Friday, 2 August 2013

Sinetron Islami Tapi Tak Islami , Kok Bisa?

Oleh Ekky Imanjaya

Berita menarik hadir pertengahan April 2013 lalu.  Sejumlah  kelompok masyarakat memprotes tayangan beberapa sinetron berlabel Islami dengan alasan isi dan jalan ceritanya merendahkan simbol islam, khususnya status haji. Pada situs resmi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) disebutkan, bahwa Masyarakat Televisi Sehat Indonesia, mengadukan keresahan tersebut pada KPI Pusat, melalui perwakilannya Ardy Purnawansani dan Bayu Prioko, yang juga didampingi Fahira Idris dari Rumah Damai Indonesia.  Mereka mengkritisi sinetron seperti Haji Medit (SCTV),  Tukang Bubur Naik Haji (RCTI), Ustad Foto Copy (SCTV),  dan Islam KTP (SCTV), yang semuanya “…menggunakan judul dengan terminologi Islami, tapi isi dan jalan ceritanya jauh dari perilaku islami”. Bagi mereka, hal ini meresahkan masyarakat Muslim karena memunculkan persepsi buruk tentang tokoh panutan dalam agama Islam, khususnya yang bergelar haji.  Sementara itu  Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) juga protes kepada RCTI dan SCTV dan  dengan keras meminta sinetron penghinaan kepada status Haji itu , seperti Tukang Bubur Naik Haji dan Berkah, segera dihentikan. Kedua stasiun swasta itu segera merespons dengan positif.  Salah satu hasilnya: Haji Muhidin, dari sinetron Tukang Bubur, mendadak menjadi karakter yang lebih baik. Walau pun, sebagaimana dilansir situs KPI,  ada juga sinetron religi yang tak berubah juga, walau sudah lama diperingatkan KPI, seperti Islam KTP.

