Monday, 29 June 2015

Islam Nusantara dan Urf

Saya bingung dengan orang-orang yang menolak konsep Islam Nusantara.  Islam Nusantara ini bukan hal baru, sudah berjalan dan terlaksana di masyarakat. Apakah ini karena Jokowi yang melontarkan, hingga melahirkan polemik? Semoga bukan karena itu. Ini pemikiran saya tentang Islam Nusantara.

1. Dalam Ushul Fiqh (metodologi perumusan Fiqih), disebutkan salah satu sumber hukum Islam adalah Urf. Ada yang mendefiniskannya dengan “sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat dan diterima oleh akal sehat”. Ada yang menyamakannya denganadat istiadat. Saya menerjemahkannya dengan tradisi dan budaya serta kearifan lokal yang sudah diketahui dan dikenal baik di masyarakat.  Dengan Urf ini, saya duga, Wali Songo melakukan dakwah kultural dengan memasukkan unsur wayang. Dan tentu Urf tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itulah, ketakutan bahwa Islam akan menjadi liberal seperti Turki di era Mustafa Kamal, tidaklah beralasan.
2. Urf, sebenarnya,  dilakukan sejak era Nabi Muhammad. Termasuk melestarikan tradisi-tradisi Jahiliyah yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam.
3. Ada yang bisa menjelaskan fenomeno merayakan Idul Fitri secara besar-besaran hingga ada yang mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Silahkan lihat di dunia Arab dan Eropa, mereka—setahu saya—tidak merayakan Idul Fitri dengan mudik, halal bihalal, dan saling memaafkan. Hampir tidak ada ucapan “Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin”. Tapi kalau Idul Adha, mereka baru merayakannnya dengan lebih meriah. Tentu tidak ada salahnya dengan yang biasa kita lakukan. Sah-sah saja. Dan, nilah bentuk dari Urf, menurut saya.
4. Adanya banyak perbedaan madzhab (termasuk Empat Imam besar sunni), salah satunya, menurut saya,  karena urf, karena perbedaan konteks budaya,  kebiasaan sosial, ekonomi dll-nya berbeda-beda. Kalau Islam itu satu, kenapa ada banyak madzhab fiqih dan tafsir Qur’an?
5. Soal Anti Arabisasi, saya sangat setuju. Islam itu untuk semesta alam. Orang Arab melakukan praktik Islam dengan Urf-nya. Karena itulah, di khutbahnya di Haji Wada’ nabi menekankan:

“Wahai para manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan bapak kalian itu satu. Ingatlah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang ajam/ asing, dan tidak bagi orang ajam (non arab) atas orang Arab, tidak bagi orang kulit merah atas kulit hitam, dan tidak bagi orang kulit hitam atas kulit merah kecuali dengan taqwa. Apakah sudah aku sampaikan?”

Tentu saja kita tidak boleh menafikan Bahasa Arab, karena AlQuran dan Sunnah itu dalam Bahasa Arab. Tapi tidak harus mengikuti tata cara kehidupan dan budaya mereka secara membabi buta. Tidak semua Bahasa Arab itu suci, yang suci itu Al Quran yang memang berbahasa Arab.

6. Allah itu satu, Islam itu satu. Tapi penafsiran dan praktiknya beda-beda. Karena penafsiran agama itu adalah praktik sosial budaya. Teks ditafsirkan oleh konteks. Tidak percaya, cobalah jalan-jalan ke luar negeri, coba temukan praktik keislaman yang berbeda-beda, dan disitulah keindahannya. Pegangannya sama, Quran yang sama, Dua Kalimat Syahadat yang sama, tapi aktivitas sosial budayanya (bahkan praktik ritualnya) berbeda-beda.
Saya pernah membaca Yusuf Qardhawi diwawancara Sabili era 1990an. Beliau menyatkaan bahwa Muslim sangat sulit bersatu. Karena berbeda orientasi, visi, misi, dan pendekatan. Ada yang gerakan spiritual lebih ditekankan, ada yang politik, ada pula yang pendidikan dan sosial. Cara memilih pemimpin berbeda juga. Karena itulah, menurut beliau, kita harus bekerja sama dan saling menghormati dan tetap bekerja menurut kesepakatan organisasi dan dan apa yang kita yakini. Saya kira, salah satu perbedaaanya juga karena Urf.
7. Selain Urf yang konteks adat istiadat, peranan latar belakang sejarah, geografi, perbedaan waktu, dan cuaca jug penting dan menjadi pertimbangan. Karena itulah, Tariq Ramadan, sebagai salah satu contoh, menulis buku berjudul To Be European Muslim.
Terakhir, silahkan simak pernjelasan singkat dan menarik ini. https://www.youtube.com/watch?v=xGgZy76VQyg

Wallahua'lam.