Showing posts with label yasmin ahmad. Show all posts
Showing posts with label yasmin ahmad. Show all posts

Friday, 10 May 2019

Kerontjong: Yasmin Ahmad's Hujan and P Ramlee's Alunan Biola

Just found out that Yasmin Ahmad's Hujan (in Mukhsin) is a tribute to P Ramlee's Alunan Biola (Antara Dua Darjat) (1960). Keroncong and Rain, what a combination!

Alfatihah for Kak Yasmin and Tan Sri Puteh Ramlee
Suddenly I remember Kak Yasmin told me that after the screening of Mukhsin in JAFF, 2007, a journalist ("from the biggest newspaper in Indonesia", she said), stood and asked her fiercely: "Yasmin, why did you steal our keroncong?". "I was scared", Kak Yasmin Said.

Come on, Indonesians, be more humble. We share arts, culinary, cultures with neighboring countries, and influence each others. That's a common thing. As if Keroncong is originally from Indonesia. As If Indonesia did not borrow anything from other cultures.






Sunday, 3 January 2016

Saya dan Yasmin Ahmad

Saya dan Yasmin Ahmad
Oleh Ekky Imanjaya


Catatan: Tulisan lama, 2009. beberapa saat setelah ia wafat.

Malaysia terasa berbeda tanpa Yasmin Ahmad. Tentu banyak orang berpikir saya lebai alias berlebihan. Tapi tidak bagi saya. Terakhir kali saya ke Kuala Lumpur, pertengahan 2009, seharusnya saya bertemu dengan Kak Min, panggilan akrabnya, untuk menjajagi kemungkinan film-filmnya (khususnya Muallaf  dan Talentime) diputar di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) dan/atau Festival Film Madani. Tetapi, apa daya, pada 25 Juli, Yasmin telah berpulang, dan pertemuan itu tak pernah terjadi.
Mengapa saya merasakan perbedaan ini? Saya ke Malaysia sudah empat kali, dan semuanya ada hubungannya dengan Kak Min. Kali pertama, 2006, adalah untuk tugas peliputan. Secara tak sengaja, saya berjalan ke sebuah bioskop di belakang hotel tempat saya menginap, Palace of Golden Horses, dan menemukan namanya di bawah judul film Gubra (Cemas). Nama itu pernah saya dengar samar-samar sewaktu Layarperak.com membuat Kine28, dipimpin Farishad “Echa” Latjuba, dan memutar Sepet, 21 Mei 2005—tapi saya tak sempat menontonnya. Menonton Gubra, saya langsung jatuh hati pada cerita yang kuat dan cara bertutur yang mengesankan.  Tidak hanya bicara soal kisah perselingkuhan, tetapi—sebagaimana film Yasmin lainnya—tentang memaafkan. Juga ada dialog tentang lagu berbahasa Melayu dan Mandarin: “Kalau lagu di negeri ini Cuma berbahasa Malaysia, lebih baik saya pindah sajalah…”. Walau tak ada terjemahan bahasa Inggris, saya tetap bisa mengikuti dan secara emosional larut ke dalam cerita.
Esoknya, langsung saya cari DVD Sepet.  Begitu tiba di Jakarta, sebagaimana layaknya seorang fans, saya cari tahu tentang Yasmin, dan saya menemukan blognya http://yasminthestoryteller.blogspot.com .  lantas, saya coba untuk mengontaknya. Ajaib, dia merespons dan bahkan kami bertukar nomor telepon.
Kali kedua, Agustus 2007, sewaktu transit menuju Amsterdam dan menyambangi istri.  Saya sms dia, dengan harapan akan bertemu dengannya untuk sesi wawancara RumahFilm  . Awalnya, di hari-hari pertama, tidak ada jawaban. Begitu beberapa hari pesawat saya mau lepas landas, ada sms masuk:
“Mau nonton wayang?”. Ah, dari Yasmin!
Saya bingung? Maksudnya menonton di bioskop? Film apa?
