Showing posts with label rumahfilm. Show all posts
Showing posts with label rumahfilm. Show all posts

Sunday, 3 January 2016

Refleksi Akhir Tahun 2012: Membaca (Sinema) Indonesia dari Banda Aceh- .::Rumah Film::.


Tentu saja berbagai opini di tulisan ini tidak imbang, karena hanya menggelontorkan ide-ide dari satu pihak saja. Mereka mungkin hanya minoritas. Saya hanya sekadar memberikan ruang untuk berdialog bagi mereka.

Inilah refleksi akhir tahun saya.

1. Aceh, Arab, Islam, Indonesia


Ini jaman boeroek boeat pikeran dan imajinasi. Siapa bilang Arab itoe Atjeh –Kata Dokarim (tulisan di belakang kaos resmi Festival Film Arab 2011, Banda Aceh)

Di Banda Aceh, bagi banyak orang, Arab dan Islam nampaknya tak terpisahkan. Arab adalah Islam, dan Islam adalah Arab, dan mengadopsi segala yang datang dari Arab tampaknya adalah sebuah keharusan.  Tengoklah sebuah pertanyaan sesaat setelah pemutaran film pembuka FFA, Captain Abu Raid:  “Saya kira, film tadi tidak menggambarkan Arab, malah lebih dekat dengan gaya Prancis. Dan mengapa masih dibahas soal Arab dan Islam? Arab itu ya Islam, karena Islam datang dari sana”.  Ketika saya hendak menjawab, si penanya sudah ngeloyor pergi, seolah tak membuka jalan dialog.

Sebelum pertanyaan itu, saya melakukan presentasi singkat tentang teori representasi. Pada kesempatan itu, saya menyatakan bahwa festival film semacam ini penting untuk melihat representasi berbagai budaya Arab yang tak tunggal (tidak satu agama, tidak satu madzhab, tidak satu ideologi, dan sebagainya) lewat film. Teori representasi membuat orang kritis bertanya: “realitas yang mana? Realitas apa? Realitas menurut siapa?”. Dan, karena film adalah produk budaya, maka menggambarkan dinamika kultural bagaimana kondisi sebuah bangsa diproyeksikan dalam film. Dan tentu saja,setting Captain Abu Raid, kota Amman, jauh lebih moderat dan memperlihatkan seorang wanita tanpa jilbab menjadi pilot sangat berbeda dari Arab Saudi yang, misalnya, melarang perempuan menyetir mobil.

Tapi, rupanya, penjelasan saya tidak mempan. Buktinya: pertanyaan seperti di atas. Dan juga, ada pertanyaan dari seorang intelektual lokal yang menjadi pembicara di sebelah saya. Katanya, kurang lebih, film tidak bisa dijadikan pijakan untuk menjadi sebuah referensi dalam kebudayaan, karena tidak bisa memotret realitas. Buktinya, film The Corruptordibuat di Hong Kong, sebuah tempat yang terkenal dengan komisi antikorupsi yang tegas dan sukses. Pun dengan film-film Arab di festival ini, tidak bisa dijadikan patokan bahwa itulah patokan budaya arab “yang sebenarnya”. Tentu saja, pernyataan ini benar, tapi juga sekaligus naïf.  Karena pengkajian dengan pendekatan representasi (atau teori kajian kebudayaan lainnya) , tentu menjadi alat analisa untuk mengkaji sebuah budaya dan situasi sosial sebuah produk budaya seperti sinema. Dan satu lagi, apakah itu, Arab “yang sebenarnya”, karena ada Mesir, Jordania, Suriah, Qatar, dan Uni Emirat Arab, yang jelas semuanya mempunya karakteristik kultural yang berbeda-beda (di samping ideologi yang tak hanya satu jenis Islam, tapi juga berbagai madzhab Islam, disamping, sosialisme, sekularisme, dan sebagainya).

Tapi itulah yang terjadi. Arab itu Islam dan Islam itu Arab, dan, segala dari Arab (Saudi) harus diadaptasi, termasuk di antaranya: syariat Islam dengan penafsiran tertentu.  Juga misalnya penanaman pohon korma di depan Masjid Raya. Inilah yang menjadi kekhawatiran sebagian kelompok di Banda Aceh: kecenderungan Arabisasi dengan tanpa dialog. Karena itulah, kaos penyelenggara festival ini punya pernyataan yang keras, yang dikutip dari Do Karim, tokoh budayawan Aceh, yang menjadi nama sekolah mereka. Dan karena itu pula, slogan festival mereka adalah “sinoe Acehsideh Arab, sinoe sideh hana rab” (di sini Aceh di sana Arab, disini-di sana tidak dekat).  Bagi penyelenggara acara festival film ini, Arab mungkin lebih tua dari Islam, tapi Islam jauh lebih luas dan lebih universal daripada Arab. Dan film adalah sarana yang efektif untuk menunjukkan hal itu. Di satu sisi, ada teori yang memang masih terbuka untuk didebat, Arab adalah salah satu budaya saja yang mewakili huruf A, padahal masih ACEH – sebagaimana secara populer dipercaya oleh orang Aceh – terdiri dari A, C(ina), E(ropa), dan H(industan).

