleh ESQ Leadership Center), saya diajak Pak Yudhistira Massardi (sang pemimpin redaksi) untuk keliling Jawa-Bali,  untuk bersilaturahim dengan para pembaca (yang juga alumni training ESQ) , sekaligus meliput kegiatan mereka dan menjajagi kemungkinan kerjasama dengan majalah . maka kami pun (bersama Bu Yudhis dan Agus Salim yang bertanggungjawab di bidang usaha) dengan jalan darat mengunjungi Bandung, Yogyakarta, Madiun, dan beberapa kota lainnya, dan berakhir di Denpasar. Tak lupa, kami juga wisata kuliner setempat.
Di Bali, kami tak lupa untuk ke pasar tradisional dan menginap di padepokan Agung Rai Museum of Art, Ubud, yang bersuasana kontemplatif dan spiritual. Yang paling berkesan adalah tur Golden Hour, yaitu menjelajahi Bali yang masih jarang dikunjungi wisatawan yang dilakukan di saat “Golden Hour”. Maka, selepas sahur dan subuh, kami langsung mengeksplorasi perkampungan dan bukit di Ubud dan sekitarnya.
Ini pengalaman yang menarik, mengingat di sana, kami tak mendengar suara adzan atau merasakan suasana Ramadhan.

8.       NGeK 1995-1998
NGeK adalah band yang saya ikut dirikan di FSUI, yang beraliran etno-musik-religious. Sejarahnya dan beberapa lagunya bisa di akses  disini.
Ramadhan adalah bulan paling sibuk sewaktu NGeK masih aktif. Kami pernah main di LippoMal Karawaci, Mal Taman Anggrek, ITB, dan masih banyak lagi.

Kangen juga masa-masa itu….

9.       Tarawih Keliling di Norwich, 2013 dan 2015
Tahun 2013, pengalaman pertama kami berpuasa di Eropa. Dan sebisa mungkin kami silaturahim, buka puasa bersama, walau pun waktu maghrib adalah sekitar 9.30 dan Isya/tarawih pukul 11 lewat, yang artinya akan selesai lewat tengah malam.

Masjid Ihsan adalah masjid terdekat, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah (20 menit).  Di sini bernuansa multicultural, dan berbeda dengan masjid lainnya di Norwich yang kebanyakan didominasi gaya Timur Tengah dan Bangladesh. Bahkan sampai diliput di Channel 4 dalam acara AVery British Ramadhan.  Buka puasanya, kalau kita beruntung, dengan sop kentang, lanjut dengan nasi kebuli, ditutup dengan es krim.
Islamic Center di Dereham Road adalah pengalaman lain lagi. Buka puasa dijamin kenyang, imam shalatnya syahdu, dan ruangannya besar.  Tapi, berhubung bus hanya beroperasi hingga jam tertentu, dan jaraknya agak jauh dari rumah, kami menyesuaikan diri dengan bis terakhir, dan kadang hanya bisa maksimal shalat isya saja.
Terakhir, buka puasa dan shalat tarawih di kampus UEA.  Semangatnya hampir sama dengan Masjid Dereham.
Tahun 2014, saya berpuasa penuh di Jakarta, sambil riset turun lapangan.
 Tahun 2015, saya puasa berpuasa setengah bulan di Norwich, sebelum lanjut mudik ke tanah air. Kebetulan, rekan saya Indra Kusumawardhana menginap beberapa hari. Maka, kami pun melanjutkan tradisi tarling.
Masjid Ihsan rupanya ada perkembangan bagus. Di sana, ada warung kopi, yang biasanya sangat berguna untuk jamaah yang menunggu masa maghrib dan isya/tarawih. Pembayaran dianjurkan memakai dirham dan dinar. Imam shalatnya ada 2, keduanya masih usia belasan, dan keduanya hafal quran. Jika salah satu jadi imam, yang satu ada di belakangnya, sambil membuka quran saku untuk memeriksa bacaan sahabatnya. Kedua ABG ini juga yang paling rajin melayani jamaah yang berbuka puasa, dari menyajikan makanan hingga membawa piring kotor untuk dicuci.



10.   Punya tempat buat mudik: Plaju, Balongan, Balikpapan, 1990an, awal 2000an.
Lahir dan tinggal di Jakarta (dan punya istri yang orang Betawi)  membuat saya tidak banyak punya pengalaman mudik, merasakan macet, dan kerinduan akan kampong halaman. Untunglah, ayah saya beberapa kali pindah rumah, sehingga saya punya pengalaman “mudik”, yaitu kembali berkumpul dengan keluarga. Dan saya bisa merasakan lagi masakan ibu saya yang tiada taranya, khususnya Steak Lidah dan Pisang Ijo (Pallu Buttung).


Jadi kangen masakan mama…..

Wednesday, 22 June 2016

NGeK 20 tahun!

20 tahun lalu, kala saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra UI, saya dan teman-teman membentuk band etno-musik-religius. Nama bandnya: NGeK. Awalnya, itu singkatan dari Nasyid Gang Kober. Tapi lama2, orang tahunya NGeK aja, silahkan menafsirkan sendiri.
Semangat ini dimulai setelah beberapa dari kami melihat konser Emha Ainun Nadjib dan Gamelan Kyai Kanjeng di TIM, Jakarta, 1994. 
Kami menelurkan 1 album, Wajib Ngaji (1997), termasuk Tombo Ati (terisnpirasi Kyai Kanjeng, jauh sebelum dipopulerkan oleh Opick).

Salah satu lagunya berjudul Rindu Ramadhan:  https://soundcloud.com/ahmad-fauzan-18/rindu-ramadhan?utm_source=soundcloud&utm_campaign=share&utm_medium=facebook

Lagu lain di akun Fauzan: Tombo Ati, Rasul Pilihan, Barudati.
Album lengkap ada di sini: https://soundcloud.com/ahmad-fauzan-18