“Film gue!” terlihat sms masuk. Ah, yang dimaksud adalah Muallaf!
Merasa perlu mengisi “amunisi”, saya pun menonton DVD Mukhsin, film yang sudah lama saya simpan namun tak sempat tertonton. Di sebuah hotel, di Bukit Bintang, saya meneteskan air mata haru, walau hanya menonton di laptop dengan teknologi seadanya itu. (Kelak, saya beberapa kali menontonnya, dan selalu merasakan keharuan, khususnya saat momen Ne Me Quitte Pas http://old.rumahfilm.org/esai/esai_orked.htm). Setelah itu, saya dan istri pun bergegas menuju ke kantornya,Leo Burnett.Di sana, hanya ada beberapa orang yang hadir. Dan, saya pun menikmati Muallaf yang mengharukan dan iklan Percintaan Tan Ho Ming yang jenaka dan menang berbagai penghargaan itu. Dan saya pun mewawancarainya, cukup panjang—plus minta tanda tangan.
Pertemuan berikutnya: Berlinale 2008. Yasmin hadir sebagai juri  sesi film anak. Saya hadir meliput. Saya pun kontak dan kami sepakat untuk minum kopi di Zoopalast.  Dialah yang mengambil inisiatif bertemu, di  tengah padatnya waktu penjurian. Saya tak menyangka, itulah perjumpaan saya terakhir secara fisik dengannya.
Pada akhir Agustus 2008, saya pulang dari negeri Belanda, dan mampir sebentar ke Kuala Lumpur. Karena miskomunikasi, saya tidak bisa bertemu dengan kak Min.  saya menyangka restoran tempat pertemuannya ada di Bukit Bintang, ternyata ada di luar kota. Awal September itu, beberapa saat sebelum saya pulang ke Jakarta, tak disangka, Yasmin menyempatkan diri menelpon saya. Saat itulah saya menawarkan untuk membawa Muallaf, film yang saya tonton setahun sebelumnya  dan belum juga diputar di bioskop komersil Malaysia, ke Festival Film Madani (http://old.rumahfilm.org/kabar/kabar_madani2009.htm) . Selebihnya, hanya lewat email untuk “merayu” Kak Min membawa film-filmnya ke Jakarta.  “Saya harap kamu bisa menonton Talentime. It is culturally colorful!” ungkapnya penuh kebanggaan. Saya pun meminta film itu untuk diboyong ke Jakarta, tapi waktu itu belum ada kesepakatan.
Kali terakhir saya hadir di Kuala Lumpur adalah pertengahan Agustus 2009, saat menghadiri konvokesyen alias wisuda istri saya. Kali itu tak ada Yasmin. Saya berhasil mengontak Amir Muhammad untuk menemani ke Chow Kit, mencari dua film Usmar Ismail produksi negeri jiran, Korban Fitnah dan Bajangan di Waktu Fajar. Sepanjang perjalanan, Amir bercerita banyak hal, termasuk tentang hari-hari terakhir Yasmin. “Waktu dia meninggal, saya tidak di sampingnya, karena sebelumnya sudah membesuk. Yuhang yang ada di sana…” terangnya. Ah, banyak sekali orang yang saying pada Kak Min, rupanya. Tak lupa, Amir mengajak saya menyusuri sungai, melihat seni grafis jalanan tentang Yasmin dengan tulisan: “We, Anak-Anak Malaysia, will miss you dearly”. Tapi saat itu, kami belum berhasil menemukannya.
Dan, ah, ternyata Talentime diputar lagi, atas permintaan banyak orang. Di televisi, ada iklan soal ini. Duka masih menyelimuti Malaysia walau sebulan sudah Kak Min wafat.  Dikompori Amir—yang berjanji akan mengantar saya pulang--saya nekad menonton Talentime menjelang tengah malam, padahal besok subuh harus bangun untuk wisuda istri—tujuan utama saya ke negeri ini. Untunglah saya bisa bangun pagi dan semuanya berjalan sesuai rencana.
