Friday, 1 January 2016

3 Doa 3 Cinta : Jendela Dunia bernama Pesantren

Film
3 Doa 3 Cinta
Jendela Dunia bernama Pesantren  
Oleh: Ekky Imanjaya
Nurman Hakim, sutradara yang santri itu, membuat film tentang dunia yang pernah diakrabinya. Hasilnya, sebuah jendela melihat Indonesia. 
Film yang baik adalah film yang menawarkan banyak gagasan dan cerita di dalamnya. Itulah sebabnya film komedi seks seperti Quickie Express bisa diputar di Udine Far East Festival—dan kemudian menjadi film terbaik di Jiffest 2008. Paling tidak, mengutip pertimbangan juri Jiffest 2008, lewat Quickie Express kita dapat melihat banyak hal tentang Indonesia. 3 Doa 3 Cinta adalah film semacam itu.
Tentu saja, tergambar dengan sangat jelas dari menit pertama, bahwa Nurman Hakim, sang sutradara dan sekaligus penulis skenario, hendak menolak anggapan bahwa Islam identik dengan kekerasan dengan menggambarkan wajah Islam yang ramah dan tersenyum.  Sebuah representasi dari citra mayoritas umat Islam di Indonesia yang mulai tertutupi dalam liputan media oleh pekikan kaum Islam garis keras yang hiruk pikuk.
Adegan pertama film ini gamblang menggambarkan itu: bagaimana dua orang kyai menafsirkan ayat “sensitif”: Wa lan tardho ankal yahudu wa laan-Nashara…(“Tak akan rela orang Yahudi dan Nasrani....”). Romo kyai, pengasuh pondok pesantren al-Hakim menyatakan bahwa ayat itu hanya untuk kaum Yahudi dan Nasrani yang memerangi kita. Sedangkan seorang kyai fundamentalis menyatakan bahwa itu adalah ayat perang. Dan isu itu pun mewacana bersama kisah lainnya.
Tidak hanya lewat kata-kata verbal, Nurman menyingkap sisi kemanusiaan dari para santri dan ustadz lewat adegan demi adegan, tanpa perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan mereka. Misalnya, ada pengajar atau santri senior yang kemayu dan memang ternyata menyukai sesama lelaki. Atau beberapa santri yang enggan dan mengantuk bila mengaji dan shalat Subuh. Atau saat santri pria ereksi di pagi hari.
Pengalaman hidup sang sutradara yang tiga tahun nyantri di Semarang membuat film ini berhasil menelusuri berbagai kisah di pesantren. Tentu saja menu utamanya adalah trio Huda  (Nicolas Saputra),  Syahid (Yoga Bagus Satatagama), dan Rian (Yoga Pratama) yang acap menyelinap keluar pesantren untuk “dugem” di Pasar Malam.
Penonton bisa melihatnya dari sisi nilai-nilai keluarga. Tentang Huda yang selalu bertanya mengapa ia “dibuang” ke pesantren oleh ibunya, dan melakukan apapun untuk mencari sang bunda, termasuk minta tolong cewek matre pedangdut amatir, Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo). Rian berasal dari keluarga berantakan akibat perceraian. Sedangkan Syahid yang berasal dari keluarga miskin harus merawat sang ayah yang sakit keras dan butuh banyak biaya, dan tak punya pilihan kecuali menjual sawah mereka. Syahid pula yang paling tahan mengaji diam-diam pada si kyai jihad, dan karena kepahitan hidupnya bersedia jadi calon pembom bunuh diri.
Menarik juga memerhatikan kamera handycam hadiah ulang tahun sang mama buat Rian. Kamera itulah yang merekam banyak mozaik kegiatan, sepotong sepotong: dari mengintip  gadis salehah idola dari balik ‘tembok ratapan’, casting Dona Satelit, hingga latihan militer kaum Islam militan. Dikaitkan dengan klimaks yang tiba-tiba mengenaskan, rekaman-rekaman itu seolah hendak mengkritisi anggapan bahwa apa yang terekam dan terpampang pada layar kamera adalah realitas apa adanya, sehingga dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Kritik ini diarahkan pada citra negatif serba gebyah uyah dari Barat tentang Islam dan kekerasan. Juga berbagai tayangan di televisi –gosip, berita kriminal, dan lain-lain– yang secara epistemologis diamini sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal, kamera mengikuti gagasan orang yang memegangnya, yang menangkap kenyataan sepotong sepotong sesuai arahan sutradara atau petunjuk skenario. Hasilnya, sebuah kesimpulan gegabah yang mencerminkan kebodohan intel kita.
Banyak bagian dari film ini bekerja cukup baik. Bagian art, khususnya, berhasil meyakinkan orang bahwa kisah mengambil waktu beberapa bulan sebelum 11 September 2001 dengan memakai  properti seperti uang kertas masa itu, jam dinding bayi “No Problem”, hingga logo SCTV Ngetop yang lawas. Djadug Ferianto juga berhasil meracik musik-musik yang bersumber dari shalawatan tradisional (mengingatkan pada ilustrasi musi dalam Harimau Tjampa-nya Djajakusuma, atau Al-Kautsar karya Chaerul Umam/Asrul Sani) dan memperkuat atmosfer pesantrenan 
Film ini mengobati rindu keterwakilan umat Islam tradisional dan pesantren di pentas film nasional. Sudah lama film Indonesia yang bermutu tidak mengangkat kehidupan di pesantren, apalagi pesantren tradisional seperti Tebuireng atau Pabelan.  Paling tidak, Pabelan menjadi tempat syuting setelah sekitar 30 tahun sebelumnya dipakai untuk Al-Kautsar.
Pengakuan mutu juga melekat pada film ini. Ia terpilih ikut serta di Festival Film Pusan. Dan, dari 7 nominasi FFI 2008, Yoga Pratama mendapat piala Citra untuk pemeran pembantu pria terbaik. Tak buruk untuk sebuah film yang sangat kental menampilkan dunia pesantren yang selama ini tercitrakan kumuh, terbelakang, malah kadang jadi “sarang teroris”.
Judul: 3 Doa 3 Cinta 
Sutradara & Skenario: Nurman Hakim 
Bintang: Nicolas Saputra, Yoga Pratama,
Yoga Bagus, Dian Sastro
Durasi: 114 menit