Fauzan Santa, rektor Sekolah Menulis Dokarim menyatakan bahwa “…Arabisasi  dalam hal ini cuma proses penetrasi simbolik sebuah budaya tua sekaligus cermin galau kita saat hendak menemukan model dan bentuk kebudayaan Islam kontemporer”. Penanaman pohon kurma—yang kemudian tak berbuah dan melayu sebelum menghijau–adalah sebuah contoh menarik, betapa sia-sia usaha adopsi kebudayaan tanpa tahu konteks (tanah, cuaca, dan kadar air) di Aceh.  Pun dengan urusan kebudayaan, politik, dan hukum.

Reza Idria, salah seorang fasilitator institusi ini, menyatakan bahwa FAA adalah medium memperkenalkan situasi sehari-hari di Timur Tengah, persoalan-persoalan rumah tangga, politik, agama dan sebagainya menjadi lebih ringkas lewat visualisasi sebuah film. “Ini memang dilakukan sebagai upaya untuk menangkis bayangan ideal tentang Timur Tengah, khususnya negara-negara Arab sebagai tempat suci dan teladan bagi pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Karena ternyata melalui film orang dapat melihat problem-problem yang terjadi di Aceh juga dialami dalam keseharian masyarakat Arab. Jadi tidak benar dengan membungkus tubuh orang, melarang orang berkumpul antara laki-laki dan perempuan, mencambuk, bersorban, dan lain-lain bisa menyelesaikan kebutuhan riil masyarakat,” jelas Reza yang baru saja menyelesaikan S2 di Universitas Leiden.

Di balik festival film itu, ada problema yang lebih besar di hadapan, yang kurang lebih berkaitan dengan isu “Arab-adalah-Islam” di atas: bagaimana hukum Islam diterapkan dengan—menurut beberapa kalangan–cara legalistis, formalistis, birokratis, dan simbolis. Sejauh ini, sudah diterapkan Syariat Islam yang berkaitan dengan moralitas, misalnya hukuman bagi pemabuk, penjudi, orang yang ber-khalwat (berduaan dengan bukan mahram) – di antaranya hukum cambuk[1]yang terselenggara sejak 2001—misalnya, Qanun atau peraturan daerah Syariat Islam No. 11 tahun 2002 tentang pelaksanaan syariat bidang aqidah dan ibadah, No. 12 tahun 2003 tentang khamar (minuman keras), No. 13 tahun 2003 tentang maisir (judi), dan No. 14 tahun 2003 tentang khalwat. Sejak 2009, RUU baru–Qanun (Peraturan Daerah) tentang Jinayat (Pidana Islam) dan Hukum Acara Jinayat – diserahkan oleh DPR Aceh, namun tak kunjung ditandatangani Gubernur, sebuah hukum yang di dalamnya ada hukuman potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi penzina yang telah menikah.

Fozan menyatakan bahwa sejauh ini, penerapan syariat Islam kurang efektif. “Kalau cambuk atau penjara sejauh ini tidak juga membebaskan manusia dari perilaku buruk, apa lantas hukum Islam atau hukum (negara) modern gagal membawa kemaslahatan umat? Jadi apa makna slogan-slogan “Islam adalah solusi”, “Syariat Islam akan membawa kedamaian”?

Menurut Fozan, penegakan hukum semacam itu adalah proses pengerdilan universalitas nilai Islam. “Semua hal harus punya cap stempel formal syariat: dari makanan sampai wisata. Dari bank sampai jurnalisme. Sementara ini kalau kita bicara syariat Islam kita cenderung memahami fiqih/hukum Islam.  Maka Islam jadi sempit. Cuma urusan ini boleh itu tidak.  Kalau sudah hukum cambuk dijalankan, seolah sah kita merasa beragam islam walaupun si terhukum sudah lebih dulu masuk penjara dalam tempo lama sebelum dicambuk. Rentan konflik horizontal. Jadi seolah-olah siapa saja ingin beraktifitas dan berusaha di Aceh hari ini mesti pakai emblem syariat. Siapa tahu nanti ada Salon Syariat, warkop syariat, Wisata syariat, marathon Syariah, Ayam tangkap syariat, dan sebagainya (ayam tangkap adalah menu makanan populer di Aceh-red.)”

Jika kita mendengar adanya peristiwa penangkapan dan penggundulan anak-anak punk karena dianggap tidak berpakaian dan berpikiran Islami—bahkan harus diceburkan ke sungai Reza dan Azhari menyatakan bahwa para anak punk itu sebenarnya melawan balik, dan kelompok mereka sekarang sudah 10 gang. Ternyata, tidak hanya punker yang “membangkang”, tapi juga telah terjadi semacam civil disobedient dengan cara tidak benar-benar menjalankan aturan, bahkan mengakalinya[2]. Misalnya, Reza dan Azhari memberi contoh tentang konser God Bless yang mewajibkan penontonnya harus terpisah pria dan wanita. “Ketika sudah masuk, mereka berbaur lagi di dalam.” Atau, ketika  penjual hamburger dilarang untuk berjualan di atas pukul 12 malam, karena mengundang muda mudi untuk datang dan “mojok berduaan”[3]. “Mereka akan pergi, tapi dua tiga hari lagi akan kembali ke tempat semula”. Namun para warga itu tidak bermaksud untuk membangkang terhadap syariat Islam. Menurut Reza, “…yang membangkang dan menolak adalah terhadap formulasi dan interpretasi hukum lokal yang diberi label syariat oleh otoritas namun dalam kenyataan juga berlaku sangat parsial, politis, dan tidak sesuai dengan prinsip maqashid syari’ah (tujuan syariat-EIJ) itu sendiri.”

