Friday, 22 January 2016

Pekerjaan Paruh Waktu Paling Asyik!

Bagi mahasiswa di luar negeri, bekerja paruh waktu adalah sebuah pilihan menarik. Bagi  yang hidupnya pas-pasan dan banyak tergantung pada beasiswa, tentu part time job ini bisa untuk menambah uang saku. Bagi yang sudah berkecukupan, bisa untuk memperkaya pengalaman, CV, dan tabungan buat-jalan-jalan.
Apakah the best part-time job ever, khususnya buat anak jurusan film? Saya berusaha menjawabnya berdasarkan pengalaman saya tiga tahun tinggal di Inggris.
Pertama-tama,  yang “termudah”, tentu adalah pekerjaan fisik yang memang banyak dibutuhkan khususnya saat liburan panjang, khususnya natal dan musim panas. Saat liburan musim dingin dan panas, banyak orang sibuk bersenang-senang dan bertamasya. Saat itulah, banyak toko dan institusi yang membuka lowongan paruh waktu, misalnya sebagai kasir, tukang sortir surat, tukang cuci piring, pelayan, cleaning service dll. 
Sebagai mahasiswa jurusan film yang suka nonton, pilihan pertama saya adalah bekerja di gedung bioskop, atau minimal di sebuah tempat yang berkaitan dengan seni, budaya, dan media. Tapi saya, entah kenapa  selalu gagal.
Pekerjaan “kasar” lainnya, saya pernah coba lamar, tapi selalu tidak lolos seleksi awal, karena ada ujian online seputar studi kasus. Misalnya, “kalau anda tugas di kasir, dan ada pembeli yang kesulitan mencari uang receh hingga bermenit-menit, dan antrian sudah menumpuk dan ada yang mulai mengeluh, apa yang anda lakukan?”. Contoh lainnya: “kalau anda disuruh manajer mengambil barang segera, tapi ada calon pembeli yang minta dilayani dan banyak pertanyaan, sementara tak jauh dari sana banyak barang-barang berserakan dan tidak ada pegawai lain karena toko baru buka, apa yang anda lakukan?”. Hal-hal semacam itulah.
Pernah saya bekerja sebagai tukang cuci mobil, dari jam 9 hingga 5 sore di hari jumat dan sabtu, dan hanya boleh istirahat makan siang selama 10 menit saja. Ini sebuah pekerjaan yang superberat karena mobil-mobil (yang sangat kotor dan acap penuh dengan lumpur yang lengket dengan ban) tak pernah berhenti berdatangan. Dan setiap ritme kerja agak santai, selalu ada teguran “quick! Quick! Quick!”.   Masalah lain, saya tidak boleh shalat Jumat, walau masjidnya dekat dari mal itu. (saya ditegur karena rehat lebih dari sepuluh menit, karena saya jumatan. Saya pikir waktu rehat sejam). Padahal, Ini adalah jaringan imigran Eropa Timur, yang, sebenarnya, berlatarbelakang Muslim. Karena kondisi-kondisi ini, saya hanya tahan 2 hari saja.
Ada juga sih tawaran menjadi “kelinci percobaan” , misalnya studi perubahan perilaku yang berkaitan dengan ekonomi, seperti yang dilakukan oleh CBBES (the Centre for Behaviouraland Experimental Social Science). Kita seperti ikut kasus real life, dan  honornya tergantung jawaban kita (dan tetap dapat uang kehadiran juga, sekitar 2-3 pounds).  Pernah saya dapat 15 pounds untuk tes satu jam, tapi pernah juga hanya dapat kurang dari satu pounds. Atau  ikut focus group discussion, memberi masukan buat tim marketing kampus. Tapi ini kecil juga insentifnya, paling voucher beli buku 10-15 pounds. Dan keduanya tidak rutin, tergantung permintaan.

Sebenarnya, sebagai penulis, saya ingin  menjadi penulis lepas di media berbahasa Inggris. Tapi sepertinya saya tahu diri dengan keterbatasan. Yang belum saya coba, tapi pernah saya lakukan saat kuliah di Amsterdam dulu, adalah menjadi koresponden majalah atau suratkabar Indonesia. Mungkin, perlu dijajagi lagi nih, misalnya liputan drama Harry Potter and the Cursed Child atau konser Coldplay?
Banyak orang berpikir kalau menjadi research assistant, atau teaching assistant itu sangat keren. Dan memang keren, sih.  Tapi ini susah, perlu PD tingkat tinggi dalam urusan Bahasa, cara mengajar, dan penguasaan materi, dan juga lolos seleksi yang ketat. Biasanya, pihak jurusan akan memberikan pengumuman kepada para mahasiswa S3, siapa yang mau jadi asisten dosen. Atau, bisa juga dibuka lowongan secara terbuka. Bisa juga, sang dosen, yang biasanya adalah pembimbingnya, menawarinya pekerjaan ini. Honornya juga cukup besar.
