Wednesday, 23 December 2015

Highlight: Best of 2015

Medina tries to spell and read
(Pembahasan singkat berbahasa Indonesia, sila ke bawah)

January
Harry Potter Studio, 24 January 2015 
March
SCMS, Montreal, 25-29 March

Plaridel journal, special issue (as guest editor), late March 2015. (complete title:  "The Bad, The Worse, and The Worst: TheSignificance of Indonesian Cult, Exploitation, and B Movies", untuk jurnal Plaridel:  A Philippine Journal of Communication, Media, and Society, Volume 1, Issue No. 2; 2014)

A Talk at Harvard University, 30 March

May

July
Public Engagement Prizes, UEA Graduate School Prizes 2015, 14 July

August
Henry Jenkins’s Talk, IKJ, Jakarta, 5 August

September
Finished writing the first draft of my thesis, early September
Medina went to school (Reception), September
Medina passed Toilet Training completely
Doctor Who series 9,  19 September – 5 December

October
Workshop on Indonesian Cinema as SOAS, University of London (as co-organizer and presenter), including as a chair for Pete Tombs Talk,   3-5   October

November
I discovered and love Banksy’s Works

December
Medina started to spell and read books! December

Resolution of 2016:
1.       Viva, or, at least, submit the final draft of my doctoral thesis
2.       Publish a proper scholarly paper(s) in, at least, one journal.


Wish list of 2016:
1.       Cardiff  Doctor Who studio
2.       Liverpool’s Beatles tour


Catatan Tahun 2015:  Keluar dari Zona Nyaman.

Tahun ini, saya sekeluarga mengalami banyak kejadian yang, boleh disebut, keluar dari Zona Nyaman. Pertama, kami pindah ke Bristol, dari Norwich.

Dalam bidang akademis, supervisor saya menyarankan saya untuk mempresentasikan bab-bab saya di dua dari konperensi terbaik di bidang Kajian Film, yaitu SCMS (Society for Cinema and Media Studies) dan MECCSA (Media, Cultural, and Communication Studies Association), dan saya berhasil melaksanakanya. SCMS, sejauh ini, adalah konperensi terbaik yang pernah saya ikuti. Saya mendapatkan jaringan-kerja yang sangat luas dan kelas dunia. Panel saya didatangi oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, yang sebelumnya saya cuma tahu di media social, atau baca karyanya (misalnya, Kate Egan, Austin Fisher, dan Johnny Walker ). Dan,lebih banyak lagi nama besar yang saya temui (Barbara Klinger, Linda Williams, Tom Gunning, Andrew Dudley, Matt Hill, dan banyak lagi), yang sebelumnya Cuma saya ketahui lewat bacaan-bacaan saja. Mengapa “keluar dari Zona NYaman?”, karena keduanya adalah yang terbaik di bidang kajian sinema, dan kajiannnya lebih umum sifatnya (tidak seperti Cine-Excess, atau Global Exploitation Cinema, yang sangat spesifik ke topik tesis saya, misalnya), dan tidak banyak akademisi di bidang kajian sinema tahu tentang sinema Indonesia. Sebaliknya, sedikit sekali akademisi dari Kajian Area (Kajian Indonesia, atau Asia Tenggara) yang minat dengan sinema.

Dan, alhamdulillah, saya 2 penghargaan dari kampus saya, University of East Anglia (UEA), yaitu Student Award (UEA engagement award) dan   Public Engagement Prize (UEA Graduate School Prizes 2015).

front cover of Plaridel Journal i guest-edited
Selain itu, saya diberi kesempatan untuk menjadi penyunting tamu jurnal Plaridel. Untuk pertama kalinya, saya merasakan kerepotan dan kewalahan mengelola sebuah jurnal ilmiah, namun sangat menikmati prosesnya, karena saya boleh membingkai topik dan mengundang orang-orang penting menulis sesuatu yang berkaitan dengan bidang riset yang sedang saya geluti.  Saya menerima banyak tulisan menarik dan orang-orang keren, termasuk Prof. Xavier Mendik (salah satu Begawan di bidang cult cinema). Dan juga, bersentuhan (lagi) dengan orang-orang keren yang mau membantu sebagai reviewer.

Tahun ini pula, saya mendapat kehormatan untuk berkorespondensi dan menjadi salah satu panitia serta menjadi moderator dari Henry Jenkins, salah satu tokoh utama di bidang fan culture studies, aca/fan, dan participatory culture.

Urusan non-akademis juga tak kalah menarik tahun ini. Yang paling berkesan adalah mengunjungi Studio Harry Potter, dan menikmati seri terbaru Doctor Who (Semoga saya bisa mengunjungi studionya di Cardiff, tahun depan).

Kekurangan saya, salah satunya, adalah kebanyakan konperensi (buat networking juga) serta membuat acara-acara (termasuk co-organizer di Workshop on Indonesian Cinema di SOAS dan London Indonesian Film Screenings), dan kurang fokus pada penerbitan paper di jurnal. Jadi, salah satu resolusi utama saya tahun 2016 adalah menerbitkan salah satu (atau dua) bab dalam tesis  saya di jurnal ilmiah internasional. Resolusi kedua utama saya:  lulus kuliah, atau setidaknya menyerahkan draft final tesis saya.

Tetapi tak ada yang lebih membahagiakan saya daripada melihat Medina, anak saya yang baru berusia 4 tahun itu, selesai fase toilet training. Dan kini, dia sedang sibuk membaca (tepatnya; mengeja) buku cerita.  Medina juga suka sekali dengan dongeng dan buku cerita. Buku horror pertamanya adalah Killer Gorilla. Dia senang ditakut-takuti dengan buku itu. Bukan takut dalam arti “takut” sewaktu menonton Doctor Who (yang ada banyak makhluk anehnya), tapi takut-takut senang nagih gitu.


Terima kasih semuanya! Terima kasih kepada para tamu yang berkunjung!  Alhamdulillah

Sampai ketemu di tahun 2016.