Friday, 1 January 2016

Yasmin Ahmad: “Saya Membuat Film Karena Ingin Lebih Memahami Tuhan”

September 2007

Wis mangan? Wis wareg?”. Pertanyaan itu dilontarkan Yasmin Ahmad, sutradara terkemuka Malaysia bahasa Jawa yang fasih. Malam itu, akhir Agustus lalu, RumahFilm beroleh kehormatan diundang Yasmin menonton Muallaf, film terbarunya. Tak hanya disuguhi Muallaf, sekitar 10 hadirin di screening room kantor Yasmin, di Leo Burnett Malaysia juga bisa menikmati makan malam lezat dan keramahan khas Yasmin.
Yasmin Ahmad adalah fenomena. Film-filmnya: Sepet, Gubra, dan Mukhsin, laris manis di negerinya, sekaligus menyabet banyak penghargaan di berbagai festival kelas dunia, semacam Berlin dan Tokyo International Film Festival. Bahkan, pada Festival Film Tokyo 2006, ada retropeksi khusus untuk empat film Yasmin. Bersama Amir Muhammad, Ho Yuhang, Tan Chui Mui, dan James Lee, ia dianggap sebagai penggiat gerakan estetika film baru Malaysia – film-film yang belakangan dirayakan di berbagai belahan dunia.
Setelah mengangkat tema pembauran etnis dalam film sebelumnya, lewat MuallafYasmin kini siap menjewer publik dengan film nakal yang sedikit ofensif tentang hubungan antar agama. Seperti apa pemikiran Yasmin tentang film-filmnya, tentang gelombang baru film Malaysia, dan makna hari kemerdekaan? Berikut petikan wawancara Yasmin dengan Ekky Imanjaya di kantornya, Leo Burnett Malaysia, menjelang tengah malam.
Anda memenangi Silver Hanoman Award di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) tahun ini. Bagaimana pendapat Anda tentang Yogja dan festivalnya?
Saya sangat gembira karena pemenang pertamanya adalah film Irak-Kurdistan. Saya menghormati film-film dari sana. Saya telah pergi ke berbagai festival. Favorit pertama saya adalah Berlin, karena ratusan orang mengapresiasi film saya dengan hangat. Dan kedua adalah Yogja, karena tempat itu sangat personal. Tidak adil memang, karena saya seperempat Jawa dan seperempat Jepang. Karena saat saya ke Jawa untuk pertama kalinya, saya merasa pulang ke rumah. Yogja sangat sangat personal bagi saya. Yogja sangat inspiratif. Karena banyak mahasiswa dan mereka menjadi relawan. Mereka sungguh cerdas. Dan Anda bisa merasakan atmosfir kesenian di mana-mana. Saya tak bisa menjelaskan. Di tepi jalan, di jual buku-buku yang sangat terhormat yang tidak ada di dalam bahasa Melayu, bahkan di toko buku Kinokuniya sekali pun.
Anak muda sangat terpelajar di Yogja. Dan ini mengingatkan saya pada Calcutta. Umur mereka belasan tahun, jika ke toko CD dan tanya mereka tentang film Satyajit Rai, mereka bilang, apa mau film Satyajit yang seluruh dunia sudah tahu atau yang langka. Mereka tahu tempat-tempatnya. Mereka belasan tahun tapi sangat cerdas.
Saya juga pengagum Garin Nugroho. Memang saya tak tonton semua filmnya, tapi saya menonton Daun di atas Bantal dan Cinta dalam Sepotong Roti, yang keduanya sangat saya sukai. Dan saya kira Garin sangat seksi (tertawa). Tapi karena dia sepertinya suka gadis muda, dan saya sudah tua, saya hanya mengaguminya dari jauh. Dia juga sangat cerdas.
Mengapa Anda selalu mengawali film Anda dengan bacaan Bismillah?
Untuk mengingatkan diri saya mengapa saya membuat film. Yaitu untuk memahami Tuhan. Saya bukan wanita yang sebaik itu, mengingat adegan “masuk ke sarung” (Yasmin tertawa) (yang ia maksud adegan suami istri dalam film Rain Dogs karya Ho Yuhang - red). Tetapi jika saya ditanya mengapa saya membuat film, ada tiga alasan: Agar memahami Tuhan dengan lebih baik, agar memahami diri sendiri lebih baik lagi, dan untuk menghibur orang tua saya dan teman-teman.
Anda merasa lebih memahami Tuhan lewat film-film Anda?
Ya. Saya kira, kalau kita lebih memahami diri sendiri, juga akan lebih memahami Tuhan.
