Tuesday, 17 June 2014

Pembangunanisme vs Revolusi Mental

Kok saya merasa bahwa Prabowo itu sangat pembangunanisme (fisik) ya? Dia menekankan pembangunan infrastruktur, kenaikan gaji dan kesejahteraan untuk membasmi korupsi, IQ tinggi pun diagung-agungkan.  Pembangunan, katanya, harus dari kota ke desa-- semoga ini bukan Trickle Down Effect gaya Orde Baru, ya, tapi aplikasi dari UU Desa.

Saya  melihat justru kecerdasan intelektual dan juga materi yang berlimpah bukanlah solusi yang paling utama. Bagi yang mendalami Daniel Goleman, Danah Zohar, Maslow, ESQ, Logoterapi-nya Frankl yang didalami Kang Hanna,  dll tentu tahu bahwa IQ hanya berperan 20% dalam kesuksesan seseorang, dan kebutuhan manusia ada banyak selain materi (misalnya: rasa aman, mencari kebahagiaan, ingin dihormati dan dihargai, aktualisasi diri, dll). Dan IQ itu hanya satu saja dari jenis multi-kecerdasan. Justru para koruptur adalah orang-orang yang secara intelektual cerdas dan secara rezeki berlimpah. Masalahnya adalah: bagaimana supaya kita tidak rakus bin tamak. Bagi orang yang kemaruk ini, walau cerdas dan kaya, tetap haus akan  harta lagi dan lagi, seperti minum air garam.
Yang yang dibutuhkan adalah EQ (kecerdasan emosi) dan juga SQ (kecerdasan spiritual). Padahal di pihak Prabowo banyak partai dan tokoh Islam ya, di mana letak peran Iman dan akhlak (baca: SQ) di sini ya?
Dan ini kok cucok sama pernyataan Jokowi ya. Selain dia bilang harus dibuat sistemnya, Jokowi selalu mengulang-ulang pernyataan: “revolusi mental”, “yang harus dibangun itu manusianya”, dll.

Kalau EQ dan SQ tidak diutamakan (di samping sistem yang dibangun), maka sangat boleh jadi kebocoran yang akan ditutupi Prabowo (kalau dia jadi presiden) akan bocor lagi karena mental manusianya yang  masih korup. Dan kepintaran seseorang malah dipakai untuk memanipulasi keadaan untuk perutnya sendiri, seperti yang terjadi dalam tahun-tahun belakangan ini.

#batallagipuasabahascapreseuy