Lantas, bagaimana jalan keluar atau titik temunya? Fozan Santa meyatakan: “ Kita amat sangat perlu belajar kembali pada sejarah (interaksi) sosial-politik Nabi Muhammad periode Mekkah, bukan semata mahir menjiplak formalitas personal dan legalistik yang sudah mapan pada periode Madinah”. Sedangkan Reza menyatakan sebaiknya syariat dikembalikan pada pada makna harfiahnya: jalan menuju tuhan. “Jalan menuju tuhan ditempuh dengan pendidikan dan etika. Etika yang mengatur hubungan dengan tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan dengan alam, semua ada dalam syariat agama. Hukuman adalah pilihan akhir yang harus diterapkan setelah pendidikan dan etika diperkenalkan” jelasnya.

Bagi penyelenggara FFA, hukuman adalah sarana, bukan tujuan, dari penegakan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.  Sehingga yang sebaiknya dilakukan  adalah gerakan penyadaran dan pemahaman, bukan sesuatu yang menakutkan dan dipaksakan.  Jalannya adalah pendidikan, sejarah, dan etika, yang merupakan bagian dari kebudayaan.Gerakan  kultural itulah, agaknya, yang tengah mereka perjuangkan. Salah satunya lewat Festival Film Arab. Jika tidak, maka yang terjadi akan seperti simbol FFA, sebuah pohon kurma di Masjid Raya, yang pada akhirnya hanya menjadi  hiasan artifisial belaka.

2. Merayakan Film di Negeri Tanpa BioskopDalam setahun ini, tidak banyak saya ke luar kota. Beberapa di antaranya adalah ke Banda Aceh dan Serang. Keduanya mempunyai, setidaknya, satu persamaan: tidak ada bioskop. Dan ada banyak sekali kota-kota, baik di Jawa atau di luar Jawa, yang tidak memiliki bioskop.[4] Mungkin itu salah satu alasan mengapa film terlaris kita, Laskar Pelangi, meraup lebih dari 5 juta penonton, yang sebenarnya adalah sekitar 2,5 % total penduduk  Indonesia. Kita berhadapan dengan persoalan distribusi dan eksibisi.

Bioskop penting tidak saja sebagai sebuah tempat untuk menonton film dengan fasilitas khusus, tapi juga untuk membuka ruang publik tempat masyarakat bertemu dan berapresiasi dan interaksi sosial.

Festival Film Arab yang dicetuskan Sekolah Menulis Dokarim adalah salah satu upaya untuk membuka bioskop.  Mereka menyulap kantor mereka, Episentrum Ulee Kareng, menjadi ruang publik yang nyaman untuk para penonton.

Menurut Fozan Santa, sang kepala sekolah, setelah bioskop-bioskop resmi lenyap di Aceh, konsentrasi penonton kritis serta pengamat kebudayaan kita hari ini berpindah ruang ke meja-meja di kedai minum untuk merayakan keramaian dan keragaman pemikiran. “Tidak mudah memang menyelenggarakan kembali sebuah bioskop resmi saat ini, untuk aktifitas menonton dan menemukan inspirasi kebudayaan dari balik sorot proyektor film,” ujarnya.

Fozan menjelaskan, adanya pergeseran pemahaman pasca konflik dan tsunami terhadap “ruang gelap komunal” menjadi “ruang sunyi personal”.  Itu pula yang membikin orang kini lebih senang dan nyaman menonton televisi atau bioskop-keluarga (home-theater) karena di sana gelap-terang bukan lagi soal yang berarti untuk simbol baik dan buruk.

Bisnis bioskop di Banda Aceh menurun sejak 1989. Sejak konflik meningkat, sekitar tahun 2000an, makin banyak yang jarang keluar malam, sedangkan warung kopi  yang buka siang-malam pun banyak tutup. Saat Tsunami, Desember 2004, bioskop terakhir pun tutup.

Walhasil, rakyat Aceh yang budayanya kental dengan audio visual dan tradisi lisan, tidak hanya sekadar haus tontonan, namun juga  rindu ‘perayaan sosial’. Sebab, menurut Fozan, selama ini, mereka hanya bisa menonton VCD sendiri atau bersama keluarga di rumah.  Padahal, umumnya, masyarakat Aceh suka keramaian dan hiburan, suka berkumpul meski tak melulu menonton bioskop.   Karena itulah, banyak warung kopi yang memasang layar besar untuk menonton pertandingan sepak bola beramai-ramai. Dan karena itulah FFA dibanjiri penonton dari berbagai penjuru.

Bagaimana kemungkinan membuka bisnis bioskop? Menurut Reza Idria, setelah tsunami, ada banyak sektor modal yang bangkit, namun tidak ada lagi orang yang mau investasi di bidang ini karena ada larangan bercampur laki-laki dan perempuan di tempat gelap.  Namun, jika ada regulasi yang jelas dari pemerintah tentang aturan bagi penyelenggara dan penonton bioskop maka saya kira peluang keuntungan bagi yang mau investasi sangatlah besar.

