Showing posts with label medina. Show all posts
Showing posts with label medina. Show all posts

Wednesday, 11 January 2023

A Winter Pilgrimage Journey

 Labbaik Allahumma Labbaik! 


Around 2015, Medina’s mom, Rossy,  and I decided that we will go for umroh (little hajj, pilgrimage to Mecca and Medina), if both of us graduated from our doctoral studies, to express our gratitude to Allah without whom I feel we would lose our sanity in this academic struggle in a long and winding road.

At that time, we just moved from Norwich to Bristol (UK). Rossy just started her PhD at UWE Bristol and I kept struggling finishing my thesis atu University of East Anglia in Norwich.

Alhamdulillah, I finished my study and attended my graduation day in May 2018 and returned to Jakarta in late August 2018.  Rossy submitted her thesis and returned to Jakarta in mid 2020 (the time lockdown was applied worldwide and PCR test was extremely expensive). Pandemic happened and we waited in obscurity while at the same time saved some money for the trip. 

Two years have passed.  And finally the three of us flew to Medina, and later Mecca, in December 31, 2022,  and we started the first of January 2023 in Medina. “It’s magical!” said Medina, our lovely daughter when the first time seeing Masjid An-Nabawi with its beautiful “umbrella”. “I am now inside myself”, she added, LOL.  Alhamdulillah we could visit the grave of our beloved Prophet Muhammad and entered Raudah and make prayer there.



We were in Medina for 3 days and went to Mecca on January the 3th. We did umroh three times. Medina (11 yo) did not complain at all for walking and walking while doing Thawaf (circling Ka’bah 7 times) and Sa’i (walking from Shafa and Marwa back and forth for 7 times). What a pious kid! 


And not coincidentally, the third pilgrimage coincided with our 23rd wedding anniversary, 6 January.

So, Happy anniversary, my dear Bidadari Cinta.

I don’t believe “till death do us part” thingy, since we do  believe the afterlife. So hopefully, Allah will grant us happiness, peaceful life in this world and in the hereafter. I wish Allah will reunite us, and our beloved ones, in Heaven.

And I hope I will become a better husband, a better


dad, and better human being.

Amien.

Bonus: after doing the farewell Thawaf, we managed to touch the Kiswah and even kissed the House of God. Alhamdulillah.

We will return for the Hajj (please make dua for us, the waiting list is unbelievable). And for praying inside Hijir Ismail, and for kissing the Hajar Aswad.

For other #umrohstories follow this hashtag and stay tuned for my blog ekkyij.blogspot.com 


More pictures:












Wednesday, 17 May 2017

Pelangi dan Matahari.


Medina dan Baba berjalan ke sekolah tadi pagi, ditemani rintik-rintik hujan, sambil sesekali melewati genangan air. Hari ini mendung dan kelabu. Medina bertanya, mengapa tidak ada pelangi. Aku menjawab: karena untuk menciptakan pelangi, dibutuhkan matahari yang menyorot kuat dan bersahabat. 
Tiba-tiba saya teringat Indonesia. Tiba-tiba aku merindukan munculnya matahari yang bersinar tajam dan menaungi alam semesta negeri kita, agar semua warganya--ya, kita semua!--bisa menikmati warna warni pelangi di tanah air kita sendiri, sambil sesekali ngobrol santai menyeruput teh dan kopi dan bercanda ria seperti dulu lagi.

Saturday, 2 July 2016

Momen-Momen Ramadhan Paling Berkesan Dalam Hidup Saya

Bulan puasa selalu istimewa di hati saya. Jadwal harian berubah. Bangun pagi buat sahur, malamnya tarawih. Beraktivitas dengan perut kosong. Buka puasa bersama dengan keluarga besar dan sahabat, tak jarang dengan reuni kecil dan besar. Setiap tahun berkesan dan bermakna. Tapi tentu ada yang paling membekas di hati.
Berikut adalah beberapa kisah yang paling berkesan di bulan Ramadhan dalam hidup saya.