Memang, label “sinetron Islami” membuka ruang lebar intepretasi, yang sering disalahgunakan untuk kepentingan pencarian keuntungan semata. Pernah ada tren sinetron reliji yang kental dengan mistik serta azab dan berkah. Dan kini, representasi buruk tokoh masyarakat yang bergelar haji. Kesalahan utama, tentu saja ada pada konten, tapi bahwa hal itu semua dilakukan di frekuensi milik public juga menjadi masalah tersendiri.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Setidaknya ada tiga sebab, yang semuanya saling terkait.
Pertama adalah sistem kejar tayang.  Industri televisi, termasuk sinetron, kebanyakan memakai sistem tripping ini, tak terkecuali sinetron berlabel reliji. Sebagai gambaran ekstrim: jika episode 516 sedang disyut, maka sang penulis skenario pada saat itu juga menulis episode lanjutannya. Dan jika kemudian sang bintang utama berhalangan secara mendadak karena urusan pribadinya, bisa saja plot berubah drastis, sang tokoh utama diceritakan sedang pulang kampung atau sakit keras, dan cerita berganti fokus pada tokoh lainnya. Hal seperti ini tentunya tidak kondusif untuk membuat cerita yang matang, utuh, dan bagus.  Tim  kreatif tidak terlalu sempat untuk meriset dan menggodok cerita, dan para actor tidak sempat untuk observasi karakter dan latihan membaca naskah bersama-sama.  Bandingkan diengan sebuah film layar lebar bermutu yang skenarionya direvisi hingga berkali-kali bahkan sampai belasan kali, dan para bintangnya bahkan perlu dikarantina untuk mendapatkan klik kimiawi antar mereka, seperti yang dilakukan oleh film Ada Apa dengan Cinta, misalnya.
Sedikitnya waktu ini membuat tim kreatif tidak sempat, atau mungkin tidak peduli, dengan penokohan. Misalnya,  ihwal penokohan pengembangan karakter. Dalam cerita yang baik, karakter berkembang, bahkan dalam serial televisi. Di serial komedi situasi (sitcom) semacam The Big Bang Theory Theory, misalnya, kita akan melihat tokoh Sheldon Cooper yang punya karakter kuat dan unik yang tetap bertahan hingga akhir, namun social skill-nya menjadi lebih baik seiring dengan berjalannya waktu dan interaksi sosial dengan teman-teman dekatnya.  Pun dengan  Leonard Hofstadter  (tokoh paling “normal”) , Howard Wolowitz (masih tinggal dengan ibunya, dan satu-satunya yang tak bergelar PhD dan karenanya acap diolok-olok), dan  Rajesh Koothrappali (tak bisa bicara dengan wanita). Jika kita penggemar berat sitcom ini, kita akan mengetahui tanggal lahir, asal universitas dan daerah, dan kebiasaan unik mereka, misalnya kegemaran mereka akan komik di sci-ci.
Dalam How I Met Your Mother, kita diiming-imingi bahwa akhirnya sang tokoh utama akan bertemu istri yang adalah ibu dari anak-anaknya  Ted Mosby, dn perlahan plot cerita bergerak ke sana, dan karakter berkembang. Tokoh utamanya--Marshall Eriksen, Lily Adrian, Robin Scherbatsky,dan Barney Stinson--punya karakter yang kuat dan unik, bahkan punya latar belakang cerita  yang kaya dan akar keluarga yang sudah dipersiapkan--dan setiap penonton punya favoritnya sendiri. Karakter tokoh Barney, ikon acara ini, sebagai contoh,  berubah pelan tapi pasti dari seorang playboy menjadi orang yang bertekad menikahi Robin dan menghilangkan sifat buruknya itu.
Tentu saja, di sini kedua serial itu menjadi contoh kasus dalam penokohan dan cara bertutur, bukan membahas isinya. Mengapa membahas dua contoh dari Amerika, karena dalam beberapa tahun belakangan ini, dunia pertelevisian Paman Sam itu maju pesat dan bisa dibilang sedang mencapai masa kejayaannya. Mengapa tidak bisa diterapkan di sini?
Cerita berkembang (dan maju ke depan) karena para karakter berkembang, dan sebaliknya. Dan pada akhirnya akan berhenti di suatu titik akhir. Dan semuanya seharusnya dikonsep dengan matang sejak awal. Sementara, dalam sistem kejar tayang dan sistem rating,  yang umumnya dilakukan adalah mengulur-ulur dan memperpanjang-panjang cerita yang tidak perlu. Dalam kasus para haji ini, karakter mereka hitam putih. Misalnya, dari judulnya saja, Haji Medit, kita sudah bisa menebak adanya sosok satu dimensi, bukan banyak-dimensi sebagaimana manusia normal. Tentu sangat manusiawi jika ada seorang haji yang khilaf dan salah, namun jika dituturkan bahwa sang haji tak ada kerjaan lain selain bergosip, membicarakan orang lain, dengki, dan menghasut, dan itu diceritan di setiap episode tanpa ada perubahan atau sifat baiknya, tentu lain persoalan.
Cerita dan penokohan tidak harus realis, tapi yang pasti harus meyakinkan. Dunia fiksi yang hadir harus make-believe (reka-percaya), menciptakan semesta dunianya sendiri.  Pemirsa harus diyakinkan bahwa tokoh itu benar-benar masuk akal, dan bahkan mungkin membuat penontonnya berpikir bahwa itu adalah refleksi dari dirinya (“itu gue banget”)  atau proyeksi ideal baginya (“andai saya bisa seperti itu”).
Contoh  sinetron atau serial televisi yang tidak melakukan system kejar tayang,  salah satunya,  adalah Dunia Tanpa Koma.
Sistem rating adalah masalah berikutnya.  Semakin baik rating sebuah program televise, semakin banyak produk yang mau beriklan di sana. Rating TV adalah ukuran atau evaluasi untuk menilai seberapa banyak prosentasi suatu acara televise ditonton opada saat ditayangkan. Jika rating jelek, kemungkinan program itu terhapus atau disingkirkan ke jam tayang yang tak popular makin besar.  Tidak sedikit yang menjadikan rating menjadi “tuhan” dan tujuan utama, dan melupakan hal lainnya. Akibatnya, tidak terlalu masalah bila cerita atau  kedodoran bahkan terkesan diulur-ulur, sementara penokohannya juga amburadul.
Terakhir, adalah budaya gagap yang masih saja menggejala sebagai perilaku tim kreatif dan pembuat kebijakan acara televisi. Akibatnya, dan karena “bertuhankan” rating, maka mereka memilih untuk mengikuti acara yang sedang menjadi tren dan terkadang terkesan “copy paste” sekadarnya saja.
 Bagaimana pun, ini adalah industri yang berjalan dengan logikanya. Dan jeleknya mutu sinetron dan TV seri tidak hanya eksklusif untuk sinetron bertema religi. Tpi, mengapa di Amerika Serikat, bidang ini begitu maju pesat, khususnya dalam konteks cerita dan  production value?
Karena itulah, berita protes sejumlah kelompok masyarakat adalah angin segar. Harus ada orang-orang yang mengawasi pertelevisian dan mendukung serta memperkuat KPI.  Dan merupakan pekerjaan rumah bersama untuk mewjudukan acara yang sehat dan positif-- tidak hanya sinetron, tapi juga kuis, talk show, variety show, reality show, dan masih banyak lagi. Dan, teguran KPI tidak selamanya berhasil, atau konsisten diikuti. Contohnya: Empat Mata yang pernah diminta untuk menghentikan tayangannya hanya berganti nama dengan nama Bukan Empat Mata.

Dimuat di ESQ Media no. 2/Agustus 2013