Thursday, 18 June 2015

Lima Film Indonesia berlatar Ramadhan.

Omong-omong, apa saja ya film nasional kita yang bercerita seputar Ramadhan, atau minimal dengan latar belakang bulan suci itu?


Film adalah alat untuk bercerita. Dan tentunya  pertanyaan di atas adalah wajar, mengingat umat Muslim adalah yang mayoritas di Indonesia, tentunya banyak hal yang bisa dikisahkan. Bila kita tilik,   Ramadhan adalah masa yang bisa mengubah kebiasaan dan bahkan kebijakan dalam tingkat nasional.  Memang tidak sedahsyat di tanah Arab di mana mereka mengubah kebiasaan tidur dan beribadah, seakan “siang menjadi malam dan malam menjadi siang”. Tapi kurang lebih sama semangat dan dinamikanya.  Jutaan manusia mengubah dan menyesuaikan tradisi makan minum dan jam biologis serta jadwal harian mereka di bulan ini. Bangun dini hari buat sahur, siang berlapar-lapar,  dan malam sehabis pulang kantor shalat Tarawih. Berbagai industri, dari mal hingga hiburan,  pun melihat peluang itu, dan bersolek untuk menjadi lebih saleh. Stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan banyak program yang selaras dengan  bulan puasa ini, banyak yang mulai siaran sejak dini hari,dan juga sinetron dan kuis religious. Dan, puncaknya adalah hari-hari terakhir ketika banyak orang pulang kampong, yang memakan biaya trilyunan rupiah.

Kalau di dunia Barat, momen Natal dirayakan dan diangkat ke berbagai jenis film layar lebar,mulai dari film anak semacam Home Alone hingga film laga seperti Die Hard, dan juga mengeksplorasi tokoh Sinterklas dan kisah-kisah magis seputarnya.  Bagaimana dengan Bulan Puasa?  Kalau kita bahas soal lagu rohani, acara televisi dari sinetron hingga kuis, tentu bertebaran. Tetapi berbeda ceritanya jika kita membahas film bioskop.  Tak  disangka tak dinyana, entah mengapa, sedikit sekali film-film Indonesia yang “merekam” tradisi tahunan ini. Walau banyak film Islami, tapi entah kenapa nyaris tak satupun yang mencoba menangkap momen-momen ritual ini.  Justru  para sutradara dan produser yang selama ini sepertinya tidak diasosiasikan dengan film relijiuslah yang membuat film-film dengan latar belakang Ramadhan. Dan bulan Ramadhan tidak sekadar tempelan saja, tapi merupakan bagian integral dari cerita, karena cerita-cerita dalam film-film itu akan hilang konteksnya kalau settingnya diubah menjadi bulan lain.

Memang ada film yang secara selintasan ada nuansa Ramadhan atau malam lebaran  (yang adalah hari terakhir Ramadhan) yang kental dengan suasana takbiran. Misalnya di film  Cinta Suci Zahrana (Chairul Umam, 2012), Rembulan dan Matahari (Slamet Djarot, 1979), dan Boleh Rujuk, Asal… (Maman firmansjah, 1986). Tapi adegannya hanya kurang dari 25 persen dari keseluruhan film dan bukan merupakan jiwa dari cerita. Ada dua  film yang kisahnya terjadi menjelang Idul Fitri, alias di bulan puasa, tapi belum saya tonton karena  aksesnya susah didapat. Film itu berjudul Dosa Tak berampun (Usmar Ismail,  1951) dan Sangkar Emas (Fred Young, 1952).

Tapi, film yang benar-benar dengan setting bulan Puasa, dan menunjukkan dinamika ritual ibadah Ramadhan (sahur, puasa, tarawih, buka bersama) dan menjadikan Ramadhan sebagai jiwa  dari film ini, hanya sedikit. Saya hanya menemukan 4 film panjang, dan 1 film pendek dalam proyek omnibus. Dan lebih dari separuhnya adalah film anak-anak.  Berikut film-film tersebut.