Talentime, film terakhirnya itu, makin mempertegas representasi keluarga yang dianggap disfungsi, tapi justru menjadi keluarga yang paling normal di lingkungannya. Lihat saja, sang nenek adalah “orang putih” alias bule seratus persen!
Dan tibalah tanggal itu: 25 Juli. Beberapa hari sebelumnya, saya  membaca berita bahwa dirinya tak sadarkan diri saat rapat di TV3. Dan belakangan, dirinya sudah membaik. Tapi, tiba-tiba, hari itu, Joko Anwar menelpon dengan suara lirih: “Yasmin Ahmad meninggal, ky…”. Saya seperti kesambar petir di siang bolong. “Gue tahu dari Jajang C Noer yang di-sms keluarganya…” imbuh Joko. Saya tak kuasa menahan titik-titik air mata.
Mengapa kepergiannya adalah sebuah kehilangan? Karena saya sangat sadar bahwa dia tidak akan membuat film lagi, dan saya akan kehilangan semangat optimistik dan idealistik seorang sutradara yang tidak terjebak dikotomi dunia “film seni” dan “film komersil”. Sepet adalah film terlaris berbujet rendah, mengalahkan Putri Gunung Ledang yang ongkosnya termegah se-Asia Tenggara. Mukhsin laris manis. Tetapi tidak mengurangi bobot mutu keindahan dan kecerdasan sinematisnya. Dan Malaysia pun berbeda tanpanya.
Saya teringat Yockie Suryoprajogo yang membuat album : Musik Saya adalah Saya. Dan itu pulalah Kak Min:  Filmnya adalah Dirinya. Yasmin pernah bilang ke saya bahwa sosok Orked pada trilogi Sepet-Gubra-Mukhsin adalah gabungan kisah dirinya, sang ibu (Mak Inom), dan adiknya yang memang bernama Orked. Adalah Orked Ahmad, sang adik, yang menyatakan bahwa film Yasmin seluruhnya adalah adaptasi hidupnya. Misalnya, Gubra, itu berkisah tentang perceraiannya dengan suami pertama yang beretnis India. Pada Muallaf, ada adegan sang kakak mengajarkan adiknya  sebuah  ritual memaafkan orang lain sebelum tidur, lantas  al-Fatihah dan Ayat Kursi. “Saya diajarkan Kak Min. Itu wajib dilakukan tiap malam!” ungkap Orked.
Akhlak, alias perilaku mulai terpancar pada kesehariannya. Kepada siapapun ia tampak ramah dan supel, walau tetap mempertahankan prinsip. Spiritualitasnya begitu tinggi. Saya bisa merasakan kejujuran dalam setiap karyanya. Dan semua filmnya diawali dengan kalimat “Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang”, termasuk dalam bahasa Arab (Basmalah), Cina, dan Tamil. “Siapa saja merasa dekat dengan Yasmin,” ungkap Amir Muhammad saat peluncuran buku Yasmin Ahmad’s Films. Dan saya pun mengamininya.
Desember 2009, adalah hari yang berbahagia. Di ajang JIFFEST, termasuk sesi Madani Film Festival, semua film Yasmin diputar. Muallaf dan Talentime dijadikan premiere. Rabun, film pertamanya, pun diputar. Di peluncuran buku Yasmin Ahmad’s Films, saya menjadi moderator, mendampingi Amir sang penulisnya.
Mbak Yasmin, begitu saya menyebutnya. Begitu banyak penghargaan internasional yang ia dapatkan. Bagaimana kah ia ingin dikenang (http://old.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_sharifah.htm)? Berikut pernyataannya:  “Tidak begitu penting bagi saya untuk diingat. Ego dan arogansi adalah hal-hal yang tidak disetujui Tuhan. Saya suka orang mengenang cinta dan kasih sayang yang begitu lazim di film-film saya. Beberapa orang memilih untuk tidak melihatnya. Mereka melihat hal lain”.
Terakhir, mengikuti tradisi rekan-rekan dari Malaysia: Al-Fatihah!


