Friday, 1 January 2016

Muallaf: Brian Dan Sepasang Gadis Ronin


September 2007
“Hus! Hati-hati bicara! Banyak pengikut Wahabi di sekitar sini,” ungkap Ana (Sharifah Amani) kepada adiknya, Ani (Sharifah Aleysha), dan guru sang adik, Brian (Brian Yap), saat berdiskusi bebas tentang penafsiran kitab suci. Itu adalah salah satu adegan dari film terbaru Yasmin Ahmad, Muallaf.
Adegan lain tak kalah nakal. Miss Siva memukuli Ani di depan kelas. Guru sekolah Katolik itu tak tahan karena muridnya acap mengucapkan kutipan dan nomor-nomor tak jelas. Puncaknya, saat ia menyuruh seluruh kelasnya menggambar gajah, Rohani (nama panjang gadis Melayu itu), malah menggambar bunga. Dan saat dirotan, Ani malah meneriakkan berulang-kali sebuah nomor: 105:1.
Tak banyak yang paham tentang Ani, yang ikut kakaknya, Ana atau Rohana, kabur karena protes terhadap kelakuan ayah mereka. Alhasil, Ani membuat orang di sekitarnya takut dengan tingkah anehnya. Misalnya, nomor di atas adalah penafsirannya atas perintah sang guru, yaitu nomor surat Al-Fiil (”Gajah”) ayat pertama dalam Al Quran. Sedang kalimat-kalimat yang dianggap igauan dari mulut Ani adalah ucapan terkenal para agamawan, mulai dari Tao The Ching hingga Santo Augustine. Hanya Brian yang memahami Ani. Brian, seorang Cina pendiam, juga sedang melakukan pendekatan pada Ana.
Ana dan Ani adalah sebuah proses pencarian ketuhanan. Keduanya belajar agama, mulai dari sosiologi agama hingga perbandingan agama, selayak para ronin: bebas dari madzhab. “Ronin” adalah istilah dalam bahasa Jepang untuk para “samurai tak bertuan”. Diterjemah secara bebas, ronin bisa juga menggambarkan para intelektual bebas, yang mandiri dan tak ikut golongan apa pun dalam mengembangkan pikiran mereka.
Walau Ana dan Ani sadar bahwa mereka butuh guru, dan ilmu mereka tidak memadai untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama, tetapi mereka tetap mencari Tuhan secara independen. “Setiap orang sedang mencari Tuhan dalam caranya sendiri,” tegas sang kepala sekolah, seorang India. Demikianlah pula keadaan Brian, seorang Cina yang bermasalah dengan ibunya dan karenanya tak lagi ke Gereja. “Biasanya, orang yang jauh dari tuhannya adalah orang yang sedang bermasalah dengan sesuatu,” tegur Ana, halus. Tapi Brian adalah sesama musafir, sesungguhnya, seperti Ana dan Ani –dalam perjalanan mencari Tuhan.
Muallaf adalah film yang sensitif, sedikit ofensif, dan agak nakal. Film ini melakukan kritik sosial secara subversif. Tapi justru itulah kekuatan film ini: keberanian.
Tengoklah gambaran sang Datuk, ayah Ana dan Ani, yang menganggap najis ludah anjing tapi tak merasa bersalah jika mabuk dan bermaksiat. Tipikal masyarakat Melayu (termasuk Indonesia)? Atau indahnya sebuah adegan two shots saat seorang kyai Melayu dengan baju koko putih, dengan pendeta India dengan baju putih bersih juga bersatu padu. Atau, lihat saja pembukaan film ini, tulisan Basmalah (seperti ciri khas pada semua film Yasmin) —kali ini, dalam aksara Cina. Semua menyuratkan keberanian Yasmin menyatakan sikapnya dalam film ini.
Tapi, hemat saya, Yasmin tak keluar batas. Ia hanya menunjukkan fenomena pluralitas agama yang sebenarnya. Kita bisa bergaul dengan penganut agama lain, bahkan memelajari agama mereka, tanpa meninggalkan hakikat agama sendiri, apalagi mencampuradukkan dengan ajaran agama lain. Pesan pluralisme ini bisa bersembunyi, misalnya, dalam permainan kata dan nama “Siva” dan “Rohani”.
Logika dalaman film ini kuat. Alasan masa lalu yang menghantui tokoh utama sungguh tajam. Ani yang digunduli dan Brian kecil yang ditelanjangi di depan umum, menunjukkan sebuah rasa malu dan, akhirnya, dendam kepada orang tua mereka. Dalam konteks ini, isu memaafkan mencuat lagi, seperti pada Gubra. (Kesediaan Sharifah Amani untuk digunduli habis kepalanya demi film ini, kini sedang jadi kontroversi di sebagian kalangan konservatif Malaysia. Ada fatwa bahwa haram bagi perempuan menggunduli rambutnya.)
Tapi, harus diakui, inilah film Yasmin yang paling sarat dengan pesan, penuh dialog, dan lebih berat daripada trilogi Orked (Sepet, Gubra, dan Mukhsin; “Orked” adalah nama tokoh utama trilogi itu, yang juga diperani oleh Sharifah Amani). Mungkin karena “beban misi” film ini juga lebih berat dan sensitif. Setelah isu pembaruan etnis dalam film-film terdahulunya, untuk pertama kalinya Yasmin mengangkat tema agama. Tepatnya: Agama yang yang membawa damai, cinta, dan cahaya. ***
Muallaf akan akan beredar Oktober 2007 di Malaysia dan Jepang; sedangkan di Singapura, dijadualkan beredar November 2007. Belum ada kabar, kapan akan beredar di Indonesia.
Judul: Muallaf
Sutradara/Skenario: Yasmin Ahmad
Pemain: Sharifah Amani, Sharifah Aleysha, Brian Yap, Ning Baizura
Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Sebagai jurnalis film angkatan muda, Ekky telah menulis beberapa buku tentang film, yang terbaru adalah Layar Persia (2007). Kini sedang studi S-2 tentang film di Amsterdam.