Mudik (Muchyar Syamas, 2011)
Suka atau tidak suka, film yang diproduseri Raam Punjabi ini cukup melukiskan suasana  bulan suci Ramadhan. Lepas dari kuatnya aroma sinetron—baik dari segi cerita yang cenderung banal dan  berlebihan dan banyak kebetulannya,  pengadeganan yang apa adanya,  para karakter yang kurang berkembang dan hitam putih, dan sinematografi pas-pasan—tapi inilah film yang jiwanya adalah semangat mudik, salah satu elemen yang menempel kuat di benak banyak Muslim.  Di sini, kita bisa melihat detil-detil suasana khas, misalnya fenomena warteg yang ditutupi tabir hingga calo di terminal bis, hiruk pikuk kendaraan yang hendak pulang kampung, kurma Arab yang dibeli di Tanahabang,  dan Jakarta yang sepi saat Idul Fitri. Tentu, jangan berharap ini film dengan pendekatan syiar dakwah seperti film religi, tapi lebih kepada mengeksplorasi dan mengolok-olok keseharian karakter-karakternya—yang mungkin juga dialami banyak penonton.
Film berfokus pada Gunadi, anak desa yang mengadu nasib di Jakarta tapi masih saja menganggur di tahun ketiganya. Lestari, calon istrinya, menunggu untuk dinikahi.  Tapi jangankan dana nikah, ongkos mudik saja dia tidak punya. Hingga ia menjadi supir pribadi seorang konglomerat.  Sementara itu, Kuncoro,  bapak kosnya,  juga pusing memilih mudik antara Bukit Tinggi (tempat mertuanya) atau ke desanya di Jawa Tengah. Suami dari Yustina   itu digambarkan mata duitan dan selalu menggencet anak kosnya, kecuali satu orang yang tukang pengadu.  Ada juga Iskandar,   pejabat di Kementerian Sarana Publik yang sudah tiga tahun tak pulang ke desanya di  Wonosalam, Jogjakarta.
Singkat  cerita, Gunadi ditolong oleh rekan kosnya mendapatkan kerja sebagai supir pribadi Iskandar. Sebelumnya, ia  narik taksi dan hampir menabrak Wulan, yang baru saja selesai kawin kontraknya dengan pria asal Arab.  Wulan pun berasa berhutang budi, tapi dengan cara yang ekstrem. Dia “menculik” Gunadi dan memakai kendaraan milik sang majikan,  untuk pelesir. Walhasil, Gunadi dipecat Iskandar, dan hanya dikasih pesangon seperlunya. Lebaran sudah di depan mata, dan ia belum punya uang untuk mudik, apalagi buat nikah. Bagaimana Gunadi menyelesaikan problematika ini?

 Seputih Cinta Melati (Ari Sihasale, 2014)

Inilah film yang nafasnya adalah bulan Ramadhan. Dari ritual ibadah keseharian hingga pesan moral untuk maaf memaafkan, tersaji di sini. Atmosfir bulan suci puasa, seperti pembacaan ayat suci Al-Quran, buka puasa, dan sahur keliling lengkap dengan berbagai  kentongannya. Dari awal, pasutri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, memang merencanakan film ini untuk liburan lebaran yang bertemal lebaran dan Ramadhan.
Film berfokus pada si cilik Melati dan abangnya, Rian. Mereka bertemu Ivan dan Erik, dua narapidana yang buron dari penjara, yang menolong mereka saat kaki Melati terjepit. Mereka pun makin dekat, dan kedua bocah itu tak tahu identitas teman barunya itu.  Rian mengajari Erik cara memancing, dan Melati mengajarkan Ivan untuk menghafal al Quran. Masalahnya, Erik ingin kabur dari sana, tapi Ivan sudah terlanjur akrab dengan Melati. Sampai akhirnya penduduk sana tahu siapa mereka sebenarnya.

Rindu Kami PadaMu (Garin Nugroho, 2004).