1.       MedinaAzzahra Lahir, 2011

Walau saya tidak menulis berbagai pengalaman ini berdasarkan ranking, tapi tentu ini adalah peringkat pertama. Setelah 10 tahun pernikahan, tentu kehadiran seorang anak begitu dinantikan, tidak hanya oleh kami berdua, tapi juga oleh kakek neneknya, dan keluarga besar kedua belah pihak. Saya menjadi suami siaga, begadang di RS Budi Kemuliaan, termasuk buka puasa (baik di kantin rumah sakit atau di dalam kamar), sahur, dan shalat tarawih.  Bahkan orang tua saya sengaja I’tikaf di gedung sebelah, Masjid BI, salah satunya karena ingin dekat dengan RS.
Medina lahir 25Ramadhan, pagi hari, lewat operasi cesar.  Saya menunggu di depan kamar bedah, dan begitu lahir saya sendiri yang membisikkan adzan di kedua telinganya.
Bagi saya, hidup tidak dimulai saat saya berumur 40 tahun, tapi saat Medina lahir. Ini mungkin terdengar lebai, tapi sesungguhnya tidak. Saya akan tulis artikel tersendiri tentang Medina sebagai Jangkar saya.

2.       Menyelesaikan Master Tesis Pertama, 2002

Tahun 1998,   8 bulan setelah saya lulus S1 dari Sastra Arab FSUI, saya lanjut kuliah S2 Filsafat.  Dan, pada 2000 saya diterima kerja di Astaga.com, salah satu pengalaman berharga dalam karir saya di bidang jurnalisme. Tapi saking keasyikannya—khususnya meliput film dan music—kuliah, terutama penulisan tesis, agak terbengkalai.
Ramadhan 2002, saya kebut menulis tesis. Saat itu kami baru tinggal di rumah baru, pertama kalinya punya rumah sendiri. Setelah subuh, di luar kebiasaan, saya tidak tidur lagi, tapi tenggelam dalam kesibukan tesis.  Tak sampai setahun kemudian, saya lulus.
 Tak lama kemudian, tesis saya diterbitkan Teraju.




3.       


Menonton Konser Reuni The Police, 2007

Agustus 2007, untuk kedua kalinya, saya menginjakkan kaki ke negeri Belanda. Yang pertama adalah tugas liputan sekitar 1-2 tahun sebelumnya, dan tak lebih dari 2 minggu. Tapi kali ini saya tinggal lebih lama, setahun, karena menempuh studi master yang kedua di Universiteit van Amsterdam. Begitu tahu The Police akan reuni bulan September, tak pikir panjang, saya langsung beli tiketnya, di Amsterdam Arena (stadion-nya Ajax), 14 September. Saya tak menduga bahwa konser itu bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan, yang berlangsung 17 jam!
Untunglah semuanya berjalan lancar. Saya tiba sekitar pukul 8 malam. Menunggu sejam lebih di dalam stadium sepakbola itu. Awalnya, saya tak boleh bawa minuman atau makanan apapun, seperti yang berlaku umum. Maklum, panitia akan jualan di dalam. Namun saya agak ngotot, dan akhirnya salah satu petugas bilang:” apakah ini air minum untuk minum obat?”, saya langsung samber:”iya, pak”. Daripada ribet, hehehe.

Maka saya pun menonton The Police, yang sesuai dengan ekspetasi saya: keren abis! . Saya buka puasa pukul 9 malam waktu Belanda (GMT+1), saat menyaksikan anaknya Sting main bersama band-nya, Fiction Plan, sebagai band pembuka, yang keren abis itu.
Dan saya pun menuliskan laporan pandangan mata untuk Majalah MTV TRax, November 2007.

Namun saya tahu, menonton konser di bulan puasa itu, apalagi di hari pertama, sesuatu yang penuh perjuangan. Sebisa mungkin, saya hindari hal seperti ini.