Friday, 1 January 2016

Yasmin Ahmad: “Saya Membuat Film Karena Ingin Lebih Memahami Tuhan”

September 2007

Wis mangan? Wis wareg?”. Pertanyaan itu dilontarkan Yasmin Ahmad, sutradara terkemuka Malaysia bahasa Jawa yang fasih. Malam itu, akhir Agustus lalu, RumahFilm beroleh kehormatan diundang Yasmin menonton Muallaf, film terbarunya. Tak hanya disuguhi Muallaf, sekitar 10 hadirin di screening room kantor Yasmin, di Leo Burnett Malaysia juga bisa menikmati makan malam lezat dan keramahan khas Yasmin.
Yasmin Ahmad adalah fenomena. Film-filmnya: Sepet, Gubra, dan Mukhsin, laris manis di negerinya, sekaligus menyabet banyak penghargaan di berbagai festival kelas dunia, semacam Berlin dan Tokyo International Film Festival. Bahkan, pada Festival Film Tokyo 2006, ada retropeksi khusus untuk empat film Yasmin. Bersama Amir Muhammad, Ho Yuhang, Tan Chui Mui, dan James Lee, ia dianggap sebagai penggiat gerakan estetika film baru Malaysia – film-film yang belakangan dirayakan di berbagai belahan dunia.
Setelah mengangkat tema pembauran etnis dalam film sebelumnya, lewat MuallafYasmin kini siap menjewer publik dengan film nakal yang sedikit ofensif tentang hubungan antar agama. Seperti apa pemikiran Yasmin tentang film-filmnya, tentang gelombang baru film Malaysia, dan makna hari kemerdekaan? Berikut petikan wawancara Yasmin dengan Ekky Imanjaya di kantornya, Leo Burnett Malaysia, menjelang tengah malam.
Anda memenangi Silver Hanoman Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) tahun ini. Bagaimana pendapat Anda tentang Yogja dan festivalnya?
Saya sangat gembira karena pemenang pertamanya adalah film Irak-Kurdistan. Saya menghormati film-film dari sana. Saya telah pergi ke berbagai festival. Favorit pertama saya adalah Berlin, karena ratusan orang mengapresiasi film saya dengan hangat. Dan kedua adalah Yogja, karena tempat itu sangat personal. Tidak adil memang, karena saya seperempat Jawa dan seperempat Jepang. Karena saat saya ke Jawa untuk pertama kalinya, saya merasa pulang ke rumah. Yogja sangat sangat personal bagi saya. Yogja sangat inspiratif. Karena banyak mahasiswa dan mereka menjadi relawan. Mereka sungguh cerdas. Dan Anda bisa merasakan atmosfir kesenian di mana-mana. Saya tak bisa menjelaskan. Di tepi jalan, di jual buku-buku yang sangat terhormat yang tidak ada di dalam bahasa Melayu, bahkan di toko buku Kinokuniya sekali pun.
Anak muda sangat terpelajar di Yogja. Dan ini mengingatkan saya pada Calcutta. Umur mereka belasan tahun, jika ke toko CD dan tanya mereka tentang film Satyajit Rai, mereka bilang, apa mau film Satyajit yang seluruh dunia sudah tahu atau yang langka. Mereka tahu tempat-tempatnya. Mereka belasan tahun tapi sangat cerdas.
Saya juga pengagum Garin Nugroho. Memang saya tak tonton semua filmnya, tapi saya menonton Daun di atas Bantal dan Cinta dalam Sepotong Roti, yang keduanya sangat saya sukai. Dan saya kira Garin sangat seksi (tertawa). Tapi karena dia sepertinya suka gadis muda, dan saya sudah tua, saya hanya mengaguminya dari jauh. Dia juga sangat cerdas.
Mengapa Anda selalu mengawali film Anda dengan bacaan Bismillah?
Untuk mengingatkan diri saya mengapa saya membuat film. Yaitu untuk memahami Tuhan. Saya bukan wanita yang sebaik itu, mengingat adegan “masuk ke sarung” (Yasmin tertawa) (yang ia maksud adegan suami istri dalam film Rain Dogs karya Ho Yuhang - red). Tetapi jika saya ditanya mengapa saya membuat film, ada tiga alasan: Agar memahami Tuhan dengan lebih baik, agar memahami diri sendiri lebih baik lagi, dan untuk menghibur orang tua saya dan teman-teman.
Anda merasa lebih memahami Tuhan lewat film-film Anda?
Ya. Saya kira, kalau kita lebih memahami diri sendiri, juga akan lebih memahami Tuhan.