Saya juga berupaya melamar posisi asdos ini, tapi gagal. Pembimbing kedua saya menawarkan untuk menjadi asistennya mengajar mata kuliah Sinema Asia semester berikutnya, tapi saya sudah keburu pindah ke Bristol. Di kampus saya, syarat asdos adalah sudah lulus transfer panel (di Inggris, tahun pertama adalah MPhil, kemudian di antara bulan ke 12 dan 18 ada upgrade panel. Setelah lulus baru layak disebut PhD Candidate), dan lulus kursus mengajar yang diadakan kampus atau institusi lain di lingkungan kampus.
Tapi, rupanya ada efek sampingnya juga. Beberapa teman saya menyatakan bahwa, jika uang yang kita cari, maka itu tidak sebanding dengan beban kerja.  Umumnya, dalam satu modul, akan ada kuliah umum yang melibatkan semua mahasiswa (kelas besar) yang diisi oleh dosen utama. Setelah itu, pertemuan berikutnya adalah pemutaran film. Dan, lanjut dengan kelas seminar, yang isinya Cuma belasan mahasiswa saja, pendalaman kuliah umum tadi. Asdos tugasnya ada di seminar ini, tapi dia juga wajib hadir dalam kuliah umum setiap minggu. Juga menyiapkan materi (karena, umumnya, asdos mendapatkan tugas mengajar yang acap tak sesuai dengan topik risetnya, atau sesuatu yang belum ia kuasai sama sekali). Jangan lupa, asdos harus memberikan feedback di setiap tugas, dan, yang paling memakan waktu, adalah memberikan nilai pada masing-masing mahasiswanya untuk tugas akhir. Mengapa ini berat? Kalau tugas asdos adalah hanya menjadi asdos, tentu ini pekerjaan sehari-hari. Tapi kalau asdosnya tugas utamanya adalah menulis tesis doktoralnya, tentu ia akan kewalahan dalam membagi waktu. Semua teman saya yang S3 yang menjadi asdos, menyatakan tak sempat menulis bab dalam tesisnya.  Jadi, kata mereka, kalau uang yang dicari, kurang cocok. Tapi kalau untuk mencari pengalaman mengajar, mendalami bagaimana kurikulum dan silabus diaplikasi, atau tercantum dalam curriculum vitae, kata mereka, baru itu alasan yang lebih tepat.
Untuk research assistant, saya belum mengeksplorasinya lebih lanjut. Lebih ke persoalan kesempatan dan lowongan kerja saja, sih.
Jadi, apa dong pekerjaan paruh waktu paling oke untuk mahasiswa S3, khususnya jurusan film? Begini. Di atas sudah saya singgung kalau ada sesi pemutaran film, untuk setiap module (atau mata kuliah). Nah,  mereka membutuhkan screener atau screening boy. Dan biasanya, semua lowongan kerja untuk mahasiswa diumumkan secara terbuka. Khusus untuk pekerjaan yang satu ini, tugasnya sangat mudah: ambil DVD ke dosen (atau, dalam kasus tertentu, ke perpustakaan), putar, ikut menonton untuk memastikan DVD tidak bermasalah (sekitar 3 jam, biasanya jauh lebih cepat kelarnya), dan kembalikan DVD ke dosen (atau perpustakaan).  Kita suka menonton, dan dibayar, bagaimana itu tidak menyenangkan? Yang paling sial adalah kalau kita tidak suka dengan filmnya, maka akan mati gaya dan mati kutu, tapi itu hal yang jarang terjadi.
Dan, lebih dari itu, saya juga belajar bagaimana sebuah kurikulum dan silabus disusun dan dijalankan. Karena, saya selalu diberikan daftar film, dan sekaligus silabusnya, dan pertanyaannya tiap pemutaran film. Dan saya boleh memilih modul apa   yang mau saya bantu! Juga, memilih  hari dan jam yang saya bisa.