(konser besar lainnya yang saya tonton adalah The Cure di Ahoy Rotterdam, 18 Maret 2008).


4.       Begadang sekeluarga menonton film seri Silat, 1983-1984

Saya agak lupa tahun berapa, tapi yang pasti waktu SD di Surabaya, dan kami baru punya video player (Betamax). Saya sekeluarga begadang, sejak habis tarawih hingga menjelang sahur, menonton film serial silat yang kami sewa dari Trio Video Tara ataupun tukang video keliling.
Favorit kami adalah: Sin Tiaw Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu, dan To Liong To. Seri lainnya adalah Demi-God and Semi-Devil dan PEndekar Harum.  Entah kenapa, kami luput menonton Pendekar Ulat Sutra dan Princess Cheung Ping secara utuh.
Setelah bangun pagi, ya kami nonton lagi. Maklum, waktu itu masih SD, dan Ramadhan liburan sebulan penuh (saya lupa, entah karena memang itu kebijakan nasional, atau kebijakan sekolah saya yang memang sekolah NU).

5.       Pesantren I’Tikaf Ramadhan, pertengahan 1990an.
Saat masa transisi antara baru mulai kuliah di FSUI dan melepas kuliah di Jayabaya, saya diundang ke acara ini. Acaranya di Pesantren Budi Mulya, Yogyakarta. Organisasinya dari PIR Laboratorium Dakwah.  Pencetusnya Amien Rais, dan pembicaranya kelas wahid semua, termasuk  Yunahar Ilyas, Adaby Darban. Sayang Pak Kuntowijoyo, favorit saya, tidak mengisi acara karena waktu itu sudah sakit-sakitan.

6.       Berburu Shalat Malam, awal 1990an
Awal 1990an, I’tikaf belum semarak sekarang. Sewaktu SMA dan awal kuliah, dan masih agak  lumayan aktif di kerohanian Islam, saya bersama teman-teman sering berburu shalat malam berjamaah, mulai isya hingga menjelang sahur. Ma’had Al-Hikmah adalah salah satu tempat favorit, karena di sana imamnya bagus bacaan murottalnya, yang semalam bisa habis satu juz (kalau 10 hari terakhir bisa lebih).

7.       Safari Ramadhan Keliling Jawa – Bali, 2006
Tahun 2006, sewaktu saya masih bekerja di Majalah Nebula (yang dikelola oleh ESQ Leadership Center), saya diajak Pak Yudhistira Massardi (sang pemimpin redaksi) untuk keliling Jawa-Bali,  untuk bersilaturahim dengan para pembaca (yang juga alumni training ESQ) , sekaligus meliput kegiatan mereka dan menjajagi kemungkinan kerjasama dengan majalah . maka kami pun (bersama Bu Yudhis dan Agus Salim yang bertanggungjawab di bidang usaha) dengan jalan darat mengunjungi Bandung, Yogyakarta, Madiun, dan beberapa kota lainnya, dan berakhir di Denpasar. Tak lupa, kami juga wisata kuliner setempat.
Di Bali, kami tak lupa untuk ke pasar tradisional dan menginap di padepokan Agung Rai Museum of Art, Ubud, yang bersuasana kontemplatif dan spiritual. Yang paling berkesan adalah tur Golden Hour, yaitu menjelajahi Bali yang masih jarang dikunjungi wisatawan yang dilakukan di saat “Golden Hour”. Maka, selepas sahur dan subuh, kami langsung mengeksplorasi perkampungan dan bukit di Ubud dan sekitarnya.
Ini pengalaman yang menarik, mengingat di sana, kami tak mendengar suara adzan atau merasakan suasana Ramadhan.