Tetapi, rupanya absennya gedung bioskop tidak lantas membuat mereka berdiam diri untuk melakukan perayaan sosial dan kultural. Ada beberapa geliat di bidang distribusi dan eksibisi. Beberapa di antaranya adalah serial film Eumpang Breuh, dan acara TV Eng Ong.



Eumpang Breuh (yang bermakna karung beras) adalah sebuah  drama komedi yang digagas oleh grup lawak setempat Aceh, Tuha Ban Lahee. Mereka memproduksi filmnya sendiri dan mengedarkannya sendiri dalam bentuk kepingan VCD. Episode pertama (Preman Gampong) dirilis Agustus 2006 dan laris hingga 25 ribu keping. Seri kedua (Yusniar Dara Gampong) laku  40 ribu. Dan yang ketiga (Cinta Bang Kapluk) melonjak hingga 70 ribu[5]. Ratusan orang antri panjang hanya untuk membelinya, dan para “distributor” biasanya membayar lunas di muka, dengan uang tunai berkarung-karung. Serial keempat (Raket bak Pisang), lima (Kaoy Haji Uma), dan seterusnya hingga nomor sembilan masih juga diproduksi. Eumpang breuh adalah simbol keberuntungan bagi Joni Kapluk yang berjuang demi mendapatkan kekasih sekaya dan secantik Yusniar, anak tunggal Haji Uma yang galak. Intinya sebenarnya adalah perjuangan mendapatkan jodoh dan mendapatkan halangan dari calon mertua, dan disajikan dengan slapstick, misalnya dengan berlari-lari dikejar-kejar golok.[6] Film seri ini disturadarai oleh Imran Abdoe alias Ayah Doe dan diproduseri oleh Din Keramik sebagai Produser.

TV Eng Ong agak berbeda. Kegiatan yang  digagas oleh Episentrum Ulee Kareng  bekerja sama dengan beberapa institusi itu sebenarnya adalah semacam ajang kampanye sosial ke rakyat Aceh, misalnya tentang peran perempuan, dan isu sosial lainnya.

Umumnya, acara ini disutradarai oleh Akmal M Roem dengan berbagai penutur dengan pendekatan komedi[7]. Panggungnya berbentuk televisi raksasa bermerek Episentrum, dan dua orang berperan sebagai reporter televisi[8], dan lebih mengandalkan improvisasi akting. Ribuan orang menghadiri dan tertawa bersama[9]. Yang paling menarik adalah segmen roadshow ke pemirsa, eh, penonton, mengingat mereka merasa benar-benar masuk televisi.

Misalnya, pada pertengahan September 2011, mereka pentas  dengan tema Perempuan dan Perdamaian, di Kabupaten Aceh Besar, di antaranya di Kantho, Lampuuk, Indrapuri, dan Siem.  Untuk kali ini, mereka bekerja sama dengan Koalisi Perempuan dan UN Women.

Sebelum dan, umumnya, setelah suksesnya Eumpang Breuh ini, bermunculannya produksi lokal bertema komedi, dengan jaringan distribusi dan eksibisi lokal pula.

Di kesempatan lain, Desember 2009, mereka melawat Aceh Selatan (Kecamatan Sawang, Tapaktuan, Bakongan dan Kluet Timur) dengan tema perdamaian, kesehatan reproduksi dan kampanye anti HIV/Aids, khususnya soal penyembuhan trauma.

Acara yang diprakarsai Komunitas Tikar Pandan ini merupakan bagian dari kampanye trauma healing dan kesehatan. Dalam pertunjukannya di negeri naga tersebut, TV Eng Ong mengangkat isu-isu tentang perdamaian, kesehatan reproduksi dan kampanye anti HIV/Aids di Aceh.

Alternatif  ruang publik lainnya adalah Gerobak Bioskop, sebuah perangkat layar tancap yang dihibahkan Komunitas Ruang Rupa kepada Episentrum Ulee Kareng pada 28 November 2011. Perangkat tersebut terdiri dari Media Player, Sound System, Komputer Operator (Laptop), dan Proyektor beserta layarnya.

Di negeri tanpa gedung bioskop, rakyat Aceh tak kehilangan kreativitasnya untuk menciptakan system distribusi dan eksibisi baru, untuk menciptakan ruang publik yang menampung rakyatnya untuk perayaan sosial dan mengapresiasi budaya lisan dan audio visual yang sudah lama ada dalam tradisi mereka. Dan komedi adalah pilihan mereka, yang sudah lama didera konflik dan bencana.

Moda produksi dan distribusi ini juga diterapkan di Nias dengan serial Ono Sitefuyu. Di tempat yang juga nir-bioskop ini, VCD Ono Sitefuyu beredar 11 episode. Hingga Juli 2011, Ono Sitefuyu telah terjual hingga 220.000 kopi hanya di Pulau Nias saja.[10] Seperti disebutkan dalam buku Menjegal Film Indonesia:


Suksesnya Eumpang Breuh dan Ono Sitefuyu mencerminkan kekuatan komunitas dan akar yang kuat dalam pembuatan karya film. Patut diakui, bahwa faktor terisolasinya komunitas ini dari ekspos produk budaya pop global (dalam hal ini: Hollywood) semestinya cukup berperan dalam membangun minat masyarakat. Jika masyarakat kedua daerah itu sejak awal terekspos kepada Hollywood, apakah film-film daerah ini akan sesukses sekarang? Sulit diketahui jawabannya.