Satu lagi film keluarga dengan anak-anak sebagai tokoh utamanya. Inilah film Garin yang paling komunikatif. Kisahnya terjadi di bulan Ramadhan di sebuah pasar tradisional di pinggiran Jakarta yang kumuh. Banyak karakter di dalam film ini, saling terkait dan diikat oleh rasa kebersamaan sebuah perkampungan yang masih menghidupkan semangat gotong royong.  Ada Pak Haji Arif yang masjidnya tak berkubah karena kurang dana. Ada seorang suami yang bertobat dengan menjadi penjaga masjid. Istrinya kabur karena tak tahan dipukuli, dan sejak itu anaknya selalu menggelar sajadah kosong, berharap ibunya akan datang. Ada bocah yang hidup dengan abangnya penjual telur asin dan mencari sosok ibu dalam seorang karyawati bernama Cantik. Ada Rindu yang tuna rungu dan terpisah dari abangnya  karena bencana alam, dan diangkat anak oleh penjaga warung. Semuanya bermuara pada pencarian sosok ibu dan nilai-nilai keibuan, dan semuanya terjadi di bulan Ramadhan.  
Menjelang Lebaran, banyak penduduk sekitar bersiap untuk pulang kampung, dan menitipkan banyak hal—dari kunci rumah hingga ayam jago—kepada orang-orang yang tidak mudik, seperti ke merbot masjid dan ibu penjaga warung. Dan, karena salah satu lokasi utamanya adalah masjid yang tak berkubah, banyak adegan dilakukan di sini, termasuk shalat wajib dan tarawih berjamaah. Dan, tentu, lagu Rindu Kami Padamu dari Bimbo memperkuat semangat religi yang menyayat hati.

Untuk Rena (Riri Riza 2005)

Bulan Puasa, rumah panti asuhan, dan kisah tentang tragedy Aceh Tsunami. Ketiganya saling berkaitan dalam film produksi Miles Films ini.  Berkisah tentang Rena dan “adik-adik”nya di Rumah Matahari, sebuah panti asuhan di luar kota Jakarta. Mereka sangat kompak. Rena sangat protektif dan berupaya mencegah para tetamu mengadopsi adik-adiknya yang lucu, dengan cara membuat berbagai ulah yang nakal. Suatu hari, datanglah tamu misterius, Yudha, ke sana dan menginap setiap akhir pekan.  Awalnya, Rena dan kawan-kawan agak curiga dan menjaga jarak seraya bertanya: “Apa maunya Om Yudha rutin ke tempat kami?”. Tapi, lama-lama cair juga mereka. Karena Yudha orang yang ramah dan ringan tangan, termasuk memperbaiki saluran air yang tersendat. Tapi pertanyaannya masih terngiang: Apa motif utama Yudha datang ke sana?
Film ini juga mengajarkan agar kita tidak melihat seseorang dari tampilan fisik saja, tetapi juga kepribadiannya, dan agar tidak berburuk sangka kepada orang lain.

3ll4 (Wisnu Surya Pratama, 2010)

Ini adalah film berdurasi kurang dari 8 menit yang ada dalam kumpulan film pendek Belkibolang. Film yang disutradarai oleh Wisnu Surya Pratama ini berkisah tentang sahur di hari terakhir  Ramadhan. Dini hari itu, Ella, seorang pelacur asal Surabaya, ngobrol  dengan Pak Gendut, penjual bebek bakar asal Madura dengan Bahasa daerah masing-masing.  Di sini, profesi pelacur tidak dilihat hitam putih atau sesuatu yang hina dina, tapi sebagai sosok manusiawi. Ella punya tanggung jawab di kampungnya. Dia hari itu hendak mudik, dengan membawa oleh-oleh berupa uang yang banyak untuk keluarganya, dan kaca mata untuk ayahnya tercinta. Keluarganya tidak tahu profesi Ella, kecuali hanya info banyak ia bekerja di Jakarta dan lebaran pulang membawa rezeki. Seolah-oleh Ella punya dua identitas yang saling bertolak belakang. Sebagai pekerja seks komersial, ia genit dan merayu. Tapi sebagai anggota keluarga, ia mengubah cara bicara (seperti saat berbicara dengan ibunya di telepon) dan busananya. Citranya juga berbalik ketika bersiap pulang kampung: Ella sebagai seseorang yang bekerja di Jakarta dan punya tanggung jawab menafkahi keluarga, ini adalah salah satu representasi salah seorang warga Jakarta. Dan semuanya terjadi di satu malam menjelang subuh, di bulan Ramadhan. Sebuah kritik konsumerisme, komersialisme, dan materialisme sudah merajalela, bahkan tak mampu dibentengi oleh Ramadhan?

Dimuat di Majalah ESQ Life, Juni 2015.
http://www.esqlife.com/article/ramadhan-dan-kehidupan/