Setelah Rabun, Sepet, Gubra, dan Mukhsin, akan adakah lagi film yang fokus pada karakter Orked?
Mukhsin adalah bagian terakhir tentang Orked. Tidak akan ada lagi.
Apa hubungan Anda dengan Orked? Saya curiga Andalah Orked.
Tentu saja. Orked adalah kombinasi saya, ibu saya, dan adik saya yang memang bernama Orked Ahmad, perempuan dalam tudung saat tampil di akhir film menyanyikan Hujan Keroncong.
Film tentang Orked selalu tentang multiras, pembauran etnis. Mengapa?
Saat saya kecil, ibu saya punya sahabat baik bernama Ibu Tan, seorang Cina. Saya rasa, itu sangat mempengaruhi sepanjang hidup saya. Semua pacar saya adalah Cina. Pria Jepang lebih ganteng tapi tidak banyak di Malaysia. Hanya ada Cina, dan itu yang terdekat dengan Jepang (tertawa kecil). Dan saya suka pria pemalu. Semua karakter di film saya, termasuk Brian, tokoh utama dalam Muallaf, adalah pria pemalu.
Apakah pembauran merupakan masalah besar di Malaysia saat ini?
Jadi masalah karena perempuannya Melayu. Kalau ceritanya tentang pria Malaysia dengan gadis China atau India, tidak akan jadi masalah. Tapi kalau sebaliknya, takkan bisa diterima masyarakat. Karena bagi pria Malaysia, mereka bisa menikah dengan ras apa pun, tapi tidak bagi perempuan Melayu. Jadinya, (untuk pria) tidak terlalu ofensif. Muallaf juga adalah bagian dari diri saya. Karena suami saya adalah China.
Apakah Anda terobsesi dengan budaya China?
Tidak. Saya terobsesi dengan budaya yang bukan budaya saya. Saya paling suka budaya India.
Tapi karakter orang India baru muncul di Muallaf?
Itu karena saya terlalu malas menulis banyak karakter di film saya. Saya tidak suka keramaian. Saya memang pembicara yang percaya diri, dan saya mengajari mahasiswa agar selalu penuh percaya diri. Tapi di dalam diri saya, saya tak nyaman dengan keramaian. Saya lebih memilih kelompok kecil seperti ini (menyebut kelompok kecil yang hadir dalam private screening malam itu - red). Jadi, karakter-karakter saya ada dalam kelompok kecil. Karena itu saya suka (Abbas) Kiarostami dan (Yasujiro) Ozu. Hanya beberapa orang saja. Karena satu orang bisa merepresentasikan dunia. Jadi, lima orang sudah cukup.
Muallaf Anda tulis di Bali?
Semua skenario film saya ditulis di Bali. Di Ubud, tepatnya di Sayan. Kami sewa tempat di dekat sungai. Di sana, tidak ada masalah kalau saya berkemban, beda dengan di Malaysia. Saya merasa bebas. Muallaf saya buat dalam lima hari. JugaMukhsin.
Gerakan estetika baru film Malaysia banyak dibicarakan. Anda serta Amir Muhammad acap dianggap sebagai patron Ho Yuhang, Tan Chui Mui, atau James Lee. Apa komentar Anda?
Saya tak tahu. Yuhang dan saya berkawan karena membuat iklan bersama. Kami membuat film dalam waktu yang bersamaan. Saya main dalam filmnya, dan dia main dalam film saya. Min adalah film pertama Yuhang, dan itu kependekan dari Yasmin, dan saya hadir sebentar di sana. Yuhang pertama kali ada di film saya,Rabun.
Saya tidak merasa sebagai patron. Kami bersama-sama melakukannya, dan berkata: “film-film di Malaysia sangat buruk!”. Mereka juga suka pergi ke berbagai festival, dan di sana mereka ditanya “film macam apa yang ada di Malaysia?” dan mereka malu menjawabnya. Jadi mereka memutuskan untuk membuat film sendiri. Saat ayah saya sakit, ia memberi masukan agar saya menbuat film. Saya pikir itu menarik, maka saya membuat Rabun, yang saya syut dalam 6 hari. Saya hanya ingin menikmati diri sendiri, bersama orang-orang. Lalu Tan Chui Mui datang. Tapi James Lee dan Amir sudah buat film terlebih dulu.
Kalian memang saling membantu untuk kebangkitan film Malaysia?
Istilah “kebangkitan” berasal dari mata orang luar. Di Malaysia, mereka malah mencekal dan menyensor film-film kami. Saya kira, film-film saya adalah yang paling publik di antara mereka. Tapi saya tak mau menjadi art-house filmmaker. Saya tak mau. Saya mau film-film saya ditonton banyak orang.