Dan tiba-tiba saya teringat dengan masyarakat menengah ke atas yang mengeluh karena tak bisa menonton Harry Potter dan Transformers di pertengahan tahun ini, bahkan ada yang berinisiatif nobar ke Singapura.







[1] Misalnya, silahkan periksa: http://www.republika.co.id/berita/regional/nusantara/11/05/22/lll3uo-amnesty-internasional-minta-hukuman-cambuk-di-aceh-dicabut

[2] Silahkan cek: http://aceh.tribunnews.com/2011/11/28/apa-kabar-syariat-islam

[3] Kasus serupa, cek: http://beritasore.com/2010/12/06/nasib-syariat-islam-di-negeri-serambi-mekah/

[4] Untuk data bioskop, silahkan cek http://filmindonesia.or.id/movie/viewers

[5] http://www.acehfeature.org/index.php/site/detailartikel/586/Eumpang-Breuh/

[6] http://acehdalamsejarah.blogspot.com/2011/08/eumpang-breuh-grup-lawak-kawakan-dan_15.html

[7] Contoh scenario bisa dibaca di: http://aamovi.wordpress.com/2009/04/01/naskah-tv-eng-ong/



[10] Kompas Online, Film Berbahasa Daerah Diminati, 4 Juli 2011, dan Harian Batak Pos, Masyarakat Batak di Jambi Sulit Dapatkan Film VCD “Anak Sasada”, 14 Juli 2011

Friday, 1 January 2016

Yasmin Ahmad: “Saya Membuat Film Karena Ingin Lebih Memahami Tuhan”