Setelah Rabun, Sepet, Gubra, dan Mukhsin, akan adakah lagi film yang fokus pada karakter Orked?
Mukhsin adalah bagian terakhir tentang Orked. Tidak akan ada lagi.
Apa hubungan Anda dengan Orked? Saya curiga Andalah Orked.
Tentu saja. Orked adalah kombinasi saya, ibu saya, dan adik saya yang memang bernama Orked Ahmad, perempuan dalam tudung saat tampil di akhir film menyanyikan Hujan Keroncong.
Film tentang Orked selalu tentang multiras, pembauran etnis. Mengapa?
Saat saya kecil, ibu saya punya sahabat baik bernama Ibu Tan, seorang Cina. Saya rasa, itu sangat mempengaruhi sepanjang hidup saya. Semua pacar saya adalah Cina. Pria Jepang lebih ganteng tapi tidak banyak di Malaysia. Hanya ada Cina, dan itu yang terdekat dengan Jepang (tertawa kecil). Dan saya suka pria pemalu. Semua karakter di film saya, termasuk Brian, tokoh utama dalam Muallaf, adalah pria pemalu.
Apakah pembauran merupakan masalah besar di Malaysia saat ini?
Jadi masalah karena perempuannya Melayu. Kalau ceritanya tentang pria Malaysia dengan gadis China atau India, tidak akan jadi masalah. Tapi kalau sebaliknya, takkan bisa diterima masyarakat. Karena bagi pria Malaysia, mereka bisa menikah dengan ras apa pun, tapi tidak bagi perempuan Melayu. Jadinya, (untuk pria) tidak terlalu ofensif. Muallaf juga adalah bagian dari diri saya. Karena suami saya adalah China.
Apakah Anda terobsesi dengan budaya China?
Tidak. Saya terobsesi dengan budaya yang bukan budaya saya. Saya paling suka budaya India.
Tapi karakter orang India baru muncul di Muallaf?
Itu karena saya terlalu malas menulis banyak karakter di film saya. Saya tidak suka keramaian. Saya memang pembicara yang percaya diri, dan saya mengajari mahasiswa agar selalu penuh percaya diri. Tapi di dalam diri saya, saya tak nyaman dengan keramaian. Saya lebih memilih kelompok kecil seperti ini (menyebut kelompok kecil yang hadir dalam private screening malam itu - red). Jadi, karakter-karakter saya ada dalam kelompok kecil. Karena itu saya suka (Abbas) Kiarostami dan (Yasujiro) Ozu. Hanya beberapa orang saja. Karena satu orang bisa merepresentasikan dunia. Jadi, lima orang sudah cukup.
Muallaf Anda tulis di Bali?
Semua skenario film saya ditulis di Bali. Di Ubud, tepatnya di Sayan. Kami sewa tempat di dekat sungai. Di sana, tidak ada masalah kalau saya berkemban, beda dengan di Malaysia. Saya merasa bebas. Muallaf saya buat dalam lima hari. JugaMukhsin.
Gerakan estetika baru film Malaysia banyak dibicarakan. Anda serta Amir Muhammad acap dianggap sebagai patron Ho Yuhang, Tan Chui Mui, atau James Lee. Apa komentar Anda?
Saya tak tahu. Yuhang dan saya berkawan karena membuat iklan bersama. Kami membuat film dalam waktu yang bersamaan. Saya main dalam filmnya, dan dia main dalam film saya. Min adalah film pertama Yuhang, dan itu kependekan dari Yasmin, dan saya hadir sebentar di sana. Yuhang pertama kali ada di film saya,Rabun.
Saya tidak merasa sebagai patron. Kami bersama-sama melakukannya, dan berkata: “film-film di Malaysia sangat buruk!”. Mereka juga suka pergi ke berbagai festival, dan di sana mereka ditanya “film macam apa yang ada di Malaysia?” dan mereka malu menjawabnya. Jadi mereka memutuskan untuk membuat film sendiri. Saat ayah saya sakit, ia memberi masukan agar saya menbuat film. Saya pikir itu menarik, maka saya membuat Rabun, yang saya syut dalam 6 hari. Saya hanya ingin menikmati diri sendiri, bersama orang-orang. Lalu Tan Chui Mui datang. Tapi James Lee dan Amir sudah buat film terlebih dulu.
Kalian memang saling membantu untuk kebangkitan film Malaysia?
Istilah “kebangkitan” berasal dari mata orang luar. Di Malaysia, mereka malah mencekal dan menyensor film-film kami. Saya kira, film-film saya adalah yang paling publik di antara mereka. Tapi saya tak mau menjadi art-house filmmaker. Saya tak mau. Saya mau film-film saya ditonton banyak orang.