Anda juga aktris yang baik. Anda bermain alami dan indah dalam Rain Dogs?
Saya merasa bermain buruk.
…apalagi adegan ranjang dan adegan “masuk ke sarung”?
Ya, adegan itu membuat suami saya begitu marah. Dia tidak tahu dan kaget sekali begitu melihatnya. Tadinya saya mau menolak adegan itu, tapi saya akan mengecewakan banyak orang.
Banyak orang bicara dikotomi antara art-house film dan komersial. Tapi film Anda adalah kombinasi keduanya, disukai orang banyak sekaligus meraih penghargaan festival dunia. Apa resepnya?
Tidak ada formula. Saya membuat film agar manusia merasakan sesuatu. Untunglah orang-orang di Festival juga manusia. (tertawa kecil). Saya percaya pada Shintaro Tanikawa dan Pablo Neruda. Neruda bilang, “I want my poetry to be like bread, everybody can eat it”. Shintaro bilang, “aku tak mau pembaca saya menganalisa puisi saya. Saya mau puisi saya seperti makanan, dan saya harap mereka mencicipinya dan merasakan kenikmatannya. Kedua tokoh itu adalah penyair terbesar yang pernah hidup menurut saya. Dan saya mengkiblatkan pada keduanya, karena mereka lebih hebat dari pembuat film seni yang membosankan.
Ketika membuat film, kita harus melupakan tentang festival-festival itu, karena nantinya akan tidak jujur. Karena hanya menuruti selera juri di festival. Saya membuat film karena ingin lebih memahami Tuhan dan diri sendiri, bukan ingin lebih memahami juri-juri di festival.
Negeri Anda, Malaysia, merayakan Kemerdekaan ke-50 pada 31 Agustus lalu?
Saya tidak peduli. Saya bukan nasionalis. Peringatan lima puluh tahun tidak berarti apa-apa. Bendera juga tidak bermakna, hanya selembar kain. Saya harus jujur pada Anda. Yang bermakna adalah masyarakat di Malaysia. Saya selalu bermasalah dengan negara. Karena begitu ada istilah “ini Negara saya” maka akan digunakan dan menjadi alasan untuk melawan Negara lain. “Negara saya, Negara kamu”. Saya peduli dengan masyarakat. Kita adalah kutukan terburuk dunia, juga harapan terbesar dunia. Kita harus memilih menjadi apa kita kelak.
Anak muda sekarang dianggap buruk oleh orang tua. Saya malah sebaliknya, mengapresiasi generasi sekarang. Anak muda sekarang dituduh tidak menghargai perjuangan 1957, saya pikir ini bagus. Cukuplah generasi tua saja yang merasakan kesengsaraan masa itu. Mengapa generasi muda dipaksa merasakannya juga? Itu bukan tujuan kemerdekaan. Kalau anak muda melupakan perjuangan, itu bagus.
Karena mereka punya perjuangannya sendiri.
Ya! Mereka lebih pintar, dan lebih bagus penampilannya. (Tertawa)
Kapan Muallaf beredar?
Di Jepang Oktober. Di Singapura November.
Tidak takut ada protes dari kalangan “fundamentalis”?
Sudah biasa. Dan aku baru tahu ada produser besar, yang membayar wartawan 3-4 wartawan untuk mendiskreditkan berita apa pun mengenai gelombang baru film Malaysia, seperti film saya, atau Yuhang, atau Amir. Ini fakta, bukan kecurigaan.
Apa film Indonesia favorit Anda akhir-akhir ini?
Film Mendadak Dangdut. Ceritanya unreal, palsu. Tapi emosinya nyata. Dan saya suka lagu Jablai. Saya tak peduli itu film art atau tidak.
Film-film lain, seperti milik Yuhang bersifat art. Tapi Anda tidak keberatan membantu mereka?
Yang paling bersatu hati, adalah saya dan Yuhang. Dan saya kira Yuhang tidak hendak membuat film seni, tapi feeling movies, melodrama dan sentimental. Menurut saya, filmnya sangat sentimental.
Malam telah larut. Lewat tengah malam. Sadar bahwa saya dan istri bingung bagaimana caranya pulang di kota asing, Yasmin mengajak kami pulang bersama. Tentu saja dengan persetujuan suaminya. Dan kami berdua pun diantar hingga depan hotel, di Bukitbintang, tentu saja dalam keadaan wareg, karena nikmatnya hidangan nasi lemak..