September 2007

Wis mangan? Wis wareg?”. Pertanyaan itu dilontarkan Yasmin Ahmad, sutradara terkemuka Malaysia bahasa Jawa yang fasih. Malam itu, akhir Agustus lalu, RumahFilm beroleh kehormatan diundang Yasmin menonton Muallaf, film terbarunya. Tak hanya disuguhi Muallaf, sekitar 10 hadirin di screening room kantor Yasmin, di Leo Burnett Malaysia juga bisa menikmati makan malam lezat dan keramahan khas Yasmin.
Yasmin Ahmad adalah fenomena. Film-filmnya: Sepet, Gubra, dan Mukhsin, laris manis di negerinya, sekaligus menyabet banyak penghargaan di berbagai festival kelas dunia, semacam Berlin dan Tokyo International Film Festival. Bahkan, pada Festival Film Tokyo 2006, ada retropeksi khusus untuk empat film Yasmin. Bersama Amir Muhammad, Ho Yuhang, Tan Chui Mui, dan James Lee, ia dianggap sebagai penggiat gerakan estetika film baru Malaysia – film-film yang belakangan dirayakan di berbagai belahan dunia.
Setelah mengangkat tema pembauran etnis dalam film sebelumnya, lewat MuallafYasmin kini siap menjewer publik dengan film nakal yang sedikit ofensif tentang hubungan antar agama. Seperti apa pemikiran Yasmin tentang film-filmnya, tentang gelombang baru film Malaysia, dan makna hari kemerdekaan? Berikut petikan wawancara Yasmin dengan Ekky Imanjaya di kantornya, Leo Burnett Malaysia, menjelang tengah malam.
Anda memenangi Silver Hanoman Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) tahun ini. Bagaimana pendapat Anda tentang Yogja dan festivalnya?
Saya sangat gembira karena pemenang pertamanya adalah film Irak-Kurdistan. Saya menghormati film-film dari sana. Saya telah pergi ke berbagai festival. Favorit pertama saya adalah Berlin, karena ratusan orang mengapresiasi film saya dengan hangat. Dan kedua adalah Yogja, karena tempat itu sangat personal. Tidak adil memang, karena saya seperempat Jawa dan seperempat Jepang. Karena saat saya ke Jawa untuk pertama kalinya, saya merasa pulang ke rumah. Yogja sangat sangat personal bagi saya. Yogja sangat inspiratif. Karena banyak mahasiswa dan mereka menjadi relawan. Mereka sungguh cerdas. Dan Anda bisa merasakan atmosfir kesenian di mana-mana. Saya tak bisa menjelaskan. Di tepi jalan, di jual buku-buku yang sangat terhormat yang tidak ada di dalam bahasa Melayu, bahkan di toko buku Kinokuniya sekali pun.
Anak muda sangat terpelajar di Yogja. Dan ini mengingatkan saya pada Calcutta. Umur mereka belasan tahun, jika ke toko CD dan tanya mereka tentang film Satyajit Rai, mereka bilang, apa mau film Satyajit yang seluruh dunia sudah tahu atau yang langka. Mereka tahu tempat-tempatnya. Mereka belasan tahun tapi sangat cerdas.
Saya juga pengagum Garin Nugroho. Memang saya tak tonton semua filmnya, tapi saya menonton Daun di atas Bantal dan Cinta dalam Sepotong Roti, yang keduanya sangat saya sukai. Dan saya kira Garin sangat seksi (tertawa). Tapi karena dia sepertinya suka gadis muda, dan saya sudah tua, saya hanya mengaguminya dari jauh. Dia juga sangat cerdas.
Mengapa Anda selalu mengawali film Anda dengan bacaan Bismillah?
Untuk mengingatkan diri saya mengapa saya membuat film. Yaitu untuk memahami Tuhan. Saya bukan wanita yang sebaik itu, mengingat adegan “masuk ke sarung” (Yasmin tertawa) (yang ia maksud adegan suami istri dalam film Rain Dogs karya Ho Yuhang - red). Tetapi jika saya ditanya mengapa saya membuat film, ada tiga alasan: Agar memahami Tuhan dengan lebih baik, agar memahami diri sendiri lebih baik lagi, dan untuk menghibur orang tua saya dan teman-teman.
Anda merasa lebih memahami Tuhan lewat film-film Anda?
Ya. Saya kira, kalau kita lebih memahami diri sendiri, juga akan lebih memahami Tuhan.
Setelah Rabun, Sepet, Gubra, dan Mukhsin, akan adakah lagi film yang fokus pada karakter Orked?
Mukhsin adalah bagian terakhir tentang Orked. Tidak akan ada lagi.
Apa hubungan Anda dengan Orked? Saya curiga Andalah Orked.
Tentu saja. Orked adalah kombinasi saya, ibu saya, dan adik saya yang memang bernama Orked Ahmad, perempuan dalam tudung saat tampil di akhir film menyanyikan Hujan Keroncong.
Film tentang Orked selalu tentang multiras, pembauran etnis. Mengapa?
Saat saya kecil, ibu saya punya sahabat baik bernama Ibu Tan, seorang Cina. Saya rasa, itu sangat mempengaruhi sepanjang hidup saya. Semua pacar saya adalah Cina. Pria Jepang lebih ganteng tapi tidak banyak di Malaysia. Hanya ada Cina, dan itu yang terdekat dengan Jepang (tertawa kecil). Dan saya suka pria pemalu. Semua karakter di film saya, termasuk Brian, tokoh utama dalam Muallaf, adalah pria pemalu.
Apakah pembauran merupakan masalah besar di Malaysia saat ini?
Jadi masalah karena perempuannya Melayu. Kalau ceritanya tentang pria Malaysia dengan gadis China atau India, tidak akan jadi masalah. Tapi kalau sebaliknya, takkan bisa diterima masyarakat. Karena bagi pria Malaysia, mereka bisa menikah dengan ras apa pun, tapi tidak bagi perempuan Melayu. Jadinya, (untuk pria) tidak terlalu ofensif. Muallaf juga adalah bagian dari diri saya. Karena suami saya adalah China.
Apakah Anda terobsesi dengan budaya China?
Tidak. Saya terobsesi dengan budaya yang bukan budaya saya. Saya paling suka budaya India.
Tapi karakter orang India baru muncul di Muallaf?
Itu karena saya terlalu malas menulis banyak karakter di film saya. Saya tidak suka keramaian. Saya memang pembicara yang percaya diri, dan saya mengajari mahasiswa agar selalu penuh percaya diri. Tapi di dalam diri saya, saya tak nyaman dengan keramaian. Saya lebih memilih kelompok kecil seperti ini (menyebut kelompok kecil yang hadir dalam private screening malam itu - red). Jadi, karakter-karakter saya ada dalam kelompok kecil. Karena itu saya suka (Abbas) Kiarostami dan (Yasujiro) Ozu. Hanya beberapa orang saja. Karena satu orang bisa merepresentasikan dunia. Jadi, lima orang sudah cukup.