Anda juga aktris yang baik. Anda bermain alami dan indah dalam Rain Dogs?
Saya merasa bermain buruk.
…apalagi adegan ranjang dan adegan “masuk ke sarung”?
Ya, adegan itu membuat suami saya begitu marah. Dia tidak tahu dan kaget sekali begitu melihatnya. Tadinya saya mau menolak adegan itu, tapi saya akan mengecewakan banyak orang.
Banyak orang bicara dikotomi antara art-house film dan komersial. Tapi film Anda adalah kombinasi keduanya, disukai orang banyak sekaligus meraih penghargaan festival dunia. Apa resepnya?
Tidak ada formula. Saya membuat film agar manusia merasakan sesuatu. Untunglah orang-orang di Festival juga manusia. (tertawa kecil). Saya percaya pada Shintaro Tanikawa dan Pablo Neruda. Neruda bilang, “I want my poetry to be like bread, everybody can eat it”. Shintaro bilang, “aku tak mau pembaca saya menganalisa puisi saya. Saya mau puisi saya seperti makanan, dan saya harap mereka mencicipinya dan merasakan kenikmatannya. Kedua tokoh itu adalah penyair terbesar yang pernah hidup menurut saya. Dan saya mengkiblatkan pada keduanya, karena mereka lebih hebat dari pembuat film seni yang membosankan.
Ketika membuat film, kita harus melupakan tentang festival-festival itu, karena nantinya akan tidak jujur. Karena hanya menuruti selera juri di festival. Saya membuat film karena ingin lebih memahami Tuhan dan diri sendiri, bukan ingin lebih memahami juri-juri di festival.
Negeri Anda, Malaysia, merayakan Kemerdekaan ke-50 pada 31 Agustus lalu?
Saya tidak peduli. Saya bukan nasionalis. Peringatan lima puluh tahun tidak berarti apa-apa. Bendera juga tidak bermakna, hanya selembar kain. Saya harus jujur pada Anda. Yang bermakna adalah masyarakat di Malaysia. Saya selalu bermasalah dengan negara. Karena begitu ada istilah “ini Negara saya” maka akan digunakan dan menjadi alasan untuk melawan Negara lain. “Negara saya, Negara kamu”. Saya peduli dengan masyarakat. Kita adalah kutukan terburuk dunia, juga harapan terbesar dunia. Kita harus memilih menjadi apa kita kelak.
Anak muda sekarang dianggap buruk oleh orang tua. Saya malah sebaliknya, mengapresiasi generasi sekarang. Anak muda sekarang dituduh tidak menghargai perjuangan 1957, saya pikir ini bagus. Cukuplah generasi tua saja yang merasakan kesengsaraan masa itu. Mengapa generasi muda dipaksa merasakannya juga? Itu bukan tujuan kemerdekaan. Kalau anak muda melupakan perjuangan, itu bagus.
Karena mereka punya perjuangannya sendiri.
Ya! Mereka lebih pintar, dan lebih bagus penampilannya. (Tertawa)
Kapan Muallaf beredar?
Di Jepang Oktober. Di Singapura November.
Tidak takut ada protes dari kalangan “fundamentalis”?
Sudah biasa. Dan aku baru tahu ada produser besar, yang membayar wartawan 3-4 wartawan untuk mendiskreditkan berita apa pun mengenai gelombang baru film Malaysia, seperti film saya, atau Yuhang, atau Amir. Ini fakta, bukan kecurigaan.
Apa film Indonesia favorit Anda akhir-akhir ini?
Film Mendadak Dangdut. Ceritanya unreal, palsu. Tapi emosinya nyata. Dan saya suka lagu Jablai. Saya tak peduli itu film art atau tidak.
Film-film lain, seperti milik Yuhang bersifat art. Tapi Anda tidak keberatan membantu mereka?
Yang paling bersatu hati, adalah saya dan Yuhang. Dan saya kira Yuhang tidak hendak membuat film seni, tapi feeling movies, melodrama dan sentimental. Menurut saya, filmnya sangat sentimental.
Malam telah larut. Lewat tengah malam. Sadar bahwa saya dan istri bingung bagaimana caranya pulang di kota asing, Yasmin mengajak kami pulang bersama. Tentu saja dengan persetujuan suaminya. Dan kami berdua pun diantar hingga depan hotel, di Bukitbintang, tentu saja dalam keadaan wareg, karena nikmatnya hidangan nasi lemak..