8.       NGeK 1995-1998
NGeK adalah band yang saya ikut dirikan di FSUI, yang beraliran etno-musik-religious. Sejarahnya dan beberapa lagunya bisa di akses  disini.
Ramadhan adalah bulan paling sibuk sewaktu NGeK masih aktif. Kami pernah main di LippoMal Karawaci, Mal Taman Anggrek, ITB, dan masih banyak lagi.

Kangen juga masa-masa itu….

9.       Tarawih Keliling di Norwich, 2013 dan 2015
Tahun 2013, pengalaman pertama kami berpuasa di Eropa. Dan sebisa mungkin kami silaturahim, buka puasa bersama, walau pun waktu maghrib adalah sekitar 9.30 dan Isya/tarawih pukul 11 lewat, yang artinya akan selesai lewat tengah malam.

Masjid Ihsan adalah masjid terdekat, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah (20 menit).  Di sini bernuansa multicultural, dan berbeda dengan masjid lainnya di Norwich yang kebanyakan didominasi gaya Timur Tengah dan Bangladesh. Bahkan sampai diliput di Channel 4 dalam acara AVery British Ramadhan.  Buka puasanya, kalau kita beruntung, dengan sop kentang, lanjut dengan nasi kebuli, ditutup dengan es krim.
Islamic Center di Dereham Road adalah pengalaman lain lagi. Buka puasa dijamin kenyang, imam shalatnya syahdu, dan ruangannya besar.  Tapi, berhubung bus hanya beroperasi hingga jam tertentu, dan jaraknya agak jauh dari rumah, kami menyesuaikan diri dengan bis terakhir, dan kadang hanya bisa maksimal shalat isya saja.
Terakhir, buka puasa dan shalat tarawih di kampus UEA.  Semangatnya hampir sama dengan Masjid Dereham.
Tahun 2014, saya berpuasa penuh di Jakarta, sambil riset turun lapangan.
 Tahun 2015, saya puasa berpuasa setengah bulan di Norwich, sebelum lanjut mudik ke tanah air. Kebetulan, rekan saya Indra Kusumawardhana menginap beberapa hari. Maka, kami pun melanjutkan tradisi tarling.
Masjid Ihsan rupanya ada perkembangan bagus. Di sana, ada warung kopi, yang biasanya sangat berguna untuk jamaah yang menunggu masa maghrib dan isya/tarawih. Pembayaran dianjurkan memakai dirham dan dinar. Imam shalatnya ada 2, keduanya masih usia belasan, dan keduanya hafal quran. Jika salah satu jadi imam, yang satu ada di belakangnya, sambil membuka quran saku untuk memeriksa bacaan sahabatnya. Kedua ABG ini juga yang paling rajin melayani jamaah yang berbuka puasa, dari menyajikan makanan hingga membawa piring kotor untuk dicuci.



10.   Punya tempat buat mudik: Plaju, Balongan, Balikpapan, 1990an, awal 2000an.
Lahir dan tinggal di Jakarta (dan punya istri yang orang Betawi)  membuat saya tidak banyak punya pengalaman mudik, merasakan macet, dan kerinduan akan kampong halaman. Untunglah, ayah saya beberapa kali pindah rumah, sehingga saya punya pengalaman “mudik”, yaitu kembali berkumpul dengan keluarga. Dan saya bisa merasakan lagi masakan ibu saya yang tiada taranya, khususnya Steak Lidah dan Pisang Ijo (Pallu Buttung).


Jadi kangen masakan mama…..

Saturday, 9 February 2013

Ketika Skype Saja tidak Cukup



Kalau sudah tengah malam dan besoknya akhir pekan, baru deh berasa ingin main-main sama si Meimei Azzahra....

Kangen momen-momen emas seperti di bawah ini:


Meimei dan Ipad-nya




Meimei joget :)




Meimei waktu belajar jalan, dalam suasana proklamasi kemerdekaan.

18 Maret adalah hari yang kunanti-nanti, ketika aku bertemu lagi dengan Meimei dan, tentu saja, ibunya :)


MEimei Nyanyi