Muallaf Anda tulis di Bali?
Semua skenario film saya ditulis di Bali. Di Ubud, tepatnya di Sayan. Kami sewa tempat di dekat sungai. Di sana, tidak ada masalah kalau saya berkemban, beda dengan di Malaysia. Saya merasa bebas. Muallaf saya buat dalam lima hari. JugaMukhsin.
Gerakan estetika baru film Malaysia banyak dibicarakan. Anda serta Amir Muhammad acap dianggap sebagai patron Ho Yuhang, Tan Chui Mui, atau James Lee. Apa komentar Anda?
Saya tak tahu. Yuhang dan saya berkawan karena membuat iklan bersama. Kami membuat film dalam waktu yang bersamaan. Saya main dalam filmnya, dan dia main dalam film saya. Min adalah film pertama Yuhang, dan itu kependekan dari Yasmin, dan saya hadir sebentar di sana. Yuhang pertama kali ada di film saya,Rabun.
Saya tidak merasa sebagai patron. Kami bersama-sama melakukannya, dan berkata: “film-film di Malaysia sangat buruk!”. Mereka juga suka pergi ke berbagai festival, dan di sana mereka ditanya “film macam apa yang ada di Malaysia?” dan mereka malu menjawabnya. Jadi mereka memutuskan untuk membuat film sendiri. Saat ayah saya sakit, ia memberi masukan agar saya menbuat film. Saya pikir itu menarik, maka saya membuat Rabun, yang saya syut dalam 6 hari. Saya hanya ingin menikmati diri sendiri, bersama orang-orang. Lalu Tan Chui Mui datang. Tapi James Lee dan Amir sudah buat film terlebih dulu.
Kalian memang saling membantu untuk kebangkitan film Malaysia?
Istilah “kebangkitan” berasal dari mata orang luar. Di Malaysia, mereka malah mencekal dan menyensor film-film kami. Saya kira, film-film saya adalah yang paling publik di antara mereka. Tapi saya tak mau menjadi art-house filmmaker. Saya tak mau. Saya mau film-film saya ditonton banyak orang.
Anda juga aktris yang baik. Anda bermain alami dan indah dalam Rain Dogs?
Saya merasa bermain buruk.
…apalagi adegan ranjang dan adegan “masuk ke sarung”?
Ya, adegan itu membuat suami saya begitu marah. Dia tidak tahu dan kaget sekali begitu melihatnya. Tadinya saya mau menolak adegan itu, tapi saya akan mengecewakan banyak orang.
Banyak orang bicara dikotomi antara art-house film dan komersial. Tapi film Anda adalah kombinasi keduanya, disukai orang banyak sekaligus meraih penghargaan festival dunia. Apa resepnya?
Tidak ada formula. Saya membuat film agar manusia merasakan sesuatu. Untunglah orang-orang di Festival juga manusia. (tertawa kecil). Saya percaya pada Shintaro Tanikawa dan Pablo Neruda. Neruda bilang, “I want my poetry to be like bread, everybody can eat it”. Shintaro bilang, “aku tak mau pembaca saya menganalisa puisi saya. Saya mau puisi saya seperti makanan, dan saya harap mereka mencicipinya dan merasakan kenikmatannya. Kedua tokoh itu adalah penyair terbesar yang pernah hidup menurut saya. Dan saya mengkiblatkan pada keduanya, karena mereka lebih hebat dari pembuat film seni yang membosankan.
Ketika membuat film, kita harus melupakan tentang festival-festival itu, karena nantinya akan tidak jujur. Karena hanya menuruti selera juri di festival. Saya membuat film karena ingin lebih memahami Tuhan dan diri sendiri, bukan ingin lebih memahami juri-juri di festival.
Negeri Anda, Malaysia, merayakan Kemerdekaan ke-50 pada 31 Agustus lalu?
Saya tidak peduli. Saya bukan nasionalis. Peringatan lima puluh tahun tidak berarti apa-apa. Bendera juga tidak bermakna, hanya selembar kain. Saya harus jujur pada Anda. Yang bermakna adalah masyarakat di Malaysia. Saya selalu bermasalah dengan negara. Karena begitu ada istilah “ini Negara saya” maka akan digunakan dan menjadi alasan untuk melawan Negara lain. “Negara saya, Negara kamu”. Saya peduli dengan masyarakat. Kita adalah kutukan terburuk dunia, juga harapan terbesar dunia. Kita harus memilih menjadi apa kita kelak.
Anak muda sekarang dianggap buruk oleh orang tua. Saya malah sebaliknya, mengapresiasi generasi sekarang. Anak muda sekarang dituduh tidak menghargai perjuangan 1957, saya pikir ini bagus. Cukuplah generasi tua saja yang merasakan kesengsaraan masa itu. Mengapa generasi muda dipaksa merasakannya juga? Itu bukan tujuan kemerdekaan. Kalau anak muda melupakan perjuangan, itu bagus.
Karena mereka punya perjuangannya sendiri.
Ya! Mereka lebih pintar, dan lebih bagus penampilannya. (Tertawa)
Kapan Muallaf beredar?
Di Jepang Oktober. Di Singapura November.
Tidak takut ada protes dari kalangan “fundamentalis”?
Sudah biasa. Dan aku baru tahu ada produser besar, yang membayar wartawan 3-4 wartawan untuk mendiskreditkan berita apa pun mengenai gelombang baru film Malaysia, seperti film saya, atau Yuhang, atau Amir. Ini fakta, bukan kecurigaan.
Apa film Indonesia favorit Anda akhir-akhir ini?
Film Mendadak Dangdut. Ceritanya unreal, palsu. Tapi emosinya nyata. Dan saya suka lagu Jablai. Saya tak peduli itu film art atau tidak.
Film-film lain, seperti milik Yuhang bersifat art. Tapi Anda tidak keberatan membantu mereka?
Yang paling bersatu hati, adalah saya dan Yuhang. Dan saya kira Yuhang tidak hendak membuat film seni, tapi feeling movies, melodrama dan sentimental. Menurut saya, filmnya sangat sentimental.
Malam telah larut. Lewat tengah malam. Sadar bahwa saya dan istri bingung bagaimana caranya pulang di kota asing, Yasmin mengajak kami pulang bersama. Tentu saja dengan persetujuan suaminya. Dan kami berdua pun diantar hingga depan hotel, di Bukitbintang, tentu saja dalam keadaan wareg, karena nikmatnya hidangan nasi lemak..