Premier "Jazz Singer"
Pengalaman pertama saya adalah menjadi associate tutor Peter Kramer, September 2013-Januari 2014. Dia ini adalah legenda UEA yang sangat terkenal, dan pakar Kubrick dan sejarah film khususnya film bisu.  Modulenya berjudul “what is film history?”, yang fokus utamanya adalah awal pertumbuhan film dan perfilman hingga ditemukannya suara, kebanyakan di Amerika Serikat (dan sedikit Eropa).  Peter selalu hadir hampir di setiap pemutaran, dan memberikan penjelasan tiap jeda, karena filmnya biasanya pendek-pendek. Dari sini saya tahu bagaimana Peter membingkai para mahasiswa (yang adalah anak semester satu yang baru lulus SMA) dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang harus mereka pahami sebelum pemutaran dan harus dijawab sepanjang pemutaran, untuk kemudian diserahkan padanya (atau pada saya) langsung setelah film habis. Dan, sebelumnya, Peter selalu memberikan materi-materi untuk dibaca (yang sebenarnya sudah tersedia online juga). Dan, keasyikan paling utama adalah menonton film-film era awal tahun yang langka, ditambah penjelasan langsung dari perpektif Peter Kramer. Saya menonton (dan juga menonton lagi) film-film yang arusutama (misalnya, film-film Buster Keaton,  Metropolis dan Jazz Singer)   atau yang cuma bisa saya baca di buku sejarah karena keterbatasan akses (misalnya film-film dari Brighton Film School). Nah, UEA memang terkenal dengan penelitian arsip dan consumption/reception studies, maka di module ini saya belajar bagaimana Peter selalu menyertakan “sumber utama”, yaitu resensi-resensi atau berita lainnya seputar film tersebut  di era film itu beredar. Misalnya, bagaimana The Birth of Nation itu tidak dianggap rasis di era itu, karena memang jaman itu praktik-praktik rasisme  semacam itu wajar dilakukan. Yang menarik, Peter memutar dokumenter pendek tentnag Coney Island di kota New York untuk menggarisbawahi mengapa ia penting terkait dengan industri film Amerika.
episode perdana Doctor Who (1963): An Unearthly Child)
Pengalaman berikutnya adalah menjadi screening boy di 3 module sekaligus, Januari-Mei  2015. Mungkin, jurusan saya gak enak sehabis menolak saya menjadi asdos. Yang pertama adalah Sci-Fi Film and Television dari Christine Cornea, yang memang pakar di bidang ini. Kebetulan saya memang sedang mendalami sci-fi dan akan menjadikannya sebagai proyek penelitian berikutnya. Film-filmnya banyak yang sudah saya tonton, tapi kali ini dengan perspektif berbeda (Misalnya Terminator 2, Robocop,  dan  Matrix, dan serial TV seperti the Six Million Dollar Man)  karena saya juga baca silabus dan pertanyaan-pertanyaan untuk mahasiswa S2. Dan juga mengeksplorasi film dan TV (favorit saya: Forbidden Planet, serial televisi Planet of the Apes, Survivors,  dan…tentu saja Doctor Who episode perdana).

Di semester yang sama, saya juga pegang 2 module dari pembimbing kedua saya, Rayna Denison. Dia pakar anime dan film jepang. Saya bertugas mengurusi putar film “Asian Cinema” dan “Japanese Cinema”.  Film-filmnya? Dari Rashomon, Hard Boiled, Akira, hingga Crouching Tiger. Saya menonton lagi film semacam    Tokyo Story, In the Mood for Love,  Ringu, OldBoy, dengan perspektif baru. Film yang baru saya tonton: Pater Pancali, Godzilla (yang asli), The Hidden Fortress, The Life of Oharu.  Sejauh ini, hanya Tokyo Drifter yang membosankan, walau ada embel-embel cult movies.
Kalau ditilik, film-film yang disajikan itu tidak hanya yang “film festival” atau “film seni”, tapi macam-macam. Tergantung dari tema yang sedang dibahas. Kalau bahasnya adalah genre dan film Bollywood, yang diputar Ghajini. Ringu diputar sebagai bahan untuk international branding.  Untuk sci-fi, memang filmnya popular rata2 (kecuali Altered States atau A Scanner Darkly yang mungkin dianggap agak nge-art ). Tapi temanya keren-keren. Misalnya, Robocop dan The Six Million Dollar
Man, dipakai sebagai contoh dari topik Techno-Fusion and the Masculine Subject in US Science Fiction Film and Television. sementara itu  Alien Others: Representation and Race in US Science Fiction Film and Television memakai kasus serial  TV Planet of the Apes dan Matrix  Revolution. Hmmm, saya jadi belajar menyusun silabus dan kurikulum keren, nih.
Begitulah, di semester itu, persis setahun silam, dalam sepekan saya menonton 3 film. Tidak perlu persiapan secara serius (kecuali beberapa kasus ketika sang dosen tak punya filmnya dan saya diminta cari di perpustakaan, tapi bukan hal besar), dan dapat uang saku. Tidak sebanyak honor mengajar, memang, tapi lebih dari lumayanlah. Dan, banyak bonusnya. Termasuk, memaksakan diri untuk menonton film, dan istirahat dari memikiran tesis.