Muallaf: Brian Dan Sepasang Gadis Ronin


September 2007
“Hus! Hati-hati bicara! Banyak pengikut Wahabi di sekitar sini,” ungkap Ana (Sharifah Amani) kepada adiknya, Ani (Sharifah Aleysha), dan guru sang adik, Brian (Brian Yap), saat berdiskusi bebas tentang penafsiran kitab suci. Itu adalah salah satu adegan dari film terbaru Yasmin Ahmad, Muallaf.
Adegan lain tak kalah nakal. Miss Siva memukuli Ani di depan kelas. Guru sekolah Katolik itu tak tahan karena muridnya acap mengucapkan kutipan dan nomor-nomor tak jelas. Puncaknya, saat ia menyuruh seluruh kelasnya menggambar gajah, Rohani (nama panjang gadis Melayu itu), malah menggambar bunga. Dan saat dirotan, Ani malah meneriakkan berulang-kali sebuah nomor: 105:1.
Tak banyak yang paham tentang Ani, yang ikut kakaknya, Ana atau Rohana, kabur karena protes terhadap kelakuan ayah mereka. Alhasil, Ani membuat orang di sekitarnya takut dengan tingkah anehnya. Misalnya, nomor di atas adalah penafsirannya atas perintah sang guru, yaitu nomor surat Al-Fiil (”Gajah”) ayat pertama dalam Al Quran. Sedang kalimat-kalimat yang dianggap igauan dari mulut Ani adalah ucapan terkenal para agamawan, mulai dari Tao The Ching hingga Santo Augustine. Hanya Brian yang memahami Ani. Brian, seorang Cina pendiam, juga sedang melakukan pendekatan pada Ana.
Ana dan Ani adalah sebuah proses pencarian ketuhanan. Keduanya belajar agama, mulai dari sosiologi agama hingga perbandingan agama, selayak para ronin: bebas dari madzhab. “Ronin” adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk para “samurai tak bertuan”. Diterjemah secara bebas, ronin bisa juga menggambarkan para intelektual bebas, yang mandiri dan tak ikut golongan apa pun dalam mengembangkan pikiran mereka.
Walau Ana dan Ani sadar bahwa mereka butuh guru, dan ilmu mereka tidak memadai untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama, tetapi mereka tetap mencari Tuhan secara independen. “Setiap orang sedang mencari Tuhan dalam caranya sendiri,” tegas sang kepala sekolah, seorang India. Demikianlah pula keadaan Brian, seorang Cina yang bermasalah dengan ibunya dan karenanya tak lagi ke Gereja. “Biasanya, orang yang jauh dari tuhannya adalah orang yang sedang bermasalah dengan sesuatu,” tegur Ana, halus. Tapi Brian adalah sesama musafir, sesungguhnya, seperti Ana dan Ani –dalam perjalanan mencari Tuhan.
Muallaf adalah film yang sensitif, sedikit ofensif, dan agak nakal. Film ini melakukan kritik sosial secara subversif. Tapi justru itulah kekuatan film ini: keberanian.