Muallaf: Brian Dan Sepasang Gadis Ronin


September 2007
“Hus! Hati-hati bicara! Banyak pengikut Wahabi di sekitar sini,” ungkap Ana (Sharifah Amani) kepada adiknya, Ani (Sharifah Aleysha), dan guru sang adik, Brian (Brian Yap), saat berdiskusi bebas tentang penafsiran kitab suci. Itu adalah salah satu adegan dari film terbaru Yasmin Ahmad, Muallaf.
Adegan lain tak kalah nakal. Miss Siva memukuli Ani di depan kelas. Guru sekolah Katolik itu tak tahan karena muridnya acap mengucapkan kutipan dan nomor-nomor tak jelas. Puncaknya, saat ia menyuruh seluruh kelasnya menggambar gajah, Rohani (nama panjang gadis Melayu itu), malah menggambar bunga. Dan saat dirotan, Ani malah meneriakkan berulang-kali sebuah nomor: 105:1.
Tak banyak yang paham tentang Ani, yang ikut kakaknya, Ana atau Rohana, kabur karena protes terhadap kelakuan ayah mereka. Alhasil, Ani membuat orang di sekitarnya takut dengan tingkah anehnya. Misalnya, nomor di atas adalah penafsirannya atas perintah sang guru, yaitu nomor surat Al-Fiil (”Gajah”) ayat pertama dalam Al Quran. Sedang kalimat-kalimat yang dianggap igauan dari mulut Ani adalah ucapan terkenal para agamawan, mulai dari Tao The Ching hingga Santo Augustine. Hanya Brian yang memahami Ani. Brian, seorang Cina pendiam, juga sedang melakukan pendekatan pada Ana.
Ana dan Ani adalah sebuah proses pencarian ketuhanan. Keduanya belajar agama, mulai dari sosiologi agama hingga perbandingan agama, selayak para ronin: bebas dari madzhab. “Ronin” adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk para “samurai tak bertuan”. Diterjemah secara bebas, ronin bisa juga menggambarkan para intelektual bebas, yang mandiri dan tak ikut golongan apa pun dalam mengembangkan pikiran mereka.
Walau Ana dan Ani sadar bahwa mereka butuh guru, dan ilmu mereka tidak memadai untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama, tetapi mereka tetap mencari Tuhan secara independen. “Setiap orang sedang mencari Tuhan dalam caranya sendiri,” tegas sang kepala sekolah, seorang India. Demikianlah pula keadaan Brian, seorang Cina yang bermasalah dengan ibunya dan karenanya tak lagi ke Gereja. “Biasanya, orang yang jauh dari tuhannya adalah orang yang sedang bermasalah dengan sesuatu,” tegur Ana, halus. Tapi Brian adalah sesama musafir, sesungguhnya, seperti Ana dan Ani –dalam perjalanan mencari Tuhan.
Muallaf adalah film yang sensitif, sedikit ofensif, dan agak nakal. Film ini melakukan kritik sosial secara subversif. Tapi justru itulah kekuatan film ini: keberanian.
Tengoklah gambaran sang Datuk, ayah Ana dan Ani, yang menganggap najis ludah anjing tapi tak merasa bersalah jika mabuk dan bermaksiat. Tipikal masyarakat Melayu (termasuk Indonesia)? Atau indahnya sebuah adegan two shots saat seorang kyai Melayu dengan baju koko putih, dengan pendeta India dengan baju putih bersih juga bersatu padu. Atau, lihat saja pembukaan film ini, tulisan Basmalah (seperti ciri khas pada semua film Yasmin) —kali ini, dalam aksara Cina. Semua menyuratkan keberanian Yasmin menyatakan sikapnya dalam film ini.
Tapi, hemat saya, Yasmin tak keluar batas. Ia hanya menunjukkan fenomena pluralitas agama yang sebenarnya. Kita bisa bergaul dengan penganut agama lain, bahkan memelajari agama mereka, tanpa meninggalkan hakikat agama sendiri, apalagi mencampuradukkan dengan ajaran agama lain. Pesan pluralisme ini bisa bersembunyi, misalnya, dalam permainan kata dan nama “Siva” dan “Rohani”.
Logika dalaman film ini kuat. Alasan masa lalu yang menghantui tokoh utama sungguh tajam. Ani yang digunduli dan Brian kecil yang ditelanjangi di depan umum, menunjukkan sebuah rasa malu dan, akhirnya, dendam kepada orang tua mereka. Dalam konteks ini, isu memaafkan mencuat lagi, seperti pada Gubra. (Kesediaan Sharifah Amani untuk digunduli habis kepalanya demi film ini, kini sedang jadi kontroversi di sebagian kalangan konservatif Malaysia. Ada fatwa bahwa haram bagi perempuan menggunduli rambutnya.)
Tapi, harus diakui, inilah film Yasmin yang paling sarat dengan pesan, penuh dialog, dan lebih berat daripada trilogi Orked (Sepet, Gubra, dan Mukhsin; “Orked” adalah nama tokoh utama trilogi itu, yang juga diperani oleh Sharifah Amani). Mungkin karena “beban misi” film ini juga lebih berat dan sensitif. Setelah isu pembaruan etnis dalam film-film terdahulunya, untuk pertama kalinya Yasmin mengangkat tema agama. Tepatnya: Agama yang yang membawa damai, cinta, dan cahaya. ***
Muallaf akan akan beredar Oktober 2007 di Malaysia dan Jepang; sedangkan di Singapura, dijadualkan beredar November 2007. Belum ada kabar, kapan akan beredar di Indonesia.
Judul: Muallaf
Sutradara/Skenario: Yasmin Ahmad
Pemain: Sharifah Amani, Sharifah Aleysha, Brian Yap, Ning Baizura
Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Sebagai jurnalis film angkatan muda, Ekky telah menulis beberapa buku tentang film, yang terbaru adalah Layar Persia (2007). Kini sedang studi S-2 tentang film di Amsterdam.