Tengoklah gambaran sang Datuk, ayah Ana dan Ani, yang menganggap najis ludah anjing tapi tak merasa bersalah jika mabuk dan bermaksiat. Tipikal masyarakat Melayu (termasuk Indonesia)? Atau indahnya sebuah adegan two shots saat seorang kyai Melayu dengan baju koko putih, dengan pendeta India dengan baju putih bersih juga bersatu padu. Atau, lihat saja pembukaan film ini, tulisan Basmalah (seperti ciri khas pada semua film Yasmin) —kali ini, dalam aksara Cina. Semua menyuratkan keberanian Yasmin menyatakan sikapnya dalam film ini.
Tapi, hemat saya, Yasmin tak keluar batas. Ia hanya menunjukkan fenomena pluralitas agama yang sebenarnya. Kita bisa bergaul dengan penganut agama lain, bahkan memelajari agama mereka, tanpa meninggalkan hakikat agama sendiri, apalagi mencampuradukkan dengan ajaran agama lain. Pesan pluralisme ini bisa bersembunyi, misalnya, dalam permainan kata dan nama “Siva” dan “Rohani”.
Logika dalaman film ini kuat. Alasan masa lalu yang menghantui tokoh utama sungguh tajam. Ani yang digunduli dan Brian kecil yang ditelanjangi di depan umum, menunjukkan sebuah rasa malu dan, akhirnya, dendam kepada orang tua mereka. Dalam konteks ini, isu memaafkan mencuat lagi, seperti pada Gubra. (Kesediaan Sharifah Amani untuk digunduli habis kepalanya demi film ini, kini sedang jadi kontroversi di sebagian kalangan konservatif Malaysia. Ada fatwa bahwa haram bagi perempuan menggunduli rambutnya.)
Tapi, harus diakui, inilah film Yasmin yang paling sarat dengan pesan, penuh dialog, dan lebih berat daripada trilogi Orked (Sepet, Gubra, dan Mukhsin; “Orked” adalah nama tokoh utama trilogi itu, yang juga diperani oleh Sharifah Amani). Mungkin karena “beban misi” film ini juga lebih berat dan sensitif. Setelah isu pembaruan etnis dalam film-film terdahulunya, untuk pertama kalinya Yasmin mengangkat tema agama. Tepatnya: Agama yang yang membawa damai, cinta, dan cahaya. ***
Muallaf akan akan beredar Oktober 2007 di Malaysia dan Jepang; sedangkan di Singapura, dijadualkan beredar November 2007. Belum ada kabar, kapan akan beredar di Indonesia.
Judul: Muallaf
Sutradara/Skenario: Yasmin Ahmad
Pemain: Sharifah Amani, Sharifah Aleysha, Brian Yap, Ning Baizura
Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Sebagai jurnalis film angkatan muda, Ekky telah menulis beberapa buku tentang film, yang terbaru adalah Layar Persia (2007). Kini sedang studi S-2 tentang film di Amsterdam.